NovelToon NovelToon
The Two Empresses

The Two Empresses

Status: sedang berlangsung
Genre:Petualangan / Supernatural / Contest / Mengubah sejarah / Perperangan / Romansa Fantasi
Popularitas:61.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saciel Arakawa

Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.

Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.

Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?

Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.

Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyusun Rencana

Phillip menyeduh teh bunga krisan emas dengan elegan, sesekali melirik Ata Lafoia bersaudara yang tengah bersantai di ruang tengah. Meski wajah mereka terlihat datar, Phillip menangkap kilat kecemasan dari mata mereka. Ia menghela napas dan membawa kudapan yang baru saja dibuatnya pada mereka setenang mungkin.

“Dia akan baik-baik saja, paling dia bakal sadar sebentar lagi,” hibur Phillip sembari meletakkan kudapan di hadapan mereka. “Dengan ini rencana kita akan berjalan mulus.”

“Yakin sekali perjalanan ini akan semulus yang kau harapkan. Para pengejar kita sudah menyerah?” celetuk Nero ketus. Phillip menghela napas dan menggelengkan kepala, menyadari kesalahannya akan ketidakpastian dalam pelarian mereka. Hati-hati dituangnya cairan kental berwarna cokelat keemasan ke dalam tiga cangkir porselen, lalu memberikannya pada mereka.

“Lalu apa rencana kita setelah ini?” tanya Max sembari menikmati aroma krisan yang lembut berpadu dengan aroma asam nan segar bagaikan buah stroberi. “Wow, kualitas teh ini bagus juga.”

“Meninggalkan Rivendell secepat mungkin dan pergi ke Mandalika. Meski begitu, perjalanan kita mungkin saja tidak semudah yang diharapkan, seperti katamu tadi,” ujar Phillip. Saciel berjalan mendekat, tubuhnya terlihat rapuh dengan rona wajah yang nyaris putih bagai mayat. Langkah lambatnya menarik perhatian para demi human, namun Phillip masih belum sadar situasinya. Cepat-cepat Kezia mendekati penyihir wanita itu dan memegangi tangannya dengan senyum manis.

“Pegang tangan Kezia, Kak,” ujarnya riang. Saciel tertawa lirih dan mengikuti langkah kecil nan gesit milik Kezia hingga tiba pada sofa kulit nan empuk.

“Kau tidak memanggilku?”

“Untuk apa? Kau mendengarku berjalan saja tidak, hanya buang-buang energi,” keluh Saciel sembari memperbaiki rambutnya yang diikat rendah dan sederhana hingga menutupi lehernya. “Daripada itu, bagaimana situasi terkini di Rivendell?”

“Tidak banyak perubahan, tapi kudengar pasukan penjaga perbatasan mulai memperketat pengawasannya pada jalur yang sering dilalui. Saat ini SEW cukup kewalahan untuk mengisi posisi Comet yang kosong, jadi kurasa mereka tidak akan mengurusi kita sementara waktu,” papar Phillip.

“Hah, dengan begini Erika lebih leluasa untuk menyerang kita. Terlalu berbahaya jika kita adu kekuatan dengan wanita itu, sebaiknya kita pergi secepat mungkin,” ujar Saciel setelah berpikir sejenak.

“Kau benar. Kita bisa pergi kapan saja, tapi kau juga harus berhati-hati dalam menggunakan uangmu, Ciel. Beruntung lelang gelap akan tutup mulut soal ini,” celetuk Phillip.

“Yah, gimana lagi? Aku kan tidak bawa banyak uang dan pilihan terbaikku hanya dengan cek itu. Kau sendiri nggak bawa juga…ah, sialan,” cetusnya setelah melihat dompet miliknya dipenuhi beberapa lembar kertas mata uang Furst yang nilainya kurang lebih sekitar 5 juta.

“Setidaknya untuk urusan primer kita aku bisa memenuhinya. Nah, lain kali kalau mau pergi bawalah uang secukupnya,” ujar Phillip sembari memasukkan kembali dompetnya, lalu melirik pada jam sakunya. “Pergantian jam prajurit penjaga paling cepat masih 3 jam lagi, perjalanan kita hanya memakan waktu kurang dari 2 jam, akan membosankan jika kita harus menunggu di sana.”

“Hmm kau benar juga. Ah, burung elangmu,” celetuk Saciel sembari menunjuk burung elang milik Phillip mendarat mulus di sofa dengan pesan kecil terikat kuat di kakinya. Phillip segera mengambil kertas kecil itu, memberinya makan berupa potongan daging dari portal kecil dan membaca pesannya. Kedua alisnya bertaut dalam, ekspresi kesal terukir jelas pada wajah tampannya yang dikenal nyaris lempeng bagai tembok.

“Para tetua mulai bekerja sama dengan beberapa negara dan memperketat penjagaan di seluruh wilayah perbatasan. Tidak ada celah sama sekali,” celetuk Phillip sembari membakar kertas tersebut hingga menjadi abu. Saciel menggeleng.

“Pergerakannya cepat sekali, bisa-bisanya Lao kecolongan. Ya sudahlah, mari menyusun rencana…”

“Apa ini artinya kami akan terjebak di sini selamanya?” tanya Kezia.

“Tidak begitu, hanya saja kita harus mencari jalan lain untuk bisa ke seberang Ceshier tanpa harus beradu tenaga dengan pasukan gabungan,” jawab Phillip sabar.

