Salsa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fariz, yang paling menyebalkan semuka bumi, dan yang anehnya kakaknya itu mempunyai asisten sekaligus bodyguard yang tidak kalah menyebalkan, namanya Ares. Laki-laki yang selalu berpakaian serba hitam, jarang bicara dan beraura dingin. Berada didekat Ares selalu membuat Salsa seperti berada ditengah-tengah pemakaman.
Ares jauh dari tipe lelaki idaman Salsa. Tapi, sayangnya atau sialnya, perintah Fariz tidak bisa diganggu gugat ketika ia memerintahkan Ares untuk menikah dengan Salsa!
Peristiwa demi peristiwa yang membahayakan nyawa Salsa justru membuat Salsa dapat melihat sisi manis Ares. Sebuah sisi yang membuat rasa aneh tumbuh diantara keduanya.
Akankah rasa itu akan terus tumbuh dan berbunga? Ataukah mati berguguran ketika rahasia dari sebuah jawaban yang selama ini Salsa cari telah terungkap?
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Batin
Salsa mencari Ares setelah dirinya selesai berpakaian dan mendapati Ares sedang duduk pada kursi kayu di bawah kanopi halaman belakang, ditangannya dia memegang sebuah gelas berisi es kopi Americano yang disimpan oleh Nura di dalam lemari pendingin.
"Kenapa lo harus tendang pintu kamar gue lagi sih?!" Semprot Salsa tanpa salam pembukaan lebih dulu.
Ares menoleh, sama sekali tidak terkejut dengan semprotan kekesalan Salsa, ia meletakkan gelasnya di atas meja, Salsa mengikuti gerakan tangan Ares. Moodnya membaik begitu menyadari Ares minum kopi buatannya.
"Kopinya enak." kata Ares memuji dengan sangat singkat, alih-alih menjawab semprotan Salsa, dirinya harus meredakan dulu debaran jantungnya yang masih terbayang dengan adegan visual dimana Salsa berdiri hanya dengan terlilit handuk. Bayangan yang masih membuat Ares panas dingin.
"Jawab pertanyaan gue!"
"Saya pikir kamu kabur."
"Lo pikir gue anak kecil yang marah dikit trus kabur?"
"Jejak pengalaman saya selama mengawasi kamu ya seperti itu. Terakhir dengan gaun pengantin."
"Itu-" Salsa melotot, tapi tidak dapat membantah. Aksi protes dengan cara kabur adalah jurus ninjanya, walaupun tidak pernah berhasil. "Itu dulu. Sekarang enggak lah. Ya kali gue kabur sendirian sementara ada psikopat gila yang baru aja nyerang rumah semalem."
Ares mengangguk. "Jadi tadi kamu marah?"
"Iya!"
"Kamu marah saat saya bantu cuci luka di jari kamu tadi. Apa karena itu kamu marah?"
"Bukan lah."
"Lalu?"
"Karena..."
Oke, karena apa gue marah? Dan kenapa gue harus marah? Karena Ares mengabaikan gue? Trus kenap gue harus marah? Bukannya selama ini gue berharap dia mengabaikan gue ya? Apa karena Ares ngobrol sama Nura? Trus kenapa juga gue harus kesel ngelihat Ares ngobrol sama Nura sementara gue dia abaikan? Atau karena Ares senyum. Demi Tuhan, Ares senyum, tapi dia nggak pernah senyum di depan gue! Eh, tapi, kenapa juga gue jadi marah karena Ares senyum sama Nura? Kenapa?
"Salsa." Ares kembali memanggil namanya.
"Karena gue mau dapet." jawab Salsa sekenanya. Periode datang tamu bulanan sepertinya telah menyelamatkan Salsa dari pertanyaan Ares. Pertanyaan dengan jawaban yang mungkin akan menjurus pada kecemburuan. Hah! Cemburu? Salsa benar-benar harus merevisi isi otaknya.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir Ares. Ia kembali menyesap es kopi Americano ala Salsa.
"Gue bosan seharian ini di kamar aja, jadi tadi gue udah janjian sama Rere, Sita dan Mesya, mau ketemuan sama mereka." kata Salsa mencoba mengganti topik, dan lagi pula dia memang rindu dengan sahabat-sahabatnya itu.
"Kemana?" tanya Ares.
"Nonton kayaknya. Yuk."
"Oke, saya akan bilang ke Nura." Ares juga berdiri.
"Nura?" tanya Salsa dengan bingung. Apa urusannya dengan Nura?
"Dia yang akan menjadi pengawal kamu."
