NovelToon NovelToon
Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Selingkuh / Dokter Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:409.8k
Nilai: 5
Nama Author: iska w

Memang sakit rasanya, saat dulu kita sedekat Nadi, namun kini akhirnya harus sejauh Matahari, bahkan Matahari yang sudah tenggelam tergantikan dengan terangnya sinar Rembulan malam.

Sebagian orang bilang, sangat menyakitkan ketika menunggu seseorang, namun sebagian lagi bilang, menyakitkan itu ketika kita harus melupakan, tapi yang paling sakit sebenarnya adalah ketika kau tidak tahu, apakah harus menunggu atau melupakan.

"Niar... kamu tahu kan kalau seorang dokter itu paling ahli masalah suntik menyuntik, jika biasanya suntikan itu menyembuhkan penyakit pasien, tapi suntikan dariku, pasti akan menorehkan luka dalam hubungan kalian, cukup sekian dan terima kasih sudah menjadikan aku sang mantan, walau tidak kamu akui."

Walau pedih namun dokter Marvin harus bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak menjadi pilihan dari seorang Niar, dia tetap saja menerima lamaran dari Dito kekasih hatinya yang memang sudah berhubungan bertahun-tah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30.Pelit!

...Happy Reading...

Walau dengan wajah tanpa senyuman, akhirnya mereka berdua keluar dari hotel itu untuk mencari keberadaan Dito.

Samuel sengaja menyewa mobil disana dan hanya mengandalkan GPS saja, karena tidak mungkin mereka naik kendaraan umum, pasti akan sulit nantinya.

"Senyum sedikit kenapa Niar, cemberut aja dari tadi, sudah kayak buntut ayam deh, ini kan kita sedang dalam perjalanan!" Marvin pasti terus saja menggoda Niar sepanjang jalan namun tidak ada satupun yang mempan.

"Malas!" Niar tidak ingin memandang wajah pria disampingnya, dia begitu kesal, kalau saja Rinjani tidak menelponnya tadi, sudah pasti Marvin tetap akan merahasiakannya bahkan entah sampai kapan.

"Maaf, bukannya aku ingin berbohong, tapi masak tengah malam kita mau jelajah tanpa persiapan di kota orang, emang ada kendaraan umum yang lewat tengah malam? pikirkan juga keselamatan kita Niar, jangan main-main di kota orang." Padahal memang itu salah satu modusnya juga, sayang sekali harus ketahuan.

"Fuuh... ya sudahlah, percepat lagi jalannya, kita bukan lagi sedang kencan, jadi ngapain laju mobilnya dipelanin?" Niar bahkan sengaja duduk menepi kepintu mobil, agar tidak ditoel-toel Marvin yang berubah menjadi gatal setelah malam pertamanya.

"Siap Tuan Putri, sekarang aja minta cepet-cepet, kalau tadi malam aja, ngocehnya pelan-pelan dokter ah ih uh eh oh!" Ledek Marvin yang kembali membuat mata Niar melotot kearahnya.

"Bisa diem nggak dokter? berisik aja dari tadi, panas ini telingaku!" Padahal sebenarnya Niar hanya malu saja, dia pun tidak menyangka pertempuran dadakan itu akan terasa memanas bahkan terngiang-ngiang di Mindanya bahkan sampai saat ini.

Setelah melalui jalan terjal dan melewati beberapa hutan akhirnya Marvin dan Niar sampai di sebuah kontrakan yang terlihat biasa saja, bahkan terkesan sangat sederhana.

"Suamimu itu kerja apaan?" Marvin seolah ragu saat melihat keadaan rumah kontrakan disebrang jalan sana.

"Disebuah perusahaan tambang." Jawab Niar yang seolah masih terbengong, dia pun tidak menyangka jika seperti ini keadaan kontrakan suaminya itu, padahal gajinya cukup besar sebagai pekerja tambang di Kalimantan.

"Apa kita salah lokasi ya? tapi petunjuk dari goggle Maps beneran disini kok." Marvin kembali memastikan maps di ponselnya.

"Berarti mungkin memang disini." Ucap Niar walau masih ragu.

"Cih... masak kerja di perusahaan tambang hanya mampu sewa kontrakan model beginian?" Ledek Marvin yang langsung tersenyum kecut.

"Mungkin memang hanya tinggal tempat ini yang tersisa." Niar masih mencoba berpikir positif dan berhemat, orang baju pengantin mereka aja dia maunya sewa doang pikirnya.

"Memang suamimu sudah kerja berapa lama disini?" Sebenarnya Marvin ingin tertawa melihatnya, tapi dia masih takut karma.

