Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tujuh belas ~
Sore itu, suasana langkah kaki Bagas terasa jauh lebih ringan dan santai ketika ia berjalan menyusuri koridor menuju area dapur utama barak militer. Status dan takdir hidupnya kini telah resmi berubah total menjadi anggota tetap di korps dapur. Begitu ia mendorong pelan pintu besar dapur dan melangkah masuk ke dalam, alih-alih mendapati tatapan sinis atau permusuhan tajam seperti insiden tadi siang, Bagas justru disambut dengan senyuman hangat serta sapaan ramah dari para koki junior yang sempat membantunya memasak.
"Selamat datang secara resmi di tim dapur kami Bagas!" seru salah seorang koki junior sambil menepuk bahu Bagas dengan akrab. "Kami semua sangat bahagia dan bersyukur kau ditempatkan di sini. Masakan lodeh dan ayam goreng buatanmu siang tadi benar-benar luar biasa enak!"
Bagas mengerjap-ngerjap beberapa kali, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Rasa hangat yang nyaman langsung menjalar memenuhi dadanya. Sempat ada kekhawatiran besar di dalam kepalanya bahwa kehadirannya sebagai orang baru di dapur akan ditolak mentah-mentah atau dikucilkan oleh para senior, namun kenyataan justru menyambutnya dengan tangan terbuka lebar.
Wah, ternyata punya rekan-rekan kerja di dapur yang suportif dan asyik seperti ini menyenangkan juga batin Bagas merasa sangat bersyukur. Aku sempat parno setengah mati tadi, mengira hari pertamaku di dapur akan menjadi neraka dunia.
Namun, kebahagiaan dan kelegaan itu tidak bertahan lama ketika jarum jam mulai bergeser mendekati waktu persiapan makan sore. Bagas mendadak dilanda kebingungan hebat yang mencengkeram dadanya karena hingga detik itu, layar transparan miliknya sama sekali tidak memunculkan notifikasi misi ataupun pemberitahuan dari sistem.
Tunggu dulu... Kenapa suasana di kepalaku hening sekali? Biasanya sistem ini selalu rewel, cerewet, dan hobi memberikan misi dar der dor setiap kali jam makan tiba batin Bagas panik sambil melirik cemas ke arah ruang kesadarannya. Kalau sore ini tidak ada misi dari Daisy, itu artinya aku tidak akan mendapat resep rahasia dan panduan instan! Mau jadi apa masakan soreku nanti kalau dimasak pakai cara amatir tanpa takaran?! Bisa-bisa baru beberapa jam naik jabatan jadi asisten koki, aku langsung dipecat dengan tidak hormat karena menyajikan makanan yang rasanya mirip racun tikus!
Merasa cemas luar biasa hingga keringat dingin mulai merembes di pelipisnya, Bagas akhirnya memutuskan untuk memanggil entitas di kepalanya dengan nada setengah merengek penuh keputusasaan.
"Daisy! Hei Daisy, bangun!" panggil Bagas cemas di dalam hatinya. "Coba jujur padaku, apa sore ini benar-benar tidak ada misi atau tugas masak sama sekali yang dijadwalkan untukku?"
[Sensor internal sistem mendeteksi bahwa sore ini memang tidak ada misi resmi, target poin, ataupun instruksi apapun yang dijadwalkan untuk Tuan Rumah,] jawab sistem dengan sangat tenang tanpa beban dosa.
Mendengar jawaban yang terlalu santai itu, Bagas justru semakin jantungan dan ingin berteriak histeris.
"Mana bisa begitu aturannya?! Masakanku selama ini bisa enak luar biasa dan bikin komandan mewek kan karena resep dan panduan presisi darimu Daisy!" protes Bagas setengah meratap di dalam batinnya. "Kalau sore ini aku harus memasak untuk seluruh prajurit tanpa resep sistem, bisa hancur lebur reputasiku di depan kepala koki baru!"
