"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kompromi Bersyarat
"Jangan menantangku, Arga. Kamu tidak tahu seberapa jauh aku bisa bertindak." Keysa membalas bisikan itu dengan suara yang sama pelannya, namun mematikan. Ia mundur satu langkah, membebaskan diri dari kungkungan tubuh suaminya yang menjulang tinggi.
Matanya berkilat penuh tekad. Keysa membuka kunci layar ponselnya dengan gerakan ibu jari yang sangat cepat. Ia menekan aplikasi kontak, menggulir layar mencari nama-nama jurnalis ekonomi papan atas yang rutin ia suap untuk meliput berita positif tentang Alvandra Group.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Arga memicingkan matanya, mengawasi pergerakan jari Keysa.
"Melakukan apa yang baru saja kamu persilakan," jawab Keysa tanpa mengangkat wajahnya dari layar terang ponsel. "Kamu bilang kamu tidak peduli jika saham perusahaan turun sementara? Mari kita buktikan. Aku akan menyusun pesan siaran untuk lima portal berita bisnis terbesar di negara ini. Judulnya sangat menarik. CEO Alvandra Group Mengalami Kerusakan Otak Parah Pasca Kecelakaan Tol Lingkar Barat. Bagaimana menurutmu?"
Arga terkekeh sinis. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan miliknya. "Kirim saja. Paling-paling dewan komisaris akan mengadakan rapat darurat siang ini juga."
"Bukan hanya rapat darurat, Arga!" Keysa menaikkan nada suaranya, menatap laki-laki keras kepala itu dengan amarah yang mendidih. "Saham kita akan anjlok ke titik terendah dalam waktu kurang dari dua jam setelah berita ini naik. Para investor asing akan menarik dana mereka besar-besaran. Proyek akuisisi raksasa yang sedang kita bangun susah payah dengan Grup Mutiara Abadi akan hancur berantakan karena mereka tidak akan mau bekerja sama dengan pemimpin yang cacat mental! Ingat Arga, proyek itu belum ditanda tangani dan diresmikan."
Mendengar nama proyek akuisisi raksasa itu disebut, raut wajah santai Arga perlahan memudar. Insting bisnisnya yang tajam menangkap bahaya yang sangat nyata dari ancaman perempuan di depannya ini. Perempuan itu terlihat serius dan tidak main-main. Proyek itu pasti bernilai triliunan.
"Kamu merintis negosiasi akuisisi itu selama setahun penuh, Arga. Aku menemanimu terbang bolak-balik menemui pemilik Grup Mutiara Abadi sampai asam lambungku naik," desis Keysa tajam. "Jika aku menekan tombol kirim sekarang, semua kerja keras kita akan hangus menjadi abu. Kamu yakin mau mengorbankan mahkotamu hanya karena ego konyol menahan istri kontrakmu?"
Udara di dalam ruang kerja CEO itu mendadak terasa berat dan panas.
Keysa mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, menempatkan ibu jarinya tepat di atas tombol kirim berwarna hijau di layar. Ia menghitung mundur di dalam hatinya. Ia tahu Arga adalah penjudi ulung, tapi laki-laki itu tidak pernah mau kalah telak dalam urusan bisnis.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Tangan kiri Arga melesat maju, mencengkeram pergelangan tangan Keysa kuat-kuat, menahan ibu jari perempuan itu agar tidak menyentuh layar.
"Oke. Cukup," ucap Arga dengan rahang mengeras. Matanya menatap Keysa dengan perpaduan rasa kesal dan kekaguman yang sangat aneh. Laki-laki itu sadar bahwa Keysa tidak sedang menggertak. Perempuan ini benar-benar memegang kendali atas hidup dan matinya di dunia bisnis.
"Lepaskan blokir pengadilan itu sekarang juga," tuntut Keysa tidak mau kalah, berusaha menarik tangannya walau cengkeraman Arga sangat kokoh bak borgol besi.
"Tidak akan," tolak Arga mutlak. "Tapi aku punya penawaran yang jauh lebih masuk akal untuk otak pragmatismu itu."
Keysa mengernyitkan dahi. "Penawaran apa? Aku tidak butuh apa-apa selain kebebasanku."
"Tiga bulan." Arga melepaskan pergelangan tangan istrinya, lalu mundur selangkah untuk bersandar pada ujung meja kerja. Laki-laki itu melipat kedua lengannya di depan dada. "Beri aku waktu tiga bulan. Tetaplah di sini, jalankan peranmu sebagai istriku dan asistenku seperti biasa, sampai proyek akuisisi Grup Mutiara Abadi itu selesai ditandatangani dan diresmikan."
"Untuk apa aku membuang waktu tiga bulan hidupku bersamamu?" Keysa mendengus remeh.
"Ini win-win solution, Keysa." Arga tersenyum licik, sebuah senyum yang sangat familier bagi Keysa setiap kali laki-laki itu sedang merancang jebakan mematikan untuk kompetitornya. "Selama tiga bulan itu, aku butuh bantuanmu untuk menutupi celah ingatanku di depan para direksi dan klien. Kau yang paling tahu isi kepalaku dalam urusan pekerjaan. Aku tidak bisa membiarkan orang tua licik seperti Pak Hendra mengambil alih perusahaan saat aku sedang dalam kondisi buta masa lalu."
