NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mama Mima

Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.

Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.

Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baikan.

Sarah sengaja lembur hingga larut malam. Jam analog di meja kerjanya sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua-puluh. Selama Demian pergi dinas ke luar kota, dia memang sengaja untuk menghabiskan malam-malamnya di kantor karena toh akan kesepian jika kembali ke apartemen lebih awal. Lebih baik menghabiskan waktu untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaannya yang tak kunjung selesai.

Setelah dia mematikan PC-nya, dia masih merenung sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya lelah, perih karena kelamaan menatap layar komputer. Dilepasnya kaca mata anti radiasinya dan diletakkan di atas meja.

"Aku kangen, Demian... " entah sudah berapa kali hatinya menjerit menyerukan kerinduannya pada suaminya. Tadinya dia mengira foto-fotonya dan Grasian yang mendadak ramai beredar di website kantor akan memancing Demian untuk keluar dari mode senyapnya. Tapi nihil. Mungkin pria itu memang belum melihatnya, atau sudah melihatnya namun tetap tidak perduli.

Sarah mengucek kedua bola matanya pelan. Mencoba menyingkirkan air-air yang mulai berkeluaran. Tapi gagal. Tetesannya tetap meluncur ke pipi chubby gadis itu.

"Sialan... " dia memaki dirinya sendiri. Dia pun cepat-cepat mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya.

"Aku yang melarangnya mencintaiku, tapi aku yang tersiksa seperti ini. Wake up, Sarah! Jangan sentimental begini. Ini bukan dirimu yang sesungguhnya!" dia mencoba menyemangati dirinya seraya memandang wajah kusutnya di cermin kecil yang dia pegang.

Berhubung sudah larut, Sarah pun memutuskan untuk pulang saja. Dia juga merasa iba pada dua penjaga yang sudah terkantuk-kantuk di depan ruangannya. Dia pun membereskan semua barang-barangnya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan ketika intercom-nya tiba-tiba berbunyi.

Titttt... tittt...

Sarah terkejut setengah ******. Itu intercom khusus dari ruangan Demian. Kenapa bisa berbunyi????

"Sar? Ke ruanganku sekarang."

Sarah tiba-tiba terjatuh di lantai. Kakinya mendadak lemas, gemetar, ketakutan. Suara siapa itu?? Bagaimana bisa mirip sekali dengan suara Demian?? Lagian... tadi sore kan Office Boy sudah mengunci ruangan itu?

"Sar! Ke sini!"

Kali ini mata Sarah membulat. Suara itu membentaknya. Sarah semakin menggigil ketakutan. Kakinya memaku dirinya di lantai hingga tidak bisa bergerak.

Selang berapa saat mesin itu berhenti berbunyi. Kini berganti, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan kali ini Sarah sudah tidak tahu lagi bagaimana kondisi jantungnya. Demian???????

"Kena__. Kau? Kenapa duduk di lantai???" Demian masih membentaknya dengan nada marah kecil. Pria itu berjalan ke arahnya, bermaksud ingin membantunya berdiri.

"Ka... kau... benaran Demian?" Sarah malah mencoba menjauhkan dirinya. Demiannya masih dinas di Padang. Lantas ini Demian yang mana?

"Kau pikir aku hantu, hm?" Sarah mengerjap saat keningnya disentil oleh pria itu dan rasanya sakit sekali. Itu artinya pria yang ada di hadapannya sekarang itu benar-benar seorang manusia.

"K... kok bisa ada di sini? Bu... bukannya baru pulang besok?" tanyanya masih sedikit terbata.

"Menurutmu kenapa?" Demian yang sudah berjongkok dengan satu lutut di depan Sarah malah melempar pertanyaan itu kembali. Membuat Sarah kebingungan. Gadis itu menggeleng pelan-pelan.

"Aku nggak bisa fokus. Foto-fotomu dengan si brengsek itu mengganggu pikiranku."

Sarah terdiam. Hatinya mendadak seperti dihujani rintik salju yang menyejukkan. Demian memikirkannya? Sampai pulang lebih awal seperti ini?

"Maaf. Aku nggak tau kalau ada yang fotoin," Sarah menundukkan kepalanya. Ketakutannya karena mengira ada kejadian mistis di ruangannya sudah hilang, digantikan ketakutan kalau-kalau Demian akan memarahinya.

Demian tidak berbicara lagi. Dia memandangi Sarah yang tertuduk di hadapannya. Hatinya semakin kacau balau karena tidak kuasa menahan kerinduannya terhadap gadis itu. Bisakah dia meminta dispensasi kepada Sarah agar mengizinkan cinta tumbuh di antara mereka? Sungguh Demian tersiksa dengan semua sikap dingin yang harus dibuatnya hanya untuk memastikan Sarah nyaman berada di sampingnya.

"Sar... " panggilnya sambil tetap memandangi gadis itu.

Sarah mengangkat wajahnya pelan. Sedikit terkejut mendapati wajah lesu Demian dan mata yang memerah.

"Aku nggak kuat kayak gini."

Mata Sarah yang sayu itu pun perlahan-lahan menunjukkan kilatan kristal bening. Hidungnya memerah dan bibirnya mengerucut. Sepertinya emosi yang sudah ditahannya selama dua minggu ini membuatnya lebih cepat sensitif.

"Kau akan meninggalkanku?" tanyanya seraya air mata lolos dari sudut dalam matanya.

Demian mengerjap tidak percaya. Bagian mana dari kalimatnya yang membuat Sarah berpikir demikian??

"Bodoh! Apa aku terlihat ingin meninggalkanmu disaat aku bela-belain mencari penerbangan kilat ke Jakarta hanya untuk menemuimu?"

Sarah mulai terlihat menahan sesenggukan. Mulai tidak sanggup mencerna arti kalimat Demian barusan. Artinya pria itu sengaja pulang cepat hanya untuk bertemu dengannya, begitu?

"Terus... nggak kuat kenapa?"

"Alasannya sama dengan alasanmu menangis sekarang ini."

"Memangnya kau tau kenapa aku menangis?"

"Kau merindukanku."

Sarah ingin tertawa mendengar jawaban Demian. Pria itu terlalu percaya diri namun sialnya dia benar. Bagaimana dia bisa menebaknya? Apa di keningnya ada tulisan 'merindukan Demian'?

"Jadi kau juga ke sini karena merindukanku?" air mata Sarah menetes lagi. Namun kali ini karena dadanya bergemuruh bahagia.

Demian mengangguk pelan, "sangat, Sarah. Aku kehilangan kita selama dua minggu ini," Demian mendekat dan menyentuh pipi Sarah yang basah dengan tangan kanannya.

"Kau yang menjauhi aku... " Sarah dengan sekuat tenaga menatap bola mata Demian yang sangat dia rindukan.

"Kau yang minta, Sarah... "

"Aku nggak minta kita saling menjauh..."

"Dengan melarangku mencintaimu bukankah secara tidak langsung kau menyuruhku demikian? Karena kalau kita selalu dekat, menempel satu sama lain, aku tidak akan bisa mengabulkan permintaan konyolmu itu."

Sarah bergeming. Matanya tidak terlepas dari bola mata indah milik Demian yang juga sedang menatapnya dengan intens sekarang. Mereka seperti sedang menyampaikan kerinduan lewat adu pandang yang hanya berjarak tiga puluh centi itu.

"Kau maunya gimana sekarang?" tanyanya akhirnya dengan suara sengaunya.

Demian semakin mendekat. Tubuh dan wajahnya mengikis jarak antara mereka berdua.

"Let me love you, Sarah. Terserah kau akan mencintaiku atau tidak. Aku hanya ingin bebas menuangkan semua cinta yang kupunya kepadamu. Karena bagiku, kau adalah satu-satunya, wanita yang berhak atas cinta, perhatian, kasih sayang dan tanggung jawabku. Cuma kau, Sarah. Karena kau istriku sekarang."

Bulu kuduk Sarah merinding kala Demian berkata-kata tepat di depan wajahnya. Hembusan napasnya membuat wajah gadis itu menghangat dan juga bersemu merah. Kata-kata yang barusan didengarnya pun ibarat lagu cinta yang sudah berhasil menembus benteng pertahanan hatinya yang ia jaga selama ini. Demian... mengapa pria itu begitu manis?

"Sebelum aku menjawab, bisakah aku mendapat nafkah ciumanku yang sudah kau potong selama dua minggu ini?"

Demian yang tadinya sedang dalam mode serius, tiba-tiba berdecak kecil. Perempuan itu memang gila. Untuk hal seperti itu pun dia sangat perhitungan. Apa katanya? Nafkah ciuman? Demian baru tahu ada istilah yang seperti itu.