“Oh, apa kau takut melawan pasukan gabungan?” tantang Max, sedikit melecehkan sembari meniup kuku jemarinya. Yang dicela hanya mendelik, namun malas mengurus demi human yang kelewat keterlaluan, kalau boleh jujur setara dengan Saciel.

“Kita hanya akan memancing perang berikutnya dan akan banyak korban yang mati sia-sia,” celoteh Saciel sembari menenggak teh langsung dari tekonya tanpa merasa lidahnya kebas meski panasnya mencapai 70 derajat. “Jika menurutmu itu adalah pilihan terbaik, mari kita buang semua nyawa orang tak berdosa di dalam permainan konyol ini.”

Max terdiam. Ia tahu apa yang dilontarkan Saciel adalah kenyataan. Bukan hanya prajurit saja yang tewas, tapi ras lain yang tak ada sangkut pautnya pun terseret dalam kehancuran itu. Rasa bersalah mulai menggerogoti keangkuhannya, namun ia diam agar ia tidak terlihat mengakui kebodohannya. Saciel memperlihatkan peta dan menunjuk ke laut.

"Kudengar ada sebuah kerajaan atau wilayah netral yang tidak bisa diganggu oleh kedua benua di lautan. Apa kita bisa lewat sana?" tanya Saciel.

"Kalau yang kau maksud wilayah milik Marchioness Geliza, itu bisa saja," celetuk Nero sembari memperbesar bagian dalam lautan dan memamerkan sedikit tampilan wilayah tersebut. "Aku cukup dekat dengannya."

"Tapi bagaimana caranya kita ke sana?" tanya Phillip. Max menunjuk wilayah alkemis dengan telunjuknya.

“Kalau ingatanku tidak salah, di dekat Archolen ada sebuah pulau kecil yang jarang didatangi karena rumornya pulau itu berhantu. Kita bisa lewat situ,” ujar Max kalem. Saciel mengerjapkan mata, lalu berpaling pada Phillip untuk memvalidasi pernyataannya.

“Yah, dia tidak salah soal pulau itu. Jadi kita akan putar haluan ke Archolen?” celetuk Phillip.

“Lebih baik daripada berkonfrontasi dengan penjaga perbatasan. Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bisa ke sana?” tanya Nero. Saciel berpikir sejenak, lalu berpaling pada Phillip yang dibalas dengan tatapan datar, menyiratkan sesuatu yang dia harapkan.

“Teleportasi,” ujar Phillip santai. “Tapi Ciel, Archolen bukanlah tempat yang bisa kita datangi dengan teleportasi sesuka hati. Izin dari ketua alkemis masih tetap dibutuhkan untuk masuk ke wilayah mereka.”

“Pilihan kita berarti hanya tinggal jalur darat saja. Apa ada kereta yang bisa kita gunakan?” ujar Saciel.

“Julian sudah menyiapkannya, kita tinggal pakai kapanpun kita mau,” balas Phillip sembari mengganti teko teh dengan yang baru. “Minumlah dengan cangkir, jaga tata kramamu. Kalau sampai mendiang ibumu tahu, kau bisa disuruh belajar tata krama dari awal.”

“Oh ayolah, dia sudah tenang di surga,” kilah Saciel sembari menuang teh seelegan mungkin dan menyesapnya. “Eh, kau bilang Julian menyiapkannya? Sejak kapan?”

“Entahlah, aku tidak tahu detilnya. Tau-tau saat aku mengecek beranda, seorang kusir sudah berdiri menanti perintahku. Jadi kapan kita akan pergi?” jawab Phillip sembari memperbaiki postur Saciel dengan tangannya.

“Besok pagi-pagi sekali. Saat ini biarkan aku mengisi energiku dulu, kalian juga harus istirahat dan bersiap akan kemungkinan bertarung dengan musuh lain. Siapa tau, yang mengincarku bukan hanya dari Careol saja,” putus Saciel sembari bangkit berdiri dan meletakkan setangkai mawar di meja, lalu berjalan pelan kembali ke kamarnya.

1
Srirahayu Rahmadani
mmm
Mega AK
lanjut
@aini*_Thalita
semangat Thor
salam dari Carlos'Revenge
Mega AK
lanjutkan
Mega AK
lanjut
Langit Malam
Semangat dan terus semangat ya kak..

Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
Ania Haris Riyadi
seru banget ceriranya tor
Vronc
menarik sekali
Vronc
menarikkk
Shine
Hallo author, ijin promote, yuk baca novel ku yang berjudul " Pesonamu Memikat Hatiku " yang baru saja update episode, cerita nya menarik loh, jangan lupa tinggalin like, comment, dan share ya dan jangan lupa untuk terus baca ya chapter selanjutnya
Ayu Ungraini
ceritanya seru
@aini*_Thalita
semangat Thor
After.Story
aku mampir nih
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya

AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Dinda Natalisa
Hai author aku mampir nih kasih like jangan lupa mampir di novel ku "menyimpan perasaan" mari saling mendukung.
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Senja
Lanjut kakak. Dapet salam dari Senja dan Zona berondong, jangan lupa mampir
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌 👍
Melisa: mampir juga di novelku kk.

judulnya KESUCIAN YANG TERNODA.

mohon dukungannya ya kk.
terima kasih.🙏
total 1 replies
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌
Dewi Masita
k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!