NovelToon NovelToon
Di Ujung Sesal

Di Ujung Sesal

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:50.9k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Setelah sepuluh tahun, suamiku kembali pulang ke rumah. Dia ingin kembali hidup bersama denganku, padahal dia yang telah pergi selama sepuluh tahun dan menikah lagi karena menuduhku mandul.

Namun, setelah Petra pergi aku justru hamil. Aku merahasiakan kehamilanku hingga putriku lahir. Selama sepuluh tahun aku merawat Bella seorang diri.

Apa yang akan terjadi bila Petra mengetahui kalau Bella adalah darah dagingnya. Apakah aku harus menerima kembali kehadirannnya setelah sepuluh tahun.

Yuk! ikuti kisah dan perjuangan Kayla dalam cerita, Di Ujung Sesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Ulah Petra.

Aku ditelan lorong gelap yang terus berputar dan mendorongku jatuh semakin dalam. Hingga tiba diujung lorong secercah cahaya perlahan menyilaukan mataku. Saat kubuka mataku ternyata aku tengah terbaring di ranjang beralas sprei putih, dinding bercat putih. Semua serba putih. Aroma khas menyengat hidungku, perlahan ingatanku pulih kalau aku ternyata pingsan, entah berapa lama.

"Syukurlah Ibu telah sadar." ucapan lembut seseorang menyapaku. Aku melirik ke sisi tempat tidur arah datangnya suara. Seorang suster perawat tengah memeriksa aliran cairan infus.

"Apa yang terjadi dengan saya, Suster?" Aku berusaha duduk karena tiba-tiba ingat Bella putriku.

"Tadi Ibu jatuh pingsan. Eh, Bu, jangan bangkit dulu,"buru-buru suster itu menahan tubuhku.

"Aku mau melihat putriku. Tadi dia mengalami kecelakakan. Aku mohon izinkan aku melihatnya , Suster." Ratapku, karena sangat mencemaskan keadaan Bella, Alicia dan Bram.

"Dalam kondisi Ibu yang masih lemah, saya tidak bisa izinkan Ibu keluar dari ruangan ini. Tapi soal anak-anak dan suami Ibu, semua baik-baik saja. Mereka sudah dipindahkan ke ruang rawat, Bu." Suster dengan pin nama, Ratna, di dada itu tersenyum lembut. "Tunggu beberapa saat lagi, Bu."

Aku akhirnya mengalah, suster itu benar karena aku merasakan sekujur tubuhku terasa lemah. Mungkin karena pengaruh terguncang. Aku teringat Petra, entah sudah kemana baj**gan itu.

Apakah dia telah pergi dan melarikan diri. Tega sekali dia mencelakai Bella putrinya sendiri. Sekalipun itu bukan rencananya. Tapi tetap saja dia telah berbuat jahat mencelakai orang lain.

Aku tidak bisa tenang terbaring disini, karena mencemaskan Bram, Bella dan Alicia. Aku malah takut Petra akan bertindak nekat lagi jika tidak ada yang mengawasi.

Tiba-tiba pintu terkuak, aku kaget melihat Bram datang ke ruang tempatku dirawat. Kepalanya masih diperban. Lengannya digips. Dengan langkah tertatih dia mendekati ranjangku.

Aku berusaha duduk.

"Kay, kamu tidak apa-apa?" ucapnya cemas. Padahal akulah yang lebih mencemaskannya.

"Bram, kok malah kesini. Bukankah kamu itu terluka?" beliakku karena dia nekat menjumpaiku.

"Aku tidak apa-apa, ganya luka ringan. Aku justru khawatir sama kamu." Bram mengusap kepalaku, lalu menggenggam jemariku.

"Bagaimana dengan Alicia dan Bella. Suster belum mengijinkan aku menjenguk kalian."

"Ada Bibi dan Paman. Mereka gantian menjaga Bella dan Alicia. Tapi mereka sudah menanyakan kamu."

"Sebenarnya apa yang terjadi, Bram. Kok sampai menabrak tebing."

"Entah, sepertinya mobilku mengalami rem blong. Untung aku masih bisa banting stir dan menabrak tebing. Sehingga mobil bisa berhenti." Bram menceritakan kronologi kecelakaan itu. Aku menyimak, sepertinya Bram tidak curiga kalau mobilnya telah disabotase, Petra.