"Itu keuntungan bagimu. Lalu apa keuntungannya untukku?" Keysa menyilangkan tangannya di depan dada, menolak terpancing begitu saja oleh rayuan bisnis suaminya.
"Jika dalam tiga bulan ingatanku sudah kembali dan aku menyadari bahwa pernikahan kita memang murni kesalahan bodoh, aku sendiri yang akan mencabut blokir penangguhan itu di pengadilan." Arga menatap Keysa lekat-lekat. "Aku akan mempermudah semua proses hukumnya. Kamu bisa bebas tanpa syarat. Dan sebagai bonus atas kesabaranmu, aku akan melipatgandakan jumlah uang kompensasi pesangon yang ada di draft cerai milikmu."
Keysa terdiam seribu bahasa. Otak rasionalnya langsung bekerja cepat menghitung angka. Uang pesangon yang ia minta di awal sebenarnya sudah sangat besar. Jika Arga melipatgandakannya, Keysa punya lebih dari cukup modal untuk mendirikan firma konsultasi bisnisnya sendiri, mimpinya yang selama ini tertunda karena terlalu sibuk mengurus laki-laki arogan ini.
Lagipula, Keysa juga tidak ingin proyek akuisisi Grup Mutiara Abadi hancur. Ia sudah mencurahkan darah dan air mata untuk proyek tersebut. Melihat hasil kerjanya runtuh dalam semalam karena pemberitaan media bukanlah pilihan yang bijak untuk karir profesionalnya. Tiga bulan bukanlah waktu yang lama jika dibandingkan dengan dua tahun neraka yang sudah ia lewati.
"Bagaimana jika dalam tiga bulan ingatanmu tidak kembali?" tanya Keysa tajam, mencari celah dari kesepakatan tersebut.
"Maka kita akan buat evaluasi kontrak ulang. Tapi aku jamin, otakku tidak akan rusak selama itu." Arga berdiri tegak, mendekati Keysa perlahan. "Tiga bulan, Keysa. Berhenti menjadi anak kecil yang keras kepala dan berpikirlah seperti pebisnis sejati. Kau pasti suka uang, aku suka kestabilan perusahaanku. Kita sepakat?"
Keysa menggigit bagian dalam pipinya, menimbang semua risiko terburuk. Arga dalam kondisi amnesia memang sangat menyebalkan dan posesif, tapi secara logika, tawaran laki-laki itu adalah jalan keluar paling rasional dari kebuntuan hukum saat ini. Harris sang pengacara juga sudah menyerah dan bilang mereka tidak bisa melawan surat medis pengadilan itu.
"Tiga bulan. Tidak lebih satu hari pun," putus Keysa dengan suara dingin dan sangat tegas. "Dan aku mau kesepakatan ini dibuat hitam di atas putih sekarang juga. Aku tidak percaya pada janji manis dari laki-laki yang otaknya sedang bermasalah sepertimu."
"Sesuai keinginanmu, Nyonya Arga," balas Arga dengan tawa pelan yang terdengar merdu namun penuh bahaya.
Keysa langsung berbalik, berjalan cepat mengambil lembaran kertas kosong berlogo Alvandra Group dari rak dokumen. Ia menarik kursi ke depan meja kerjanya sendiri, mengambil pulpen tinta hitam, dan mulai menulis draf adendum kesepakatan dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan lancar.
Arga hanya berdiri dalam diam, bersandar di ambang pintu penghubung sambil memperhatikan setiap detail wajah serius istrinya. Laki-laki itu sangat menikmati pemandangan di depannya. Keysa yang sedang fokus adalah makhluk paling menarik yang pernah ia lihat di sepanjang ingatannya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Keysa untuk menyusun poin-poin kesepakatan tersebut. Tidak ada bahasa hukum yang rumit, hanya poin lugas tentang masa penundaan cerai selama sembilan puluh hari dan kewajiban Arga untuk membayar kompensasi ganda di akhir periode yang disepakati.
Keysa berdiri, membawa dua rangkap kertas tersebut ke meja kerja Arga. Ia membubuhkan tanda tangannya lebih dulu di atas meterai dengan gerakan tegas tanpa keraguan sedikitpun.
"Giliranmu. Tanda tangani ini." Keysa menyodorkan kertas itu tepat ke dada Arga beserta pulpen emas milik suaminya.
Arga mengambil kertas itu. Ia membacanya sekilas dengan senyum miring yang tidak pudar dari bibirnya. Tanpa ragu, Arga menggoreskan tanda tangan khasnya yang besar dan dominan tepat di sebelah tanda tangan Keysa.
Keysa baru saja bernapas lega dan hendak menarik kertas itu kembali, namun Arga bergerak jauh lebih cepat. Laki-laki itu menarik ujung kertas tersebut ke arah dirinya, membuat tubuh Keysa otomatis terseret maju hingga menabrak pelan dada bidang suaminya.
Keysa mendongak kaget, bersiap melontarkan omelan kasar. Namun, tangan Arga sudah melingkar erat di pinggangnya, menahan tubuh perempuan itu agar tidak bisa mundur menjauh.
Arga menundukkan kepalanya perlahan, memangkas jarak di antara mereka berdua hingga hidungnya nyaris menyentuh telinga Keysa.
"Tiga bulan. Mari kita lihat siapa yang akan memohon untuk tidak bercerai pada akhirnya."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..