"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Dua hari kemudian, suasana di gang rumah Lavanya mendadak riuh. Belum pernah dalam sejarah kompleks perumahan itu, deretan mobil mewah hitam mengkilap berparade masuk.
Warga mengintip dari balik jendela saat tiga buah Rolls-Royce dan dua SUV pengawal berhenti tepat di depan rumah minimalis bertingkat dua berpagar putih milik keluarga Lavanya.
Di dalam rumah, aroma rendang dan pangek masik menyeruak. Ibu Lavanya tampak gelisah, merapikan taplak meja untuk kesepuluh kalinya. Vano, abang Lavanya, yang datang bersama istrinya, mencoba menenangkan sang Ibu.
Tenang, Bu. Keluarga Leo orang baik-baik meskipun mereka... yah, levelnya beda jauh dengan kita," bisik Vano sambil membenarkan letak peci hitamnya.
Sejak mendengar kabar gembira dari sang Ibu bahwa seorang Leo Arraya Lee akan meminang adik kesayangannya, Vano tidak tinggal diam. Dengan cepat ia telusuri seluk beluk keluarga konglomerat itu melalui berbagai relasi dan artikel ekonomi internasional. Namun, semakin dalam ia mencari, semakin luntur rasa intimidasinya.
"Ibu tahu tidak? Ternyata mereka itu keluarga yang sangat dermawan," lanjut Vano dengan nada kagum yang tertahan. "Yayasan mereka tersebar di mana-mana, tapi mereka tidak pernah pamer di media sosial. Orang-orang bilang, Heinrich dan Sheikha Amira itu sangat ramah. Mereka tidak pernah melihat orang dari kasta atau isi dompetnya. Bagi mereka, karakter dan integritas adalah segalanya. Pantas saja Leo begitu gigih mengejar Vanya, karena keluarga mereka memang dididik untuk menghargai kualitas manusia di atas segalanya."
Mendengar itu, Ibu Lavanya mengembuskan napas lega. Beban yang menghimpit dadanya sejak pagi tadi seolah menguap, berganti dengan rasa syukur yang mendalam.
Pintu diketuk. Saat dibuka, Vano dan Ibunya seolah terhisap dalam sebuah pemandangan yang megah namun hangat.
Leo melangkah masuk terlebih dahulu, namun ia tidak langsung duduk. Ia berdiri di sisi pintu, memberi jalan kepada seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah Eropa yang tegas—Ayah Leo, Heinrich von Lee, seorang konglomerat otomotif dari Jerman.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah wanita di sampingnya. Sheikha Amira, Ibu Leo, tampil begitu anggun dalam balutan abaya sutra berwarna emerald dengan aksen emas yang halus. Wajahnya yang merupakan perpaduan Arab klasik memancarkan aura bangsawan, namun senyumnya sangat teduh.
"Assalamualaikum," suara Sheikha Amira terdengar lembut, mengalun seperti melodi.
Ibu Lavanya hampir gemetar saat menjawab salam tersebut.
"Wa... waalaikumsalam. Mari, silakan masuk. Mohon maaf rumah kami sempit."
Heinrich, sang raja bisnis Jerman, justru tersenyum lebar dan menjabat tangan Vano dengan erat. "Rumah yang hangat. Saya suka bau masakannya, mengingatkan saya pada masakan ibu mertua saya dulu," ucapnya dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih, seketika mencairkan ketegangan.
Keluarga besar itu duduk di ruang tamu yang sudah disulap sedemikian rupa. Di meja, tidak ada makanan hotel berbintang. Ibu Lavanya tetap menyajikan camilan pasar dan teh melati hangat.
Asisten Leo mulai masuk membawa hantaran yang membuat mata istri Vano membelalak. Bukan sekadar barang mewah, tapi hantaran itu dikemas dengan sangat menghargai budaya. Ada satu kotak khusus berisi set perhiasan berlian yang konon merupakan warisan turun-temurun keluarga Arraya Lee, diletakkan di samping hantaran berisi kain songket kualitas terbaik dan seperangkat alat sholat.
"Ibu," Heinrich membuka pembicaraan dengan nada formal namun rendah hati. "Putra kami, Leo, bercerita banyak tentang putri Anda. Selama ini, dia adalah pria yang hanya peduli pada angka dan kekuasaan. Tapi sejak mengenal Lavanya, kami melihat sosok pria yang memiliki hati dan tujuan hidup yang benar."
Sheikha Amira menggeser duduknya, meraih tangan Ibu Lavanya, dan menggenggamnya erat. "Sebagai seorang ibu, saya berterima kasih kepada Anda. Anda telah membesarkan seorang putri yang luar biasa hebat. Lavanya adalah alasan putra saya kembali memeluk agama leluhur saya dengan penuh keyakinan. Saya datang ke sini bukan sebagai orang asing, tapi sebagai seorang Ibu yang ingin memohon izin agar Lavanya bersedia membimbing putra saya dalam membangun keluarga yang sakinah."
