Haiii semua..ini karya ketiga yang aku buat..semoga kalian suka dengan karya yang aku buat ini..
Percayakah kalian dengan adanya cinta sejati??
Gadis cantik bernama Diandra mempercayainya. Berawal saat dirinya dan kedua orang tuanya pergi ke pasar malam, ia bertemu dengan anak lelaki tampan belasan tahun lalu.
Keduanya berdiri disebuah stan yang menawarkan ramalan dengan sebuah kartu.
Tangan mungil kedua bocah itu menyentuh satu kartu bersamaan.
"Kalian akan bersama selamanya.." Anak lelaki itu membacanya disamping gadis cilik yang menampakkan senyumnya.
"Apakah itu artinya kita akan selalu bersama?".
"Hmm..Sepertinya begitu". Si anak lelaki menjawabnya dengan senyuman.
Akankah takdir membawa mereka bersama? Benarkah adanya cinta sejati itu?? Akankah mereka hidup bahagia bersama? Atau justru berakhir sebuah perpisahan?
Tak ada yang tahu takdir mana yang akan mereka tempuh kedepannya. Mereka hanya sepasang anak kecil yang belum memahami apa arti kata cinta sejati, dan apa maksud bersama selamanya itu.
Ikuti terus kelanjutan kisah mereka..dukung terus karya aku ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sopir istimewa
Diandra baru saja menutup telponnya saat pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Masuk mbok.."
"Makan malamnya sudah siap non.." Mbok Tun tersenyum lembut, semakin hari anak majikannya itu semakin terlihat ceria.
"Makasih mbok..sebentar lagi aku turun". Mbok Tun mengangguk dan undur diri. Dalam hati ia selalu mendoakan kebahagiaan gadis baik hati itu.
Diandra kembali tersenyum mengingat undangan bercampur ancaman yang Naya ucapkan padanya beberapa menit lalu itu. Ia menggelengkan kepalanya ketika mengingatnya.
" Ini undangan spesial ya..calon pengantinnya sendiri yang ngingetin. Kalo kamu nyampe nggak dateng..aku pecat kamu jadi sahabat baik aku. Bawa juga anak kamu..awas kalo lupa". Diandra menirukan apa yang Naya ucapkan di telpon tadi, bahkan Diandra sampai hafal dengan nada bicara Naya karena temannya itu mengulangnya berkali-kali.
"Mana mungkin aku lupa Nay..aku hampir meregang nyawa hanya agar bisa menghadiri pernikahanmu dengan tenang". Gumam Diandra tersenyum sendiri.
" Astaga..sepertinya aku gila. Bahkan aku melupakan Gaara". Tiba-tiba Diandra menepuk keningnya ketika mengingat putranya. Terlalu larut memikirkan ucapan Abi membuatnya melupakan putranya.
"Ya Allah..Diandra. Kamu mama macam apa sih". Umpat Diandra pada dirinya sendiri sambil berkali-kali memukul keningnya.
Ia segera keluar dari kamarnya dan berlari menuruni tangga. Senyum nya langsung mengembang melihat putranya masih digendong mama Dita. Namun karena kurang hati-hati, kakinya terpeleset saat berada ditangga keempat. Beruntung Abi datang tepat waktu dan menarik tangannya hingga Diandra tidak jatuh.
Tubuh keduanya menempel sempurna, Diandra berharap Abi tidak mendengar detak jantungnya yang berdentam keras karena posisinya yang amat intim dengan Abi. Perasaan itu masih ada, perasaan cinta yang tersimpan rapi selama belasan tahun itu masih ada didalam hati Diandra. Namun coba ditutupi dengan sikap dingin Diandra. Semua itu Diandra lakukan untuk melindungi hatinya dari rasa sakit.
" Berhati-hatilah Di.." Diandra tersadar dan segera melepaskan diri. Ia yakin saat ini wajahnya pasti memerah.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Diandra berlalu dan menghampiri sang mama yang terlihat menahan senyuman. Ia segera meraih tubuh Gaara namun mama melarangnya.
"Kamu makan dulu aja sayang..mumpung Gaara anteng sama mama". Diandra yang masih malu memilih menuruti perintah sang mama. Ia ingin segera ke kamar dan mengunci dirinya.
" Hati-hati nak..kenapa buru-buru". Papa Herman mengulurkan air putih, sementara Abi menepuk pelan punggung Diandra yang tersedak karena makan terlalu cepat.
"Tidak ada yang minta makananmu, Di.." Diandra melengos melihat Abi tersenyum, membuat lelaki itu semakin tampan. Aih..Diandra benci mengakuinya. Karena memang benar adanya jika Abi semakin terlihat tampan saat tersenyum.
"Aku sudah selesai.." Diandra menenggak habis air putihnya dan segera bangkit menghampiri mama Dita.
"Ayo sayang..oma harus makan. Gaara sama mama.." Mama Dita tersenyum dan menyerahkan Gaara. Diandra adalah putrinya, terlepas dari kebencian dan kekecewaan anaknya terhadap dirinya. Ia tahu pasti jika Diandra masih memiliki perasaan pada menantunya. Hanya putrinya itu mencoba menutupinya dengan bersikap dingin dan ketus.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Diandra membawa Gaara ke kamarnya dan mengurung dirinya didalam kamar. Ia meraba dadanya, detakan jantungnya masih seperti tadi saat berada dekat dengan Abi.
Apa selemah inikah dirinya?? Bahkan membuang perasaan cintanya saja ia belum mampu. Apa yang harus ia lakukan untuk melindungi hatinya??
