NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

halaman belakang istana

HALAMAN BELAKANG ISTANA - JAM 08.00

Matahari pagi nyelinap lewat sela daun maple, cahayanya keemasan, jatuh ke batu paving, anget, anginnya sejuk bawa wangi tanah basah sama bunga liar, aku keluar kamar disuruh Axel sarapan, tapi yang ada di meja bukan sup ayam, tapi mantel bulu tebel sama sepatu boot

Axel berdiri 3 meter dari pintu, punggungnya ke aku, kemeja hitamnya ketiup angin, rambutnya acak, tangan kanan megang tali kekang kuda hitam gede, otot lengannya keliatan, umur 25 tahun tapi aura naga nya kerasa banget

"Pakai ini" katanya tanpa noleh, suaranya datar tapi ga sedingin dulu, dia lempar mantel ke arahku, aku tangkep, anget, bau kayu sama pedang

Aku pake pelan, mantelnya gede, nutup sampe lutut, "mau kemana Tuan"

Axel baru noleh, mata merahnya liat aku dari atas sampe bawah, 2 detik, terus dia noleh lagi cepet, kayak salah tingkah, "ke taman, kau di kamar 3 hari, muka pucat, butuh udara, 18 tahun ga boleh kayak nenek-nenek"

Aku diem, "aku tawanan, tawanan boleh keluar"

Axel jalan ke kuda, "kau bukan tawanan lagi, kau... tamu, jalan"

Dia naik ke kuda duluan, gerakannya lincah, umur 25 tahun badannya tinggi 188cm, kuda di bawahnya kayak mainan, dia ulur tangan ke aku, "naik"

Aku mundur setengah langkah, "aku ga bisa naik kuda"

"Pegang tanganku" katanya, masih ngulur tangan, sabar.

Aku ragu, terus taruh tangan ke telapak dia, anget, kasar, kapalan pedang, dia tarik pelan, aku ngerasa melayang, terus duduk di depan pelana, di pelukan dia, punggungku nempel ke dada dia, jarak 0cm

Jantungku deg kenceng, bukan karena kuda, karena anget napas dia di belakang telingaku, "jangan kaku" bisiknya, tangan kanannya megang kendali, tangan kirinya ngelilingi pinggangku biar aku ga jatuh, "kalo jatuh, aku yang disalahin Elena"

"Kau kenal Mama aku" bisikku pelan, kaku, ga berani gerak

"Kenal" jawabnya, dagunya hampir nyentuh bahuku, "waktu kau umur 5 tahun, dia ajarin aku lempar salju, dia bilang 'Axel, kalo besar nanti lindungi Aira ya', aku umur 12 tahun, aku angguk, terus 13 tahun aku lupa janji itu"

Kuda jalan pelan, "tek tok tek tok", suara kuku kuda di batu, taman istana luas banget, pohon maple merah kuning, daunnya jatuh pelan, kayak hujan, indah tapi sedih

Axel arahin kuda ke danau kecil di tengah taman, airnya bening, ada bebek, "berhenti sini" katanya, kuda berhenti, dia turun duluan, terus ngangkat aku, pinggangku digenggam, aku ngerasa ringan, kakiku napak tanah, tapi tangan dia masih di pinggangku 2 detik sebelum dilepas

"Jalan" katanya, dia jalan duluan 1 meter di depan, jaga jarak, tapi bayangannya nempel ke bayanganku

Aku ngikut, mantelnya kegedean, ujungnya nyeret tanah, Axel liat, terus dia jongkok depan aku tanpa bilang apa-apa, ngelipet ujung mantel, jarinya nyentuh betisku 1 detik, aku kaget, mundur

"Maaf" katanya cepet, berdiri, noleh ke danau, kupingnya merah, umur 25 tahun tapi gampang salah tingkah, "mantelnya kepanjangan, bahaya, kesandung"

Aku gigit bibir, "makasih Axel"

Dia kaku pas denger namanya, ga pake "Tuan", 13 tahun dia denger orang panggil "Tuan Naga", sekarang bocah 18 tahun panggil nama doang

