Cinta hadir tanpa permisi, menelusup masuk melalui celah hati yang sebenarnya sudah bertuan.
Cinta memang buta dan tuli, hingga tanpa sadar Bryan seorang CEO perusahaan tembakau ternama, yang sudah memiliki tunangan meminta wanita yang berprofesi sebagai penari sekaligus karyawan di perusahaannya untuk menjadi wanita simpanannya. Wanita itu bernama Naina Anaclara.
Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah waktu. Waktu mempertemukan mereka di saat yang tidak tepat. Karena cinta juga, Naina mau menerima untuk menjadi wanita simpanan Bryan.
Baru menjalin kasih terlarang selama dua bulan, Naina mengandung anak dari hubungan gelapnya bersama Bryan.
Akankah kisah cinta Naina berakhir bahagia bersama Bryan tanpa sepengetahuan dari Istri pertama lelaki yang sudah menjadikannya wanita simpanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Naina masih terus mengemudikan mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Air mata tidak berhenti menetes membasahi setiap inch wajahnya. Mobil Naina dikejar oleh mobil Police karena sudah kebut-kebutan di jalan raya, dan jelas itu melanggar ketentuan lalu lintas.
Mobil Police terus membunyikan sirine dan klakson berulang kali agar mobil yang dikejarnya mau berhenti, kemudi yang Naina lajukan bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
Naina telah lelah, ia menepikan mobilnya di sembarang arah dan merebahkan kepalanya di atas setir, Naina tidak menyadari bahwa dirinya telah di kejar-kejar oleh Police.
Kaca mobil Naina di gedor-gedor oleh seorang Police laki-laki. Naina membuka kaca mobil dan memarahi police tersebut karena telah mengganggunya.
"Hei kenapa kau menggangguku Pak?" tanya Naina dengan nada setengah membentak.
"Selamat siang nona, boleh keluarkan surat identitas dan tanda kepemilikan kendaraan ini." ujar Police yang bernama Marcel.
"Kenapa anda tiba-tiba ingin memeriksa surat-surat mobil saya Pak? Memangnya saya salah apa?" tanya Naina kembali yang belum sadar bahwa dirinya sedang ditilang.
Police tersebut menunjukkan surat tilang pada Naina.
"Anda, kami tilang karena kebut-kebutan di jalan dengan kecepatan di atas rata-rata yang dapat membahayakan nyawa anda dan juga para pengguna jalan lainnya. Anda juga mencoba untuk menghindar dari kejaran petugas dan enggan kami periksa surat-surat dan identitas anda." jawab Police Marcel.
Naina membulatkan matanya sebagai ekspresi bahwa ia terkejut mendengar penuturan Police tampan tersebut.
"Ya Tuhan, maafkan saya Pak, saya tidak tahu kalau anda mengejar saya sejak di jalanan tadi. Baiklah saya akan menerima hukumannya apapun itu."
"Apapun itu?" tanya Police Marcel mengulangi perkataan Naina.
"Ya."
"Keluarkan identitas anda, dan surat bukti kepemilikan mobil."
Naina segera mengeluarkan KTP, SIM dan STNK, lalu memberikannya pada Police.
"Untung Minggu lalu saya membuat SIM karena dipaksa oleh Ayahku, Pak Police." kata Naina.
"Saya tidak bertanya."
Haha, wajah Naina langsung memanas karena malu telah di skakmat oleh Police Spanyol. Bahkan ia kesulitan saat menelan salivanya sendiri. Naina diam dan mengunci mulutnya.
"Nona India, kenapa anda mengendarai mobil saat dalam keadaan sedih hingga hancur seperti sekarang ini?" tanya Marcel tanpa rasa sungkan.
"Hei, darimana anda tahu saya sedang sedih, Pak?"
"Mata anda sembab, hidung dan wajah anda merah seperti tomat. Apa anda sedang putus cinta?"
"Kenapa anda kepo sekali sih!" ketus Naina.
"Mohon maaf nona. Ini surat tilangnya dan saya kembalikan surat-surat milik anda."
Naina menerima kertas-kertas yang diberikan oleh Police Marcel dan menyimpannya kembali dalam dashboard.
"Mau saya traktir makan siang bersama satu rekan saya, Police wanita." ujar Marcel mencoba untuk menemani Naina yang sedang sedih.
Tidak ada maksud lain dalam hati Marcel selain untuk menghibur Naina yang terlihat rapuh. Ia hanya khawatir dengan kondisi wanita yang sedang patah hati.
"Maaf Pak Police bukannya saya lancang menolak tawaran anda, tapi saya saat ini ingin menyendiri dan mengunjungi satu tempat yang mungkin bisa menenangkan pikiran saya." ujar Naina menolak secara halus ajakan dari Marcel.
"Baik nona tidak apa-apa, saya berharap anda bisa mencari jalan keluar dari masalah anda dengan baik dan saya harap anda dapat menjaga keselamatan diri anda sendiri."
"Baik Pak Police, terimakasih untuk sarannya, saya permisi."
Naina melajukan kembali mobilnya meninggalkan Police yang menilangnya. Hatinya sudah sedikit tenang saat bertemu dengan orang lain, pikirannya sudah tidak sepanas seperti di kantor tadi, Naina mencoba menenangkan dirinya sendiri sampai benar-benar tenang dan akan kembali pulang ke rumah.
*****
Gran Via Madrid
Naina memilih menginap di sebuah hotel yang terletak di bagian timur Spanyol, ia sengaja memilih tempat yang sangat jauh dari kota agar tidak ada yang mengganggunya. Ia memutuskan untuk menginap di sebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari Gran Via Madrid.
Setibanya di hotel, Naina langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang nan empuk, ia berteriak melepaskan beban yang ada dalam pikirannya.
