Vivian yang kembali mengulang waktu begitu bahagia, serasa mendapatkan durian runtuh.
"Aku akan menjauh, bahkan takkan menampakkan diriku lagi dihadapanmu Alexander Smith" Ucap vivian penuh tekad
Tapi bagaimana jika takdir malah mendekatkannya dengan pria yang ingin dijauhinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Setelah keluar dari gedung maxim , Vivian segera menyetop taxi, rasanya dia ingin segera pulang, masih terbayang di ingatannya saat Alex menamparnya, karena Vivian menampar Sasha, ada nyeri yang dirasakannya ketika Alex lebih membela Sasha daripada dirinya, dan tanpa terasa air mata Vivian menetes.
"Non, bukannya bapak ingin nakutin, tapi dari tadi sepertinya Mobil kita dibuntuti" Ucap bapak sopir itu kepada Vivian, membuat Vivian buru-buru menghapus air matanya.
"Ah, yang benar pak?" Ucap Vivian menoleh ke belakang, ada mobil putih dibelakang taxi Vivian dan mobil hitam di belakang mobil putih "Yang mana pak mobilnya yang ngikutin"
"Yang warna hitam non, sayakan mantan intel non, tapi sudah pensiun jadi polisi, terus non ini mau kemana sebenarnya?"
"Saya mau pulang sih pak"
"Ini Non nomor bapak kalau Non butuh bantuan" Ucapnya menyodorkan selembar kertas, Vivian segera mengambilnya, dan ternyata benar dugaan pak sopir, mobil hitam itu mengikuti Vivian sampai ke depan rumah.
"Sepertinya , hari inilah aku harus pergi, aku bingung dengan sikap Alex kepadaku yang terlihat cemburuan hingga membuat malvin masuk rumah sakit, tapi orang yang selalu dibela adalah Sasha" Ucapnya kesal, menaruh surat untuk Papahnya dan Kak Kevin, juga handphone dan kartu kredit yang diberikan Alex, mengambil tas ransel yang telah disiapkan dalam lemarinya "Semoga dengan ini Papah dan Kak Kevin baik-baik saja, aku bakalan kangen dengan kalian"
Vivian membawa mobilnya menuju mall, Vivian ingin memastikan kalau dirinya sedang dibuntuti, Vivian masuk bermain sejenak di arena permainan, disini dapat Vivian lihat dua orang yang membuntuti, Vivian kemudian memasuki butik dan membeli baju dibutik itu dan langsung memakainya dan mengganti tas ransel dengan tas selempang yang telah dia siapkan, tak lupa Vivian memakai kacamata tebal dan menghapus make up nya, dan menyuruh karyawan butik itu untuk membuang tas dan bajunya setelah butik tutup dengan memberikan tips yang besar, melihat hal itu, dengan senang hati karyawan butik itu menyetujuinya.
Penyamaran Vivian berhasil mengelabui orang yang mengikutinya, setelah keluar dari mall Vivian pergi ke stasiun kereta, dan mengambil barang darurat yang selalu dia persiapkan bila terjadi hal buruk pada dirinya.
Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, Vivian tiba di surabaya, rencananya Vivian akan menaiki truk barang , dari Surabaya ke balikpapan menggunakan kapal, di sini Vivian sangat berhati hati, karena Vivian kemana-mana membawa uang Cash agar tidak terlacak dan mengubah dandanannya seperti orang susah , biar tidak menjadi korban kejahatan.
Saat ngantuk berat Vivian akan membawa barangnya dan tidur di toilet, dan makan pop mie dan nasi putih untuk makanan daruratnya, Vivian memilih balikpapan sebagai tempat pelarian karena dulu di masa lalu , Vivian aman tinggal di kota ini selama beberapa bulan , dengan membuat ktp baru melalui seorang kenalannya di bidang IT. Di masa lalu keberadaannya diketahui Alex karena Vivian kangen dan menelpon Kakaknya, jadi sekarang serindu apapun Vivian tidak boleh menelpon mereka.
Vivian membeli rumah kecil berlantai dua, di atas pemukiman atas air. Sebenarnya Vivian bisa saja menyewa atau mengontrak rumah di sana, Vivian di masa lalu sangat ingin membeli rumah ini, dan sekarang Vivian bisa mewujudkannya . Uangnya betul-betul terkuras habis untuk membeli rumah, peralatan jualan dan sebuah motor bekas yang masih layak pakai, dan mengandalkan uang hasil jualan untuk bertahan hidup di kota ini.
Mengikuti masa lalunya, Vivian akan menjual nasi kuning yang sudah dibungkusi dan menjajakannya keliling pasar pagi-pagi sekali . Vivian betul-betul menjalani hidup yang tenang di kota ini.
Tak terasa hari ini , sudah menginjak setahun Vivian berada di kota ini, jam enam teng Vivian sudah siap-siap jalan kaki ke pasar terdekat untuk berjualan di pasar menenteng dua keranjang nasi bungkus, di kota ini Vivian mengganti namanya menjadi Puput Anggraeni.
