Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Malam itu, Kiana tetap kembali ke Navara Tech.
Bukan karena ia ingin lari dari Hans. Bukan juga karena ia ingin pura-pura pipi kirinya tidak sakit. Ia hanya tahu, sebelum makan malam ulang tahun dan sebelum ia menunjukkan luka itu kepada siapa pun, ada satu paket dokumen Vista Home tahap dua yang harus dikirim ke Bu Hendro pukul sepuluh malam.
Pukul delapan lewat lima puluh, gedung lama tempat Navara Tech berada sudah hampir kosong.
Lampu beberapa lantai masih menyala, tetapi lobi bawah hanya dijaga satu petugas keamanan yang mengantuk. Lift berderit halus ketika naik ke lantai tujuh. Di pantulan pintu stainless, Kiana melihat wajahnya sendiri. Bekas tamparan Jovian Loe sudah berubah menjadi merah tua di pipi kiri. Sudut bibirnya tidak lagi berdarah, tetapi masih perih ketika ia menarik napas terlalu cepat.
Ia menatap bayangan itu sebentar.
Malam nanti, ia memang tidak akan menyembunyikan luka.
Tetapi ia tidak akan membiarkan luka itu membuat pekerjaannya berhenti.
Kantor Navara Tech sunyi. Meja Lina kosong. Kursi Fang sudah rapi. Rio tidak mungkin ada di sini, karena sejak awal ia bukan orang kantor. Tim engineering sudah pulang setelah Kiana memaksa mereka istirahat. Hanya lampu ruang kerjanya yang menyala, dan suara pendingin ruangan yang terdengar tua.
Kiana menyalakan laptop.
Jam di sudut layar menunjukkan 21.03.
Hans mengirim pesan.
Selesai jam berapa?
Kiana mengetik dengan satu tangan, tangan lain menempelkan kompres dingin kecil ke pipi.
Sebentar lagi. Ada dokumen Vista Home.
Balasan datang setelah beberapa detik.
Saya jemput.
Kiana menatap pesan itu lama. Ia membayangkan wajah Hans ketika melihat pipinya. Tenang dulu, katanya kepada diri sendiri. Cerita setelah selesai.
Ia membalas: Jangan dulu. Aku kabari kalau turun.
Kali ini Hans tidak langsung menjawab.
Kiana tahu itu berarti ia tidak suka, tetapi menahan diri.
Ia memaksa fokus pada dokumen. Lampiran teknis, jadwal integrasi, daftar milestone, risk register. Semua hal yang bisa diatur dengan angka dan tanggal terasa menenangkan. Berbeda dengan manusia, dokumen tidak tiba-tiba mengangkat tangan.
Pukul 21.28, hidungnya menangkap sesuatu.
Bau gosong.
Awalnya tipis, seperti kabel charger yang terlalu panas. Kiana mengangkat kepala. Pendingin ruangan masih menyala. Laptop tidak bermasalah. Ia berdiri, berjalan ke pantry kecil, memeriksa stopkontak dan dispenser.
Tidak ada.
Bau itu justru semakin tajam dari arah luar.
Kiana membuka pintu ruang kerja.
Asap abu-abu langsung menyusup masuk dari celah koridor.
Ia menahan napas.
Koridor lantai tujuh yang biasanya remang kini buram. Lampu darurat berkedip di ujung lorong. Dari bawah, terdengar suara alarm yang patah-patah, tidak stabil, seolah sistem gedung tua itu baru ingat cara berteriak.
Kiana menutup pintu lagi, mengambil ponsel, tas kecil, dan handuk kecil dari pantry. Ia membasahi handuk di wastafel sampai penuh air, memerasnya cepat, lalu menutup hidung dan mulut.
Pertama, keluar.
Ia membuka pintu lagi dan berjalan merunduk ke arah tangga darurat. Asap menekan mata, membuatnya perih. Ia hafal jalur itu karena pernah memeriksa denah gedung untuk sistem keselamatan. Tiga belas langkah dari pintu kantor ke belokan. Delapan langkah ke pintu tangga.
Tangan kirinya menyentuh handle pintu tangga darurat.
Ia menekan.
Tidak terbuka.
Kiana menekan lagi, lebih keras.
Handle bergerak, tetapi pintu tidak bergeser.
Ada bunyi logam dari sisi luar.
Rantai.
Darah Kiana seperti turun dari wajahnya.
Tangga darurat tidak hanya macet.
Pintu itu dikunci dari luar.
Ia memukul pintu sekali. "Hei! Ada orang?"
Suaranya ditelan asap dan alarm.
