Zheyara : "Aku berjanji akan membebaskan kalian dari lingkaran kematian ini, meskipun sedikit mustahil bagi diriku sendiri".
Misteri, ya dunia ini adalah misteri dan teka-teki dan orang yang paling banyak mengetahui semua misteri itu adalah perwujudan sosok misteri itu sendiri.
misterius, cover yang sangat menarik dari diri seseorang. Dalam diamnya, terdapat banyak rahasia yang dipendam, dalam sunyi banyak hal yang terusik, dan dalam sepi banyak sesuatu yang menari sehingga menciptakan suatu misteri.
"Aku tak akan membunuh kalian semua tetapi bukan berarti aku melupakan dendamku. Hanya saja aku merubah arah panah dendam itu menjadi 2 sisi yang sangat tajam sekaligus menyenangkan bagiku. Satu sisi membuatku menjadi kuat dan Istimewa, dan satu sisi lainnya membuat orang yang membenciku lebih terluka berkali" lipat untuk sekedar melihatnya daripada terluka karna pembalasan sebuah dendam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azyhra Angkasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Selir Dhu dan Jendral Jiawa
Zheya pergi ke kamar Xialie bersama pelayan yang telah ditugaskannya untuk menjaga ibunya.
"Ibu ..." panggil Zheya lirih.
Zheya melihat ibunya hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Sepertinya benar yang dikatakan pelayan itu, Ibu kehilangan separuh kesadarannya."
Zheya mendekati ibunya perlahan lalu memeluknya, tetapi Xialie tidak bereaksi apa-apa. "Apakah pelayan itu berbuat sesuatu padamu, Ibu?" gumam Zheya.
"Kau tunggu di luar saja," ucap Zheya pada pelayan itu.
Pelayan itu mengangguk lalu pergi keluar sesuai perintah Zheya.
"Apakah Ibu menjadi seperti ini karna ayah?" tanya Zheya.
Xialie mengangguk, membuat Zheya sedikit tenang. "Berarti sejauh ini tidak ada masalah yang serius, sepertinya Ibu hanya depresi ringan. Aku akan menyuruh tabib datang ke sini."
"Ibu aku pergi dulu," ucap Zheya lalu mengecup kening Ibunya.
Zheya meninggalkan Xialie yang daritadi terus terdiam. "Kau tunggu di sini saja, tidak usah berjaga di dalam," perintah Zheya pada pelayan itu yang tidak sepenuhnya ia percayai.
"Baik, Tuan Putri," jawab pelayan itu patuh.
Zheya juga meminta para prajurit yang sedang berjaga di sekitar menghampirinya dan ikut berjaga di depan kamar ibunya, mengawasi pelayan itu.
"Perhatikan gerak-gerik saat ia masuk menemui ibuku, aku mencurigainya. Dan jangan sampai kalian lengah," Zheya berkata pada 5 prajurit suruhannya.
"Untuk tugas kalian yang seharusnya saat ini berjaga, kalian tidak perlu khawatir. Aku akan mengambil beberapa prajurit lain yang ada di markas prajurit untuk menggantikannya," ucap Zheya.
"Baik terimakasih, Tuan Putri," ucap kelima prajurit itu.
"Aku pergi dulu, ada beberapa hal yang harus aku urus. Kalian berjagalah!"
Para prajurit itu membungkukkan badan mereka, lalu pergi berjaga menjalankan apa yang diperintahkan Zheya.
Begitu pun dengan Zheya yang ingin pergi ke markas, mengambil beberapa prajurit untuk berjaga di istana.
Prajurit ia kerahkan sebagian, berjumlah sekitar 40 orang untuk berjaga di istana. Saat ini ada yang lebih ia khawatirkan daripada serangan dari luar, yaitu para pengkhianat di dalam istana.
"Setelah ini aku harus memastikannya sendiri bahwa tidak ada lagi penghianat di istana kekaisaran ini."
Zheya menyamar menjadi seorang pelayan lalu masuk ke istana, mengawasi orang-orang yang sedang beraktivitas.
Untungnya penyamarannya berhasil dan tidak ada yang mencurigainya. "Entah mengapa aku selalu menaruh rasa curiga pada selir itu," gumam Zheya.
Zheya menghampiri pelayan yang berjalan ke arah belakang dengan membawa nampan yang berisi makanan.
Secara kebetulan pelayan itu menyuruh Zheya menggantikannya untuk mengantarkan makanan itu yang ternyata untuk selir Dhu, karena dirinya ingin ke kamar mandi.
Zheya pun dengan senang hati menerimanya, kesempatan datang dengan tepat kepadanya.
Zheya berjalan menuju kamar selir Dhu, tetapi saat melewati lorong belakang Zheya melihat selir Dhu sedang bersama jendral Jiawa.
Zheya bersembunyi di balik tiang dan menguping pembicaraan mereka. "Apa yang sedang mereka bicarakan?" ucap Zheya pelan.
"Akhirnya kau berhasil masuk ke istana ini Selir Dhu. Sekarang adalah saat yang tepat untuk kita bisa menyingkirkan pewaris tunggal kekaisaran merak putih," ucap Jendral Jiawa.
"Kita harus merebutnya, takkan aku biarkan bocah tengik itu menduduki tahta kekaisaran!" balas Selir Dhu.
"Keadaan kekaisaran merak putih saat ini sudah kacau dan sudah tidak menjalin hubungan lagi dengan kekaisaran lain, jadi sangat mudah untuk kita hancurkan," ucap Jendral Jiawa.
"Benar, mereka sudah tidak mempunyai sekutu lagi. Kerjasama yang mereka punya semuanya terputus karena kaisar yang tak pernah menyambungnya lagi," ucap Selir Dhu menyunggingkan senyumnya.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya?" tanya Jendral Jiawa pada Selir Dhu.
"Menyingkirkan permaisuri itu, sebelum kita menyingkirkan anaknya," jawab Selir Dhu.
"Apa rencana yang kau punya?" tanya Jendral Jiawa.
"Aku sudah berhasil menjauhkan kaisar dengannya, dan membuat langkah kita semakin mudah."
"Langkah selanjutnya ... bukankah lebih baik kita meluangkan waktu untuk kita berdua?" Selir Dhu menggoda Jendral Jiawa.
Jendral Jiawa tersenyum, "Baiklah-baiklah, sepertinya karena kau terlalu sering bersama kaisar kau merasa bosan dan sangat merindukanku ya?"
"Mereka berdua! Benar saja dugaanku, mereka berdua nampak janggal. Rupanya, mereka ada hubungannya dengan keporak-porandaan yang melanda kekaisaran."
"Berani sekali mereka ingin menyingkirkanku dan juga ibu, aku tidak akan membiarkannya!" ucap Zheya marah.
Zheya pun tak sanggup berlama-lama melihat wajah selir Dhu dan jendral Jiawa yang nampak sangat memuakkan itu. Dia kembali menitipkan makanan itu kepada pelayan lain untuk diantarkan kepada Selir Dhu.
Semangat Thor 💪
smngt
smngt thor
naik ke atas pohon.