Mendengar kata-kata tulus yang begitu tawadhu dari seorang perempuan berdarah biru, pertahanan Ibu Lavanya runtuh. Air mata haru membasahi pipinya.
"Saya... saya hanya orang biasa, nyonya," isak Ibu Lavanya. "Saya hanya ingin Vanya bahagia dan dijaga oleh pria yang menghormati Tuhannya."
"Panggil saya Amira, Bu," potong Ibu Leo lembut. "Di hadapan Allah, kita semua sama. Dan hari ini, saya melihat kekayaan yang lebih besar di rumah ini daripada di istana manapun—yaitu cinta dan ketulusan."
Vano, sebagai wali pengganti ayah mereka, berdehem mencoba menahan haru.
"Leo, kamu dengar sendiri bagaimana Ibu dan keluargamu memberikan restu. Saya sebagai abangnya, menyerahkan tanggung jawab ini kepadamu. Jaga adik saya, karena dia adalah permata di rumah ini."
Leo mengangguk dengan wajah sangat serius, matanya berkilat penuh tekad. "Saya bersumpah di depan Ibu, Bang Vano, dan kedua orang tua saya. Nyawa saya adalah jaminan untuk kebahagiaan Lavanya."
Suasana di ruang tamu yang hangat itu mendadak hening sejenak saat Lavanya melangkah keluar dari balik tirai kamar, didampingi oleh kakak iparnya. Sore itu, Lavanya menjelma menjadi sosok yang mampu membuat napas siapa pun tertahan.
Ia mengenakan kebaya lamaran modern berwarna dusty rose dengan potongan kerah sabrina yang memperlihatkan leher jenjangnya secara elegan namun tetap santun. Kain brokatnya dipenuhi payet-payet kristal yang berkilau lembut setiap kali ia bergerak, memantulkan cahaya lampu temaram di ruangan itu. Kebaya itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, diakhiri dengan bawahan kain songket sutra berwarna senada yang ditenun halus dengan benang emas.
Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah ovalnya. Riasan wajahnya sangat natural flawless—dengan sentuhan lipstik berwarna nude yang membuat bibirnya tampak segar. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya sepasang anting mutiara yang menjadi pemanis.
Leo berdiri secara spontan, matanya tidak berkedip menatap calon istrinya. Jika sebelumnya ia menyukai Lavanya karena ketegasan dan kecerdasannya, sore ini ia benar-benar terpaku oleh kecantikan fisik yang tampak begitu indah.
"Masya Allah..." gumam Sheikha Amira spontan, matanya berbinar melihat calon menantunya. "Leo, kamu benar-benar pintar mencari calon istri"
🦁🦁🦁
Setelah prosesi lamaran usai, keluarga besar itu menikmati makan malam bersama. Heinrich terlihat sangat menikmati rendang buatan Ibu Vanya, bahkan meminta tambah, sementara Sheikha Amira asyik berdiskusi dengan Ibu Vanya tentang resep masakan rempah.
Ibu Lavanya merasa dadanya sesak oleh rasa bangga yang luar biasa. Ia teringat bagaimana dulu kerabat-kerabat mereka sering meremehkan Lavanya karena belum menikah dan hanya sibuk bekerja. Ia teringat bagaimana Vani selalu menyombongkan Farel.
Kini, di depannya, seorang konglomerat dunia dan bangsawan Timur Tengah duduk bersimpuh di lantai rumahnya yang sederhana untuk meminang anaknya. Lavanya tidak hanya mendapatkan cinta, tapi ia mendapatkan penghormatan.
Di sudut ruangan, Leo berhasil mencuri waktu sejenak untuk mendekati Lavanya.
"Puas?" bisik Leo, matanya menatap Vanya dengan pendar kemenangan yang lembut.
"Puas tentang apa?" tanya Vanya.
"Melihat singa yang biasanya mencabik lawan, sekarang justru menyerahkan lehernya untuk kamu ikat" jawab Leo seraya menyelipkan sebuah cincin tunangan yang lebih besar dan berkilau di jari manis Vanya.
"Cincin ini bukan sekadar pengikat, tapi tanda bahwa mulai detik ini, kamu adalah pemilik mutlak atas seluruh duniaku"
Vanya tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Leo, menyadari bahwa badai telah berlalu, dan pelangi yang muncul jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan.
Lalu Ia sedikit berjinjit untuk merapatkan bibirnya ke telinga Leo. Hembusan napasnya yang hangat membuat Leo seketika mematung.
"Selamat datang di duniaku, Singa-ku. Terima kasih sudah menyerah hanya untukku"
🦁🦁🦁
Tolong vote dan komennya juseyo. Biar author semangat update. Gomawoyoo 💋
Bonus buat readersku tercintahhh
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....