NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 025

Bekas Gigitan

Jari-jarinya gemetar di genggaman Sekar.

Bukan karena dingin saja. Sekar bisa merasakannya, seluruh tubuh Kevin sedang menahan dorongan untuk menarik diri, tetapi ia memilih diam, memilih membiarkan Sekar menentukan tanda pertama yang benar-benar tidak bisa ia pura-pura tidak lihat.

Sekar menunduk pada punggung tangan Kevin.

Kulit di sana basah oleh hujan. Ada lecet tipis di dekat buku jari, bukan di tempat yang ia pegang. Tangan ini pernah menulis surat cinta tiga kalimat dengan tulisan miring. Tangan ini pernah menggenggam tangannya sampai gerbang rumah. Tangan ini tadi menariknya dari jalan licin sebelum ia jatuh.

Tangan ini juga tangan yang selalu Kevin pakai untuk mendorong dirinya sendiri pergi.

"Aku tidak akan melukai lukamu," kata Sekar pelan.

Kevin menatapnya, bingung dan tegang. "Terus lo mau apa?"

"Memberi tanda."

"Sekar."

"Kalau sakit, bilang."

"Apa maksudnya kalau sakit, bilang?"

Sekar tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia mendekatkan punggung tangan Kevin ke bibirnya, lalu menggigit.

Tidak keras sampai merobek kulit. Tidak sembarangan. Tapi cukup kuat untuk membuat Kevin tersentak, cukup nyata untuk meninggalkan lingkaran kecil bekas gigi di kulitnya.

"Ssh." Kevin menghirup napas tajam.

Sekar segera melepas.

Matanya naik mencari wajah Kevin. "Sakit?"

Kevin masih membeku. Ia melihat punggung tangannya, melihat bekas merah yang perlahan muncul di antara air hujan. Rahangnya bergerak sekali. Dua kali.

Lalu ia tertawa.

Bukan tawa mengejek. Bukan tawa pahit.

Tawa kecil yang patah, basah, hampir berubah menjadi tangis.

"Lo gigit gue," katanya, seolah baru bisa memahami kenyataan itu.

Sekar mengangguk serius. "Iya."

"Di tangan."

"Iya."

"Di tengah hujan."

"Iya."

"Setelah gue hampir putusin lo."

"Karena itu."

Kevin menatapnya.

Sekar memegang punggung tangan itu dengan kedua tangannya. "Nanti, kalau kamu mulai berpikir kamu kotor, lihat ini. Kalau kamu pikir aku akan pergi, lihat ini. Kalau kamu pikir semua orang pasti melepasmu, lihat ini."

Bekas merah itu makin jelas.

"Aku yang membuatnya," lanjut Sekar. "Aku yang memilih meninggalkannya. Jadi kalau suatu hari kamu ingin menghapusku dari hidupmu, kamu harus melihat dulu bahwa aku pernah menandai tangan yang kamu pakai untuk mendorongku pergi."

Kevin tidak bicara.

Hujan turun lebih deras, tetapi di bawah kanopi sempit itu, dunia mendadak seperti menahan napas.

Sekar mengira Kevin akan marah. Atau menertawakan caranya yang aneh. Atau menarik tangan dan kembali menyuruhnya pulang.

Namun Kevin justru menutup wajahnya dengan tangan yang lain.

Bahunya bergetar.

"Kev?"

"Gue nggak tahu harus gimana," katanya dari balik tangan. Suaranya pecah. "Gue beneran nggak tahu."

Sekar mendekat dan memegang pergelangan tangannya. "Tidak apa-apa."

"Gue tadi nyuruh lo berhenti jadi pacar gue."

"Aku dengar."

"Gue jahat."

"Kamu takut."

"Gue bikin lo nangis."

"Iya."

Kevin menurunkan tangan. Matanya merah, wajahnya basah, seluruh sikap galaknya habis tak bersisa. "Maaf."

Sekar menatapnya lama.

Kata itu bukan penyelesaian semua luka. Tidak bisa menghapus Polsek, hujan, kalimat putus yang masih terasa sakit. Tetapi dari mulut Kevin, malam ini, kata itu seperti pintu kecil yang akhirnya terbuka dari dalam.

"Jangan bilang itu lagi," kata Sekar.

"Maaf?"

"Bukan. Yang tadi."

