Zeta seorang wanita 25 tahun, anggota agen pembunuh bayaran. Suatu hari mendapat tugas dari kliennya untuk membunuh orang penting yang mempunyai pengaruh besar di dunia politik. Saat menjalankan tugasnya ia melakukan kesalahan. Dia tertembak dan akhirnya sekarat. Ketika ia bangun, ia menemukan bahwa dirinya telah bereinkarnasi sebagai Lumie, putri seorang duke dari keluarga Crylle yang ayahnya merupakan seorang Assassin yang bertugas membunuh orang-orang korup atau pengkhianat di kerajaan Arandelle. Meski ia sekarang menjadi gadis bangsawan yang cantik, ia tetap sama dan bertekad menjadi Assassin untuk melindungi negaranya di kehidupan yang sekarang. Namun, selain tidak bisa menggunakan Sihir ia juga sakit-sakitan dan rapuh, ia juga dihadapkan pada nasib buruk seorang wanita. Ia harus belajar sopan santun dari ibunya yang tegas, bertunangan dengan pria yang tidak ingin dinikahinya, dan masih banyak tantangan lain yang menghalanginya untuk menjadi seorang Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FeryZheferly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 29
Jalan-Jalan Ke Kota
Sekarang aku dan Pangeran akan segera berangkat ke Kota.
Pangeran memerintahkan Zen dan yang lainnya untuk mengatur segala sesuatunya agar kami tidak ketahuan ketika kami meninggalkan istana.
Namun pada saat itu tiba-tiba terdengar suara dari Yang Mulia Ratu, dia hendak melewati koridor ini.
"Bagaimana ini Lumie?" tanya AL panik.
Kalau terus begini kita akan ketahuan, tidak ada cara lain selain melompat dan kabur melalui jendela.
Aku segera membopong Pangeran dan melarikan diri, melompat melalui jendela dan bergerak melintasi atap rumah.
Zen dan yang lainnya melihatku melarikan diri, mereka langsung mengikuti kami melewati pintu depan.
AL terkejut ketika aku tiba-tiba membopongnya.
"L-Lumie, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku, ini memalukan lho! Kenapa kamu malah membopongku?"
"Jika kita tidak melakukan ini, kita akan ketahuan. Memang bisa kamu melompat seperti ini?" Aku bertanya.
"Itu? Itu tidak mungkin sih."
"Benarkan? Jadi tenang saja, AL."
Aku sengaja menggodanya.
"Jangan mengatakan sesuatu yang keren seperti itu, seharusnya aku yang mengatakan itu, kamu benar-benar tidak manis."
"Oh benarkah, apa aku terlihat keren? Jadi aku tidak manis ya?"
"Ya, itu? Kamu juga sangat manis kok!"
Mendengar perkataan AL aku menjadi sangat malu.
"Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu bodoh!"
"Eh kenapa? Bukankah kamu yang bertanya?"
"T-Tapi jangan menjawab jujur juga, dasar."
Kataku dengan nada lirih karena malu.
I-Imutnya, Lumie saat dia malu sungguh lucu. pikir AL.
"M-Maaf!"
Kami berdua terdiam dengan wajah memerah karena malu.
Setelah sampai di bawah aku menurunkan AL.
"Kita sudah sampai AL."
"...umm terima kasih Lumie."
Entah kenapa kami jadi canggung seperti ini.
Zen dan yang lainnya berhasil menyusul Pangeran dan Lumie, mereka mengawal dari jauh.
"Lumie. Zen dan yang lainnya pasti memperhatikan kita, jadi bisakah kita berpura-pura menjadi pasangan mesra hari ini, aku khawatir mereka akan curiga."
Apa yang dikatakan Pangeran ada benarnya juga.
"B-Baiklah AL."
"Kalau begitu kita harus berjalan bergandengan tangan, ayolah Lumie?"
Pangeran mengulurkan tangannya, aku pun segera meraih tangan Pangeran.
Kami berdua berjalan sambil membuang muka karena malu.
Zen yang melihat mereka dari jauh pun heran.
Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka masih pemalu? Dasar mereka itu. pikir Zen.
Aku bisa merasakan hangatnya tangan Pangeran, kenapa jantungku berdebar seperti ini?
Sesekali aku melihat wajah AL, dia keren banget? Sial, kenapa perasaan ini begitu menggangguku?
"Lumie, lihat itu?"
Tiba-tiba Pangeran menunjukkan sesuatu padaku.
"Crepes?"
"Apakah kamu ingat pertama kali kita datang ke sini, kamu menginginkan itu, kan?"
"Ah ya aku ingat."
"Mau memakannya lagi Lumie?"
"...umm, aku mau."
"Oke, ayo pergi ke sana."
Kami pergi membeli crepes.
"Ini Lumie untukmu."
"Terima kasih."
Saya memakannya.
"Umm...ini enak seperti biasanya."
"Ya, benar, ini enak." kata AL.
"Hei, apakah kamu membelinya juga?"
"Saat pertama kali mencicipi Crepe-mu, aku menjadi ketagihan dan suka memakannya." jelas AL.
"Ah, begitu."
Kami duduk di bangku kecil sambil memakan Cerepe.
Setelah kami selesai makan, kami melanjutkan berjalan. Saya melihat toko es krim di seberang jalan.
