Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Letih
Leon mengepalkan tangan dan mendekati sepupunya itu, ia hendak melemparkan bogem mentah kepadanya tapi dia menahannya. Dia harus bisa mengendalikan emosinya yang sering berapi-api, jika tidak maka ia tidak akan bisa dekat dengan tiga bocah kembar itu.
"Kenapa berhenti? Pukul lah! Seperti kamu memukul Alya saat itu," ucap Agra.
"Dari mana kamu tahu tentang rumah tanggaku dulu padahal saat itu kamu ada di luar kota," tanya Leon heran.
"Tentu saja aku tahu, aku tahu semua hal tentang keluarga busuk mu, kalian benar-benar payah," jawab Agra sambil tersenyum kecil.
Pria itu lantas keluar dari sana meninggalkan Leon, Leon pun menghela nafas panjang dan melihat tes DNA tersebut, sepertinya Agra lebih tahu tentang keberadaan si kembar tiga dari pada dirinya. "Aku kurang cepat menyadari keberadaan kalian," gumam Leon.
Di sisi lain.
Di Fairy Care, anak-anak seusia 4-5 tahun sedang diajarkan bermain plastisin untuk membentuk beberapa imajinasi mereka. Anak-anak yang dititipkan di sana adalah anak yang orang tuanya bekerja sampai sore seperti Alya. Kegiatan di sana juga sangat seru, belajar menghitung dan menulis, bermain berkelompok, serta ada tidur siang selama 2 jam.
Farad, Fared, Farid, mereka membentuk plastisin tersebut sesuai imajinasi mereka masing-masing. Sesekali merasa bosan karena bagi mereka tidak ada seru-serunya, mereka hanya ingin bersama sang mama walau sekarang sudah sulit sekali.
Leon datang lagi membawakan banyak mainan untuk mereka, kali ini Bu Yanti memperbolehkan masuk karena tentu saja sudah mendapat uang sogokan dari Leon. Terlepas masalah Leon dan Alya, beliau tidak peduli karena beliau tahu jika 3 kembar itu adalah anak dari Leon. "Silahkan masuk, Pak!" ucap Bu Yanti.
"Terima kasih, Bu Yanti. Aku juga membawakan semua makanan untuk semua guru di sini," jawab Leon.
"Terima kasih, Pak Leon. Kamu baik sekali, entah kenapa Bu Alya enggan anak-anaknya bermain denganmu."
Leon tersenyum. "Dia juga tidak salah, karena sejak awal aku yang bersalah."
Selepas itu Leon membagikan semua mainan kepada anak-anak itu termasuk 3 kembar, sesekali juga ia mengusap kepala mereka dengan lembut karena saking gemasnya.
Farad, Fared, Farid mendapatkan mainan robot baru, wajah mereka senang karena robot itu sangat keren dan terlihat mainan mahal.
"Kalian suka?" tanya Leon.
"Iya, makasih, Om Leon," jawab mereka bersama-sama.
Leon duduk bersila di depan mereka sambil memperhatikan wajah ketiga anak kembarnya. Kenapa ia sebodoh itu tidak menyadari kehamilan Alya? Dia terlalu cuek kepadanya dan hanya memikirkan Miki sehingga tidak menyadari hal itu.
"Om sebenarnya siapa sih?" tanya Farad penasaran.
"Aku ini Papa kalian," jawab Leon.
3 kembar hanya diam memandang Leon dengan mata bulatnya.
"Kalian pasti bingung dan tidak paham, aku adalah Papa kalian," ucap Leon sekali lagi.
3 bocah kembar masih melongo, sementara Leon menelan ludahnya kasar karena kesulitan berkomunikasi dengan anak kecil.
"Baiklah, tidak masalah jika kalian belum paham."
Tiba-tiba Bu Yanti datang membawa gunting dan menyerahkan gunting itu kepada Leon, 3 kembar masih diam memperhatikan sampai Leon melihat ke arah mereka.
"Om mau minta izin untuk potong....""Huaaaaaa..... nggak mau! Aku nggak mau dipotong tytyd-ku!" teriak Fared berlari.
Farid juga berlari ke belakang sambil memegang bagian tengah celananya. "Aku juga nggak mau."
"Oh, Om mau potong tytyd kami terus Om mau jual, ya?" tanya Farad masih duduk diam.