Di balik pintu, tidak ada jawaban.
Kiana mencoba pintu cadangan di ujung koridor, tetapi asap di sana lebih tebal. Panas naik dari arah bawah, membuat udara seperti menempel di kulit. Ia tidak bisa memaksa melewati lorong tanpa alat bantu napas.
Ini bukan kebetulan.
Kalimat itu muncul dingin di kepalanya.
Gedung tua bisa korsleting. Alarm bisa rusak. Tetapi pintu tangga darurat yang dirantai dari luar, pada malam ketika ia sendirian di kantor setelah siang tadi dipukul Jovian, terlalu rapi untuk disebut nasib buruk.
Kiana mundur kembali ke ruang kerja, batuk keras. Ia menutup pintu, mengunci dari dalam, lalu menarik sofa kecil dan satu lemari arsip rendah untuk menahan celah bawah pintu. Asap tetap masuk, tipis tetapi terus-menerus.
Ia menekan nomor darurat 112.
Suaranya keluar serak ketika operator menjawab.
"Kebakaran. Gedung kantor lama di Tangerang Selatan, lantai tujuh. Navara Tech. Saya terjebak. Tangga darurat terkunci dari luar."
Operator meminta ia mengulang alamat.
Kiana mengulang, lebih jelas. Ia menyebut nama gedung, patokan jalan, lantai, nomor unit, dan kondisi asap. Tangan kanannya gemetar, tetapi ia memaksa setiap kata keluar lengkap.
"Tetap di ruangan, Bu. Tim damkar sedang diarahkan. Jangan masuk ke koridor jika asap tebal."
"Pintu tangga dikunci dari luar," Kiana menekankan. "Tolong catat. Ini bukan cuma kebakaran."
Setelah operator memastikan laporan, Kiana menutup telepon.
Nomor berikutnya tidak perlu dipikirkan.
Hans.
Panggilan tersambung di dering pertama.
"Kia?"
Hanya satu suku kata. Tetapi suara itu membuat sesuatu di dada Kiana hampir pecah.
Ia tidak punya waktu untuk menangis.
"Gedung Navara kebakaran. Aku di lantai tujuh. Tangga darurat dikunci dari luar."
Di seberang, hening jatuh selama kurang dari satu detik.
Lalu suara Hans berubah.
Bukan lagi suara pria yang tadi pagi membuat mi ulang tahun. Bukan suara orang yang bertanya kapan boleh membelikan kalung.
Ini suara seseorang yang mengambil alih medan.
"Dengar saya. Jangan tutup telepon. Lantai tujuh, ruang kerja mana?"
"Unit 7B. Ruang direktur. Jendela menghadap jalan belakang, ada billboard biru di luar."
"Berapa pintu antara kamu dan koridor?"
"Satu. Pintu ruang kerja. Aku sudah tutup."
"Celah bawah pintu?"
"Sudah kutahan sofa dan lemari. Tapi asap tetap masuk."
"AC masih menyala?"
Kiana menoleh ke unit pendingin ruangan di atas lemari. Anginnya justru menarik bau asap ke dalam ruangan.
"Masih."
"Matikan. Kalau panel listrik ruang kerja dekat dan tidak perlu buka pintu, turunkan. Kalau harus ke koridor, jangan."
Kiana merangkak ke dinding samping meja. Saklar utama kecil untuk ruang direktur ada di sana. Ia mematikan AC, lampu tambahan, dan charger laptop. Ruangan menjadi lebih gelap, hanya lampu darurat gedung dan layar ponsel yang tersisa.
"Sudah."
"Bagus. Sekarang sentuh pintu pakai punggung tangan, cepat saja. Panas atau tidak?"
Kiana merangkak kembali, menyentuh daun pintu dengan punggung jarinya, lalu langsung menarik tangan. "Hangat. Belum terlalu panas."
"Artinya api belum tepat di depan pintu. Fokus tahan asap. Kirim lokasi live ke saya. Kalau sinyal turun, kirim sekarang."
Kiana membuka aplikasi pesan dengan mata perih, mengirim lokasi, lalu mengambil foto cepat dari jendela: billboard biru, sisi gedung belakang, blazer kuning yang mulai berkibar. Ia mengirimkannya kepada Hans.
"Terkirim."
"Saya terima."
"Basahi kain. Tutup celah dengan kain basah, bukan hanya furnitur. Jangan berdiri. Tetap rendah."
Kiana bergerak. Ia mengambil dua blazer cadangan dari gantungan, membasahinya di wastafel pantry sampai air menetes, lalu merangkak kembali ke pintu. Asap membuat matanya berair. Ia menjejalkan kain basah ke celah bawah pintu, satu per satu.