Kevin mengerti.

Ia menunduk, melihat bekas gigitan di tangannya.

"Gue..." Suaranya serak. "Gue nggak janji bakal langsung bisa nggak takut."

"Aku tidak meminta itu."

"Gue mungkin masih panik."

"Aku tahu."

"Mungkin gue masih dorong lo pergi kalau gue merasa gue bakal nyakitin lo."

"Kalau begitu aku akan gigit lagi."

Kevin terdiam.

Lalu, untuk pertama kali sejak malam dimulai, sudut bibirnya bergerak sedikit. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat. Tetapi Sekar melihatnya.

"Sadis juga lo," gumamnya.

"Baru tahu?"

"Gue kira lo lembut."

"Aku lembut pada orang yang tidak berusaha kabur di tengah hujan."

Kevin menatapnya, dan senyum kecil itu hilang lagi, digantikan sesuatu yang lebih rapuh.

"Gue nggak mau kabur dari lo."

Sekar menahan napas.

"Tadi gue pikir kalau gue pergi duluan, lo nggak perlu lihat seberapa buruk gue," lanjut Kevin. "Tapi waktu lo lari, waktu lo hampir jatuh, gue sadar... gue bahkan nggak sanggup lihat lo sakit karena jalan licin. Apalagi karena gue."

Sekar mengangkat tangan, menyentuh ujung lengan bajunya.

"Aku sudah bilang. Kalau sakit, kita bicara. Kalau takut, kita berhenti sebentar. Tapi jangan memutuskan sendirian."

"Kalau gue lupa?"

Sekar mengangkat punggung tangan Kevin yang bertanda. "Ini pengingatmu."

Kevin memandang bekas itu seperti benda paling asing sekaligus paling berharga yang pernah ia punya.

"Kalau gue tetap takut?" tanyanya.

"Pegang aku."

Kevin terdiam.

Sekar membuka kedua tangannya sedikit, bukan memaksa, hanya memberi tempat. Hujan masih turun di belakangnya. Rambutnya basah, bibirnya pucat, seragamnya menempel dingin di tubuh. Ia tampak rapuh dalam ukuran badan, tetapi matanya tidak goyah sedikit pun.

Kevin menatap ruang kecil di antara mereka seolah itu jurang.

"Gue basah," katanya bodoh.

"Aku juga."

"Gue bau hujan sama darah."

"Aku juga bau hujan."

"Gue..."

"Kev."

Satu panggilan itu cukup.

Kevin maju.

Awalnya hanya dahinya yang menyentuh bahu Sekar, ragu dan berat. Lalu tangannya naik, berhenti di udara, seakan meminta izin tanpa kata. Sekar menjawab dengan melingkarkan kedua lengannya ke punggungnya.

Kevin roboh ke dalam pelukan itu.

Bukan jatuh yang membuat Sekar kehilangan keseimbangan, melainkan jatuhnya orang yang akhirnya berhenti melawan. Tubuhnya menegang beberapa detik, lalu seluruh napasnya pecah di dekat leher Sekar. Ia memeluknya erat, sangat erat, seperti takut hujan akan mencuri Sekar kalau ia longgar sedikit saja.

Sekar menggenggam bagian belakang jaketnya.

"Aku di sini," bisiknya.

Kevin tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali di bahunya.

"Aku di sini," ulang Sekar, lebih pelan. "Dan besok, kalau kamu takut lagi, aku tetap di sini."

Lengan Kevin makin erat.

"Jangan janji terlalu gampang," gumamnya.

"Aku tidak sedang gampang-gampang."

"Kalau gue susah banget?"

"Aku sudah tahu."

Kevin mengeluarkan suara kecil, antara tawa dan tangis. "Lo belum tahu setengahnya."

"Kalau begitu kasih tahu pelan-pelan."

Untuk beberapa detik, hanya ada suara hujan, napas mereka, dan jantung Kevin yang berdegup cepat di bawah telapak tangan Sekar. Ia tidak lagi menyuruh Sekar pergi. Ia tidak lagi menutup wajah. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan dirinya dipeluk.

Dari arah jalan, suara Bryan terdengar ragu. "Kak Sekar? Bro? Kalian... masih hidup, kan?"

Sekar menoleh sedikit.

