Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Sinyal yang Menghilang
"Alat pelacak?" Cala membelalakkan matanya tidak percaya. Ia menatap lekat profil wajah samping Ronan yang keras seperti pahatan batu.
"Kepingan mikro seukuran butiran pasir," jawab Ronan cepat sambil menarik pergelangan tangannya. Pria itu menyentuh layar jam pintarnya dengan gerakan lincah. "Aku selalu menyimpannya di balik kuku ibu jariku untuk situasi kontak fisik darurat."
Sebuah peta digital kota langsung muncul di layar kecil jam tangan tersebut. Titik merah berkedip-kedip bergerak menjauh dari lokasi Restoran Lumina dengan kecepatan tinggi.
"Mereka mengarah ke jalan tol lingkar luar kota," gumam Ronan. Ia meraih tangan Cala. "Ayo kita pergi dari sini. Bau bahan kimia ini bisa merusak saluran pernapasanmu jika dihirup terlalu lama."
Mereka berdua melangkah cepat meninggalkan restoran mewah yang kini hancur berantakan. Mobil patroli kepolisian asli baru saja tiba, sirine mereka meraung membelah malam, namun Ronan mengabaikan kerumunan petugas itu. Pria itu langsung menarik Cala masuk ke dalam mobil sedan peraknya yang sudah disiapkan oleh petugas parkir yang ketakutan.
Perjalanan kembali ke Apartemen Zenith terasa seratus kali lipat lebih mencekam dari sebelumnya. Ronan mengemudi dengan kecepatan jauh di atas batas normal, menyalip mobil-mobil lain dengan agresif. Rahang pria itu mengeras, matanya terus melirik bolak-balik antara jalan raya dan layar pelacak di jam tangannya.
Cala duduk mematung di kursi penumpang. Gaun sutra merah marunnya terasa menempel dingin di kulitnya akibat keringat ketakutan. Ia terus-menerus mengusap lengannya sendiri. Firasat buruk mencekik lehernya sangat kuat.
Begitu mobil berhenti di garasi bawah tanah apartemen, Ronan melompat keluar. Ia setengah berlari membukakan pintu untuk Cala, menarik wanita itu menuju lift khusus VIP dengan langkah sangat tergesa-gesa.
"Dokter, kamu menyakiti tanganku," rintih Cala pelan. Cengkeraman Ronan di pergelangan tangannya terasa seperti cengkeraman tang besi.
Ronan tidak meminta maaf. Pria itu hanya melonggarkan sedikit pegangannya namun tetap tidak melepaskan Cala. Mata tajam pria itu memindai setiap sudut lorong lift dan langit-langit, memastikan tidak ada kamera tersembunyi atau penyusup yang menunggu mereka.
Mereka tiba di dalam unit apartemen yang steril dan beku. Pintu baja tebal terkunci otomatis dengan bunyi denting ganda di belakang mereka.
Ronan melepaskan jas biru gelapnya secara asal, membiarkannya jatuh teronggok di atas lantai marmer. Hal yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh sang ahli forensik yang gila kerapian ini dalam keadaan normal. Pria itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu layaknya singa yang terkurung di dalam kandang.
Tiba-tiba, Ronan menekan tombol interkom khusus di dinding yang terhubung langsung ke saluran aman markas kepolisian pusat.
"Komandan! Kalian baru saja membuktikan betapa tidak bergunanya sistem respons darurat kepolisian!" teriak Ronan dengan suara bariton yang menggelegar memekakkan telinga. Urat-urat di leher pria itu menonjol keluar.
Suara statis terdengar sesaat sebelum suara berat komandan membalas, "Ronan, kendalikan emosimu. Tim kami terjebak macet karena ada kecelakaan beruntun di jalan tol arah Lumina."
"Kecelakaan beruntun yang diatur dengan sangat rapi oleh Zeta Katering untuk memblokir jalan kalian!" potong Ronan tajam. "Kalian kecolongan! Enam orang tentara bayaran menyusup menggunakan seragam medis palsu dan membawa lari tersangka kunci di depan puluhan mata! Kalian membiarkan markas operasi pencucian uang mereka membersihkan diri!"
