Apa jadinya jika niat balas dendam mu menyimpang dan menumbuhkan perasaan cinta?
Ikuti kisah Aurel si Penyamar dengan Nathan sang Rival
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon herlia ia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Apa apaan ini.. tunggu... hei... siapa yang menyuruh kalian menambah meja dan kursi.. berhenti.." sergah Aurel menghadang para pria bertubuh kekar yang bergantian membawa barang barang baru agar masuk kedalam ruangan kantor Aurel dibantu oleh Dewi sang sekertaris yang juga kewalahan menahan para pria bertubuh kekar itu.
Pagi ini diawali dengan kericuhan yang membuat Aurel cukup menguras emosi dan tenaga.
"AKU BILANG BERHENTIIII...." teriak Aurel dengan kesal karena para pria berotot itu tak menggubris hadangan mereka.
Namun tetap usahanya sia sia, karena para pria itu tetap melakukan pekerjaannya.
"DASAR BRENGSEK.. WAAAA....." Aurel semakin kesal dan langsung melompat pada salah satu punggung pria yang mengangkut meja kerja berbahan kayu jati itu dan menjambak rambutnya seraya menggoyang goyangnya.
"Nona.. lepaskan nona.." pria itu mengaduh dan meminta Aurel untuk menghentikan tingkahnya.
"Bodo amat, suruh siapa gak dengerin..." tukas Aurel masih menjambak dan menggoyangkannya dengan kesal.
"ADA APA INI?" suara sentakkan seseorang menghentikan pergerakan Aurel.
Dia lantas turun dari punggung pria itu dan memukuli lengannya membabi buta.
"Sayang, hentikan. Kamu akan melukai tanganmu sendiri" sergah Nathan meraih tangan Aurel lantas mengusap dan meniupnya.
Namun emosi Aurel masih menguasai sehingga dia kembali mencoba memukul dan menendang pria berotot yang hanya bisa meringkuk diperlakukan seperti itu oleh Aurel.
"Dableg sih jadi orang, dibilangin jangan ya jangan.." ucap Aurel masih kesal dan kembali menendang angin kearah mereka yang tengah berdiri meringkuk dihadapan Nathan.
"Kenapa kalian gak nurut?" tanya Nathan tegas dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Tapi kan bos-"
"Disini kekasih saya bos nya, jadi apapun yang dia perintahkan kalian harus patuh" potong Nathan membungkam para pria kekar itu yang saling melirik satu sama lain.
"Kekasih pantatmu" sanggah Aurel yang kini menampar lengan Nathan dengan gemas.
"Lagian ini pasti ulah kamu juga kan?" protes Aurel masih merasa gemas dengan tingkah mantan bos nya ini.
"Kan biar gak ganggu kamu kerja, sayang. Jadi aku pesen lagi meja. Tapi kalo kamu nyaman berdua duaan aku sih gak masalah" timpal Nathan dengan nada manja dan merangkul pinggang ramping Aurel.
Para pria kekar dan Dewi sang sekertaris seketika ingin memuntahkan sesuatu kala melihat tingkah Nathan yang berlawanan dengan sikap tegasnya.
"Ini apaan sih. Siapa yang mau berdua duaan? ini ruangan saya, dan saya tak mau seruangan dengan siapapun" sanggah Aurel mendorong tubuh Nathan yang menempel padanya.
"Kalian dengar itu?" ucap Nathan dengan tegas lantas mengibaskan tangannya pada para pria kekar juga Dewi untuk keluar dari ruangan.
"Ini mejanya gimana bos?" tanya salah satunya.
"Kamu tadi gak denger? bawa keluar" titah Nathan membuat pria itu kebingungan namun menurut juga.
"Terus kenapa kamu masih disini?" tanya ketus Aurel sambil melipat kedua tangannya di dada kala Nathan masih bertengger di meja Aurel.
Nathan mengedikkan bahunya seraya melipat kedua tangan mengikuti Aurel.
"Tolonglah, saya banyak kerjaan" mohon Aurel dengan frustasi sambil melangkah dengan lemas dan duduk kembali ke kursi kebesarannya.
"Tentu saja" Nathan lantas melangkah kearah pintu dan membukanya membuat Aurel menghela nafasnya dengan lega.
"Akhirnya dia mengerti juga" gumamnya dalam hati.
"Disini saja. Berhubung ibu Presdir keberatan untuk berpisah dariku, tak apa kita berbagi meja" titahnya pada Rio yang datang membawakan setumpukan dokumen membuat Aurel kembali mengangakan mulutnya lantas meringis.
