Novel ke tiga ini hanya kisah fiktif khayalan penulis semata, jika ada kesamaan nama, tempat semua itu hanya kebetulan.
Gadis bernama Airin Nurani usia 21 tahun, yang nekat ke kota Metropolitan untuk merubah nasib dan menyekolahkan adik nya, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Berbekal Ijazah SMA dan selembar kertas bertuliskan alamat seorang teman di desa yang sudah lebih dulu kerja di Jakarta, dan mendapatkan pekerjaan sebagai Pramusaji.
Airin yang akhirnya bertemu dengan kekasihnya ketika masih di desa begitu bahagia, hingga sang kekasih meminta sesuatu dari dirinya...
Apakah Airin akan memberikan permintaan sang kekasih? Bagaimana kelanjutan kisah nya,,,
Simak terus di hari Rabu dan Sabtu jam 20:00 mlm.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Venus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Cemburu Bilang Bos
Happy Reading ☕
**********🌹🌹🌹🌹🌹**********
"Airin..!" sebuah suara berat pria membuat kami menoleh kearah itu, aku tercengang disana tak jauh berdiri sepasang wajah yang sangat aku kenal.
"Kak Airin.." kali ini suara perempuan memanggil ku, dengan tatapan sedih mata kami bertemu.
"Astagfirullah Alika, mas Faisal kalian berdua bisa ada disini?" aku melangkah menghampiri dan mereka pun melakukan hal yang sama menghampiriku. Tak bisa lagi dihindari pelukan tangis bahagia bertemu dengan adikku.
"Ya Allah kakak? Kenapa sampai seperti ini? Kakak kenapa gak pernah cerita ke Lika, padahal kita sering teleponan. Kakak berjuang sendiri seperti ini." Alika tak kuasa menahan air mata kesedihan melihatku.
"Sudah, apaan sih pake nangis segala. Kakak gak pa pa, baik-baik aja ko. Justru kakak mau tanya kenapa kamu bisa sampe sini?" aku mendadak kesal bukannya belajar di pondok malah ngeluyur tanpa bilang padaku datang ke Jakarta.
"Heiii,,, Lika, lupa sama mba Asih ya. Ayo sini pada masuk dulu, bisa dilanjut ngobrol nya didalam, yuk." Asih yang melihat pun segera menyudahi percakapan kami. Ku rangkul Alika berjalan ke kamar kos Asih.
Tatapan Daffa menatap tajam dan waspada terhadap Faisal. Bukannya ini cowok yang dulu pernah gue liat datang ke sini ya. Dia kenal Airin juga ternyata berati waktu itu dia juga nyariin Airin dong. Perasaan gue gak tenang nih.
Faisal pun demikian menatap tajam kearah Daffa dengan pikiran nya sendiri. Ini kan cowok tajir yang dulu kesini pake mobil itu kan, ko bisa sama Airin. Siapa dia? Gue udah yakin kan hati, akan coba yakinkan Airin supaya mau nerima gue.
Kami semua pun masuk kedalam kamar kos Asih, duduk lesehan di ubin kamar saling diam.
"Mbak Asih, biar Lika bantu buat minumab ya boleh kan?"
"Oiya neng, tolong ya makasih." balas Asih.
"Iya mbak," segera berdiri dan berjalan menuju meja dapur.
"Ehmm Rin, kamu apa kabar?" Faisal pindah duduk menghampiriku.
"Alhamdulilah baik mas, Oiya kenalin ini pak Daffa majikan Airin, pak Daffa ini mas Faisal tetangga Airin di kampung sekaligus sebagai kakak buat Airin." kataku sekalian memperkenalkan mereka daripada wajah mereka semakin terlihat kaku, seperti mayat hidup.
"Eeeee,,, kak Airin, rencana nya bukan sebagai kakak mas Faisal itu. Rencana nya mau jadi suami nya kak Airin," ceplos Alika dari balik meja membuat semua mata menatap nya. Aku pun ikutan kaget dan agak merasa canggung setelah ku lirik wajah pria di depan ku mulai berkerut keningnya.
"Hahahaha,,, kamu ada-ada aja dek. Alika itu memang paling hobi ngeprank orang, jadi abaikan ajalah." kataku.
"Berhubung disini banyak orang, dan sepertinya tepat buat saya memberitahukan bahwa mau benar apa tidak dengan rencana tadi saya cuma mau bilang kalau Airin ini adalah...adalah..."
"Adalah apa sih,,,?" kali ini Delia yang kepo.
"Airin itu kerja dirumah saya, terikat kontrak kerja dengan saya, tidak bisa seenaknya di hentikan ataupun berhenti gitu aja, karena itu akan ada sanksi nya." ucap Daffa lagi membuat ku melongo.
"Sejak kapan pembantu ada kontrak kerja dan pakai sanksi segala, kaya kerja kantoran aja? Emang TKW? Aneh-aneh aja nih orang." batin Airin.
"Jadi maksud om nya kalau kak Airin mau nikah sama kak Faisal itu harus bayar sanksi gitu? Sanksi apa?" lagi-lagi Alika bertanya.
"Ya bener, harus bayar pinalti pemutusan kerja. Berupa uang pinalti sebesar 500juta rupiah." jawaban Daffa sukses bikin aku semakin melongo syok, ku tatap wajahnya yang ada hanya cengiran dan mengejek sembari menaikkan salah satu alisnya.