"Kok bisa mobil kamu remnya blong, apa memang gak pernah diperiksa."

"Entah, aku sebenarnya curiga, soalnya mobilku 'kan selalu diservis secara berkala." ucap Bram. Aku terpaksa diam, buat sementara ini. Aku tidak ingin beban pikiran Bram, makin bertambah.

"Bram, aku mau lihat Bella dan Alicia. Badanķu sudah tiak lemas lagi." Aku berusaha melepas jarum infus di lenganku rasanya sudah tidak sabar melihat keadaan Bella. Bram membantuku melepas jarum infus dari lenganku.

Saat aku dan Bram keluar dari kamar rawat inap, aku melihat Petra di kejauhan. Dia berdiri di balik pohon alpukat yang tumbuh di halaman rumah sakit.

Ternyata Petra masih berkeliaran disekitaran rumah sakit. Mungkin ingin mengetahui keadaan Bella atau tengah mengawasi, Bram. Aku makin geram saja melihat dia yang begitu santai. Tanpa takut kalau dirinya sudah jadi buronan. Hebat juga nyalinya.

"Ada apa, Kayla? Dari tadi kamu melihat kearah taman terus?" tegur Bram membuatku kaget.

"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya seperti melihat seseorang, tapi ternyata bukan." ucapku berbohong.

"Apa kamu baik-baik saja?" Bram menghentikan langkahnya menatapku khawatir.

"Aku baik-baik saja kok, justru aku mencemaskan kamu." ucapku seraya memapahnya menuju ruangan Bella dan Alicia di rawat. Sesampainya di ruang rawat Bella, aku melihat putriku tengah terbaring lemah. Luka memar di lengannya dan pelipisnya yang dibalut perban membuat hatiku tersayat.

Aku yang berjuang selama sembilan tahun ini merawat dan menjaganya, ternyata ayahnya tega mencelakainya. Meskipun dia tidak merencanakan itu untuk Bella, tapi tetap saja tindakannya itu teramat kejam. Melakukan percobaan pemb***han pada Bram dan putrinya.

Apapun motifnya itu sudah diluar kemanusiaan!

Rasa cemburu telah membutakan hatinya, cemburu yang salah kaprah dan sangat pengecut.

Aku memeluk tubuh Bella, menciumi wajahnya. Andai saja bisa, kuingin semua lukanya berpindah ke tubuhku. Biarkan saja aku yang menanggung kesakitan, tidak tega melihat dia yang terbaring tanpa daya.

"Mama? Mama, Bella takut." Bella menangis lirih.

"Iya, sayang. Mama ada disini sayang. Menjagamu." Aku menahan perih dan luka melihat kerjap mata Bella yang penuh ketakutan. Sepertinya dia trauma atas kejadian itu. Aku memeluk tubuhnya yang bergetar hebat. Setelah puas memelukku, Bella melepaskanku. Kuusap air mata dipipinya.

Alicia yang yang terbaring di dekat Bella menatap kami penuh haru. Segera kudekati Alicia. Lukanya lebih parah dari Bella. Lengannya sepertinya patah karena dibalut gips sama seperti, Bram.

"Sayang." Aku memeluk tubuh Alicia. Alicia juga menangis dalam dekapanku. Bahkan tangisnya lebih kuat dari Bella.

"Tante, Alicia juga takut."

"Iya sayang, Tante akan jaga Alicia. Alis yang sabar ya, biar lekas sembuh." kuusap lembut rambutnya yang menutup dahinya.

"Papa juga disini sayang, menjaga kalian," ucap Bram dibelakangku. Menyentuh pundakku sebelum duduk dipinggiran tempat tidur Alicia.

"Papa juga 'kan sakit. Jadi harus dijaga Tante juga." celetuk Alicia manja.

"Papa masih kuat nak, menjaga kalian bertiga."

"Ih, Papa tukang bohong, buktinya kita celaka."

"Alis, yang namanya musibah sayang, kita tidak tau kapan datangnya. Gak mungkin 'kan Papa sengaja mencelakai kalian. Jangan ngomong begitu ya, sayang. Papa Alicia pasti sedih dengarnya."

"Maafin, Alis ya, Pa."

"Iya sayang. Kamu ada benarnya juga, mungkin Papa telah ceroboh."

"Bram aku mau bicara sebentar boleh?" ucapku. Bram menatapku lekat.

