Karya ini merupakan karya jalur kreatif
Sekuel Mr. And Mrs. Walker
Nasib tragis harus di alami oleh Edward Walker. Diusianya yang masih muda, ia harus menyaksikan kematian kedua orang tuanya yang dilakukan oleh segerombol orang tak di kenal.
Tentu hal itu meninggalkan duka mendalam. Karena bagaimanapun orang tua Edward, yang tak lain adalah Charlie dan Ainsley, merupakan mantan anggota FBI yang disegani. Semua berspekulasi jika pelaku pembunuhan tersebut adalah musuh Charlie. Namun sayangnya, tidak ada satupun penegak hukum yang berhasil menangkap pelaku, termasuk Clara dan Aaron.
Namun tekad balas dendam sudah mendarah daging di hati Edward. Setelah dia dewasa, dia memerankan peran ganda untuk menyelidiki kasus pembunuhan orang tuanya. Tapi akhir-akhir ini ada yang menyalahgunakan identitas nya untuk melakukan kejahatan.
Siapakah dia ? Dan akankah Edward berhasil membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Menemui Titik Terang
Makan malam hari ini berjalan lancar walaupun sempat terjadi ketegangan. Namun, semua segera mencair mendengar perkataan Samuel, seolah mereka semua menyetujui hubungan Catherine dan George.
Samuel juga meminta Catherine untuk pulang. Dan Catherine menyetujuinya. Hanya saja, ia membutuhkan waktu untuk membereskan barang-barangnya.
Dan kini, Samuel, Clara dan Edward mengantar Catherine dan George sampai di depan pintu karena mereka akan pulang.
"Kenapa tidak menginap di sini saja sayang. Inikan rumahmu," ujar Clara
"Aku sangat ingin mom. Tapi tidak sekarang. Aku berjanji akan cepat pulang," sahut Catherine
"Baiklah. Mommy tunggu."
"Kami pulang dulu aunty, uncle," pamit George
Mereka hanya mengangguk saja. Dan saat Catherine dan George mendekati mobil, seorang sopir keluar dari balik kemudi dan membukakan pintu untuk keduanya.
Edward mengerutkan keningnya menatap sopir itu. Dia merasa pernah melihatnya. Namun sayangnya, ia tidak ingat. Hanya saja ia merasa ada yang aneh. Tubuh pria itu sangat bagus. Sangat berbeda dengan sopir-sopir pada umumnya. Justru pria itu lebih pantas menjadi bodyguard dari pada sopir. Dan lagi, wajah pria itu juga terlihat menyeramkan dengan luka di pipi dan juga tatapan yang tajam.
"Daa mom, dad." Catherine melambaikan tangan setelah masuk ke mobil dan di balas oleh Clara dan Samuel.
"Hati-hati sayang," seru Clara
Mobil yang Catherine tumpangi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Simon. Dan kini, mereka kembali masuk ke rumah untuk membahas pertemuan mereka tadi.
"Bagaimana menurut kalian saat kita berbincang dengan George tadi. Apa kalian mempunyai pemikiran yang sama dengan ku?" tanya Clara
"Aku hanya melihat jika dia tertarik dengan pelaku yang menjadi buronan FBI," sahut Samuel
"Yeah, itu salah satunya. Tapi yang aku lihat, dia merasa tidak nyaman saat kita membahas kasus yang di selidiki Edward. Terutama saat aku menyinggung tentang kasus penyerangan Edward di apartemen." Clara menatap Edward yang sedari tadi diam. Dia yakin jika Edward mengetahui sesuatu. Tapi entah mengapa ia tidak berkomentar. Apa benar yang ia pikirkan?
"Bagaimana menurut mu, Ed?" tanya Clara
"Aku sependapat dengan Daddy. Aku merasa ada yang aneh. Kenapa dia seolah tertarik dengan pria bertopeng hitam, sementara ia seorang pebisnis yang tidak ada sangkut pautnya dengan kasus-kasus yang selama ini terjadi," ujar Edward
"Dari cara ia bertanya, terlihat seolah ia juga ingin menangkap pelaku," lanjut Edward
"Kenapa? Apa kau takut?" ledek Clara
Edward hanya berdecak pelan sambil melirik Samuel. Dan sepertinya Samuel tidak paham dengan ucapan Clara.
Dia tidak takut jika George juga ingin menangkapnya. Hanya saja, untuk apa George ingin melakukan hal itu? Apa dia pernah menyinggung George? Atau sebenarnya salah satu orang yang ia bunuh adalah kenalan George?
Ya, itu bisa jadi. Itu sebabnya George ingin menangkapnya. Dan lagi, sopir George juga sangat mencurigakan. Apa ada jaman sekarang sopir pribadi mempunyai tampang seperti itu? Jika dilihat-lihat lagi, pria itu layak sebagai pembunuh bayaran.