Bryan berdiri di bawah payung bersama Pak Arief. Wajahnya antara cemas dan ingin tahu. Bu Wati di belakangnya memegang ponsel, mungkin siap menelepon siapa pun kalau dua anak itu pingsan karena hujan.

Kevin langsung mengusap wajah, mencoba menyusun kembali ekspresi. Gagal total.

"Hidup," jawab Sekar.

Bryan menyipitkan mata. "Kenapa tangan lo dipegang begitu?"

Kevin refleks menarik tangan ke dada.

Terlambat.

Bryan sudah melihat bekas merah itu.

Mulutnya terbuka. "Kak Sekar... lo gigit dia?"

Sekar tidak menjawab.

Kevin, dengan suara serak yang masih basah, berkata, "Urusan gue."

Bryan menatapnya tiga detik, lalu mendengus. "Oke. Selama bukan gue yang digigit."

Pak Arief menghela napas panjang, seperti baru saja memutuskan untuk tidak memahami terlalu detail urusan remaja di bawah hujan. "Sudah. Kalian berdua masuk ke mobil. Sekar bisa sakit kalau terus basah."

Bu Wati menambahkan dari belakang, "Kevin juga. Jangan sok kuat."

Kevin berdiri perlahan. Sekar ikut berdiri, tetapi setelah berjongkok terlalu lama dan kehujanan, kakinya sedikit lemas.

Kevin langsung menangkap sikunya.

Gerakannya cepat, tetapi kali ini ia tidak melepaskan.

Sekar menatap tangan di sikunya.

Kevin melihat arah pandangnya, lalu berkata kaku, "Jangan salah paham. Lo mau jatuh."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Mata lo bilang."

"Mataku bilang terima kasih."

Kevin tidak punya jawaban untuk itu.

Mereka berjalan kembali ke arah Polsek dengan payung Bryan yang akhirnya dipakai Sekar, sementara Kevin tetap setengah basah di sampingnya. Bryan beberapa kali melirik bekas gigitan Kevin, lalu melirik Sekar, jelas menahan komentar sampai rahangnya sakit.

Di dekat gerbang, Pak Arief menyerahkan handuk kecil dari mobilnya.

"Lap rambutmu," katanya pada Kevin. "Dan besok, kita bicara di sekolah. Bukan untuk menghukummu. Untuk memastikan kamu tidak menghadapi hal seperti ini sendiri lagi."

Kevin memegang handuk itu.

Biasanya ia akan menolak.

Malam ini, ia hanya mengangguk kecil. "Iya, Pak."

Bu Wati menatap Sekar. "Kamu pulang dengan saya. Kevin ikut Pak Arief. Bryan dengan Steven nanti, dia sudah di depan."

Sekar menoleh ke Kevin.

Kevin langsung tahu apa yang ia takutkan.

Ia mengangkat punggung tangan yang bertanda, canggung, seolah menunjukkan bukti kepada petugas. "Gue nggak kabur."

Sekar menatapnya.

"Janji?"

Kevin tidak langsung menjawab. Ia melihat bekas gigitan itu lagi. Merah, jelas, sedikit bengkak, tidak bisa disembunyikan dari dirinya sendiri.

"Janji," katanya.

Sekar akhirnya melepaskan napas yang sejak tadi tertahan.

Mereka berdiri beberapa detik di bawah hujan yang mulai melemah. Tidak ada pelukan besar di depan guru, tidak ada kata-kata dramatis lagi. Hanya Kevin yang perlahan mengulurkan tangan, ragu seolah takut ditolak, lalu menyentuh ujung jari Sekar.

Sekar menyambutnya.

Genggaman itu pendek. Hanya beberapa detik sebelum Bu Wati memanggil lagi.

Namun bagi Kevin, beberapa detik itu cukup untuk membuktikan bahwa setelah semua kalimat buruk, setelah ia menyuruhnya pergi, Sekar masih menggenggam balik.

Sebelum mereka berpisah ke mobil masing-masing, Sekar menatap punggung tangannya sekali lagi.

Bekas gigi itu masih di sana.

"Sakit?" tanyanya lirih.

Kevin menunduk melihatnya.

Lalu ia mengangkat mata, dan di tengah wajah yang masih pucat, ada ketenangan kecil yang baru pertama kali Sekar lihat malam itu.

"Nggak," katanya. "Kamu yang gigit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!