"Soal apa?"

"Kita ngomong did luar saja, takut anak-anak dengar."

"Baiklah." Aku dan Bram pamit pada Bella dan Alicia untuk keluar sebentar.

"Kita disini saja, sambil mengawasi Bella dan Alicia." ajakku duduk di bangku di depan samping pintu.

"Mau ngomong apa, Kay. Wajah kamu serius amat." Bram, mencoba bercanda.

"Kamu tidak berpikir kalau kejadian ini terkait dengan, Petra?" kataku menatap Bram.

"Maksudmu, kecelakaan itu ada yang merencanakan, gitu?" aku mengangguk.

"Kay, kamu kok mikir sejauh itu?"

"Aku tidak mikir, Bram. Tapi aku memang tau kalau itu adalah perbuatannya. Lantas aku bercerita saat pertemuanku dengan Petra di parkiran, plaza. Yang mana dia tengah menciptakan alibi sedang bersamaku, saat kecelakaan itu terjadi.

Saat dia tahu Bella bersama dengannya, Petra berusaha menggagalkan rencananya. Tapi sudah terlambat.

"Kurang a*ar!!!" amuk Bram menahan emosi. ***

1
Lusiana Karangan
ya itylah hidup roda itu berputar apa yang kita tanam itu yg kita tuai
Lusiana Karangan
akhirnya gayung bersambut gaskan Bram
Lusiana Karangan
wah ternyata sama2 ada rasa CLBK nih judulnya
Lusiana Karangan
berawal dari mertua yg memang tidak rela anak lelakinya memiliki kayla dan ketidak tegasan petra menghadapi keluarganya. padahal mereka dulu bahagia.pelajaran buat yg akan menikah sebaiknya setelah menikah tinggal terpisah dengan orang tua
Linda pransiska manalu: makasih dukungannya bun. semoga tulisan Mak bisa menginpirasi pembaca.
total 1 replies
Rismawati Damhoeri
memang tak pantas kau Piet..., laki2 pengecut..
Yani Mulyani
Kecewa
Isabela Devi
mamanya lupa plg
Isabela Devi
istri muda pergi cari lagi istri pertama, emang laki laki ga tau diri
Astrid valleria.s.
horas thor
Linda pransiska manalu: horas, apa khabar eda.
total 1 replies
Erni Kusumawati
Andai kata maaf itu mudah utk di lakukan.. bahagia sekali
Erni Kusumawati: sama-sama kk Author. ttp semangat dalam berkarya dan semoga sehat selalu.. amin
total 4 replies
Suci Dava
Akhirnya damai semua yaa kak
Linda pransiska manalu: iya berdamai dengan luka lebih baik untuk diri sendiri.
total 1 replies
Erni Kusumawati
ya setiap perbuatan pasti akan ada akibatnya.. semoga setelah ini Rena menjadi sadar akan kesalahannya dan menjadi Rena yg lebih baik lagi
Suci Dava
turut berbelasungkawa atas meninggalnya mertua kak Author, semoga di terima di sisi Tuhan Yang Maha Esa Amien
Linda pransiska manalu: makasih doanya bun.
total 1 replies
Erni Kusumawati
turut berduka cita ya kk.. dan semoga kk dan keluarga dalam keadaan sehat amin
Erni Kusumawati: sama-sama kk
total 2 replies
lindsey
bagus
lindsey
welcome back thor 👋👋 kemane aje ?
lindsey: pujiTuhan 🙏
total 2 replies
Hana Roichati
tetap semangat kak, terimakasih mulai up lagi, sukses selalu 👍👍❤❤
Linda pransiska manalu: makasih dukungsnnya bu.
total 1 replies
Erni Kusumawati
lah kenapa orang2 masa lalu Kay pada bermunculan ya☺
Erni Kusumawati
beginilah kalo orang tua jauh dr ilmu Agama dan ilmu2 lainnya.. dan msh relate sih di jaman skr.,
Masayu Yanti: setuju kak
total 1 replies
Erni Kusumawati
beginilah kalo punya mertua yg berfikiran kalo dia berjuang demi anaknya karena pamrih.. semua perjuangan di ungkit.. pdhl perjuangan orang tua adalah kewajiban krn diberikan amanah titipan anak..
Masayu Yanti: surga di bawah telapak kaki ibu yg tidak dzolim itu baru surga yg sesungguh nya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!