"T-tunggu, bukannya dia dipekerjakan sebagai ART?"
"Benar."
"Trus kenapa dia jadi pengawal gue?"
"Karena dia juga sebagai pengawal."
Salsa berusaha sekuat tenaga untuk tidak menendang Ares dengan jawabannya yang tidak berfaedah.
"Trus lo?"
"Saya ada urusan."
"Trus lo tinggalin gue? Kalo penjahat-penjahat semalem nyulik gue gimana?"
"Tidak akan. Ada Nura." jawab Ares kemudian berlalu dari hadapan Salsa untuk memberitahukan tugas Nura sebagai bodyguard perempuan yang sering kali kabur dari pengawasan.
* * *
Sesekali Mesya melirik ke belakang dimana Nura berjalan seperti robot pengintai. Ekspresinya datar dan tatapan matanya tajam. Sungguh kontra dengan ekspresi kebanyakan orang-orang yang berjalan-jalan di dalam sebuah mall. Bahkan ketika sedang di dalam ruang studio bioskop, Nura tidak menonton film yang diputar pada layar, Mesya beberapa kali memeregoki Nura yang kepalanya terus bergerak kanan dan kiri, seperti kamera CCTV pengawas.
"Lo yakin dia manusia, Sal?" tanya Mesya dengan suara pelan.
"Nggak tau."
Katanya gue nggak perlu takut karena ada dia. Tapi sekarang dia malah nyerahin gue ke si Nura!
"Kita makan di food court aja yuk." ajak Rere.
"Oke." Salsa mengangguk.
Memang sepenting apa sih urusannya? Apa lebih penting dari pada gue?
"Sal, lo pesen paket apa nggak?" tanya Sita yang berdiri paling depan dekat kasir.
"Iya paket."
Ngapain juga sok-sokan nyariin gue sampe dobrak pintu lagi kalo sekarang malah lebih pentingin urusan yang lain?!
"Paket apa?"
"Yang B aja."
Katanya udah janji akan selalu jagain gue. Huh! Dasar laki-laki, sama aja, mau yang batu, mau yang bukan batu, semuanya sama!
Mereka memilih meja yang kosong, sementara Nura memilih untuk berdiri siaga tak jauh dari meja mereka.
"Sal, pengawal lo nggak ditawarin makan?"
"Hah?"
"Ish, anak ini dari tadi kebanyakan bengong deh." Gerutu Mesya. "Pengawal lo tuh, nggak dibeliin makan?"
"Oh, terserah dia."
"Lah ini anak lagi nge-fly apa gimana sih?" ujar Mesya. "Pengawal mah nggak akan makan kalo nggak ditawarin atau disuruh kali, Sal."
"Ya udah, lo aja gih yang tawarin. Nih, pake kartu gue bayarnya." kata Salsa ogah-ogahan.
"Hah kok gue? Gue takut, muka pengawal lo galak bener."
"Sini gue aja." Sita mengambil alih tugas kemanusiaan itu untuk mendekat pada Nura, terpantau Sita berbicara dengan Nura, tapi Nura menggeleng beberapa kali. Lalu Sita kembali, dia memberikan kembali kartu debit Salsa pada yang punya.
"Nggak mau, katanya. Dia sedang bertugas. Gitu."
"Wih, sangat loyal. Ares juga gitu kali ya, Sal?" Rere terpukau.
"Iya kali."
"Eh, omong-omong kok bukan Ares yang ikut?" tanya Rere lagi.
"Ada urusan katanya. Aneh. Padahal semalem tuh abis ada rampok masuk rumah gue, dia berusaha menyelamatkan gue, tapi sekarang malah mentingin urusannya yang lain dan malah nyuruh orang lain yang jaga gue. Aneh bin nyebelin banget kan? Padahal tadi sebelum kesini juga dia khawatir gue... kenapa lo pada ngeliatin gue kayak gitu?" Salsa menyadari tatapan ketiga sahabatnya yang menyimpan arti ditambah dengan senyu-senyum menyebalkan ketiganya.
"Jadi dari tadi lo nggak semangat karena bukan Mamas Ares yang jagain lo?" ujar Mesya sambil memainkan alisnya.
"Hah? Eh-enggak! Aneh. Mana ada gue nggak semangat." Salsa memalingkan wajahnya dari tatapan para sahabatnya, dia menyeruput soda dalam gelas kardus sekali minum.
"Trus omong-omong, yang semalem kita lagi vidcall-an itu ternyata ada rampok?" Sita bertanya setelah mereka cukup yakin mereka membaca gelagat aneh dari Salsa. Dan gelagat itu cukup mengkonfirmasi ketiganya, mereka hanya perlu mengasahnya lagi.