Cala berdiri mematung di dekat sofa. Ini pertama kalinya ia melihat Ronan benar-benar kehilangan kendali emosionalnya. Pria yang selalu berpegang teguh pada logika datar dan hitungan presisi itu kini mengamuk secara verbal, membentak atasannya sendiri tanpa peduli hierarki pangkat.
Di balik kemarahan meledak-ledak itu, Cala bisa melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang terasa sangat... protektif. Ronan tidak sedang marah karena kebanggaan profesionalnya terluka. Pria itu marah karena sistem kepolisian gagal memberikan perlindungan yang memadai.
"Kami sedang melacak pelat nomor ambulans palsu itu, Dokter," suara komandan terdengar lelah.
"Tidak perlu. Aku sudah menempelkan pelacak mikro di kerah baju tersangka," balas Ronan. Pria itu menyentuh layar jam pintarnya dengan kasar untuk menyambungkan sinyal pelacak ke layar monitor besar di meja kerjanya.
Layar monitor menyala terang, menampilkan peta kota yang diperbesar. Namun, titik merah yang tadinya berkedip cepat itu kini diam membeku di tengah jalan tol sepi.
"Sinyalnya berhenti," gumam Ronan pelan. Alisnya berkerut rapat. "Mereka tidak mungkin berhenti di tengah jalan tol kecuali..."
Layar monitor mendadak berkedip hitam sekali, lalu muncul tulisan peringatan merah besar: "SINYAL TERPUTUS."
Ronan memukul meja kaca kerjanya dengan kepalan tangan sekuat tenaga. Bunyi hantaman keras itu membuat Cala melompat kaget.
"Mereka menemukan pelacak mikroku," desis Ronan dengan nada penuh kebencian. "Mereka punya pemindai frekuensi radio di dalam mobil ambulans itu. Mereka menghancurkan cipnya. Sampah."
Pria itu mematikan sambungan interkom secara paksa. Ruangan apartemen kembali dikuasai keheningan yang menyesakkan dada. Napas Ronan memburu cepat, dadanya naik turun di balik kemeja putihnya yang mulai kusut.
Cala menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering seperti menelan debu. Ia berjalan perlahan menuju dapur, mengambil sebuah gelas kaca tinggi, dan menuangkan air mineral dingin dari botol di dalam kulkas. Tangan Cala masih sedikit gemetar saat membawa gelas itu kembali ke ruang tamu.
"Minumlah dulu, Dokter. Kamu butuh cairan untuk menjernihkan pikiranmu," ucap Cala dengan suara sangat pelan. Ia mengulurkan gelas kaca itu ke arah Ronan.
Ronan memutar tubuhnya dengan sangat cepat. Emosinya masih berada di puncak maksimal akibat kegagalan melacak komplotan Zeta. Tanpa memandang dengan jelas, pria itu menepis tangan Cala secara refleks kasar.
"Aku tidak butuh air!" bentak Ronan.
Gerakan tepisan itu terlalu keras. Gelas kaca di tangan Cala terpelanting ke udara dan jatuh menghantam lantai marmer dengan suara pecah yang sangat keras. Pecahan beling berserakan ke mana-mana, sementara air dingin membasahi ujung sepatu pantofel Ronan.
Cala menarik tangannya mundur. Ia menatap pecahan gelas itu, lalu mendongak menatap Ronan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ronan tertegun. Pria itu menatap tangan kirinya sendiri yang baru saja menepis tangan Cala, lalu beralih menatap wajah pucat wanita di depannya. Emosi yang meledak-ledak tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kesadaran yang menohok telak ulu hatinya.
Pria itu menelan ludah. Rahangnya bergerak kaku. Ia menunduk menatap pecahan beling di lantai, lalu menatap lurus ke dalam mata Cala dengan sorot mata yang gelap dan mematikan.
"Mulai besok," ucap Ronan dengan suara yang sangat rendah, berat, dan tanpa nada kompromi sedikit pun. "Kamu dilarang keluar dari jarak pandangku sebentar pun."
berasa nonton adegan action