"Aku mohon jadilah Mamaku Ra!!" Pinta Hannah temannya sejak pertama kali masuk SMA.
"Jika dalam waktu satu minggu, orang tua mu tak bisa membayar sisa hutangnya, kamu harus menikah denganku manis." Ucap pria lintah darat yang terkenal didaerah itu.
Danira Grisela,
Seorang gadis polos yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA, harus terjerat ancaman seorang lintah darat yang akan menikahinya jika orang tuanya tak bisa melunasi sisa hutangnya.
Namun, ia juga dihadapkan dengan permintaan sahabatnya yang memintanya untuk dengan Ayahnya dan berjanji akan melunasi semua hutang orang tuanya dan menanggung semua kebutuhan keluarganya.
Pilihan manakah yang akan Danira pilih?
Yuk langsung baca ceritanya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rishalin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30
Ingatan tentang Dona, membuat Danira merasa takut. Dan yang paling mengejutkan, Dona kini tengah berdiri di hadapan mereka sekarang.
Danira seketika mundur selangkah. Tangan kirinya kembali reflek memegang perutnya dan tangan kanannya masih dalam genggaman Hajun.
Hajun sedikit kaget melihat reaksi Danira saat melihat Dona karena tangan Danira dalam genggamannya terasa dingin dan gemetar.
"Apa kejadian di kantor beberapa bulan lalu masih membuatnya takut?" batin Hajun.
"Halo Hajun, Danira, apa kabar. Mumpung ketemu disini, aku mau minta maaf atas kejadian di kantor kamu waktu itu, Hajun. Kalian mau kan memaafin aku?" ucap Dona sambil menatap Danira. Danira tau kalau Dona tengah bersandiwara.
"Terima kasih, Dona, akhirnya kamu bisa ngerti dan menerima semuanya." jawab Hajun.
"Artinya aku dimaafin ya, terima kasih, Hajun." Ucap Dona dengan senyum sandiwaranya.
"Tentu saja dimaafkan, iya kan, Danira?" tanya Hajun pada Danira yang hanya diam saja.
Kepala Danira hanya mengangguk pelan merespon pertanyaan Hajun.
"Oke, kalau gitu kita pisah di sini ya, aku masih ada yang harus dibeli. Selamat siang, Hajun, Danira." pamit Dona.
"Siang, Dona." jawab Hajun.
Pertemuan dengan Dona membuat Danira langsung kehilangan moodnya untuk belanja. Dari tadi, hanya Hajun yang bolak balik memilihkan baju untuknya.
Hajun selalu bertanya, apa Danira suka dengan pilihannya. Sementara Danira hanya duduk saja. Perasaannya yang tak tenang membuatnya merasa lelah.
"Coba kalo ada Hannah, nggak akan aku mau minta temani Papanya." batin Danira.
***
Malam harinya, Danira sudah berusaha memejamkan mata, tapi belum bisa juga. Danira menoleh ke arah Hajun yang tertidur tenang di sampingnya.
Dengan perlahan Danira turun dari ranjang, ia membuka pintu kamar, lalu melangkah menuju dapur.
Danira membuka kulkas lalu mengambil es cream dari dalam kulkas, lalu duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi.
Saat es cream berbentuk kerucut itu sudah hampir habis yang kedua, lalu tiba-tiba
Hajun muncul di sampingnya.
"Ya ampuun, Sayang, malam-malam gini makan es, gak sakit perut?!" tanya Hajun, melihat dua bungkus kosong ice cream di atas meja.
Danira hanya menggeleng, sambil memasukan potongan terakhir es creamnya ke dalam mulut
"Ay mau? Aku ambilin ya." ucap Danira dengan mulut masih penuh dengan es cream.
Hajun mendudukan dirinya di samping Danira. "Aku mau es creamnya yang ini aja." jawab Hajun, sambil bibirnya mengecup bibir Danira dengan lembut bibir Hajun mengecap manisnya es cream dengan lidahnya dalam rongga mulut Danira.
Danira kini memejamkan matanya. Sementara tangannya melingkar di leher Hajun. Bibir dan lidahnya sudah lebih agresif dari Hajun.
Danira bergerak naik ke atas pangkuan Hajun lalu bibirnya menekan kuat bibir Hajun, lidahnya yang agresif mempermainkan lidah Hajun.