Anak-anak yang lain pun ikut panik, mereka berlari berhamburan menyelamatkan diri masing-masing. Keadaan semakin riuh sementara Leon hanya nyengir saja karena bingung menghadapi situasi ini.
"Anak-anak, tenanglah! Jangan panik! Om ini hanya mau minta sampel rambut antara Farad, Farid dan Fared saja," teriak Bu Yanti.
Leon berdiri sambil memegang gunting, ia lantas menyerahkan gunting itu pada Bu Yanti supaya beliau saja yang mengambil sampel rambut tersebut. Guru-guru yang lain ikut menenangkan mereka, sementara Bu Yanti menggunting sedikit rambut bagian depan Farad yang dari tadi hanya duduk diam.
Di sisi lain. Alya dengan sabar mengangkat barang-barang tamu hotel yang berat dan membawa mereka ke kamar yang telah dipesan. Dia berjalan dengan hati-hati, takut barang-barang itu jatuh. Sesampainya di kamar, Alya membuka pintu dan membantu meletakkan barang-barang mereka di tempat yang telah disediakan.
"Tolong periksa kamar ini, pastikan semua fasilitasnya berfungsi dengan baik," ujar tamu tersebut.
Alya pun mengangguk dan mengecek kamar, mulai dari televisi, pendingin ruangan, hingga kamar mandi. Setelah memastikan semuanya berfungsi dengan baik, Alya melapor ke tamu tersebut.
"Terima kasih. Kamu telah bekerja dengan baik," ucap tamu tersebut sambil memberikan tips kepadanya.
Alya tersenyum sumringah merasa dihargai atas pekerjaannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada tamu tersebut dan berjanji akan selalu siap membantu jika dibutuhkan. Dengan langkah gembira, Alya meninggalkan kamar dan kembali melanjutkan pekerjaannya di hotel. Kali ini Jardon juga sedang cuti jadi Alya agak bebas.
"Alya, tolong ke lobi sebentar," ujar suara dari HT yang di bawa Alya.
Tanpa menunggu jawaban, telepon pun terputus. Alya segera beranjak menuju lobi hotel.
Di lobi, Alya melihat beberapa seniornya sedang berkumpul. Rupanya mereka sedang diskusi tentang acara penting yang akan diadakan di hotel itu. Salah seorang senior menghampiri Alya.
"Alya, tolong belikan kami kopi dari kedai di seberang jalan. Ini uangnya." Alya menerima uang yang diberikan dan mengangguk tanda mengerti.
Meskipun merasa kurang nyaman, Alya menyadari bahwa sebagai bawahan, dia harus patuh pada perintah para seniornya. Lagipula, ini adalah salah satu cara untuk menunjukkan dedikasi dan kerjasama dalam tim.
Alya segera berjalan keluar hotel dan menyeberangi jalan menuju kedai kopi yang dimaksud. Setelah memesan kopi untuk para seniornya, Alya menunggu dengan sabar hingga pesanannya selesai. Ia kemudian kembali ke hotel dengan tangan penuh membawa kopi.
Di lobi, Alya menyerahkan kopi-kopi itu pada para seniornya. Mereka mengucapkan terima kasih meskipun beberapa dengan nada yang agak sinis. Alya tersenyum tipis berusaha untuk tidak terpengaruh oleh sikap mereka. Dia tahu bahwa sebagai bawahan harus patuh kepada mereka.
Saat istirahat, Alya segera mengambil jatah makanannya dan duduk di sudut ruangan menikmati waktu sebentar yang ia miliki. Tiba-tiba, salah satu seniornya yaitu Dina menghampirinya dengan wajah yang marah.
"Dengar, Alya! Tamu tadi mengeluhkan pelayananmu yang sangat jutek! Apa ini caramu bekerja?" ucap Dina dengan nada tegas.
Alya langsung kaget dan bingung, "Maaf, Kak Dina, tapi saya sudah ramah sejak tadi pagi. Saya benar-benar tidak tahu kenapa mereka merasa begitu."Dina melotot ke arah Alya, "Aku tidak peduli alasanmu. Kamu harus lebih memperhatikan cara bicaramu dan ekspresimu saat melayani tamu. Ingat, mereka adalah prioritas utama kita!"
Alya mengangguk lemah, "Baik, Kak. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Terima kasih atas masukannya."
Namun, Dina masih belum merasa puas, "Ingat, Alya. Kesalahan seperti ini bisa merusak reputasi tempat kita bekerja. Jangan sampai terulang lagi, ya!"
Alya kembali mengangguk, menahan rasa sedih dan kecewa yang mulai menyelimuti hatinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bekerja lebih keras dan lebih baik lagi, demi menjaga nama baik dirinya dan tempat ia bekerja.
***
Sore hari.
Alya melangkah masuk ke Fairy care untuk menjemput ketiga anak kembarnya, Farad, Fared,dan Farid . Begitu melihat kedatangan ibunya, ketiga anak itu langsung berlari menyambutnya dengan wajah ceria.
"Mah, kita sudah siap pulang!" seru Farad.
Namun, Alya merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Matanya berkunang-kunang dan pandangannya mulai kabur. Tiba-tiba, tubuhnya terasa lemas dan tak bisa menopang berat badannya sendiri. Dalam sekejap, Alya pun pingsan di depan ketiga anaknya.
"Mah!" teriak ketiganya, panik melihat keadaan ibunya.
Mereka mencoba menggoyangkan tubuh Alya agar sadar kembali, namun tak ada reaksi sama sekali.
Tak lama kemudian, Leon yang di depan FairyCare menyadari kegaduhan yang terjadi di dalam. Dia bergegas masuk dan melihat Alya tergeletak di lantai.
"Alya!" seru Leon, langsung berlari mendekatinya.
Dia segera mengangkat Alya dan menggendongnya dengan hati-hati.
"Anak-anak, cepat ikut Om! Kita bawa Mamamu ke rumah sakit," perintah Leon.
Ketiga anak kembar itu segera mengikuti Leon yang sudah bergegas menuju mobilnya dengan menggendong Alya.
Di perjalanan menuju rumah sakit,
Leon mencoba menenangkan ketiga anak yang masih ketakutan.
"Tenang saja! Mama kalian pasti akan baik-baik saja. Kita akan segera sampai di rumah sakit," ujar Leon sambil mengusap kepala mereka satu per satu.
Sesampainya di rumah sakit.
Di ruang IGD, Alya terbaring lemah dengan selang infus menempel di tangannya. Dokter yang memeriksa kondisinya memberikan penjelasan kepada Leon.
"Ibu Alya mengalami kelelahan parah dan tensi darahnya terlalu rendah. Kami harus melakukan tindakan segera agar kondisinya tidak memburuk," ujar dokter dengan serius.
Leon mengepalkan tangannya, rasa cemas dan khawatir melanda hatinya. Sementara itu, anak kembar Alya duduk terdiam di pojok ruangan sambil menangis pelan. Mereka melihat keadaan sang mama yang lemah dan tidak bisa berbicara.
Alya mencoba untuk tersenyum pada ketiga anaknya, berusaha menenangkan mereka meski ia sendiri merasa sangat lemah. Air mata anak-anak itu semakin deras mengalir, tak mampu menyembunyikan rasa cemas dan sedih yang mereka rasakan.
Leon menghampiri anak-anaknya, merangkul mereka erat sambil berbisik, "Tenang, anak-anak. Mama kalian pasti akan baik-baik saja."
Ketiga anak itu mengangguk dan masih terisak-isak, ini pertama kalinya bagi mereka sang Mama masuk ke rumah sakit. Sementara itu Leon mendapatkan telepon dari papanya, ia malas mengangkatnya tapi beliau terus berisik.
"Hallo, Pah. Aku sedang sibuk," ucap Leon.
"Akhir-akhir ini kamu selalu keluyuran saat jam kerja. Di mana kamu?" tanya Rafael.
"Hari ini aku benar-benar sibuk," jawab Leon."Sibuk mendekati wanita rendahan itu lagi? Apa tidak ada wanita lain selain dia?"
"Hah! Papa, jangan bilang Alya dengan sebutan wanita rendahan! Yang rendahan itu Miki dan sekarang aku bersama Alya di rumah sakit, di sini juga ada ketiga cucu Papa. Apa mau ku videokan cucu Papa dan kukirim ke Papa supaya Papa bisa lihat wajah mereka?" tanya Leon.
"Tidak sudi! Mereka bukan cucuku, sekarang kamu datang ke rumah kami karena orang tua Miki akan membicarakan pernikahan kalian!" Telpon langsung terputus.
knp Fared kesetanan liat badut itu 😡😡😡