Deg
"Mom, dad, aku pulang dulu," pamit Edward
"Hei ... Kenapa buru-buru? Kita masih harus membahas soal Catherine," ucap Clara
"Besok aku kesini lagi mom. Ada sesuatu yang harus aku periksa. " Edward mencium pipi Clara dan melambaikan tangannya pada keduanya sebelum menghilang dari balik pintu.
"Ck ... Dasar anak itu," gerutu Clara
Sementara itu, Edward mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi hingga dalam waktu 1 jam, ia sudah sampai di rumahnya.
Ia bergegas masuk dan mengambil laptopnya. Ia memindahkan rekaman video yang ia ambil dari apartemen Thomas dari ponselnya ke laptop. Baru setelahnya ia memutar ulang adegan saat seorang pria mencoba mendobrak masuk ke apartemen Thomas.
Dari situ, ia hanya melihat bagian punggung pelaku. Dan saat pelaku berdiri di depan pintu, Edward menekan tombol pause dan memperbesar layar.
Wajah pelaku tidak terlihat dengan jelas karena selain menggunakan topi, wajahnya hanya terlihat dari samping saja. Namun, ia mulai mengecek baju yang dipakai pelaku dengan memperbesar layar. Tapi, ia tidak menemukan sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk.
Berulang kali ia melakukan hal yang sama. Ia memeriksa lagi dan lagi dengan teliti hingga ia menemukan sesuatu di leher pelaku walaupun tidak terlihat begitu jelas karena tertutup kerah mantel.
"Itu seperti tato. Tapi, tato apa?" gumam Edward
"Aku tidak sengaja melihat orang itu mempunyai gambar di lehernya. Aku tidak melihatnya dengan jelas, tapi sepertinya itu gambar kalajengking,"
Edward terdiam mengingat pengakuan Robert sebelum ia membunuhnya. "Apakah mungkin ini gambar kalajengking? Jika itu benar, berarti orang yang membunuh Emira adalah orang yang sama yang sudah membunuh mommy dan Daddy. Dia melakukan hal itu untuk menghancurkan bukti."
Edward mengusap wajahnya kasar. Dia kembali memutar video tersebut dan kini terlihat saat pria itu keluar dari kamar. Pria itu berjalan di lorong dan berpapasan dengannya.
Edward memutar mundur beberapa detik saat pria itu masih berjalan di lorong dan menekan tombol pause. Dia kembali memperbesar layar dan menyipitkan matanya, menatap wajah si pelaku. Namun sayang, wajahnya tertutup topi.
Tapi Edward tidak menyerah. Lagi-lagi ia memeriksa berulang kali dengan menajamkan matanya. Hingga ia menemukan sesuatu seperti garis kecil di bagian pipi pelaku yang tidak tertutup topi.
"Apa ini ... "
Deg
...****************...
"Apa kau tahu, tadi saat aku makan malam dengan keluarga Catherine, mereka justru membahas tentang pria bertopeng hitam," seru George. Ia langsung pulang setelah mengantar Catherine ke apartemen karena ada yang ingin ia bahas dengan ayahnya.
"Lalu, apa mereka tahu siapa pria itu, tuan?" tanya si sopir
"Aku yakin mereka mengetahui sesuatu. Bagaimanapun juga ibu Catherine adalah mantan anggota FBI sedangkan kakak Catherine anggota FBI. Jadi, aku yakin mereka tahu sesuatu tentang pria bertopeng hitam itu," ujar George
"Tapi sepertinya anda harus berhati-hati dengan kakak nona Catherine, tuan."
"Yeah, kau benar Sean. Dia sangat berbahaya. Bahkan dia tahu kejahatan ku tapi tidak memberitahu keluarganya. Malah sekarang mereka menyetujui hubungan kami. Bukankah itu aneh?"
Sean yang sekarang berada di belakang kemudi, tidak memberi tanggapan apapun. Memang itu sangat aneh, tapi yang membuat ia penasaran adalah saat melihat Edward pertama kali. Ia merasa seolah pernah melihat pria itu. Postur tubuhnya sangat mirip dengan salah satu pria yang menghadiri pemakaman Emira.
Ya, dia adalah pria yang sudah membunuh Emira. Saat ia pergi, ia tidak sengaja berpapasan dengan dua orang. Salah satunya dia tahu jika itu adalah pegawai apartemen. Namun untuk orang yang bersama pegawai itu, dia tidak tahu karena ia berjalan dengan menunduk.
Bahkan saat ia mencari Emira ke rumah sakit, ia hanya bertemu dengan 2 anggota FBI di sana. Dan saat pemakaman, semua memakai masker hitam. Sehingga ia tidak tahu siapa saja yang menghadiri pemakaman tersebut.
"Pria itu, apa dia mengetahui sesuatu?" batin Sean
mencontoh, tapi apes. kasihan..😄