Hajun yang tiba-tiba melepaskan ciuman Danira membuat Wajah Danira cemberut.
"Kita pindah ke kamar ya, Sayang." pinta Hajun sambil meraih remote dan mematikan televisi.
Danira beranjak turun dari atas pangkuan Hajun lalu ia melangkah menuju kamar, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Danira!" panggil Hajun cemas, ia takut Danira marah.
"Gosok gigi dulu!" jawab Danira dari dalam kamar mandi.
Hajun menarik nafas lega lalu ia menunggu Danira di depan pintu kamar mandi.
Danira yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Hajun yang sudah bertengger di depan pintu kamar mandi.
"Mau ke kamar mandi juga?" tanya Danira bingung.
Kepala Hajun menggeleng.
"Terus kenapa berdiri di sini?"
"Nunggu kamu." jawab Hajun.
"Buat apa ditunggu?"
"Aku cemas, aku takut kalau kamu ngambek."
"Kenapa aku harus ngambek!" jawab Danira dengan raut wajah datar.
Danira melangkah melewati Hajun lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Hhhh... Danira, emang susah ditebak. Sejak hamil moodnya naik turun dengan sangat cepat."
Hajun menyalakan lampu di atas meja kecil dekat ranjang lalu mematikan lampu di langit-langit kamar.
Ia merebahkan tubuhnya di sebelah Danira. Dan melihat Danira sudah memejamkan mata.
Hajun membuka selimut yang menutupi tubuh Danira lalu ia mengangkat baju tidur Danira ke atas dan mencium perut istrinya dengan lembut.
"Sayang... kamu harus kuat, dan sehat ya, Papa sayang sama kamu."
Hajun terus mengecup perut Danira, tapi Danira tetap tak bereaksi. Hajun menaikkan kecupannya ke atas dada Danira.
Namun, tetap saja Danira tak bereaksi, tapi Hajun tahu Danira sedang menahan rasa di hatinya, terlihat dari tangannya yang meremas erat sprei di bawahnya.
Kecupan Hajun menjadi lebih naik lagi. Kini ia terus mengecup leher dan bahu Danira membuat mulut Danira sedikit terbuka.
Hajun yang mendengar desahan dari nafas Danira seketika mengukir senyum.
"Kita lihat, Danira Sayang, apa kamu bisa tetap bertahan dengan kemarahanmu."
Hajun mencium bibir Danira, mulut Danira yang terbuka memudahkannya untuk memasukan lidahnya ke dalam mulut Danira.
Danira masih tetap tak bereaksi dengan matanya yang tetap terpejam.Hanya tangannya saja yang semakin kuat mencengkram sprei.
Hajun mengecup bawah telinga Danira lembut. Sementara tangan Hajun membelai dada istrinya pelan.
"Aayyy...." Ucap Danira yang akhirnya bersuara juga.
Hajun tersenyum saat Danira membuka matanya. Bibirnya terbuka dengan kepalan mendongak menatap Hajun dan tangannya yang tadi mencengkram seprai, kini melingkar di leher Hajun.
Hajun menurunkan wajahnya lalu membisikan doa di telinga Danira, sebelum memulai pertempuran mereka berdua.
***
Danira berlari saat orang-orang yang tak dikenalnya terus mengejarnya.
Sialnya saat tengah fokus berlari Danira tanpa sengaja tersandung batu dan membuatnya jatuh terjerembab. Tangan orang-orang yang mengejar Danira langsung mengangkat tubuhnya.
Danira terus meronta sambil berteriak sekencang mungkin. Ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya membuatnya tak bisa bergerak karena tangan dan kakinya terikat.
Danira berteriak lagi sekencang mungkin, dan kini ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Danira, Sayang...."
Saat Danira mendengar suara yang sangat ia kenal, Danira langsung membuka matanya.
Kini ia melihat Hajun tengah menyeka peluh di wajahnya.
"Kamu mimpi buruk ya, Sayang." tanya Hajun cemas.
Danira meraba perutnya dengan tangannya yang gemetar.
"Sayang... kamu mimpi apa?" tanya Hajun lagi.
"Apa mimpi buruk Ay, apa mimpi itu pertanda buruk?" jawab Danira.
