Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Di hari kedua kepergian Surya, Bening berkeluh kesah kepada Mirna ketika si tukang kebun itu tengah berkebun halaman belakang kediaman Surya. "Tidak bisakah dia memberitahuku terlebih dahulu sebelum dia pergi? kemana, sampai kapan dan ada urusan apa dia sampai harus keluar kota?" keluhnya dengan kesal.
"Ya tentu saja seharusnya memang seperti itu, tapi mungkin Tuan belum terbiasa," sahut Mirna seolah kejadian ini nampak biasa saja baginya. "Selama bertahun-tahun Tuan Surya Magenta biasa melakukan apa-apa yang dia mau tanpa lapor kepada siapapun jadi dia belum terbiasa untuk memberitahu Nyonya."
"Ya, aku tahu itu," gerutu Bening.
"Aku mengerti, ini pasti sulit untuk Nyonya. Tapi percayalah Tuan Magenta adalah pria yang selalu memikirkan kepentingan orang lain juga."
Bening mengendus.
Mirna tersenyum dan memberikan sekeranjang mawar segar yang baru saja ia petik, wanita itu berharap mawar tersebut meringankan kegundahan hati Bening. "Semua pria butuh dorongan untuk bisa peka terhadap pasangannya."
"Tapi bagaimana caranya? Aku tak mau mengomelinya seperti wanita kebanyakan yang selalu ngomel ketika suaminya tidak peka."
"Anak-anak biasanya akan patuh jika ibunya mengomel karena kesalahan yang di buatnya," ucap Mirna.
"Tapi Surya bukan anak-anak."
"Oh bukan itu maksudku... Tapi aku rasa semua pria nampak seperti anak-anak bukankah begitu? Kalau aku jadi Nyonya..."
"Ya," sambar Bening, tatapannya tertuju pada Mirna berharap nasehat darinya walau sekecil apa pun.
Mirna berdecak dan berpura-pura mencari sesuatu di kerajangnya. "Aku sudah bicara terlalu banyak, rasanya aku tidak pantas memberikan nasihat tentang rumah tangga Nyonya dan Tuan Magenta."
"Tidak. Aku sangat membutuhkan nasehatmu, Mirna," ucap Bening sembari meraih tangan Mirna. Kalau kau jadi aku, kau akan...?"
"Well, aku rasa aku akan menyusulnya ke Jakarta," sahut Mirna.
Bening memandangi Mirna lekat-lekat, gagasan itu tidak pernah muncul dalam benaknya. "Kau benar sekali, Mirna!" cetus Bening. "Pria itu harus tahu bahwa dia tidak bisa meninggalkan istinya begitu saja tanpa kabar." Mendadak Bening tertawa riang. "Oh, aku tidak sabar melihat wajahnya ketika dia melihat aku menghampirinya ke Jakarta."
Mirna tersenyum ragu. "Tapi sebenarnya, kalau aku jadi Nyonya aku tidak punya keberanian untuk ke Jakarta..."
Bening mengabaikan ucapan Mirna yang terakhir, dirinya tidak takut untuk datang ke Jakarta. Ia pamit meninggalkan Mirna dan menghampiri Toto di ruang makan. Pria itu tampak tengah mengganti taplak meja ketika Bening memintanya menyiapakan mobil untuk perjalanannya ke Jakarta.
"Jakarta, Nyonya?" Toto tampak ragu.
"Ya, aku mau menyusul suamiku ke Jakarta."
Salah satu sudut mata Toto berkedut, ia berdeham lalu menghela napas dalam. "Izinkan saya memeriksa apakah Pak Budi bekerja hari ini, beberapa hari yang lalu dia mengajukan izin cuti untuk hari ini."
