***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Pagi ini Naya sudah memutuskan untuk melamar pekerjaan disebuah kantor yang cukup besar didaerah jogja.
Sebelum membuka usaha sendiri memang Naya sempat bekerja disebuah perusahaan sebagai sekretaris dan kali ini Naya berharap AnantaCorp perusahaan yang sedang Naya incar bisa menerimanya sebagai salah satu karyawan disana.
Semalam Ia mendapatkan email jika Ia diterima diperusahaan Anantacorp dan pagi ini harus wawancara disana.
"Lah tumben rapi amat mbak?" tanya Anna melihat Naya memakai atasan warna putih dan bawahan rok warna hitam.
"Sekali kali rapi nggak apa apa kan An." balas Naya sedikit gugup takut Anna curiga dan mengetahui semuanya.
"Iya sih mbak, ya udah hati hati ya mbak berangkatnya." kata Anna yang hanya diangguki Naya.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit akhirnya Naya telah sampai didepan gedung AnantaCorp.
Naya terlihat mendekat kearah resepsionis kantor itu.
"Maaf mbak, saya ada janji dengan pak Abimana untuk wawancara pekerjaan."
"Oh iya mbak, langsung naik saja ke lantai 12, sudah ditunggu disana."
Naya mengangguk dan langsung berjalan menuju lift untuk kelantai 12.
Naya merasa jantungnya berdegup kencang karena ini kali pertamanya setelah 4 tahun lamanya Ia tak bekerja disebuah kantor seperti ini.
"Dengan Nona Naya?" tanya Seorang pria yang masih muda terlihat menatapnya, ya mungkin Naya terlihat binggung karena memang Naya selalu binggung jika berada ditempat asing.
"Iya saya sendiri,"
"Nona sudah ditunggu diruangan." kata Pria itu "Ruangannya disebelah sana." kata Pria itu menujukan sebuah ruanngan pada Naya.
"Oh baiklah, terimakasih." Naya segera menuju ruangan yang dimaksud oleh Pria tadi.
Setelah cukup menghirup nafas panjang, Naya segera mengetuk pintu ruangan,
Tok Tok Tok...
"Masuk.." terdengar suara seseorang yang ada didalam ruangan, Naya pun membuka pintu dan masuk.
"Nona Naya?" tanya Pria yang masih muda dan terlihat tampan,
"Ya, saya semalam mendapatkan email jika saya diterima diperusahaan ini." kata Naya sopan.
"Oh oke, kebetulan pak Abimana sedang keluar jadi saya yang mengurus semuanya, perkenalkan nama saya Yudha, asisten pribadi pak Abimana." kata Pria itu memperkenalkan diri. Awalnya Naya pikir Pria bernama Yudha itu adalah Pak Abimana pemilik perusahaan namun nyatanya Ia salah sangka, Yudha adalah asisten pak Abimana, pantas saja dia terlihat masih sangat muda.
"Duduklah, sambil menunggu pak Abimana datang saya akan menjelaskan peraturan dikantor ini." kata Yudha melihat Naya masih saja berdiri.
"Oh baiklah." Naya duduk didepan Yudha.
30 menit Yudha menjelaskan tentang prosedur perusahaan hingga ponsel Yudha berdering.
"Baiklah Pak." jawab Yudha lalu memutuskan panggilan.
"Pak Abimana sudah menunggu Anda diruangannya." kata Yudha "Mari saya antarkan." Yudha berjalan keluar diikuti oleh Naya.
Yudha Dan Naya memasuki sebuah ruangan yang cukup bagus menurut Naya, besar dan mewah, apalagi dari ruangan ini bisa memperlihatkan kota jogja karena ini di lantai atas dan semuanya full kaca membuat Naya membayangkan pasti akan terlihat indah saat malam hari.
Dikursi duduk pria yang lebih tampan dari Yudha sedang fokus menatap layar laptopnya, dan Naya merasa sepertinya wajahnya tidak asing untuk Naya.
"Apa ini Pak Abimana?" batin Naya.
"Selamat pagi pak, saya membawa calon sekretaris pengganti Mia." jelas Yudh membuat Abimana menatap kearah Naya, Naya terpaku cukup lama menganggumi ketampanan Pria yang ada didepannya itu.
"Baiklah, pergilah." Yudha mengangguk dan langsung keluar begitu saja, sedangkan Naya terlihat gugup dan takut.
"Jadi siapa namamu?" tanya Abimana tanpa menatap ke arah Naya.
"Saya Naya pak."
