NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar tawan

Sinar matahari nyusup dari celah jendela. Tipis. Aku pura-pura merem. Nafasku atur pelan. Jantungku deg-degan kayak mau copot.

Tanganku masih megang ujung kemeja hitam di dada. Tapi kemejanya dingin. Dia udah pergi sebelum subuh.

Di meja mangkok kosong dan kertas "Obat di laci. Minum tiap 6 jam. Kalo demam naik lagi, teriak. Aku di luar pintu. Ga tidur. A"

Tangan Axel. Tulisan jelek. Buru-buru. Tapi tiap hurufnya nusuk.

Klek. Pintu kebuka. Langkah berat masuk. Berhenti 2 meter. Kayak biasa.

Aku makin diemin nafas. Pura-pura tidur. Badan beku. Bibir rapet. Sandiwara yang udah 13 tahun aku jago.

"Kain udah diganti," katanya. Suaranya serak. Kayak ga tidur semaleman. "Obatnya di laci paling atas. Warna putih."

Aku ga jawab. Ga gerak. Patung es.

Langkahnya maju 1 meter. Berhenti. "Aira."

Aku kaget di dalam hati. Dia manggil nama. Lengkap. Bukan kau lagi.

"39.5C semalam," bisiknya. "Sekarang harusnya turun. Tapi kalau kau masih pura-pura tidur... demammu bisa naik lagi."

Aku gigit bibir dalam. Nahan senyum. Dia tau aku pura-pura.

Kain dingin nempel di jidatku. Sekali. Dua kali. Dia lap keringat yang udah kering.

Jari-jarinya berhenti di pelipisku. Ngusap pelan. "Aku tau kau bangun. Nafasmu beda pas bangun sama pas tidur."

Ketauan. Aku nyerah. Mata kebuka dikit. Liat dia dari sela bulu mata.

Axel duduk di lantai. Punggung nempel kasurku. Jarak 30cm. Mata panda. Baju kemeja sama kayak semalem. Ga ganti. Dagunya ada bayangan jenggot.

"Minum obat," katanya. Nyodorin sendok dan air putih. "Jangan bikin aku ngulang kata tolong dua kali."

Aku duduk pelan. Kepala masih berat. Aku ambil sendoknya. Tangan gemetar. Obatnya pahit. Aku meringis.

Axel liat. Alisnya nyatu. "Pahit?"

Aku angguk pelan. "Kayak dendam Tuan."

Dia kaku. Sendok di tangannya hampir jatuh. "Jangan panggil aku begitu."

"Terus panggil apa?" Aku ngangkat dagu. Tantang. Tapi suaraku masih serak. "Axeliano? Nama panjang musuhku?"

Dia merem. Nelen ludah. "Panggil nama aku. Axel. Cuma Axel. Pas kau demam semalem... kau manggil lengkap. Aku... aku suka."

JLEB. Dada aku sesek. Naga yang 13 tahun manggil anak Pramesti... sekarang minta dipanggil nama depan.

Aku noleh ke jendela. Muter badan. Sandiwara beku lanjut. "Aku ga suka ngasih nama ke naga."

Di belakangku hening 10 detik. Terus ada suara napas panjang. Dia frustasi.

"Aira," katanya pelan. "Semalam kau genggam kemejaku sampe pagi. Kau bilang Ma jangan pergi. Kau manggil aku Mama sambil nangis."

Pipiku panas. Malu. "Aku ngigau."

"Aku tau," potongnya. "Tapi pas kau sadar 3 detik... kau bilang 'Axeliano makasih udah jagain angin kecilmu'. Itu kau sadar. Itu bukan ngigau."

Aku peluk bantal ke dada. Nutup muka. "Tuan salah dengar."

Langkahnya maju. Sekarang jaraknya 20cm dari kasur. Aku bisa ngerasain anget badannya.

"Aku ga salah dengar," bisiknya di telingaku. "Aku dengar jelas. Angin kecilku Kau kasih aku nama. Setelah 13 tahun aku kasih kau nama tawanan."

Tangannya nyentuh rambutku. Kali ini ga lewat kain. Langsung. Jari-jarinya nyelip, nyisir pelan.

Aku kaku. Mau dorong, tapi badan masih lemes abis demam.

"Kenapa kau curi akta kelahiranku?" tanyaku pelan. Tanpa noleh. "Kenapa hafal nama lengkapku 13 tahun?"

Axel diem lama. Terus dia jawab jujur. Brutal. "Karena aku mau tau musuhku sedetail mungkin. Nama lengkap, tanggal lahir, golongan darah. Semua. Biar pas aku bunuh Papa kau... aku ga salah orang."

Tanganku ngepal di selimut. Sakit.