"Apaaaa!!! Yang bener aja Om, emang kak Airin kerja apaan sih?!" Alika mulai kesal berjalan membawa nampan yang berisi gelas es teh manis.
"Daf, kamu gila ya. Masa pembantu mau keluar kerja aja harus bayar pinalti sebesar itu, mana ada uang dia. Jangan ngaco deh, udah biarin aja pembantu hamil ini pergi dari rumah kamu dan nikah dengan pria yang mau nerima dia." ucap Delia ikutan gemas.
"Apaaan pembantu? Kak Airin kerja jadi pembantu?" sembari meletakkan nampan ke lantai.
"Budeg lo tadi kan gue udah bilang, kakak lo ini kerja di rumah Daffa yang mana calon suami gue sebagai pembantu." jawab Delia cepat.
"Kak,,, kok mau sih jadi pembantu? Kakak kan pinter gambar, kenapa gak cari kerjaan yang sesuai sama hobi kakak."
"Alika sssttt,,, udah yaa gak usah dibahas lagi masalah ini. Kakak suka ko kerja apapun selama kakak nyaman ngejalaninnya."
"Udab, biar gak tegang diminum dulu teh nya," ujar Asih yang dari tadi hanya diam.
"Tapi emang bener kak, ada yang namanya denda 500juta itu?"
"Jelas ada lah, kan saya bos nya, saya majikannya, saya yang terima dia kerja dirumah saya, jadi denda itu ada kalau saya yang bilang ada!" Daffa menjawab dengn cepat sebelum suaraku keluar dari mulutku.
"Oiya gimana nanti kalau Alika nginep disini aja, kamu kan tetep harus kerja, gak mungkin juga tinggal sama mas Faisal?" ucap Asih.
"Iya kak, boleh kan Lika nginep sini?" tanyanya mengarah kepadaku.
"Iya boleh dong, sekalian jagain mbak Asih, bantu dia pasti repot. Tapi sekolah kamu gimana?"
"Aku lagi libur semester kak, makanya aku bisa datang kesini, tadi udah ke rumah bude Sumi, lalu aku putusin jenguk kakak aja ke Jakarta."
"Daf,,, pulang yuk. Dari tadi mama kamu nelepon aku nih." ajak Delia.
"Jangan bohong kamu, kenapa juga nelepon ke kamu? Kan yang anaknya itu aku!"
"Ya sama aja kali, kan nanti aku juga bakal jadi anak mama kamu juga," jawaban dibarengi dengan kepalanya yang direbahkan ke pundak Daffa.
Entah kenapa aku yang persis berada di depan Daffa dan Delia menjadi kesal. Kok jadi kesel banget sih liat pasangan belom jadi ini? Aneh, gak mungkin gue mulai ada sesuatu kan? Atau ini hanya hormon hamil aja, apa ini hanya rasa yang di timbulkan dari bayi, yang kesel juga.
"dek, kamu juga kesel ya liat nya, jangan diliatin dek. Ayahmu itu emang ganjen, genit kalau ada perempuan cantik disebelahnya." batin Airin sembari mengelus perutnya.
"Ya sudah, saya pamit duluan kalau gitu. Nanti malam ada yang mau saya omongin Rin. Saya telepon kamu ya, boleh kan?" tanya Faisal lalu berpamitan dan keluar.
"Iya mas, silahkan. Aku tunggu teleponnya." aku pun entah kenapa mengikuti Faisal keluar dan malah jadi ikutan bersikap manja kepada Faisal dan itu dilihat Daffa yang dengan segera memberi jarak dengan nyelonong berdiri ditengah antara aku dan mas Faisal.
"Bukan muhrim, gak boleh deket-deket!!" ucap Daffa sambil nyengir tanpa dosa dan lengan ku pun ditarik agar berdiri di sampingnya.
********🌹🌹🌹🌹🌹**********
To be continue 😂
Cemburu bilang bos 😋😋😋
apa reaksi bapak Faisal jumpa dengan mantan istrinya dan apa sebenarnya niat Bu Widya mau jumpa ya
tp kok zaman dah modern gini masih aja ada hal² yg berbau nganu..
hmm 🚶♀️🚶♀️🚶♀️
wlopun cara itu diluar nalar sekalipun 🤦♀️
aduh Del, km ini wanita masa kini kok percaya hal kek gitu sih 😶
inget lho, nyawamu sndiri yg jd taruhannya itu..
smua masih abu².. aku nunggu jd merah muda dan biru aja deh 🚶♀️🚶♀️🚶♀️
km baik² aja kn?!
klo smpe terjadi sesuatu sm km kelak, apa Airin bakal kembali sm Daffa??
hmm, bolak balik dekok w mren ieu mh
kek nya 11 12 sm Delia..
apa mungkin Rachel yaa??
jadinya gini kan..
km sndiri yg tersiksa krna jelas² km yg berjuang sndiri
km hrus berusaha lebih keras lagi utk mencari Airin dan mendapat maaf darinya..
ehh ini Faisal sakit apa sih..
jgn bilang dia mengidap penyakit berbahaya yg mengancam nyawanya.. halahhh klo kek gitu, bisa jd angin segar buat Daffa..