"Puluhan tahun, bahkan sejak dia lulus sekolah ikut tes, langsung diterima kerja disini." Seperti itulah cerita Dito dulu dengannya.

"Jadi apa mungkin, dia bekerja di pertambangan puluhan tahun tapi masih bertahan ditempat ini, hei sayang... didepan sono tadi ada banyak perumahan bagus, atau kontrakan yang lebih keren daripada ini, dia kerja apa dikerjain sih sebenarnya?" Walaupun maaih banyak perhutanan disana, tapi ada daerah perkotaan juga disana, dan rumahnya pun bagus-bagus, tidak kalah dengan pusat ibu kota sana.

"Entahlah, kalau begitu kita coba tanya-tanya dulu aja ke warga sekitar gimana?" Namun siang itu terlihat sepi, mungkin karena cuaca diluar sangat panas, sehingga mereka enggan keluar dan memilih tinggal didalam rumah.

"Tunggu, atau mungkin kamu juga ditipu tentang pekerjaannya, bisa jadi dia hanya tukang sapu saja kan?" Namanya juga rival terberat, sudah pasti Marvin sengaja mencari titik kelemahannya.

"Ya enggaklah, aku dulu sering dikirimin foto dia pakai baju seragam dengan mobil-mobil yang gede itu kok, bahkan katanya dia sudah bukan lagi operator, udah naik jadi pengawas gitu." Dulu waktu hubungan mereka masih anget-angetnya, setiap hari selalu disemoatkan untuk berkabar, jika Dito shift siang, dia bahkan sering mengirimkan foto atau bahasa gaulnya PAP, atau post a picture.

"Bahaha... setahuku, jadi operator tambang aja bayarnya udah gede, apalagi jadi pengawas? masak iya tinggal di kontrakan kecil begini, aku rasa suamimu itu Pelit orangnya, dan asal kamu tahu kalau orang Pelit itu nanti kuburannya sempit, aish... sudah bagus kamu pisah aja dengan dia secepatnya!" Marvin kembali menjadi tukang pelopor kebencian paling handal saat itu juga.

"Ya udah sih, itu pilihan dia, jangan menghujat orang bisa nggak?"

"Dia suamimu Niar, apa kamu lupa? terus saja kamu mau dibodoh-bodohin sama orang kayak dia, lemah kamu ini." Marvin gemas sekali melihat wanita harapannya yang selalu baik bahkan dengan orang yang sudah menipunya sekalipun.

"Berisik, ayo kita turun!"

Akhirnya walau harus berjalan agak jauh Niar dan Marvin mendapatkan info bahwa memang benar disana ada pemuda yang menempati rumah itu, tapi namanya bukan Dito katanya, tapi Mahesa.

"Apa info dari anak buah Samuel salah ya? tapi mereka orang terpercaya, tidak mungkin memberikan alamat jelas tanpa bukti." Ucap Marvin sambil membuka dua kancing kemejanya setelah mereka kembali masuk kedalam mobil.

"Dokter, ngapain buka baju disini, jangan coba berani macam-macam ya?" Niar langsung menyilangkan kedua tangannya didepan dadaa.

"Heh, kenapa rupanya, kamu takut?" Guratan senyum licik Marvin langsung muncul disana.

"Dokter, mundurkan tubuhmu itu!" Niar langsung kembali beringsut mundur.

"Hei sayang... kata orang, kalau main di mobil itu seru sensasinya, gimana kalau sembari nunggu info, kita asyik-asyikan disini dulu, yuk ahh?" Marvin sengaja mengungkung Niar dengan satu tangan kokohnya.

"Apa kamu sudah gila dokter, ini ditempat umum, mau apa dikeroyok masa!" Niar langsung kelimpungan sendiri, sebenarnya dia sudah tergoda saat melihat dadaa bidang Marvin yang kekar dan sedikit berbulu itu, apalagi dengan wangi parfumnya yang membuat dia termehek-mehek karenanya.

"Mau, biar cepat dinikahin sama kamu!" Jawab Marvin dengan entengnya.

"Mundur nggak! kalau dokter masih nekad, aku turun nih, dan nggak bakalan lagi mau ketemu sama Dokter lagi, mau!" Ancam Niar yang sudah ngos-ngosan karena menahan detak jantungnya yang kembali memacu, dia kembali mengingat aksi panas mereka yang sangat indah tadi malam.

Ceklik!

"Aku cuma mau masangin seat bealt kamu aja Niar, kamu ini pede banget, kamu pikir aku sudah tidak waras apa?" Akhinya tangan Marvin tadi meraih seat bealt dan memasangkannya.

"Eherm.. lalu kenapa pake buka kancing segala!" Umpat Niar yang langsung menundukkan pandangannya karena menahan malu.

