"Tolong! Tolong!"
Jeritan dari seorang wanita membuat Khasafa yang sedang membidik suatu gambar di atas batu besar, di tengah-tengah sungai mendadak diam. Hingga ia melihat seorang gadis terjatuh tepat di depan mata.
Byurr
"Astaghfirullah... Mati apa hidup itu orang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Shafa berbalik menatap Salsabila dengan tatapan yang serius. kedua mata begitu lekat menatap wajah cantik gadis di depannya ini. Mendengar nama yang disebut Salsabila membuat Shafa menyimpulkan jika Sabil tak hanya mengingatnya sebagai penolong tetapi juga teman kecil yang memintanya untuk kelak menikahi.
"Neng."
"Iya Bang?" Salsabila mengerutkan keningnya melihat tatapan Kashafa yang berbeda padanya. Tadi tak seperti ini, sebelumnya pun Shafa tak pernah seserius ini.
"Apa Bila salah ngomong, Bang? Kok Abang..."
"Neng ingat semua tentang, Abang?" tanya Shafa yang saat ini memegang kedua pundak Salsabila. Tatapan keduanya pun begitu lekat dengan perbedaan pikiran mereka.
Anggukan Salsabila membuat Shafa semakin penasaran. Tentang Cinderella? Gadis kecil yang minta Abang nikahin? Bila yang manja, cerewet, dan cengeng? Ingat semuanya?" cecar Shafa membuat bibir Salsabila mencebik.
Bukan menjawab Salsabila malah melangkah masuk rumah. Padahal tadi dia enggan karena tak enak dengan Mamah Kaira. Sekarang dia malah melangkah nyelonong meninggalkan Shafa.
Shafa menggelengkan kepala melihat Salsabila yang melangkah tanpa memperdulikannya. Dengan cepat Shafa pun mengejar. Seakan apa yang ia pertanyakan harus mendapatkan jawaban sekarang juga.
Shafa pun lupa jika dia sedang mengejar waktu untuk pergi ke undangan pertunangan Revan dan Ratu. Pusat pikirannya saat ini mengarah ke Salsabila yang seakan mengabaikan.
"Assalamualaikum Tante.."
"Salsabila? Wa'allaikumsalam Nak. Kok main nggak bilang-bilang? Kamu datang sama siapa?" tanya Mamah Kaira dengan wajah sumringah melihat kedatangan Salsabila yang sudah lama tak singgah lagi ke rumahnya.
"Datang sama..."
"Neng!"
Mamah Kaira pun menoleh saat mendengar putranya memanggil Salsabila dengan panggilan khas saat gadis itu amnesia.
"Shafa? Kalian?" Mamah Kaira menatap keduanya bergantian. Beliau tak menyangka jika putranya bisa bertemu dengan Salsabila.
Shafa menarik nafas dalam lalu mengusap wajahnya. Semua keinginannya akan mendapatkan jawaban dari Salsabila seakan meluap begitu saja di udara.
"Tunggu! Abang mau mandi bentar! Jangan ngabur! Nanti Abang yang akan antar loe pulang." Shafa pun bergegas masuk. Pertanyaan sang Mamah pun tak ia jawab. Bahkan sikapnya membuat Mamah Kaira tercengang. Beliau pun segera menoleh ke arah Salsabila.
"Salsa bertemu Abang dimana?" tanya Mamah lalu meraih tangan Salsabila dan mengajaknya masuk.
"Bertemu di mall Tante saat sedang mencari jas."
Mamah Kaira mengangguk lalu kembali melempar pertanyaan. "Terus ini mau kemana? Nggak dicariin sama Mamah dan Papah kamu?"
"Sudah pamit tadi, Tan. Disuruh Abang kirim pesan pada Papah. Terus kata Abang suruh ikut ke acara pertunangan Kak Ratu."
"Kamu tidak takut dengan Ratu, Nak? Dulu kan dia sempat mencelakai kamu. Jika tak ingin ikut biar nanti Tante yang mengatakan pada Shafa. Lagian acara kamu lusa sudah akan digelar. Ada baiknya tidak pergi-pergian hingga pulang malam."
"Nggak apa-apa, Tante. Tadi Mamah sudah mengijinkan. Mulai besok Bila di rumah."