"Ya semacam itu, lah. Mereka nerobos masuk ke dalem rumah gue, empat orang."
"Trus Ares ngelawan mereka sendirian?"
Salsa mengangguk.
"Lo dimana?"
"Gue disuruh tetap di dalam kamar, dan..." Salsa mulai menceritakan kejadian menegangkan semalam tanpa terlewat sedikit pun. Ketiga wanita yang mendengarkan cerita Salsa itu pun ikut ngeri ketika Salsa memberitahukan bahwa Ares memberikannya senjata untuk berjaga-jaga. Dan ketika sampai pada cerita Ares mendobrak pintu, Sita, Rere dan Mesya memekik tertahan, membayangkan bagaimana Ares menendang pintu sampai roboh hanya untuk mengecek Salsa. Mesya pun semakin meleleh ketika Salsa memeluk Ares dan bagaimana Ares menenangkan Salsa.
* * *
Terpantau nyata setelah menceritakan tentang Ares, entah bagaimana ketiga sahabat Salsa itu dapat melihat kembali binar dalam mata Salsa. Sahabat mereka itu mulai kembali banyak bicara, banyak berkomentar. Hal itu membuat Sita yakin Salsa belum menyadari perubahan penilaian perasaannya sendiri terhadap Ares.
"Omong-omong, kenapa lo kelihatan nggak suka sih ama pengawal lo?" tanya Sita.
"Gue sebel sama dia." jawab Salsa sambil menyuap suapan besar es krim rasa vanila dengan taburan cokelat bubuk di atasnya.
Mereka berempat masih betah memutari mall itu, kini berhenti pada sebuah kedai makanan cepat saji hanya untuk menikmati es krim keluaran terbaru dari kedai itu.
"Kenapa gitu bisa sebel? Padahal dari tadi dia diem aja. Gue yakin dia nggak akan ngomong kalo lo nggak colek dia duluan." Celetuk Mesya.
"Kesel aja gue, karena Ares bisa-bisanya mengabaikan gue seharian ini, dia ngelarang gue deket-deket, tapi dia nggak ngelarang Nura ke belakang, dia malah ngobrol sama Nura, dan senyum loh sama Nura. Apa karena mereka sesama manusia batu yah jadi bisa lebih nyambung gitu? Sementara gue, malah...." Lagi-lagi Salsa menyadari tatapan aneh para sahabatnya. Cengiran pada wajah Rere, Mesya dan Sita membuat Salsa meringis.
Rere dan Mesya malah sudah senggol-senggolan.
"Lo cemburu Sal sama Nura?" Tanya Sita.
"Apa? Gue cemburu? Hahaha! Ngaco!" Salsa mengibaskan tangannya di depan wajah sambil terkekeh rikuh.
"Kalo gitu ngapain juga lo sebel sama Nura? Kalo memang lo cuma anggap suami lo itu teman, kan?" kata Sita.
"Gue nggak cemburu." ujar Salsa tetap keras kepala dan teguh berpendirian, meski perasaannya sendiri meragukan kata-kata yang meluncur keluar dari mulutnya.
"Yakin?" tanya Sita.
"Iya!" Salsa mengangguk.
"Lo nggak suka sama Ares?" tanya Rere kali ini.
"Enggak."
"Kalo gitu Mamas Ares berhak dong mau ngomong, mau ngobrol, mau senyum sama perempuan mana pun yang menurutnya nyaman." Mesya ikut memanasi.
"Jadi maksud lo Nura bisa bikin Ares nyaman?" tanya Salsa.
"Ya logikanya, orang yang ganteng atau cantik, akan tersingkirkan oleh mereka yang bisa membuat nyaman." jawab Mesya sambil mengedikkan bahunya.
Salsa melirik pada Nura yang berdiri tegap di depan pintu masuk kedai makanan cepat saji itu.
Apa mungkin Ares menyukai tipe perempuan tangguh seperti Nura?
"Eh, Sal, tapi bagus loh kalo Ares deket sama Nura, lo bisa jadikan itu alasan ke Kakak lo kalo Ares nyeleweng sama bodyguard lo. Pasti Kakak lo marah dan nyuruh kalian pisah, lo nggak lagi deh terikat pernikahan paksa ini, ya kan?" kata Mesya menciptakan ide.
Pisah? Pertanyaannya adalah, apakah Salsa masih menginginkan perpisahan dari Ares?
.
.
.
Bersambung~