"Apa kamu pernah bekerja sebagai sekretaris?" tanya Abimana.
"Pernah pak,"
"Baiklah, disana mejamu, kau bekerja seruangan denganku, apakah tidak apa apa untukmu? jika kau merasa keberatan kau bisa pergi sekarang." kata Abimana tegas.
"Tidak pak, tentu saja saya tidak akan keberatan." kata Naya, meskipun Naya sebenarnya enggan tapi mau bagaimana lagi, Ia benar benar membutuhkan pekerjaan ini.
"Ya sudah, ambil berkas ini dan pelajari di mejamu, jika ada yang tak kau pahami segera beritau aku." kata Abimana.
Naya hanya mengangguk paham lalu mengambil berkas yang dimaksud Abimana dan membawanya ke mejanya.
"Sepertinya pak Abimana sangat tegas dan disiplin." batin Naya.
Hampir satu jam Naya mempelajari berkasnya tanpa bertanya pada Abimana, bukan maksud apa apa, Naya memang sudah paham dengan isi berkasnya karena dulu semasa kuliah dia termasuk mahasiswa paling pintar dikampusnya, bahkan ditempat kerjanya dulu Naya juga paling disiplin dan disenangi oleh atasannya.
"Bagaimana? apa ada yang tidak kamu pahami?" tanya Abimana yang sudah berdiri didepan meja Naya.
"Eh, Tidak pak! saya sudah paham semua." balas Naya sedikit terkejut melihat Abimana didepannya.
"Bagus, kau cepat mengerti, aku menyukaimu." kata Abimana yang membuat Naya salah tingkah.
Abimana berjalan ke meja nya lalu membawa setumpuk berkas dan Ia letakan di meja Naya.
"Kerjakan ini sampai selesai! aku harus menemui klien diluar."
"Baiklah pak."
Abimana segera keluar dari ruangan nya hanya menyisakan Naya dan setumpuk berkas yang harus Naya kerjakan.
"Oke Naya, kamu harus semangat." gumam Naya segera mengerjakan berkas yang ada didepannya.
Tak terasa sudah pukul 4 sore, tanpa Naya sadari belum makan siang, karena terlalu fokus mengerjakan berkasnya.
"Kau sudah menyelesaikannya?" tanya Abimana yang baru saja masuk dan melihat Naya sudah menumpuk berkasnya.
"Sudah Pak, coba bapak cek apakah benar seperti ini." Naya memberikan satu map pada Abimana yang baru saja duduk.
"Hmm, ya memang seperti ini, bagus sekali! aku sangat menyukaimu." kata Abimana masih membuka buka lembaran map.
"Maksudnya pekerjaan saya pak?" tanya Naya memastikan karena sedari tadi Abimana selalu mengatakan menyukaimu bukan menyukai pekerjaanmu, membuat Naya sedikit terganggu.
"Kalau bekerja dengan saya jangan baperan bisa?" tanya Abimana menatap Naya membuat Naya sedikit tak nyaman.
"Maafkan saya pak," Naya mengatakan lirih.
"Hmm, pulanglah!" perintah Abimana.
"Bapak memecat saya?" tanya Naya terkejut, baru juga sehari bekerja masa iya sudah dipecat saja.
"Selain baperan ternyata kamu juga suka salah paham." ejek Abimana.
"Maksudnya pak?" Naya benar benar binggung.
"Ini hari pertamamu bekerja jadi aku tak akan menyuruhmu lembur dan ini sudah jam 4 sudah waktunya pulang, jadi pulanglah." jelas Abimana.
"Jadi besok saya masih kerja disini kan pak?" tanya Naya lagi.
"Tentu saja masih, kecuali kamu ingin mengundurkan diri!"
"Tidak pak, tentu saja tidak." Naya terdengar bersemangat "Kalau begitu saya pulang dulu pak." pamit Naya yang hanya diangguki Abimana.
Naya keluar dari ruangan Abimana dan cukup lega karena Ia besok masih kerja disini, gajinya sangat besar, cukup untuk hidupnya dan anak anak panti.
...
Yudha memasuki ruangan Abimana karena Ia dipanggil keruangan Abimana.
"Bapak memanggil saya?" tanya Yudha.
"Ya, cari tau semua tentang Naya."
"Haa? Naya sekretaris Bapak?" tanya Yudha takut salah dengar.
"Ya, cari semua informasi tentang Naya." ulang Abimana.
"Baiklah pak," meskipun binggung namun Yudha menurut saja dengan perintah Abimana.
"Akhirnya kita bertemu lagi Naya."