"Kalau nanti Shafa tidak segera mengajak pulang. Kamu harus memintanya untuk pulang ya, Sayang! Jangan malam-malam! Tidak baik, Nak!" Terlebih Salsabila perempuan. Mamah Kaira tak ingin kedua orang tua Salsabila mencemaskan putrinya.
"Iya Tante."
Tak lama Shafa turun dengan setelah jas casual tanpa di kancing yang membuat Salsabila tertegun melihatnya. Namun hanya beberapa saat gadis itu segera membuang muka.
"Ayo keburu malam!" ajak Shafa yang sudah lebih terlihat segar, wangi dan semakin tampan tentunya.
Salsabila yang sejak tadi duduk dengan Mamah Kaira pun segara beranjak dan berpamitan. Dia tak lupa mencium tangan Mamah Kaira dan melangkah mengikuti Shafa.
"Nanti aku pulang agak malam, Mah. Aku akan mengantar Bila pulang dulu."
"Ya sudah yang penting jangan terlalu malam antar anak orang! Ingat Shafa..."
"Dia calon bini orang. Paham kok, Mah." Ucapan Kashafa mampu membuat Mamah Kaira geregetan karena belum sempat menyelesaikan ucapannya tetapi sang putra langsung memotongnya begitu saja.
Sementara Salsabila hanya diam menundukkan kepala tanpa berucap apapun.
"Ya sudah hati-hati kalian!"
"Iya Mah."
Shafa pun melangkah lebih dulu dan diikuti oleh Salsabila. Dia membukakan pintu untuk gadis itu dan segera masuk ke dalam mobil.
"Bang nanti sampai sana Bila tunggu di mobil saja ya."
Setelah beberapa saat mobil melaju dan terjadi keheningan di dalamnya. Kini ucapan Salsabila membuat Shafa berdecak.
"Kenapa nggak sekalian loe nyopirin gue? Kenapa? Takut ketahuan sama laki loe kalau malam ini jadi partner gue?" tanya Shafa tidak santai lalu menggigit jemarinya dan memegang setir hanya dengan sebelah tangan.
"Eh nggak gitu, Bang! Maksudnya tuh gini..."
"Nanti gue minta ijin sama calon laki loe. Lagian nggak gue apa-apain juga kecuali gue ajak ngamar baru dia boleh ngamuk."
"Bukan gitu Abang, denger dulu! Salsabila tuh nggak pede dengan penampilan yang biasa begini. Ini kan acara pesta pertunangan. Pasti ramai dan mewah. Gimana kalau Salsabila nanti malah malu-maluin, Abang?"
"Nggak akan. Loe udah cantik kok."
Salsabila menundukkan kepalanya setelah mendengar jawab dari Shafa.."Cantik" wanita mana yang tak akan berbunga-bunga saat disanjung seperti itu. Sementara Shafa tampak santai walaupun ia kepikiran dengan apa yang ia katakan.
Sekilas Shafa menoleh ke arah Salsabila dan kembali menatap ke jalan. "Itu muka udah kayak rambu lalu lintas suruh berhenti."
Sontak Salsabila menyentuh kedua pipinya lalu menoleh ke arah Shafa. Dia hanya diam menatap Shafa yang kembali fokus ke jalan.
"Ayo turun!"
"Bang!"
"Gue nggak terima penolakan, lagian kan tadi gue bilang. Loe cantik, mau pake daster juga anak Pak Wiratama tetap cakep. Pas dibawa kondangan."
Shafa yang gemas segera meraih tangan Salsabila agar segera turun dan masuk ke dalam bersamanya.
"Bang."
"Udah tutup, udah malam. Besok baru buka."
"Itu Bank!"
"Makanya jangan cerewet! Mau jadi bini orang jadi susah gue ajak jalan. Pegangan!" Malam ini Shafa sangat memaksa. Anggap saja kesempatan mengajak jalan calon istri orang. Setelahnya dia tak mungkin akan melakukan hal yang sama.
Shafa memberikan lengannya agar Salsabila memeluknya. Perlahan gadis itu pun melingkarkan tangannya di lengan Shafa dengan tatapan yang entah.
Kedua mata mereka bertemu. Terlihat senyuman tipis dari wajah Shafa lalu menatap ke lain arah.
"Calon bini orang cakep bener. Ya Allah bisa nggak jodoh Shafa besok datang modelannya yang begini. Pas semuanya, pas diajak ke kondangan cantiknya ngalahin pengantin."