NovelToon NovelToon
Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Chicklit / Tamat
Popularitas:269.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kim O

Ingatan akan hidup seorang wanita muda di masa lalu tiba-tiba menerpa Elena. Kisah cintanya dengan sang suami, kematian tragis mereka, hingga seucap janji yang diikrarkan sang wanita di detik-detik terakhir kematiannya, semua terekam jelas di memori gadis berusia 18 tahun itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Dan, apa yang akan Elena lakukan saat mengetahui, bahwa suami dari wanita yang ada dalam ingatannya tersebut, adalah kakaknya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Semua Terungkap.

Kabar mengenai kembalinya Elena membawa kegembiraan tersendiri, bukan hanya bagi keluarga Wileen, melainkan juga bagi seluruh karyawan dan jajaran direksi Wileen Group.

Seluruh rangkaian pemeriksaan medis telah dilalui Elena. Hasilnya, tidak ada satu pun kerusakan fatal pada tubuh gadis itu. Tulang kakinya pun kini telah pulih hampir enam puluh persen dalam waktu yang cukup singkat. Kesimpulan tunggal yang bisa diambil oleh Dokter James adalah, bahwa Elena memiliki sel regeneratif yang melampaui kemampuan manusia pada umumnya. Sebuah keajaiban yang mengguncang batas logika.

Kini, gadis itu sedang sibuk menjalani terapi fisik setiap hari di rumah sakit. Berjuang mengembalikan fungsi tubuhnya yang sempat lumpuh.

Samantha senantiasa menemani dalam pengharapan penuh sukacita. Luka yang dulu terkoyak secara perlahan ikut pulih, seiring dengan kesembuhan yang dicapai putri kecilnya.

Di lain sisi, luka dan ingatan masa lampau muncul, mengusik batin Elena. Sebuah mimpi yang semula dirasa hanya lah bunga tidur, datang menyentak.

Dalam satu waktu, Iris bahkan datang dalam mimpinya dan menceritakan segalanya.

Mereka adalah satu jiwa. Mereka adalah keterikatan janji dan kutukan dalam rentang masa.

Namun, fakta menyakitkan lain yang paling mengejutkan dari cerita Iris adalah, sosok Leon yang ternyata menjelma dan berenkarnasi menjadi Evans.

Jantung Elena sontak berdegup kencang. Kini, tak hanya ingatan mereka saja yang telah menyatu dan saling berbagi, tetapi juga perasaan mereka yang ada dan tumbuh bersemayam di sana.

Elena meringis sedih. Tuhan seakan tengah murka, dan mengutuk mereka untuk tetap menderita sampai akhir dunia.

“Leon…” desis Elena, pelan tapi menyakitkan. Airmata mengalir perlahan, membawa beban tersirat melekat.

Satu sisi ia ingin menepati janji yang dulu terucap di ambang kematiannya. Namun, dunia malah mempermainkan mereka, seolah memberi isyarat untuk melupakan segalanya.

...***...

Samantha yang harus menemani Simon dalam menghadiri undangan penting dari koleganya, terpaksa menitipkan Elena pada sang putra sulung.

Semula, Samantha merasa cemas, bila mengingat bagaimana sikap Evans pada Elena. Terlebih, ia pernah meninggalkan adiknya di bawah badai salju, bertahun-tahun yang lalu.

Namun, kecemasan itu hilang, ketika melihat perlakuan Evans selama Elena di rumah sakit. Pria itu sepertinya sedang berusaha menjadi seorang kakak yang baik pada adiknya.

Keharuan menyeruak jiwa Samantha.

"Good!" puji Mrs. Julia, terapis Elena yang kini tengah membimbingnya melakukan beberapa gerakan.

Elena meringis, tapi tetap terlihat tegar. Ia tak lagi menjerit saat kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, dan telah mampu duduk tegak tanpa bantuan.

Kaki Elena sendiri sebenarnya memang belum pulih benar. Namun, semua orang tahu, Elena akan mampu melewatinya.

Evans tersenyum kecil dari kejauhan. Sorot matanya tak sekadar memandang, tapi seolah menyentuh—lembut, dan penuh sesal. Ia melihat sosok Elena yang bertahan menahan sakit penuh ketegaran.

Sesi terapi selesai satu jam kemudian. Sikapnya mendadak kaku, begitu menyadari hanya ada Evans di ruangan tersebut.

Ini memang bukan pertama kalinya Evans menemani, tapi biasanya ada sang ibu yang turut berada di sana.

Kini, entah kenapa, setiap kali menatap Evans, wajah Leon selalu saja muncul. Dan setiap kali itu terjadi, Elena merasa dadanya terhantam karang.