Namun pria itu tetap mengabulkan permintaan istrinya. Dia pun menangkup kedua pipi chubby gadis itu. Membawanya semakin mendekat hingga hidung mereka menempel satu sama lain.

"I miss you badly, Istriku sayang... " bisik Demian pelan. Membuat Sarah refleks memajukan tubuhnya dan menempel sempurna sambil memeluk pria itu.

"I miss you too, Suamiku..."

Saat kedua bibir itu saling menempel satu sama lain, hembusan napas berupa geraman puas terdengar terlontar begitu saja dari keduanya. Seakan merasakan kelegaan yang begitu besar karena akhirnya ciuman panas mereka akan tiba sebentar lagi. Kedua tangan mereka saling memeluk, saling mengurung satu sama lain.

Demian me*umat bibir Sarah dengan rakus. Dia membalas dendam untuk dua minggu yang cukup menyiksa karena dia harus menahan diri atas semua sentuhan yang bisa membangkitakan gairahnya. Sarah pun sepertinya sangat merindukan ciuman mereka. Terlihat jelas perempuan itu begitu menikmati setiap gerakan Demian sambil menutup kedua matanya. Perempuan itu malah menawarkan lidahnya untuk diikutsertakan dalam 'perang mulut' mereka sekarang

Demian tidak kuasa menahan dirinya lagi. Telalu sederhana jika membaiknya hubungan mereka hanya dirayakan dengan ciuman. Dia pun melepaskan dirinya dengan tiba-tiba.

"Ke ruanganku, Sayang. Aku mau buka baju. Gerah."

"Ke... kenapa nggak pulang ke apartemen aja sekalian?"

"Kalau ke apartemen kau juga harus buka baju," tantang Demian.

"My pleasure, Sayang... " Sarah bergegas mengambil tasnya, "by the way, kau sudah tahu tamu bulananku sudah selesai?" dan menarik dasi Demian agar cepat-cepat keluar dari ruangannya.

"Arghhhhh kapan? Kenapa baru kau beritahu sekarang????"

"Hahahaa, lihatlah ekspresi wajahmu itu. Rasanya aku ingin membenturkan kepalamu ke tembok biar lupa ingatan saja sekalian."

"Kejam sekali kau! Awas ya, kau tidak akan tidur malam ini," ancam Demian sambil mengepit Sarah di bawah ketiaknya sambil menekan tombol lift.

Bagaimana bisa tidur kalau malam ini akan menjadi malam pertama untuk mereka berdua?

*****

1
Khairul Azam
klo gak suka sama dalam kenapa jg mau dicium munafik ini si sarah,
Khairul Azam
bego aja ini si sarah, udah disligkuhin jg, cinta tp jgn buta
Khairul Azam
bego aja itu si sarah
Sunny Kwok
Luar biasa
vit
😍😍😍
vit
Terima kasih kk author atas cerita kerennya... 😘😘
vit
Terima kasih kk author... 😘😘
vit
Sama2 egois, terutama cowoknya 😒
Nami chan
semangat
my_
ceritanya ringan, seru... suka bacanya..
Anies
aaaah... end beneran ini? berasa belum rela cerita mereka udahan.. aku sampe marathon seharian loh baca ini...
Anies
ngeGemesin banget sih mereka...
Anies
hai salam kenal kak author.. aku pembaca kak Oot di aplikasi sebelah cerita Dom-Cha dan Edrik-Zura.. aku panasaran sama cerita Mama Ember jadi kepoin kesini tapi katanya harus baca cerita Ini dulu jadi akhirnya baca Cerita Damian-Sarah dulu deh.. dan ternyata Ceritanya menarik dan aku suka..
Mom's Al Habsyi
seru bgt cerita ny
Ibu Aline
bagusss
Nurwana
astaga Demian... kau org yg punya hati tdk si....???? gampang sekali Thu bibir bicara ttng sifat kekanak-kanakan.... hello... disini Thu kamu mempermainkan dua hati.....tau tdk kamu itw laki laki yg egois.
kok bisa ya si sarah nih temenan dgn pelakor / wanita jalang kyk desty yg jelas2 ngerebut pacar si sarah yg dulu dan main belakang dan kepergok pula?? ckckck gak masuk akal sih. luar biasa klo ada wanita kyk si sarah. sangat langka
knp ya sarah bisa segoblok itu ?
R_3DHE 💪('ω'💪)
🤣🤣🤣🤣🤣
Retno Pujowatie
bagus....suka ama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!