Angin lewat kenceng, daun maple jatuh ke rambutku, nutupin mata, aku mau nyingirin tapi tangan penuh mantel

Axel reflek maju setengah langkah, tangannya naik, berhenti di udara, dia tarik napas, terus pelan banget dia singkirin daun dari rambutku, ujung jarinya nyentuh jidatku, dingin, terus turun ke pipi, 1 detik doang

"Udah" bisiknya, suaranya serak, dia mundur 2 langkah lagi, jaga jarak, "jangan diem di angin, kau umur 18 tahun, gampang sakit"

Aku jongkok, pungut daun maple merah, bentuknya cantik, "dulu waktu umur 5 tahun, Mama aku suka kumpulin daun gini, dia bilang kalo dikeringin bisa jadi pembatas buku"

Axel diem, terus dia juga jongkok, jarak kami 50cm, dia pungut daun juga, "aku umur 12 tahun suka lemparin daun ke dia, dia marah, tapi ketawa, dia bilang aku naga nakal"

Aku noleh ke dia, "Tuan... Axel, kenapa Tuan benci Papa aku sampe segitunya"

Axel ngepal daun di tangannya sampe remuk, "karena umur 12 tahun aku liat dia bakar rumah kami, Mama aku mati di pelukan dia, dia ketawa, dia bilang 'ini balasan buat naga yang berani ngelirik istriku', Elina umur 31 tahun ga salah apa-apa, dia cuma baik ke aku"

Aku diem, dada sesek, "Papa aku jahat ya"

"Jahat" jawabnya datar, "tapi kau umur 18 tahun ga kayak dia, kau malah ngumpulin daun kayak dia dulu, makanya aku bingung, mau benci, tapi yang di depan aku anaknya Elina, bukan anaknya dia"

Dia buang remukan daun ke danau, "pluk", riaknya kecil, terus dia berdiri, "naik lagi, muter taman sekali lagi"

Aku naik ke kuda, kali ini lebih berani, aku duduk di depan, Axel naik di belakang, dadanya nempel ke punggungku lagi, anget, "pegang kendalinya" katanya, dia arahin tanganku ke tali kekang, tangannya nutup tanganku dari belakang, "gini, kalo mau belok kiri, tarik dikit"

Aku nurut, kuda jalan lebih cepet, angin nyambar rambutku ke belakang, nyambar muka Axel juga, aku denger dia ketawa kecil di belakang telingaku

"Kau ketawa" kataku kaget, 13 tahun dendam, baru denger dia ketawa beneran

"Anginnya kenceng" jawabnya, tapi suaranya seneng, "rambut kau kena muka aku, gatel"

Aku mau minggir, tapi dia peluk pinggangku lebih kenceng, "diem, jatuh nanti, aku 25 tahun ga mau gendong kau umur 18 tahun yang patah kaki"

Kuda lari kecil, "duk duk", aku teriak kecil, takut, tapi seneng, Axel di belakang bisik "Aira, buka mata, liat depan"

Aku buka mata, depanku taman luas, daun maple jatuh kayak hujan merah, matahari tembus sela pohon, cantik banget, aku umur 18 tahun baru ngerasain bebas kayak gini

"Indah ya" bisik Axel di telingaku, napasnya anget, "13 tahun aku liat taman ini, tapi baru sekarang indah, karena ada kau umur 18 tahun di depan"

Aku kaku, "Tuan ngomong apa"

"Axel" koreksinya pelan, "panggil Axel pas cuma kita berdua, 25 tahun aku capek dipanggil Tuan"

Aku diem, terus bisik pelan, "Axel... makasih udah ajak aku keluar"

Dia ga jawab, tangannya di pinggangku makin ngenceng, kuda pelan-pelan berhenti di bawah pohon maple gede, batangnya tebel, akarnya naik ke atas

Axel turun duluan, terus ngangkat aku lagi, kali ini dia ga langsung lepas, dia nurunin aku pelan, kakiku napak tanah, tapi tangan dia masih di pinggangku, mata kami ketemu, jarak muka 30cm

"Aira" panggilnya, suaranya rendah, umur 25 tahun tapi kayak bocah 12 tahun yang bingung