"Kamu bicara apa, Danira, jangan berpikir yang macam-macam. Kalau kamu mimpi buruk, itu cuma sekedar mimpi, Sayang." Ucap Hajun seraya memeluk tubuh Danira dengan erat.
"Jangan bicarakan hal yang buruk, Danira. Pikirkanlah yang baik-baik saja." ucap Hajun yang kini menenggelamkan wajahnya di atas kepala Danira.
Pikirannya sendiri resah, bagaimana pun juga, kehilangan ibunya Hannah, sesaat setelah melahirkan Hannah, membuatnya merasa cemas.
Ada rasa takut akan kehilangan Danira juga. Tapi selama ini, ia selalu bisa mengusir perasaan itu. Tapi sekarang, perasaan takut itu datang lagi.
"Sayang, kamu tadi mimpi apa, sampai berteriak dan berkeringat?" tanya Hajun.
"Aku mimpi, ada orang yang mengejarku Ay. Aku berharap ini bukan pertanda buruk." Jawab Danira lirih.
Jawaban Danira membuat Hajun semakin erat memeluk Danira. Tanpa terasa air matanya menetes di rambut Danira. Rasa takut yang ia rasakan kini terasa semakin nyata.
***
Keesokan harinya, Arvin dan Shaka menemani Danira menunggu Pak Asep saat hendak pulang kuliah.
"Hari ini Hannah pulang dari Bandung, Ra?" tanya Shaka.
"Iya, udah kangen ya?" goda Danira pada Shaka.
Shaka terkekeh pelan, sementara Arvin hanya diam saja, ia tengah pura-pura asyik dengan ponselnya, padahal matanya mencuri pandang pada Danira
"Danira tambah manis, tambah menggemaskan dengan pipinya yang semakin tembem dan perutnya yang makin besar. Rasanya ingin sekali aku mencubit pipimu, mengelus perutmu. Meski aku sudah ikhlas tidak mendapatkan cintamu dan dirimu, Danira. Tapi sulit bagiku membuka hati untuk wanita lain. Entah kenapa, seperti ada sebuah keyakinan dalam hatiku, kalau suatu saat, aku akan bisa memilikimu. Mungkin hanya sebuah impian, yang takkan pernah menjadi kenyataan. Mungkinkah ini cinta sejati? Entahlah... tapi melihat kamu bahagia, itu cukup buat aku." batin Arvin
Tak lama kemudian Mobil Pak Asep yang mereka tunggu datang.
"Aku duluan ya Shaka, Arvin, makasih udah nemenin aku." ucap Danira seraya melambaikan tangannya dan dibalas lambaian juga oleh Shaka dan Arvin.
"Hati-hayi ya." ucap Shaka.
Saat Danira masuk ke dalam mobil, entah kenapa perasaannya tiba-tiba saja merasa aneh. Hatinya tiba-tiba resah tak menentu.
Baru saja beberapa menit mobil yang ditumpangi Danira meninggalkan area kampus, tiba-tiba Danira merasa tubuhnya berguncang di iringi sebuah benturan yang cukup keras.
Brakkkk!!!
Sesuatu membentur mobil dengan kuat membuat Danira terlempar ke pintu mobil.
Braaakkkk!!!
Sekali lagi, suara benturan itu terdengar keras membuat Danira kini terjatuh ke lantai mobil.
Akibat mendapat benturan yang cukup keras di area kepala pandangan Danira seketika berkunang-kunang dan langsung tak sadarkan diri.
Pak Asep yang masih mempertahankan kesadarannya, dengan sisa kekuatan dan kesadarannya, berusaha mematikan mesin mobil karena laju mobil itu tak terkendali akibat benturan tadi
Arvin, dan Shaka yang juga kebetulan ikut menyusul pulang turun dari mobil saat melihat kerumunan warga yang melihat kecelakaan di depan mereka.
Mereka juga melihat mobil ambulans dan petugas kepolisian sudah mengamankan tempat kejadian.
Namun, saat mereka melihat para medis mengangkat korban ke dalam ambulans, Shaka dan Arvin seketika berteriak.
"Danira!!!" teriak Arvin dan Shaka bersamaan.
"Anda mengenal korban?" tanya Polisi saat melihat Arvin dan Shaka nampak mengenali korban.
*********
*********
Makasih banyak untukmu Othor tersayang...
Semoga selalu semangat menghasilkan karya2 terbaik....🤗👍