"Brengsek, dasar Bryan brengsek."
"Semua yang Bryan ucapakan bulshit, semuanya bulshit."
"Bodoh, aku sangat bodoh, aku bodoh karena terlalu percaya padanya, aku bodoh." Naina kembali terisak saat mengucapkan umpatannya pada Bryan.
Hati Naina benar-benar hancur melihat sikap Bryan yang membentaknya tadi di depan orang-orang yang berada di dalam ruangan meeting, bahkan Bryan meragukan kemampuan Naina untuk menjadi bintang iklan produknya.
Hanya sakit yang Naina rasakan saat ini, ditambah ia bertemu dengan seseorang yang pernah melukainya di masa lalu, orang yang hampir membuatnya gila, orang yang pernah Naina perjuangkan tapi Naina malah disia-siakan, orang yang pernah membuat Naina ingin mengakhiri hidupnya.
Aaaaaaaaaaa, masih banyak yang Naina rasakan dalam kesedihannya. Hari ini Naina hanya ingin menangis seharian di kamar seorang diri, mungkin hanya dengan menangis Naina bisa meluapkan rasa sedih dan amarahnya yang sudah bercampur aduk menjadi satu.
"Dia sama jahatnya seperti Rohan."
"Aku sangat membenci Rohan di sisa umurku, aku benci dia, aku benci..."
Ponsel Naina tidak berhenti berdering sedari ia meninggalkan Universal Studios, Naina enggan mengangkat semua panggilan yang masuk.
🌹🌹🌹
Sejak Naina pergi meninggalkan kantor PH, Bryan segera memerintahkan Mike untuk menghubungi salah satu model yang akan menggantikan Naina. Beruntungnya ada model yang kosong jadwalnya dan bersedia untuk melakukan reading hari ini.
Reading telah usai dilakukan, besok dan lusa jadwal shooting yang akan mengambil lokasi di Yunani, semua tiket pesawat telah di booking.
Bryan meminta Elvia untuk kembali ke mobil lebih dulu karena ada urusan yang harus di selesaikan dengan Rohan. Saat Bryan hendak menghampiri Rohan yang tengah menelepon dengan seseorang, tanpa sengaja Bryan mendengar pembicaraan Rohan dengan si penelepon.
"Cari tahu semua tentang Naina Anaclara, dan bawa dia ke mansion dalam keadaan baik tanpa lecet sedikitpun, kalian jangan sampai menyentuh Naina sampai melukainya."
"Baik tuan."
Rohan memutuskan panggilannya dan kembali memasukkan ponsel ke balik saku jas yang ia kenakan.
"Ada hubungan apa anda Naina?"
Suara dingin Bryan membuat Rohan seketika berbalik badan dan terlihat Bryan sedang menatapnya penuh pertanyaan.
"Tuan Bryan, kenapa anda masih di sini?" tanya Rohan dengan santai.
"Jawab pertanyaan saya, ada hubungan apa anda dengan Naina?"
Rohan terkekeh melihat wajah Bryan yang sudah mulai mengeras, nada suaranya pun terdengar sangat menyeramkan. Rohan tetap bersikap biasa-biasa saja, dan ia duduk di atas meja.
"Naina bersikap seperti tadi pasti ada alasannya, tidak mungkin dia berani mengacaukan pekerjaannya demi memancing sikap perhatian dariku. Ya Tuhan tolong lindungi Naina."
Rasa penyesalan mulai menggerogoti pikiran Bryan yang kini tertuju hanya pada Naina. Ia mengkhawatirkan keadaan Naina dan bagaimana kondisi Naina saat ini.
"Kenapa anda ingin tahu sekali soal hubungan saya dengan Naina?" tanya Rohan.
"Saya berhak tahu semua yang berkaitan dengan Naina."
"Lho kenapa Tuan Bryan? Bukankah anda hanya berhak atas tunanganmu saja yang bernama Elvia Caroline."
"Tidak perlu memancing amarahku Rohan, cepat jawab pertanyaan saya."
Nada suara Bryan makin meninggi, air mukanya sudah tidak bisa diajak berdamai lagi. Rohan seperti sengaja mempermainkan Bryan tanpa ingin menjawab rasa penasaran yang sudah bergejolak dalam dada Bryan.
"Saya bisa mencari tahu tentang kalian dari Naina, saya pastikan saya adalah orang pertama yang akan menemukan Naina dan jangan pernah berharap anda bisa mendekati dia."
Bryan berlalu meninggalkan Rohan yang mematung kerena merasa aneh dengan tingkah laku seorang pria yang telah memiliki tunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat tapi masih mengurusi wanita lajang.
Bryan berjalan cepat sambil menghubungi Mike yang masih berada di kantor yang sama.
"Mike antarkan aku mencari Naina, tapi sebelumnya antarkan Elvia pulang ke rumahku."
"Baik Bos."
Mike masuk ke dalam mobil dan mengantarkan Elvia pulang ke rumah Bryan. Setelah itu Bryan pamit pada Elvia dengan alasan hendak menemani klien yang ingin memantau proyek bangunan cabang pabrik yang berada di pelosok.
"Mike lempar laptopnya, aku ingin melihat lokasi Naina berada." titah Bryan pada Mike yang berada di depannya sedang menyetir.
Dengan susah payah Mike mengambil laptop yang berada di bangku sampingnya dengan sebelah tangan dan memberikannya pada Bryan.
"Naina mengirim pesan ke email perusahaan, isinya surat pengunduran diri. Shit!" teriak Bryan sambil meninju langit-langit mobil dengan sekuat tenaga hingga mengeluarkan suara 'Doom'
Aku mampir
Salam kenal, 💐😄