“Menikahlah denganku, dan aku akan menyelamatkan anak-anakmu. Terlebih baru melihat mereka saja, aku sudah langsung menyayangi mereka!” ucap Syam benar-benar dingin.
Segala cara telah Cinta coba untuk menghindari ajakan menikah dari Syam, sang bos mafia kejam. Karena setelah kegagalan dalam hidupnya, Cinta yang merasa dirinya sangat hina, memutuskan untuk menutup diri sekaligus tidak akan pernah menikah. Cinta hanya ingin fokus berhijrah.
Termasuk ketika akhirnya Syam nekat merenggut paksa ‘kesucian’ Cinta, wanita bercadar itu justru memilih melarikan diri, menyimpan segala kehancurannya sendiri. Namun hampir delapan bulan berlalu setelah tragedi itu, Cinta melahirkan anak kembar prematur. Fatalnya, salah satu bayi kembar Cinta dan memang benih Syam, mengalami kelainan karena meminum cairan ketuban.
Cinta membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan sekaligus menghidupi anak kembarnya, hingga Cinta terpaksa berurusan dan tak lagi bisa menghindari Syam. Cinta harus tunduk kepada Syam yang meski sangat kejam kepadanya, justru sangat menyayangi anak kembar mereka.
Di luar dugaan, bayi kembar mereka merupakan bayi genius. Tingkah keduanya selalu menghadirkan pelangi yang begitu indah dalam hubungan mereka. Bahkan kekejaman Syam kepada Cinta, perlahan menjadi cinta yang begitu dalam. Mereka benar-benar tak terpisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 : Keluarga Dan Lingkungan Tumbuh
Kiriman pintu baru untuk warung Cinta, sudah datang. Syam memesannya secara khusus disesuaikan dengan gawang pintu yang sudah ada. Cinta yang tidak tahu-menahu langsung terkejut. Selain itu, Syam juga memasang pintunya sendiri. Hingga diam-diam Cinta mengakui, bahwa Syam serba bisa. Pria yang kiranya dua tahun lebih muda darinya itu begitu sigap sekaligus cekatan di setiap pekerjaan yang dijalani.
“Aku enggak tahu, mau sampai kapan kamu di sini. Namun aku harap, jangan lama-lama.” Kemudian, fokus Syam tertuju kepada setiap bilik selaku dinding di sana.
“Biliknya juga wajib diganti semua. Tapi enggak mungkin sekarang karena ini sudah sore,” ucap Syam yang kemudian dalam hatinya berkata, “Aku takut musuh ke sini, lalu dengan sengaja meluka-i kalian. Namun aku-aku sendiri, berada di sini juga langsung merasa betah.”
“Tapi ini memang bukan tanah pribadi. Aku bahkan enggak sampai bayar uang sewa,” ucap Cinta sampai detik ini masih ragu memanggil Syam apa. Walau di beberapa kesempatan, ia akan memanggil Syam ‘Mas’. Padahal, dari usia saja, ia 2 tahun lebih tua.
“Tinggal bayar,” sergah Syam sudah langsung masuk ke dalam.
Syam berniat untuk cuci tangan sebelum kembali bermain dengan anak-anaknya. Namun, kehebohan yang tiba-tiba terdengar, perlahan membuat langkahnya menjadi lebih pelan.
“Potong bebek angsa ....”
“Itu suaranya Ojan. Ngapain lagi dia ke sini?” batin Syam sudah langsung mundur mengawasi sumber suara.
Benar saja, Ojan yang sudah membuat tetangga heboh, datang memakai motor bersama dua bocah laki-laki. Satu bocah laki-laki dan usianya sekitar enam atau tujuh tahun, bernama Adam. Satu lagi dan cerewetnya mirip Ojan, bernama Rain. Padahal, usia Rain Syam prediksi baru sekitar tiga tahun bahkan kurang. Namun baru turun dari motor, yang Rain cari justru ‘janda’.
Pemandangan pilu Syam dapatkan dari interaksi Cinta dan Adam. Sebelum Adan menyalami Cinta, Cinta yang Syam pergoki tersedu-sedu, berangsur jongkok hanya untuk memeluk Adam.
“Kok sampai segitunya?” pikir Syam. Ia lupa, bahwa Adam hanya merupakan anak sambung Ojan. Sementara papa kandung dari Adam, merupakan Cikho, kakak kandung Cinta. Sosok Cikho yang juga menjadi musuh bebuyutan Syam, setelah apa yang Cikho lakukan kepada pak Helios sekeluarga.
“Adam sudah sekolah?” tanya Cinta sambil membingkai wajah Adam menggunakan kedua tangannya.
“Sudah, paling pinter dia. Selalu juara kelas, panen bintang pokoknya,” ucap Ojan.
Ketika Ojan dan Adam fokus dengan Cinta, tidak dengan Rain yang justru langsung mendekati Hasna.
“Hasna, meski kamu bukan janda, aku tetap cinta!” ucap Rain sambil joged-joged kemudian terciduk akan menc-ium pipi Hasna oleh Syam.
“Ehm!” Untuk ketiga kalinya, Syam berdeham kemudian menatap Rain penuh peringatan.
Rain yang sudah paham bahwa Syam sedang memberinya peringatan, sengaja memasang wajah tak berdosa kepada Syam. “Om ... cayang Hasna, Om!”
Mendengar itu, Syam langsung mendelik. “Masih kecil sudah sayang-sayangan!” batinnya tak tega memarahi anak kecil. Yang ia lakukan justru mengambil Hasna dari troli.
“Ojan ... ini anak kamu masih kecil sudah mirip banget sama kamu!” ucap Syam.