"Tapi," lanjutnya, suaranya pecah. "Pas aku baca 'Aira Elena Pramesti' di akta itu... tinta basah karena air mata Mama kau. Ada noda kecil di huruf A pertama. Dia nangis pas nulis nama kau."

Aku merem. Air mataku netes ke bantal.

"13 tahun aku simpen akta itu," bisiknya. "Di laci meja kerjaku. Di bawah tumpukan dokumen perang. Tiap malam sebelum aku tidur... aku baca nama kau. Aira. Elena. Pramesti. Kayak mantra. Biar aku inget kenapa aku benci."

Dia ketawa kecil. Pahit. "Tapi lama-lama... aku benci namanya. Karena tiap aku baca Elena... aku keinget dia bilang jagain anak kita, Axel. Dan aku ga jagain. Aku malah nyulik anaknya."

Aku balik badan. Cepat. Mata kami ketemu.

Mata dia merah. Capek. Tapi ga ada benci. Yang ada... takut. Takut aku benci balik.

"Aku bukan Mama," kataku. Suaraku getar. "Aku Aira. Aku ga minta dijagain naga."

"Aku tau," jawabnya cepet. Panik. "Kau Aira. Keras kepala. Suka bohong pake muka datar. Suka gigit bibir pas marah. Suka liat jendela kalo sedih. Itu kau. Bukan Elena. Bukan bayangan."

Dia angkat tangan. Mau nyentuh pipiku, tapi berhenti di udara. Jaga jarak. "Boleh aku...?"

Aku ga jawab. Ga ngangguk. Ga geleng.

Jari-jarinya akhirnya nyentuh pipiku. Hangat. Kasar. Kapalan pedang. Tapi hati-hati banget. Kayak megang kaca.

"Kau demam 39.5C semalam," bisiknya. "Aku takut. Beneran takut, Aira. Bukan takut kau mati. Takut aku yang ngebunuh kau pelan-pelan. Dengan dendamku."

Air mataku jatuh ke telapak tangannya. Dia usap pake jempol.

"Maaf," katanya. Satu kata yang dia ulang 100 kali semalam. "Maaf aku datang telat 13 tahun. Maaf aku baru bisa jagain kau pas kau udah dewasa dan benci aku."

Aku dorong tangannya pelan. "Jangan minta maaf ke aku. Minta maaf ke Mama."

Axel nunduk. Bahunya turun. "Aku udah. Tiap malam di makamnya. Tapi dia ga jawab. Yang jawab... kau. Pas kau demam, pas kau manggil 'Ma'."

Hening. Cuma ada suara burung di luar jendela.

Jam 07.00 Perawat ketok pintu. "Tuan, sarapan."

Axel berdiri. Jarak kami balik jadi 2 meter. Topeng naga dipake lagi. Dingin. "Masuk."

Perawat masuk bawa nampan. Sup + roti + teh anget.

Axel duduk di kursi. Jauh. "Makan."

Aku ambil sendok. Tapi tanganku masih gemetar. Supnya tumpah dikit ke selimut.

Axel langsung bangun. Ngambil lap. Jongkok di pinggir kasur. Ngelap tumpahan itu pelan. Jarak kami 10cm.

"Maaf," bisiknya lagi. "Aku bikin kau gemetar."

"Bukan Tuan," jawabku pelan. "Demamnya."

Dia berhenti ngelap. Dongak. Mata kami ketemu lagi. Kali ini lebih dekat.

"Aira..." katanya. Nama itu keluar kayak doa. "Kalau aku bilang... aku ga bisa benci kau lagi... kau percaya?"

Aku geleng. Pelan. "Aku ga percaya naga."

Axel senyum. Tipis. Pahit. "Bagus. Jangan percaya. Benci aku aja. Tapi jangan demam lagi. Jangan bikin aku begadang 13 tahun lagi."

Dia berdiri. Jalan ke pintu. Sebelum keluar, dia berhenti. Ga noleh.

"Kertas di meja... aku tulis 'Aku' bukan 'Tuan'. Karena semalem... kau manggil aku Axeliano. Lengkap. Kayak aku manusia. Bukan naga."

Pintu ketutup. Klek.

Aku megang kertas itu lagi. "Aku di luar pintu. Ga tidur."

Aku bisik ke pintu: "Axeliano... aku juga ga tidur. Karena tiap merem... aku keinget tangan naga yang anget."

Di luar, ga ada jawaban. Tapi aku denger langkahnya duduk lagi di lantai. Sandar ke pintu. Jagain.

Tahanan tanpa nama... sekarang punya nama. Naga yang benci... sekarang takut kehilangan.

13 tahun dendam... retak gara-gara demam 39.5C.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!