Eh? Apa itu Es Krim? Saya pikir tidak ada satu pun di dunia ini?
"AL, maukah kamu membeli itu?"
"Apa itu Lumie?"
"Itu es krim, apakah kamu belum pernah mencobanya?"
"Saya tidak pernah."
"Kalau begitu kamu harus mencobanya, ayo pergi ke sana."
Kataku sambil menarik tangan Pangeran menuju Toko Es Krim.
"Paman dua es krim, ya?"
"Selamat datang, baiklah apa rasa yang Anda inginkan, Nona?" tanya paman itu.
"AL, kamu ingin mencicipi rasa apa?"
"Umm...strawberi."
"Paman Strawberi satu, coklat itu satu!"
"Baik, tunggu sebentar, Nona."
Setelah menunggu, Paman memberinya es krimnya.
Kami juga makan es krim sambil berjalan.
Kelembutan dan kesejukan ini? Sudah lama sekali aku tidak merasakannya.
Pangeran Allan terus memandangi Lumie yang sedang menjilati es krim dengan wajah merah.
Begitukah caramu memakannya? pikir AL. ia pun memakan es krimnya.
Aku melihat AL begitu menikmati es krimnya.
Rasa strawberynya kelihatan enak, jadi pengen coba juga.
"AL, bolehkah aku mencicipi es krimmu?" Aku bertanya.
"Eh, apa kamu mau mencobanya Lumie? apa tidak apa-apa ini sudah aku makan lho." jawab AL sambil tersipu.
"Tidak apa-apa kok."
"Kalau begitu silakan."
Aku memegang tangan Pangeran yang sedang memegang es krim itu, dan langsung menjilat es krim milik AL.
"umm... rasa strawberrynya juga enak."
Kenapa Lumie tidak merasa ragu dan malu sedikitpun saat dia memakan es krimku? pikir AL.
"Apakah kamu ingin mencoba es krimku juga AL?"
Aku menawarkan AL untuk mencoba es krim miliku.
"B-Bolehkah?" tanya AL gugup.
"Ya, tentu!"
Kenapa dia jadi gugup begitu?
AL segera mencicipi es krim miliku.
Saat mencicipi es krim Lumie, aku bisa merasakan ciuman secara tidak langsung, ini manis sekali. AL berpikir dengan wajah merah.
"Bagaimana kabar AL?"
"umm...cokelat juga rasanya enak." jawab AL tersipu-sipu sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan seorang gadis.
"AL, apa kamu dengar?"
"Ya, aku mendengar seorang gadis berteriak."
"Kalau begitu coba kita lihat, arah suaranya dari sana."
Aku pun segera berlari mencari sumber suara tersebut.
"T-Tunggu Lumie!"
Dasar, dia selalu kabur begitu saja. AL berpikir sambil berlari mengejar Lumie.
Zen dan yang lainyapun ikut mengejar Lumie.
Aku melihat kerumunan orang disana, suasana terlihat sangat ramai.
Sesampainya di sana, ternyata ada seorang gadis yang sedang disandera perampok sambil menodongkan pisau.
"Kalian semua menyingkir dari sini atau gadis ini akan mati." ancam perampok itu.
Sial, beraninya dia menggunakan seorang gadis sebagai sandra, aku tidak akan membiarkannya.
Saya bergerak cepat ke belakang perampok itu tanpa ada yang menyadarinya. Aku segera meraih tangan perampok itu dan menjatuhkan pisaunya.
Setelah itu saya menghajar perampok tersebut dengan cara memukul dan menendangnya.
Perampok tidak sadarkan diri dan langsung ditangkap oleh Zen dan yang lainya.
Orang-orang terkejut dengan apa yang saya lakukan.
"Siapa gadis itu? Dia hebat sekali."
"Dia tidak hanya cantik, kemampuannya juga hebat."
Saya dapat mendengar orang-orang memuji saya, apakah saya berlebihan?
Setelah itu aku mengulurkan tanganku pada gadis itu.
"Nona, kamu baik-baik saja?" Aku bertanya.
"Terima kasih telah menyelamatkanku Nona, aku baik-baik saja!"
"Baguslah ehehe." aku tersenyum padanya.
Setelah itu saya langsung dikerumuni orang-orang, mereka semua memuji saya.
Sedangkan Pangeran Allan sepertinya baru saja tiba di lokasi.
Lumie berlari sangat cepat, dimana dia sekarang?
Pangeran berpikir sambil melihat sekeliling. Pangeran melihat ada orang yang berkumpul, ia segera menghampiri kerumunan itu dan melihat Lumie di dalamnya.
Pangeran segera meraih tangan Lumie.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" AL bertanya.
"Ah, maaf AL, tadi..."
Aku pun menceritakan semua kejadian ini kepada AL.
"Jadi begitu, lain kali jangan tinggalkan aku seperti itu lagi, aku khawatir kamu akan menghilang lagi seperti dulu."
"Maaf AL, aku tidak akan menghilang lagi kok."
Pangeran memegang tanganku.
"Tadi kamu memukulnya, apakah tanganmu sakit Lumie?"
"T-Tidak kok!"
Kenapa aku jadi berdebar seperti ini?
"Kalau begitu ayo lanjutkan, kali ini aku tidak akan melepaskan tanganmu." tegas AL sembari menggandeng tanganku.
"O-Oke."
Bersambung....