“Nah itu, Broder Syam. Si Rain ngamuk terus, tantrum tiada tara hanya karena pengin ketemu Hasna. Makanya ini aku mau ngajak kalian, buat jadi besan!” balas pak Ojan dengan santai.
Syam sudah langsung tidak bisa berkata-kata. Ia memilih menjauh dari kebersamaan. Ia bertahan di samping warung, tapi diam-diam Rain terus mengikuti ke mana pun ia pergi.
“Om ...,” rengek Rain dan dibalas celotehan tidak jelas dari Hasna.
“Nah, itu tandanya Dek Hasna mau main sama aku, Om!” yakin Rain.
“Mikir ulang kalau aku harus besanan sama Ojan. Takut setiap saat str-es!” batin Syam sengaja jongkok agar Rain bisa melihat wajah Hasna dengan saksama. Karena khusus kepada anak-anak, Syam memang tidak tega. Apalagi sedari kecil, ia menjalaninya dengan kejadian kela-m. Bentakan, pukul-an bahkan tendan-gan sudah menjadi hal biasa yang ia rasakan. Malahan andai ia tak merasakannya satu hari saja, seolah ada yang kurang.
“Ya sudah yuk Rain, jangan pulang sore apalagi maghrib, takut dijil-at setan!” tegur pak Ojan sembari menerima dua gelas es blender yang Cinta buatkan khusus.
Ojan membagikannya kepada Adam, kemudian Rain yang tetap tidak mau pulang.
“Bikin rumah di sini lah, Dad!” paksa Rain sambil menyeruput esnya melalui sedotan.
“Oalah kok malah enggak mau pulang. Gimana ceritanya? Sini, Daddy gendong, sini dengerin Daddy dulu. Besok kita main ke sini lagi. Kan kita di kampungnya masih satu mingguan lagi!” yakin pak Ojan.
Kesabaran Ojan yang sampai mengemban Rain, membuat Syam menyadari, itu yang pak Helios maksud agar ia mencontohnya.
“Nanti mommy kamu nyariin. Apalagi kalau maghrib kan banyak hantu berkeliaran. Dijil-at kamu langsung jadi hutam kulit kamu mirip Daddy!” bujuk Ojan.
Pada akhirnya, Ojan memboyong kedua anaknya untuk pulang. Namun ketiganya berdalih akan kembali lagi besok pagi.
“Hasnaaaa, becok aku main dali pagi sampai maglib, ya! Kita main ke cawah, yaaaa! Pokoknya becok aku mau nginep!” heboh Rain yang duduk diapit Adam.
“Dadah Mas Adam!” heboh Cinta sambil melambai-lambaikan tangan kanan Hasan kepada Adam. Karena kebetulan, Cinta sengaja mengemban Hasan apalagi Syam sudah melakukan hal yang sama kepada Hasna.
Dari kebersamaan kini Syam menyadari, bahwa mereka khususnya Cinta dan anak-anaknya membutuhkan keluarga. Tidak perlu banyak, yang penting bisa untuk saling sharing menghadapi hidup yang memang kerap bikin stres-s.
“Jadi, alasan Cinta betah di sini sepertinya memang karena sudah telanjur cocok dengan tetangganya. Apalagi di sini harusnya enggak ada yang tahu masa lalu Cinta,” pikir Syam. Sebenarnya, Syam ingin membawa Cinta ke keluarga Helios. Masalahnya, masa lalu mereka diyakini Syam akan membuat mereka sama-sama tidak nyaman.
“Jadi, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan agar Cinta dan anak-anak tidak kesepian? Masalahnya, orang-orang terdekat kami, justru sulit jika harus menjadi bagian dari Cinta,” pikir Syam.
Malamnya, Syam sengaja membahas mengenai keluarga sekaligus lingkungan tumbuh kembang keluarga kecilnya kepada Cinta.
“Aku tahu tempat ini enggak bisa buat selamanya. Anak-anak butuh lingkungan lebih layak. Dan aku percaya, kamu akan memberikan yang terbaik!” ucap Cinta. Di tengah suasana gubuk yang masih sengaja mereka buat terang, akhirnya kebersamaan kini terjadi.
Kebersamaan yang memang jauh dari harmonis apalagi romantis. Namun, perubahan Syam yang mulai mau mengajaknya bicara, tak ubahnya angin segar untuk hubungan mereka.
“Lusa aku harus ke Kalimantan,” ucap Syam yang kemudian menatap Cinta. Mereka yang duduk di dapur, di kursi saling berhadapan, refleks bertatapan.
“Berapa lama?” balas Cinta.
“Sekitar empat hari,” ucap Syam. “Jadi, selama aku enggak ada, kamu mau pulang ke rumah, atau ... tinggal di kontrakan Sepri?”
“Biar bagaimanapun, kamu kangen Adam, kan? Sori, aku baru ingat kalau dia anaknya Cikho.”
“Masyaallah, seorang Syam minta maaf dan itu ke aku?” batin Cinta tak percaya. Jantungnya menjadi berdetak lebih kencang.
“Terus tadi, Ojan bilang, mereka masih satu mingguan. Sementara yang di sini, tempat ini bisa jadi ladang rezeki yang lebih membutuhkan.” Syam menatap saksama kedua mata Cinta.
Entah kenapa, ulah Syam sukses membuat dunia Cinta seolah berhenti berputar. Kedua mata mereka bertatapan lekat, sementara dunia Syam juga ikut mendadak berhenti berputar.
Sebenarnya hatimu Syam itu selembut hello kitty sblm menjadi ketua mafia bahkan smpai skrng pun msh sangat baik penyayang & sangat perhatian sm orang² yg dia sayang