"Put, aku dua bungkus nasinya dong satu nasi kuning, satu nasi pecel, lauknya telur saja dua-duanya"
"Put, aku nasi pecel saja dua, lauknya ayam sama ikan" Teriak tetangga di depanya keluar melambaikan uang
"asiap, bos" Ucap Vivian semangat empat lima, baru keluar dagangannya sudah di beli tetangga-tetangganya, kadang sampai pasar dagangannya sisa sedikit.
"Put, jangan lupa hari minggu ada khitanan di rumah bu Erna, kita pergi bareng ya" Ucap bu Endang mengingatkan.
"Iy, nanti kalau bu Endang sudah mau pergi, ketok saja rumah Puput"
"Kita perginya siangan saja ya, sekalian pas jam makan siang"
"Iya ibu, kalau gitu, Puput pamit buat berjualan" Ucapnya ramah, bangkit berjalan menuju pasar. Selama tinggal di Balikpapan ini Vivian mulai mempelajari pencak silat di hari selasa, kamis dan sabtu, dan mempelajari muangthai di hari senin rabu dan jum at.
Hal yang paling Vivian suka di sini adalah minum teh sambil main gitar di balkon rumahnya yang memperlihatkan gazebo cantik dengan hembusan angin lautnya, dan kilang pertamina di seberangnya pada sore menjelang senja tersebut.
Vivian sejenak lupa akan Alex dan kehidupannya di kota Jakarta. Berbeda dengan Alex yang begitu Vivian menghilang, dua minggu pertama Alex masih agak tenang, berpikir Vivian sedang pergi jalan-jalan ke kota Banjar seperti waktu itu, Alex juga mengerahkan orangnya menyisir kota banjar. Tapi selang dua minggu Vivian hilang bagai di telan bumi, membuat Alex kelimpungan mencarinya. Alex menatap nanar ke arah tangannya yang digunakan menampar Vivian terakhir kali, dia tak menyangka selepas hal itu Vivian akan menghilang tanpa jejak.
Selepas kepergian Vivian , kini Alex menjadi pribadi yang sangat dingin, amarahnya sering meledak-ledak dan yang sering jadi sasarannya adalah para karyawannya di kantor, apalagi pada saat rapat seperti sekarang ini, setelah mengomeli karyawannya habis-habisan, Alex keluar dari ruang rapat dengan wajah kesal masuk ke ruang kerjanya, di sana ada Sasha yang sedang bermain handphone, Sasha sangat senang tidak ada lagi Vivian yang datang ke sana.
"Sayang, kau kenapa?" Ucap Sasha manja duduk di pangkuan Alex
"Tidak apa-apa" Ucap Alex mulai mengatur emosinya, memeluk pinggang Sasha "Ada apa kau kemari"
"Ish pacar ke sini masa tidak boleh " Ucapnya cemberut, Alex terkekeh melihatnya, ketika Sasha mendekat dan ingin menciumnya , Alex menahan bahunya memicingkan matanya melihat sesuatu yang ada di leher Sasha seperti sebuah kissmark. Seingatnya, Alex tidak pernah meninggalkan tanda apapun di tubuh Sasha kecuali ciuman bibir, Sasha mengernyit heran dengan tingkah Alex "Ada apa?"
Tak ingin membuat Sasha tau dengan kecurigaannya, Alex ******* habis bibir Sasha , meski hatinya sangat marah mengetahui Sasha sepertinya berselingkuh di belakangnya.
Meski Sasha hampir kehabisan napas , dia sangat senang Alex berinisiatif menciumnya terlebih dahulu. "Alex , kita bisa melakukan yang lebih, jika kau mau" Dengan nada menggoda, Sasha menurunkan satu tali bajunya memperlihatkan bra berwarna merah maroon yang warnanya sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Aku tidak bisa, aku sedang banyak pekerjaan" Ucap Alex beralasan, membuat Sasha sangat kecewa , terlihat dari wajahnya yang mendung "Kau pergi berbelanja saja ya"
Melihat kartu kredit yang di sodorkan, membuat senyum Sasha terbit dan ******* bibir Alex kembali tapi tak lama.
"Baiklah aku pergi berbelanja dulu ya?" Ucap Sasha senang beranjak dari pangkuan Alex dan berlalu pergi.
Sepeninggal Sasha, wajah Alex yang tadinya penuh senyum berubah dingin, dengan kasar Alex membersihkan bibirnya yang dia pakai mencium Sasha tadi menggunakan tisu dan segera menghubungi Simone.
"Suruh orang membuntuti Sasha dan sadap teleponnya, berani-beraninya dia bermain-main di belakangku" Ucap Alex geram dan langsung menutup sambungan teleponnya setelah mendengar jawaban dari Simone.
Alex tidak ada keinginan mengerjakan pekerjaannya kembali, membalikkan kursinya ke arah dinding kaca dan menatap langit cerah di luar sana, tiba-tiba Alex membayangkan wajah Vivian yang tersenyum di langit sana, hatinya sangat rindu ingin bertemu dengannya "Awas saja jika aku menemukanmu, aku akan mengurungmu sehingga kau tidak bisa lari ke mana-mana lagi".
authooor.. up lah😭 banyak yang masih menantikan kelanjutan ceritanya. tetap semangat, jangan digantung ceritanya. lebih dari setahun aku menanti update dari mu. hingga saat ini aku masih menanti. rela komen panjang dan sekaligus berdoa untuk mu . up ya aku masih menanti😊😊