"Sudah," katanya, batuk.
"Jendela bisa dibuka?"
Kiana merangkak ke jendela. Tangannya memutar kunci. Udara malam masuk, tetapi bersama itu asap dari luar gedung juga bergerak berputar.
"Bisa. Tapi asap di luar juga ada."
"Buka sedikit saja. Jangan terlalu lebar kalau asap naik dari bawah. Cari kain warna terang. Gantung di luar sebagai tanda. Jangan naik ke jendela. Jangan lompat."
"Aku tidak sebodoh itu."
"Saya tahu. Tetap dengar saya."
Kalimat itu pendek, tetapi membuat napas Kiana sedikit lebih teratur.
Ia mencari kain terang. Di lemari, ada blazer kuning milik acara demo lama. Ia mengikatnya ke gagang jendela dan menjulurkan sebagian keluar. Angin malam menggoyangkannya, membuat warna kuning itu berkibar lemah di antara asap.
"Aku sudah pasang tanda."
"Bagus. Sekarang duduk di lantai dekat jendela, tapi jangan tepat di bawah kaca. Kalau kaca pecah, menjauh. Tutup hidung dengan kain basah. Napas pendek. Hitung dengan saya."
Di luar, alarm gedung semakin kacau. Dari bawah terdengar teriakan samar, suara orang berlarian, dan sesuatu yang meledak kecil seperti lampu pecah.
Panas mulai masuk melalui lantai.
Kiana duduk merapat ke dinding. Handuk basah di mulutnya terasa semakin hangat.
"Satu," suara Hans di telepon.
Kiana mengikuti dalam hati.
"Dua."
Ia batuk.
"Tiga."
Pandangannya kabur oleh air mata akibat asap.
"Kia, jawab."
"Aku dengar."
"Tetap jawab setiap kali saya panggil."
"Iya."
Di luar pintu, ada bunyi berderak. Asap menebal lagi dari sela atas. Kiana melihat garis hitam merayap di bawah lampu seperti makhluk hidup. Ia menarik blazer kuning lebih kuat agar tidak lepas, tetapi tangannya semakin lemah.
"Hans."
"Saya di jalan."
Suara di belakangnya berubah. Ada deru mesin, lalu sirene yang jauh tetapi makin jelas.
"Kamu di mobil damkar?"
"Saya datang."
Itu bukan jawaban, tetapi cukup.
Kiana menutup mata sebentar. Gambar pagi tadi muncul, mi ulang tahun, dua telur, tulisan tangan pendek. Lalu wajah Jovian saat tangannya melayang. Lalu tangan Hans di bawah lampu jalan, membuka agar ia bisa menggenggam.
Ia tidak ingin mati pada ulang tahunnya.
Tidak lagi.
"Hans," suaranya pecah oleh batuk, "kalau aku tidak keluar..."
"Berhenti."
Nada itu tajam. Seperti paku yang menahan pintu agar tidak roboh.
"Kamu akan keluar."
"Asapnya makin tebal."
"Dengarkan saya. Jangan habiskan napas untuk takut. Lihat lantai. Cari udara paling rendah. Tangan tetap di kain basah."
Kiana merosot lebih rendah. Ponsel berada di dekat telinganya. Layar mulai licin oleh uap dan keringat. Ia tidak tahu berapa menit berlalu. Waktu di dalam asap tidak bergerak seperti waktu biasa.
Ada suara orang di luar gedung. Sirene kini lebih dekat.
Hans kembali berkata, lebih rendah, tetapi tidak kalah tegas, "Kia, saya sudah lihat gedungnya."
Kiana membuka mata.
Melalui celah jendela dan asap yang berputar, ia melihat cahaya merah biru memantul di kaca gedung sebelah.
Tubuhnya terlalu lemah untuk merasa lega sepenuhnya.
"Aku mengantuk," bisiknya.
"Jangan tidur."
"Aku tahu."
"Sebut nama saya."
Kiana tertawa lemah, lalu batuk sampai dadanya sakit. "Hans."
"Lagi."
"Hans."
Di seberang, napas Hans terdengar berat, tetapi suaranya tidak goyah.
"Saya datang."
Kiana menatap blazer kuning yang berkibar di jendela. Warna itu mulai kabur.
Sebelum gelap menutup pandangannya, ia mendengar sirene berhenti tepat di bawah gedung.
Lalu suara Hans, dekat di telinganya, menahan dunia agar tidak runtuh.
"Saya sudah sampai."