"Iya kan sayang? sekarang kita berbagi meja, besok besok berbagi ranjang atau .. keringat?"
......................
Aurel dan Nathan benar benar bekerja dalam satu meja. Nathan bersikap keras kepala kala Aurel dengan tegas mengusirnya.
Namun akhirnya menyerah juga kala semakin tegas Aurel mengusir Nathan, maka Nathan akan semakin nekat menciumnya. Tak perduli jika Rio berada di sudut ruangan yang memilih menjadi debu.
"Kamu seharusnya marah sama aku" ucap Aurel disela sela makan siang yang terlambat itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, namun karena pekerjaan yang menumpuk membuat mereka baru bisa menyentuh makan siang yang sudah Dewi pesankan sedari siang.
Rio memilih membawa makanannya keluar ruangan dan makan di meja kerja Nathan yang ditaruh di lorong oleh para pesuruh dari perusahaan meubel.
Nathan mengulum senyum karena Aurel sekarang menggunakan panggilan 'aku-kamu'.
"Aku memang marah sama kamu" jawab Nathan yang memilih mencomot makanan yang berada dihadapan Aurel, padahal menu mereka sama.
"Terus?" Aurel penasaran sambil menukar kotak makan mereka karena bagiannya hampir habis dicomot Nathan.
"Ya, aku nuntut tanggung jawab kamu" jawab santai Nathan lagi lagi mencomot makanan yang berada di hadapan Aurel. Namun dia tak mencomot untuk dirinya sendiri, namun dia menyodorkannya kedepan mulut Aurel karena dia lebih banyak menatap dan bertanya banyak hal.
Aurel melahap apa yang Nathan sodorkan, tak lupa menatap ekspresi mantan majikannya itu, mencoba menggali apa yang tersirat dalam ekspresinya karena dia telah memanfaatkannya.
"Gak niat nanya tanggung jawab apa gitu?" lanjut Nathan karena Aurel tak kunjung bertanya.
"Enggak"Jawab singkat Aurel yang lantas terkekeh melihat Nathan mencebik.
"Gimana kabar Ethan? dia pasti bahagia berkumpul kembali dengan momy-nya" alih alih menanyakan tanggung jawab apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya, dia malah menanyakan tentang Ethan sambil menunduk.
Sungguh, dia sangat merasa bersalah sekaligus merindukan bocah itu.
Nathan menatap jauh menerawang, tanpa mengatakan apapun.
Diapun sama penasarannya seperti Aurel.
Apa kabar anak semata wayangnya itu? Apa dia benar benar bahagia bersama Angel?
Ada rasa sesal dalam dirinya karena meninggalkan Ethan begitu saja. Meski itu disebabkan karena dia tak mau berurusan lagi dengan Angel. Meski alasannya adalah Ethan.
"Saya ikut senang dengan kebahagiaan kalian-"
"Jangan mudah menyimpulkan kalau kamu gak tau keseluruhan cerita. Atau kamu akan salah paham dan membuat kesalahan fatal" potong Nathan membuat Aurel seketika melipat mulutnya.
Dia memilih tak bertanya lebih jauh karena dia tak mau kembali melibatkan hatinya dalam menjalani hidup yang rumit ini.
Fokusnya kini adalah menaikkan kembali citra perusahaan agar kembali dipercaya untuk mendapatkan proyek tanpa embel embel sogok menyogok.
"Telfon saja bu Aminah kalau kamu penasaran" lanjut Nathan yang lantas menghabiskan sisa makanannya.
...----------------...
"Ethan.. ETHAN.. kamu kalo dipanggil tuh nyaut, jangan diem aja" sentak Angel pada Ethan yang tengah makan malam ditemani Aminah di ruang makan.
Aminah sampai berjenggit terkejut karena bentakan Angel pada anak kandungnya sendiri. Jangan tanyakan Ethan yang sering menangis kala Angel sudah pergi ke kamarnya setelah puas memarahinya.
"Ethan lagi makan, momy" jawab Ethan sedikit menahan sesak.
Dia tak menyangka jika ibu kandungnya ini ternyata lebih cocok menjadi ibu tiri yang sering dia dengar dari teman temannya.
"Cepat telfon dady" titah Angel menyodorkan ponsel berhiaskan berlian di sekeliling sisi ponsel berlogo separuh apel.
tp mmg hrs tahan sp halal dl ya/Smile/