Bagas mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya, memutar otak sekuat tenaga untuk mencari solusi darurat sebelum bencana besar benar-benar terjadi di hadapan para seniornya.
"Hei Daisy... Coba beritahu aku." ucap Bagas merayu dengan nada memelas di dalam batinnya. "Apakah sistem punya menu kemampuan khusus? Maksudku, kemampuan dasar memasak secara instan atau insting mengenali bahan makanan yang bisa dibeli dengan poin, supaya keahlianku meningkat dan minimal tidak memalukan saat memegang pisau di dapur ini?"
Beberapa detik berlalu dalam kesunyian yang menegangkan, sebelum akhirnya layar transparan di depan mata Bagas berkedip pelan menampilkan daftar menu toko sistem beserta deretan harga fantastis yang sukses membuat matanya hampir copot dari soketnya.
[Menu Kemampuan Khusus Toko Sistem Tersedia:]
[1. Kemampuan memasak tingkat B (Termasuk keahlian teknik menggunakan pisau tingkat mahir dan ketepatan potong) — Harga: 500 Poin.]
[2. Kemampuan mengenali resep dan bumbu tingkat A (Memahami esensi rasa, takaran presisi, dan kombinasi bahan instan) — Harga: 1.000 Poin.]
Melihat deretan angka harga tersebut terpampang nyata di depan matanya, Bagas melongo lebar hingga rahangnya hampir jatuh mencium lantai dapur.
"Sialan! 500 poin ditambah lagi 1.000 poin?! Totalnya jadi 1.500 poin bulat?!" teriak Bagas histeris di dalam batinnya, merasa darahnya tersotot naik hingga ke ubun-ubun. "Ini mah bukan sekadar belanja, tapi perampokan secara terang-terangan di siang bolong! Daisy benar-benar rentenir kejam berkedok sistem kecerdasan buatan! Poin hasil jerih payahku bertaruh nyawa memasak buat 250 prajurit tadi siang langsung dikuras habis dalam sekejap mata!"
Bagas meratapi saldo poinnya yang baru saja terkumpul banyak namun harus lenyap seketika, namun ia juga sadar betul bahwa dirinya tidak memiliki pilihan lain demi menyelamatkan nyawa dan kelangsungan karier barunya yang baru seumur jagung. Jika ia pelit mengeluarkan poin sekarang, kariernya di dapur pasti akan tamat hari ini juga sebelum sempat berkembang.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa ikhlas yang setengah-setengah dan terpaksa, Bagas akhirnya mengonfirmasi pembelian paket lengkap tersebut di dalam kepalanya.
"Hhh... Baiklah, baiklah! Ambil saja poin sialan itu semuanya! Aku beli kedua kemampuan itu sekarang juga Daisy!" keluh Bagas pasrah dalam hati sambil menahan tangis darah.
[Konfirmasi pembelian diterima dengan sukses!] balas sistem cepat yang bernada riang gembira tanpa rasa bersalah. [Baik, kemampuan baru berhasil dideteksi dan di-upgrade secara instan ke dalam memori otak Tuan Rumah: Kemampuan memasak tingkat B (termasuk teknik penggunaan pisau profesional) dan Kemampuan mengenali resep tingkat A!]
[Selamat atas kemampuan baru yang sudah ter-upgrade sempurna! Senang bisa berbisnis dengan Anda, Tuan Rumah yang sangat dermawan dan budiman~]
Mendengar nada teks sistem yang terdengar begitu puas dan seolah sedang menertawakan penderitaan dompet poinnya, Bagas hanya bisa tertawa miris seorang diri di tempatnya berdiri.
Sialan, aku benar-benar diperas habis-habisan tanpa ampun. batin Bagas sambil menggelengkan kepala pelan menatap pisau daging yang kini terasa jauh lebih ringan dan bersahabat di genggamannya. Tapi anehnya... setelah poin-poinku terkuras nyaris ludes, aku malah tidak bisa merasa marah sama sekali. Yah, setidaknya sekarang aku punya skill master chef sejati di tangan.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