Bening sudah menduga akan menghadapi keengganan Toto. "Kalau tidak ada supir, aku bisa mengendari mobil sendiri. Tahu kah kau? Kalau aku pernah konvoi dari Surbaya hingga Bali, jadi kalau hanya Bandung-Jakarta sangat mudah bagiku." Itu tidak sepenuhnya benar, Bening konvoi bersama kedua saudara tirinya, mereka berkendara secara bergantian dan bagian Bening hanya beberapa puluh kilo meter saja sisa perjalannya ia habiskan untuk tidur di bangku belakang. Namun, meski ia tidak pernah berkendara sampai ratusan kilo meter, Bening tidak akan mundur.
Toto yang malang nampak bingung. Bening rasa mungkin pria itu berharap Surya tidak menghilang, atau mungkin Toto justru berharap yang mehilang adalah Bening dan Milo karena ternyata mereka berdua lebih merepotkan ketimbang Surya Magenta.
Bening tersenyum bersimpati kepada Toto. "Aku akan mengemasi barang-barangku."
Ketika Bening mulai beranjak, Toto berkata. "Nyonya, kalau boleh saya mengusulkan sebaiknya Anda tidak pergi seorang diri karena Tuan Surya pasti tidak akan mengizinkannya."
"Aku sependapat denganmu," sahut Bening. "Karena itulah aku akan meminta Cinta untuk mengemasi barang-barangnya."
Toto semakin terkejut. "Nyonya, Cinta sama sekali tak bisa berkendara. Dia juga tak memiliki SIM, jadi bagaimana mungkin Nyonya meminta bantuannya?"
"Jangan seperti itu Toto, aku yakin dia pasti akan berguna. Lagi pula kita hanya ke Jakarta, tidak perlu khawatir." Bening melangkah pergi meninggalkan Toto sebelum pria itu menemukan alasan lain untuk mencegahnya pergi.
Cinta sama terkejutnya dengan Toto ketika Bening menyampaikan berita bahwa ia akan mengajaknya ke Jakarta menyusul Surya. Gadis itu juga tampak ketakukan.
"Ayolah Cinta, di sana kau akan melihat gedung-gedung pencakar langit yang tidak pernah kau lihat di sini. Apa kau tak ingin melihat sesuatu yang berbeda? Melihat secara langsung kota yang selama ini hanya kau lihat di layar kaca."
Sembari berpikir keras, Cinta mengangguk lemah.
"Kalau begitu kau bereskan barang-barangmu sekarang! Aku dan Milo akan menunggu di teras."
Dua puluh menit kemudian Cinta datang dengan membawa tas miliknya dan juga milik Bening. Sembari tersenyum Bening menyuruh Cinta masuk, kemudian di susul dengan Milo, dan dirinya. Wanita itu melambaikan tangannya pada Toto yang telah berhasil memaksa Budi membatalkan cutinya untuk mengantarnya ke Jakarta.
Di perjalanan menuju Jakarta, Bening terpaksa melakukan apa yang di sebut suaminya sebagai berceloteh, setelah Cinta mengaku bahwa seumur hidup ia tidak pernah keluar dari wilayah perkebunan.
Bening memahami ketakukan gadis itu, ia mencoba meringankan ketegangan Cinta dengan berceloteh hingga dagu gadis itu menyentuh dada dan suara dengkuran perlahan terdengar dari mulutnya.
Bening mengelus punggung Milo dengan lembut, anak anjing itu nampak sangat bersemangat dan menikmati pemandangan yang berbeda ketika mobil yang membawa mereka memasuki tol Cikampek.
Bening berkutat dengan pikirannya, ia bersiap untuk kemarahan Surya karena telah keluar dari kediamannya dan menyusulnya. Atau justru ia akan menemukan Surya dengan wanita simpanannya, walau Surya sendiri sudah mengatakan bahwa dia pria yang memegang kata-katanya tapi pergi secara mendadak tanpa kabar, rasanya tak mungkin jika hanya bekerja, pasti ada sesuatu yang pria itu sembunyikan, dan Bening mencoba mencari tahu.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka