Tristan Emilio, menyimpan dendam atas kematian adiknya. Merencanakan pembalasan dendam dengan menyakiti Gendis Nayaka Putri.
"Kehormatan dibalas kehornatan, nyawa dibalas nyawa," ujar Tristan.
"Lakukan apapun semaumu, lampiaskan dendammu tapi jangan sakiti keluargaku," sahut Naya.
Apakah dendam Tristan akan terbayarkan?
Bagaimana nasib Naya setelah merelakan hidupnya untuk membayar kesalahan sang Kakak?
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ingin Menikah
Naya keluar dari kamar dan masih ada Tristan di ruang tamu, terlihat begitu fokus pada ponselnya. Lengan kemejanya sudah digulung sampai siku, bahkan rambutnya tidak serapi saat datang tadi pagi.
Naya memang meninggalkan Tristan karena tidak mau pergi meskipun sudah diusir. Seperti ucapannya kalau dia akan menemani Naya dan tapi tidak sabar untuk segera meresmikan pernikahan mereka.
“Pak Tristan belum pergi juga?”
Tristan menoleh, “Kamu sudah bangun? Ingin makan sesuatu? Biar aku pesankan,” ungkapnya.
“Dari mana tahu kalau aku tadi tertidur? Pak Tristan masuk ke kamar aku ya.”
Tristan memang masuk ke kamar Naya, ketika perempuan itu meninggalkannya di ruang tamu. Tidak lama setelah Naya masuk ke kamar, Tristan mendekat ke arah pintu kamar dan memanggil Naya. Tidak ada sahutan, membuat Tristan membuka pintu dan mendapati Naya yang tertidur.
Bahkan Tristan memberanikan diri melangkah masuk dan mendekat ke ranjang. Duduk di samping Naya yang sedang memejamkan matanya. Hendak mengusap pipi Naya tapi urung karena khawatir jika Naya terbangun.
“Istirahatlah sayang, selama ini kamu pasti lelah menghadapi masalah karena kebodohanku. Aku berjanji untuk kedepannya akan berusaha membahagiakanmu. Jadilah ratu di hidupku,” tutur Tristan.
“Jadi benar, Pak Tristan masuk ke kamarku,” pekik Naya menyadarkan lamunan Tristan.
“Aku hanya memastikan kamu baik-baik saja.”
“Alasan. Sekarang Pak Tristan lebih baik pergi deh, aku nggak mau menjadi bahan gunjingan para tetangga. Apalagi sampai dinikahkan karena kita berdua di rumah.”
“Itu lebih baik, jadi kamu tidak bisa mengelak lagi,” sahut Tristan.
“Nggak usah nyebelin jadi orang atau mau aku teriak minta tolong. Pak Tristan pasti di arah oleh orang satu kampung,” ancam Naya.
Tristan hanya terkekeh mendengar ocehan Naya lalu melirik jam tangannya.
“Ini sudah waktunya makan siang, kamu ingin makan apa?”
“Aku nggak mau makan apapun, yang ada Pak Tristan bikin aku emosi jadi pengen makan orang.”
“Kalau begitu kita sama dong, aku juga ingin makan kamu. Terakhir kita ....”
“Pak Tris,” teriak Naya.
“Ck, aku tidak suka panggilan itu. Berkesan pria paruh baya dengan perut buncit dan kumisan, dipanggil Tris.”
“Memang seperti itu penampilan laki-laki kalau sudah tua.”
Terdengar suara deru mesin motor yang berhenti di depan pagar rumah. Naya sudah hafal kalau itu motor Daru.
“Kak Daru, coba usir orang ini,” rengek Naya menunjuk Tristan yang duduk bersandar dengan kedua tangan dilipat di dada.
Daru sendiri tidak gegabah dengan berubah emosi melihat Tristan karena tidak ingin pria itu berubah pikiran yang tadinya ingin bertanggung jawab pada Naya akhirnya berubah.
“Nay,” ucap Daru sambil duduk di samping adiknya. “Kakak mohon untuk kebaikan kamu dan calon anakmu, kita bicarakan dengan hati tenang dan kepala dingin,” nasihat Daru.
“Tapi Kak ....”
“Aku paham perasaanmu, tapi kita harus realistis Nay.”
Naya melirik Tristan yang ternyata sedang menatap ke arahnya. Tidak ingin membicarakan kembali urusan mereka di depan Tristan yang akan membuat pria itu besar kepala karena merasa sangat dibutuhkan.
...***...
Naya yang akhirnya mengikuti nasihat Daru untuk menerima Tristan dan membicarakan masalah pernikahan. Bahkan kedua orangtua Tristan sudah datang ke rumah dan melamar Naya yang diterima langsung oleh Daru.
Saat ini Tristan mengajak Naya makan siang di salah satu restoran, setelah ini mereka akan mendatangi butik untuk memilih busana yang akan dipakai saat pernikahan. Naya sendiri tidak meminta adanya resepsi, tapi menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga Tristan.
Naya yang baru saja tiba di restoran, diantar oleh pelayan menuju ruangan privat yang sudah Arga reservasi.
“Ini ruangannya mbak, saya permisi,” ujar pelayan setelah mengantarkan Naya. Naya yang hendak membuka pintu, tiba-tiba dilanda rasa mual dan langsung menuju toilet. Ternyata saat Naya berada di toilet, ada Dion yang datang dan tidak menutup rapat pintu ruangan.
Naya yang merasa lebih baik setelah memuntahkan isi perutnya, saat ini sudah berada di depan pintu dan tidak sengaja mendengar percakapan antara Dion dan Tristan.
“Bereskan semua yang memungkinkan membuat Naya marah atau bahkan melanjutkan dendamnya,” titah Tristan kepada Dion.
“Hm.”
“Pastikan juga Naya dan Daru tidak tahu kalau pesan yang masuk di malam kematian Ibu mereka adalah ulah kita.”
Jeder.
Naya merasa tubuhnya tersambar petir atau tersengat arus listrik. Jelas sekali Ibunya meninggal tidak lama setelah membaca pesan dan foto yang memojokan Naya.
Jadi yang mengirimkan pesan itu, Pak Tristan. Pesan yang membuat aku seperti wanita murahan dan menyebabkan Kak Daru juga Ibu salah paham. Bahkan Ibu tiada tanpa mendengar penjelasanku, batin Naya.
“Tidak mungkin aku menikah dengan pria yang sudah menyebabkan Ibu meninggal,” gumam Naya lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Saat ini Naya sudah berada di taksi dalam perjalanan pulang ke rumah. Menghubungi Daru menggunakan ponselnya.
“Halo, Kak. Please bawa aku pergi dari sini kalau memang Kakak sayang aku.”
“Nay, maksud kamu apa?”
“Aku tidak ingin menikah dengan Pak Tristan.”
gentala & ajeng
kerennnnnnnn lahhhhh pkknya
tristan²... kamu kan blum tau crta aslinya gmn, main bales dendam aja, hati² besok nyesel aja, tau rasa deh
Naya gak ada salah apapun. Sheryl juga salah karena gak bisa jaga diri.
pengecut kau... semoga kau bucin sama naya