"Iya Axel" jawabku, napasku kacau

"13 tahun aku latih pedang buat bunuh anaknya Pramesti" katanya, jempolnya ngusap pinggangku pelan lewat mantel, "tapi 3 hari kenal kau umur 18 tahun, aku latih tangan ini buat genggam kau, buat lap keringat kau, buat nutupin kau dari angin, tanganku bingung harus pilih yang mana"

Aku gigit bibir, air mata mau jatuh, "terus pilih yang mana Axel"

Dia merem, lama, terus dia peluk aku, cepet, kenceng, dagunya di atas kepalaku, "pilih kau, Aira, aku 25 tahun pilih kau, biar dendam 13 tahun hancur, biar naga mati, yang penting kau umur 18 tahun aman"

Aku kaku 3 detik, terus tanganku naik pelan, megang punggung kemejanya, balas peluk, ragu, tapi beneran, "Axel... aku takut"

"Takut apa" bisiknya di rambutku

"Takut kalo aku umur 18 tahun mulai suka Tuan 25 tahun, terus Tuan inget dendam lagi, terus Tuan tusuk aku" air mataku jatuh ke dada dia

Axel lepas pelukan pelan, jarak balik 10cm, tangannya naik ke wajahku, jempolnya ngusap air mataku, "denger ya, 13 tahun lalu aku umur 12 tahun liat Elina mati, aku janji ga akan bikin anaknya nangis lagi, kau umur 18 tahun boleh nangis karena sedih, karena marah, tapi ga boleh nangis karena aku, aku bersumpah"

Dia kecup jidatku, cepet, 1 detik, anget, terus dia mundur, "kita balik, kau pasti laper"

Aku angguk, masih kaget sama kecup jidat itu, kami jalan ke kuda, kali ini Axel gendong aku naik, tangannya di pinggangku lama, sengaja

Di perjalanan balik, aku yang pegang kendali, Axel yang ngarahin dari belakang, "tarik kiri dikit, bagus, pinter anak umur 18 tahun"

Aku ketawa kecil, "Axel ngajarin aku kayak ngajarin anak kecil"

"Emang" jawabnya, dagunya di bahuku, "kau umur 18 tahun, aku umur 25 tahun, aku ngajarin kau biar kau ga butuh aku, tapi anehnya aku malah seneng kalo kau butuh aku"

Sampai depan kamar, Axel turunin aku, dia ga langsung lepas, "Aira"

"Hmm"

"Malam ini latihan panah lagi, tapi syaratnya sama, kau ga boleh lari, janji"

Aku liat mata dia, merah, capek, tapi jujur, "janji Axel 25 tahun"

Dia senyum, tipis, taringnya keliatan, tapi anget, "pintar, masuk, makan sup ayamnya, aku masak pake resep Elina, dia ajarin aku umur 12 tahun"

Pintu kamar kebuka, anget, ada sup ayam di meja, masih ngebul, aku noleh ke Axel, "Axel"

"Iya"

"Resep Mama aku... Tuan masih inget"

Axel sandar di kusen pintu, lengan disilang, "aku umur 12 tahun inget semua yang Elina ajarin, karena itu satu-satunya anget yang aku punya sebelum 13 tahun neraka, sekarang anget itu aku kasih ke kau umur 18 tahun, makan sana"

Dia nutup pintu pelan, ga dikunci, "krek", tinggal suara langkahnya menjauh

Aku duduk, sendok supnya, anget, rasanya kayak dipeluk Mama, aku nangis pelan ke mangkok, tapi kali ini bukan nangis benci, nangis karena ada naga 25 tahun yang rela hancurin dendam 13 tahun demi bocah umur 18 tahun

Di luar pintu, Axel sandar, denger aku nangis, tangannya ngepal, dia bisik pelan, "Elina, aku jaga anak kau, aku jaga, sumpah naga 25 tahun"

Daun maple terakhir jatuh di ambang pintu, nutupin bayangan kami berdua, jaraknya sekarang bukan 2 meter lagi, cuma sehelai pintu, dan pintu itu ga dikunci

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!