"Sehari saja, izinkan aku menjadi Elena, bukan Iris," batin Elena getir.

"Ada apa, El?" tanya Evans. Alisnya sedikit mengernyit.

“Tidak apa-apa. Kalau Kakak mau pulang, pulang saja. Aku bisa sendiri,” jawab Elena datar, mencoba menjaga jarak.

Evans terdiam. Luka di hati gadis itu sepertinya belum sembuh, dan sikap dinginnya hanya menambah rasa bersalah di diri Evans.

Saat makan malam tiba, Evans dengan sabar membujuk Elena untuk mau makan dengan bantuannya. Namun, Elena menolak tegas. Ia baru mau menerima tawaran tersebut, ketika Evans mengancam akan menelepon orang tua mereka.

Setengah hati Elena menerim suapan demi suapan dari kakaknya. Jarak mereka yang dekat membuat aroma tubuh pria itu menyusup masuk ke dalam ingatan Elena.

Aroma yang sama dengan Leon.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Evans yang bingung dengan tatapan tajam Elena.

Elena menggeleng. Saat Evans menyeka sisa makanan di sudut bibirnya, gadis itu menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya yang telah memerah.

Ia mencengkeram erat selimutnya, guna mengusir perasaan Iris agar tidak menyelinap ke permukaan.

Namun, ia tahu, semua itu nampaknya percuma. Sebab kini hatinya telah dihuni oleh dua jiwa.

...***...

Meski seluruh ingatan masa lalunya telah kembali, Elena tak bisa semena-mena meninggalkan kehidupannya di sini, termasuk pada pria lain yang telah mengisi relungnya sejak lama, Albern.

Namun, cinta yang dulu pernah ia persembahkan sepenuh hati untuk Albern, terasa perlahan memudar. Elena menyadari, hatinya kini tak lagi menganggap pria itu sebagai tempat pulang.

Albern pun ternyata bisa merasakannya.

Entah bagaimana awalnya, tatapan Elena tak lagi sehangat lalu. Senyumnya pun tak lagi utuh.

Setiap kali ia menjenguk Elena di rumah sakit, gadis itu akan berlaku layaknya orang asing yang dingin, jauh, dan tidak tersentuh

Jenny, sahabat dekat Elena, pun menyadari perubahan itu. Namun, Elena memilih diam. Ia tahu, kisah ini tak mungkin diterima oleh logika siapa pun. Tidak sekarang.

Ia sendiri membutuh waktu untuk menerima dan berdamai. Dan untuk sekarang, ia hanya ingin sembuh.

Sembuh dari luka tubuh, dan jiwa yang tak bisa dilihat siapa pun.

1
MamDeyh
Gk paham knp Elena dibenci Evan
Nayla Nazafarin
bukannya tidak mendukung El..tp bca smpai sini dominan El yg gigih memperjuangkan janjinya di masa lalu..
Nayla Nazafarin
Evans..penakut sekali kau..
Thia Alyfia
cerita yg bagus bgt thor beneran menguras emosi&air mata bgt😭😭😭, moga adza ada cerita lanjutan season 2 ttg elena&leon
Darna Syukaira
Luar biasa
Nor Rahma Setyawan
bagus sekali
Hiatus: trmksh kk sdh mampir😍🤗😘❤️❤️
total 1 replies
Sinta Safira
mantaaaappp....
Hiatus: trmksh kk sdh bersedia mampir😭😍😘❤️❤️❤️
total 1 replies
Hiatus
❤️❤️❤️
ZhieLaa
kisah Elena dimasa lampau
ZhieLaa
aaah jadi kangen pariwisata jaman sekolah 😄
ZhieLaa
ooohhh terjawab sudah mereka bukan saudara kandung.
Hiatus: xixixi iya ka
total 1 replies
ZhieLaa
hahaha
ZhieLaa
mereka ini saudara Kandung bukan sih 😌
ZhieLaa
dikejauhan ada seseorang melihat mereka tanpa ekspresi 😂😂
ZhieLaa
kabuuuurr 😁
ZhieLaa
hobinya ketiduran 😂
ZhieLaa
masa lalu kah ini ??? ato di dunia berbeda ??
ZhieLaa: waAaah makin penasaran,,,suka kalo ada unsur fantasi2 nya 😍
total 2 replies
ZhieLaa
hibernasinya kurang jauh sekalian ke kutub utara 😂
Hiatus: 😂😂😂😂😂
total 1 replies
ZhieLaa
wkwkwkwkw tertidur dlm kelas
Hiatus: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ZhieLaa
baru mampir di karya ini 😍
ZhieLaa: 😍 siaaap
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!