NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 ~ Bukan Hanya untuk Lian

"Papaaa."

Saat itu, pintu kamarnya terbuka dari luar. Juan menoleh, mendapati sosok kecil yang berdiri di sana.

"Papa." Lian berlari ke arah sang ayah. Gadis kecil itu menarik lengan Juan. Kedua matanya merah dengan air mata yang mengalir cukup deras.

"Papa, Mama mau pelgi lagi," adunya dengan sesenggukan.

Jantung Juan yang sebelumnya telah berdetak kencang kini semakin kencang ketika mendengar penuturan sang putri. "Mamamu... mau pergi lagi?"

"Iya, Papa. Ayo kita belhentiin mama! Ayo, Papa!" Lian kembali menarik-narik lengan Juan.

Sementara pria itu mengeratkan genggamannya pada selimut. Untuk sejenak ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Sejak awal ia memang harus siap dengan semua ini. Jika memang benar ingatan sang istri kembali, ia tidak bisa menghentikan wanita itu jika ingin pergi.

"Papaaa." Rengekan panjang itu membuat Juan tersadar.

"Kenapa papa diam saja? Ayo kita belhentiin mama."

Pria itu akhirnya mengangguk pelan, menggeser tubuhnya hingga duduk di kursi roda.

Keadaan rumah masih sepi saat keduanya keluar. Juan lalu menatap Lian, melihat sang putri yang belum berhenti menangis itu hatinya kembali mencelos.

"Lili, kamu kenapa bangun sepagi ini?" tanya Juan pelan, bermaksud mengurangi sedikit kesedihan sang putri meski ia sendiri pun gundah.

"Lili kebangun, telus dengal seperti ada suala langkah di lual. Telus lili buka pintu dan lihat mama bellali kelual lumah." Gadis kecil itu menjelaskan dengan suara tidak jelas.

Membuat Juan berhenti dan mengusap air mata sang anak. "Jangan sedih lagi! Mama bukan mau pergi."

"Tapi lili lihat mama lali-lali. Seperti mau pelgi."

"Siapa yang pergi?" Keduanya menoleh saat terdengar suara ceria yang menyela.

"Kalian kenapa?" tanya Ailin dengan kening berkerut. Ia cepat-cepat mendekati suami dan putrinya yang diam tak bergerak. Menatapnya seolah tidak percaya.

Sementara Juan benar-benar membeku. Untuk sesaat ia hanya menatap wajah wanita itu tanpa berkedip. Dadanya yang sejak tadi terasa sesak akhirnya bisa menarik napas.

Baru kali ini ia sadar.

Kehilangan Ailin bahkan dalam beberapa menit saja sudah cukup membuatnya panik.

"Mamaaa. Mama dali mana?" Lili memeluk kaki Ailin saat wanita itu telah berdiri di depan mereka. Gadis kecil itu menangis, tidak kencang namun cukup membuat Ailin bingung setengah mati.

"Kak, Lili kenapa?" tanya Ailin pada sang suami. Namun saat menoleh pada Juan, ekspresi pria itu ternyata juga tidak kalah aneh.

"Kalian kenapa?"

"Mereka pasti kira kau mau pergi." Dari belakang, Lulu yang baru bangun menjawab sembari menguap.

"Pergi?... Aku hanya pergi olahraga." Wanita itu menundukkan kepalanya, tubuhnya juga ikut berjongkok. Menyamakan tinggi sang putri yang masih terus meneteskan air mata.

"Sudah-sudah, jangan nangis lagi, hem?" Ia mengusap pelan air mata di wajah Lian, menatap gadis kecil itu dengan meyakinkan.

"Mama enggak pergi kemana-mana."

"Mama janji?" Lian mengangkat tangan kecilnya, menunjukkan jari kelingking yang langsung disambut Ailin.

"Hem, janji!"

Juan yang melihat dari samping memandang dengan rumit. Ia tahu ketakutan Lili bukan tanpa alasan. Gadis kecil itu baru saja mendapatkan sosok ibu yang selama ini ia impikan. Wajar jika kini ia takut kehangatan itu menghilang lagi.

Sekarang apa jahat jika ia mulai berharap sang istri tidak akan mengingat masa lalu lagi? Karena jika mengingat, mungkin janji manis ini tak akan wanita itu tepati.

Bukan hanya untuk Lian, tapi... untuk dirinya juga.

Sementara setelah berhasil membuat Lian berhenti menangis, Ailin akhirnya beralih pada Juan. "Kak, kamu juga takut aku pergi?"

Pria itu yang merasa terpanggil, menoleh dan menatap wajah Ailin lamat.

"... Takut," balasnya singkat dengan suara rendah.

Mendengar itu Ailin terdiam cukup lama, sebelum menoleh ke arah lain dengan menarik napas kencang. "Astaga, kalian kira aku mau kabur? Ya kali aku kabur pakai baju pinjaman Lulu."

Wanita itu menahan tawa. "Aku cuma pergi olahraga."

"Lalu aku kembali karena mau minta uang sama Kakak. Siapa tahu ada yang jual sarapan." Ailin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sebenarnya ia malu, namun ia juga benar-benar tidak ingat menaruh uangnya sendiri di mana. Jadi wanita itu menatap penuh harap pada Juan yang perlahan tersenyum.

"Dompetku ada di laci nakas. Kamu ambil sendiri saja!"

Ailin mengangguk semangat. "Kalau begitu aku ambil dulu, terima kasih Kakak."

Wanita itu berlalu dengan menggandeng Lian erat. Sementara Juan terus memandang punggung keduanya hingga menghilang di balik pintu kamar.

Lulu yang melihat dari belakang berdecih pelan. Pemandangan di depannya ternyata bisa membuat dadanya terasa hangat meski tak ingin ia akui.

Setidaknya untuk saat ini, rumah itu benar-benar terasa seperti rumah. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Sedetik kemudian, ekspresi Juan berubah.

"Ponsel Ailin..."

Tangannya langsung mencengkeram kursi roda. Ponsel itu masih ada di dalam nakas.

Tanpa berpikir panjang, Juan langsung memutar kursi rodanya menuju kamar. Ailin belum boleh menemukan ponselnya. Karena jika wanita itu membuka benda itu, ia mungkin belum siap menghadapinya.

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!