Tidak semua yang kita inginkan menjadi kenyataan.
Tidak semua yang kita rencakan berjalan sesuai kemauan.
Pasti ada masanya kita jatuh dan terpuruk.
Dan di saat aku jatuh dan terpuruk itulah selalu ada orang setia berada di sampingku.
Seindah apapun Pelangi akan kalah sama yang namanya Matahari,karena yang indah sesaat akan kalah dengan yang selalu ada setiap saat.
***
"will you be wife and mother to my daughter" tanya Alan yang belutut di depanku.
"tapi kita masih sama-sama terjebak masa lalu Mas, lantas bagaimana kita bisa memulai hubungan baru kalau masalalu kita masih terus menghantui" jawabku menatap matanya sendu.
"kita pasti bisa sama-sama bangkit dari rasa sakit ini Nay" ucapnya. "Trust me" lanjutnya mengiba.
aku berdecak pelan sebelum mengangguk.
"I will try" lirihku.
Alan lekas berdiri dan memeluk tubuhku setelah menyematkan cincin di jari manisku.
Ikuti terus kisah Naya dan Mas Duda ya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMAK DIBA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Me [ Maaf saya tadi sibuk] setelah membalas pesan dari Alan aku meletakkan ponsel kembali ke dalam tas dan fokus kembali bekerja.
Rasa-rasanya aku sudah lama tidak menulis novel online ku. Sudah cukup aku hiatus, malam ini aku harus melanjutkan tulisanku.
Tanpa terasa jam pulang kerja hampir selesai, jam di dinding menunjukkan pukul 15.45 sore, aku menyimpan laporanku dan memasukan laptop dalam tas.
"Udah siap mau pulang aja ku Nay, buru-buru mau kemana?" Tanya Given.
"Kepo lu, lu juga ngapain jam segini udah kekuar ruangan? Kayak kagak ada kerjaan aja lu mentang-mentang manager" ejek'ku.
"Abis bikin kopi gue nih lu liat, gue mau lembur hari ini" jawabnya mengangkat gelas kopinya.
"Ri temenin gue lembur ya" ucapnya pada Eri.
"Ogah bang, gue mau pulang aja" tolak Eri membuat Given berwajah masam.
Aku menahan tawaku karena melihat bibirnya yang ngedumel tanpa suara.
"Udah lu bawa aja berkasnya sama laptop, lu ikut gue ke Caffe Samarasa" tawarku.
"Nah cocok tuh Nay, okee gue beresin dulu abis itu kita langsung capcuss" ujarnya lalu bergegas masuk ke ruangannya.
Aku menggelengkan kepala lalu mengambil ponsel di dalam tas.
Me [ Ma, aku pulangnya malem ya, aku ada lembur bareng Given] send to Mama.
Aku harus mengabari Mama karena tak ingin beliau khawatir dan menungguku.
Akau men-scroll pesan-peaan di ponselku, Alan membalas pesanku tadi mengatakan
'tidak apa-apa, kamu pulang naik apa?'
Begitulah pesannya tapi tidak aku balas, aku melihat pesanku ke Wanda juga belum di balas.
Ting-1 pesan masuk.
Mama [ Iyaa mbak, tapi jangan malem-malem pulangnya, jangan lupa makan malam juga]
Aaaah Mama, seketika hatiku menghangat membaca pesan balasan dari Mama. Wanita terhebatku. Dengan segera aku membalas pesan Mama 'Oke' .
Ting-1 peaan masuk.
Siapa lagi sih. Batinku.
Papai Ara [Kok nggak di balas?]
Aku mengehela nafas.lalu membalasnya.
Me [ Saya bareng sama Given, saya masih ada urusan sama Given] .
Aku langsung menon aktifkan ponselku.
Given keluar dan menghampiri mejaku.
"Ayoo Nay" ajaknya.
"Okeee," aku berdiri lalu mengikutinya dari belakang.
Kami sampai di parkiran dan langsung menuju ke mobil Given.
"Lu sering ke Caffe itu?" Tanya Given menstarter mobilnya.
"Jarang, kalo pas gue lagi pengen nulis aja" jawabku.
"Okee kalau gitu, ntar lu bantuin gue ya Nay" ujarnya menaik turunkan alisnya padaku.
"Ogaah, gue mau nulis, udah lama gue nggak nulis. Kasihan pembaca setia gue pasri nunggu-nunggu" ucapku
"Masih nulis lu Nay, gue kirain udah berhenti"ucapnya mangguk-mangguk.
20menit kemudian kami sampai si Caffe Samarasa. Caffe ini terdiri 2 lantai , lantai 1 biasa di gunakan untuk live music, lantai 2 sebagian untuk privat room dan sebagian untuk area terbuka dengan tema duduk lesehan.
"Di atas aja ya, gue biasanya di atas" ucapku menaiki tangga Caffe.
"Ya terserah lu, yang penting tempatnya nyaman" jawabnya.
"Tuh duduk disana" aku menunjuk pada tempat lesehan di pojok.
Waiterss datang tak lama setelah aku dan Given duduk, menanyakan pesanan apa yang kami inginkan.
"Aku jus kiwi aja mabak 1 sama nasi goreng udang 1, lu mau apa Ven?" Tanyaku pada Given yang duduk langsung membuka laptopnya.
"Samain aja, tapi gue minumnya kopi aja mbak" ucap Given
Waiterss mencatat pesanan kamu dan berlalu setelah mengucapkan kata 'mohon di tunggu sebentar ya kak'
Aku juga membuka laptopku, sebelum aku memulai mengetik kata demi kata aku melirik ke arah Given yang serius dengan Laptopnya.
"Nggak usah lirik-lirik ntar naksir repot" ucapnya terkekeh.
"Najis"jawabku malah membuatnya terbahak-bahak.
Kamu tuh sebenernya juga cinta sama Alan, tapi kamu keras kepala, keras hati, egois..
keliatan bibit pelakor nya, ibu nya juga mendukung selama cowoknya ganteng dan kaya...
hati2 ya Nay..
nanti senjata makan tuan
Jesy ternyata siluman ulat bulu yg kegagalan ama duda kaya..