"Panas sayang, kamu nggak lihat matahari ada diatas kepala kita tadi, mana kita sempat jalan sampai jauh kedepan sana lagi, dan kita baru masuk mobil, AC mobil nya bahkan belum dingin." Marvin ingin sekali bersorak menertawakan Niar, namun dia tidak tega melihatnya.

"Owh... kirain mau nekad tadi." Niar pura-pira kembali membenahi posisi tubuhnya dengan canggung.

"Ahaha... sebenarnya bukan aku yang otak mesvm, tapi kamu! atau mungkin sepertinya kamu sudah kecanduan dengan permainanku ya? sabar sayang... kita berjuang sama-sama setelah ini okey?" Akhirnya Marvin dapat bahan candaan hari ini.

"Apaan sih, nggak jelas banget!"

"Lihat itu, wajah kamu sudah memerah, kamu malu ya sayang? Ahaha.."

"Cepat jalan, berisik deh!"

Niar langsung melengos, dan memalingkan wajahnya, dan tentu saja merutuki pikiran gilanya, bisa-bisanya dia tadi berfikir seperti itu.

"Tolong.. Tolong!"

Saat mobil mereka ingin bergerak pergi dari sana, tiba-tiba ada seorang pria yang meminta tolong dari arah rumah kontrakan yang Marvin dan Niar tuju awalnya tadi.

"Dokter, ada yang minta tolong." Niar merasa kasian, karena disana suasana sepi.

"Kita turun sekarang!"

Marvin dan Niar langsung bergegas turun dan berlari kearah pria yang berteriak minta tolong tadi.

"Ada apa mas, apa yang terjadi?" Tanya Niar dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari.

"Temanku pingsan mbak, aku tadi mau ngajak dia makan bareng, tapi saat aku masuk ke rumahnya dia sudah pingsan dan tangannya terbalut perban, sepertinya ada luka dan banyak mengeluarkan darah." Ceria pria itu versi singkatnya.

"Kalau begitu biar saya periksa, kebetulan saya dokter." Ucap Marvin dengan sigap, walaupun dia spesialis jiwa tapi dia juga pernah jadi dokter umum jadi kalau hanya menangani pasien pingsan dan luka ringan saja dia bisa.

"Kalau begitu mari ikut saya dokter, kontrakannya ada disebelah saya." Pria itu menunjukkan jalan setapak menuju kontrakan itu.

"Apa tidak ada orang lain dirumah itu?" Tanya Niar kembali.

"Biasanya ada, tapi akhir-akhir ini dia sendirian terus."

Akhirnya pria itu menunjukkan dimana seorang pria tergeletak begitu saja diatas tikar didepan TV kecil disana.

"Ini dia dokter, saat aku datang kesini dia sudah tidak sadarkan diri, seperti ini." Sebagai teman dia taku jika nanti malah dicurigai.

"HAH... MAS DITO!"

Mata Niar langsung terbelalak kaget, saat melihat Dito tergeletak dengan kedua mata yang masih tertutup rapat, bahkan terlihat tidak ada pergerakan darinya.

To Be Continue...

1
Asngadah Baruharjo
luar biasa
Rustan Sarny Apul Sinaga
aku wong mbatak thor
masih anak aayam aja dah digoreng, sudah menetas dimasukkan kurungan, eh udah besar dipotong

jadi jgn terlalu ngeluh sama hidupmu
penderitaanmu gak ada apa²nya sana deritanya ayam
Rustan Sarny Apul Sinaga
nasib thor bukan nasip, cobaa buka kamus...he he he
As3
suka
Abimanyu Rara Mpuzz
seaat🤣🤣🤣
Abimanyu Rara Mpuzz
gak mau rugi🤣
Irni Yusnita
👍
Sugianto
selalu suka karyamu
pdm
a
pdm
aku suka karya thor. dan maaf di karya ini aku sengaja nunggu end dl baru baca, biar maraton bacanya dan ga bosan nunggu up nya lg
Noeyfen Chabhy
Alhamdulillah aku nunggu2 eh tau tau udah beres aja ni kisah Niar sama Marvin makasih Thor
Sugianto
karma terbalas dengan cara yg berbeda..suka kalimatnya
Rita Prastuti
👍👍..kasih jempol dua..
cerita Nya bagus thor
Juli_etz
aduh mommy...kok ya...gimana ya..

sdh mengiris kalbu rasane....
Diank
Otw meluncurrrt 👌
alexa
gassssasss
ria sufi
aduh blm baca udh ngeri2 sedap
jova jovi
gaskeuuun👍👍...paporiiittt pokoke
Anik Trisubekti
oteweh sat set langsung favorit😍
Yuen
Keluarga aneh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!