"Bersabarlah nak..mama yakin kamu akan bisa meluluhkan Diandra.." mama Dita tahu jika menantunya merasa tersiksa, karena dari semua orang hanya dirinya yang masih terlalu jauh dengan Diandra. Diandra membangun tembok yang terlalu kokoh jika dengan dirinya, hingga rasanya sulit untuk bisa merobohkannya. Jangakan merobohkannya, untuk memanjatnya saja seperti banyak rintangan yang disiapkan Diandra.
"Sepertinya sulit ma..mungkin Abi harus terima seperti ini. Kesalahan Abi terlalu besar untuk dimaafkan.." Abi terlihat lesu, bahkan makanan dipiringnya hanya dimainkan setelah kepergian Diandra.
"Dia putri mama. Mama yang melahirkannya..mama tahu walaupun dia tidak mengatakan apapun.." Abi mengangkat kepalanya, menatap mama mertuanya yang tersenyum padanya.
"Apa maksud mama??".>Tanya Abi yang membuat papa Herman terkekeh pelan.
" Memang kamu pikir kenapa Diandra makan buru-buru sampe keselek?". Tanya Papa Herman dijawab gelengan kepala oleh Abi.
"Untuk menghindariku..mungkin". Cicit Abi membuat kedua mertuanya menggeleng.
" Dia malu karena hampir terjatuh dan kamu lah yang menolong. Kamu tidak lihat wajahnya yang tadi memerah?? ". Abi kembali menggeleng. Fokusnya hanya menolong Diandra, dan memastikan istrinya baik-baik saja.
" Percayalah..dia juga masih menyayangimu nak. Lebih berjuanglah.." papa Herman menepuk pundak menantunya yang nampak berpikir keras.
####////####
"Mama nggak ketemu Gaara berapa hari dong??". Mama Dita sedang berada didalam kamar Diandra. Hari ini Diandra akan pergi ke rumah Naya sebelum esok hari temannya itu melaksanakan pernikahannya.
" Hanya dua hari.." Jelas Diandra yang masih sibuk memeriksa isi koper miliknya dan Gaara.
"Kamu mau pergi sama mama ya..oma nya ditinggal??". Mama Dita seolah enggan melepas cucunya.
" Oma pasti kangen banget deh.." Gaara hanya tersenyum melihat wajah neneknya. Jelas bocah itu belum memahami apa yang diucapkan sang nenek.
"Ihh..makin ganteng loh kalo senyum". Mama Dita tidak tahan untuk tidak mencium wajah Gaara.
" Kamu pergi jam berapa sayang??". Mama Dita tidak peduli jika Diandra masih membencinya, namun mama Dita berusaha mengikis jarak yang Diandra ciptakan dengan bersikap seperti dahulu sebelum ada kejadian pahit yang memporak porandakan keluarganya.
"Sebentar lagi.." Mama Dita melirik jam dikamar anaknya. Jam menunjukkan pukul 09 pagi. Perjalanan dengan mobil memakan waktu hampir 4jam.
"Pak Salim akan mengantarku.." Diandra tahu kekhawatiran ibunya. Ia menjelaskan sebelum sang mama bertanya.
"Semua sudah kamu periksa??". Tanya Mama Dita memastikan dan dijawab anggukan kepala anaknya.
" Aku akan mandi dan bersiap dulu..bisa titip Gaara sama mama?". Mama Dita mengangguk cepat.
"Mama bawa keluar ya..papa juga diluar". Diandra mengangguk saja dan masuk kedalam kamar mandi.
" Kamu mau kemana, Bi?". Tanya papa Herman saat melihat Abi menggeret koper kecilnya.
"Mengantar Diandra, pa". Mama Dita yang baru sampai ruang keluarga segera menghampiri menantunya.
" Kata Diandra diantar pak Salim.. "
"Aku yang akan mengantarnya, ma. Lagipula aku juga mendapat undangan dari pak Yohan..Aku akan menjadi sopir istimewa untuk nya hari ini dan besok." Mama mengangguk, ia lebih tenang jika Abi yang mengantar.
Abi memasukkan kopernya kebagasi mobil, pun dengan koper Diandra yang sudah ia ambil dikamar istrinya itu.
"Koper aku udah dimasukin ya?".
" Udah sayang.." Sahut mama Dita.
"Aku pergi dulu ma.."
"Ayo sayang..biar nggak sore nyampe sana nya". Diandra mengambil alih tubuh Gaara, kemudian menyalami kedua orang tuanya.
" Hati-hati dijalan sayang..nanti kabarin ya". Diandra mengangguk dan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.
"Ayo pak.." Diandra masuk kedalam mobil dan duduk dikursi belakang tanpa melihat siapa yang berada dibalik kemudi.
Diandra terus mengajak Gaara berbicara hingga bayi itu tertidur karena lelah. Mobil sudah berjalan selama setengah jam dan Diandra masih tidak menyadari siapa yang menjadi sopirnya.
"Pak Salim..kalo ada rest area kita berhenti dulu ya. Popok Gaara udah penuh.. aku mau ganti dulu". Tidak ada jawaban, hanya anggukan kepala saja. Tidak seperti pak Salim biasanya, batin Diandra.
Tepat di rest area, supir yang Diandra kira pak Salim membelokkan mobilnya. Tak membuang waktu, Diandra segera mengganti popok Gaara.
" Kita jalan lagi pak.." Ucap Diandra saat selesai mengganti popok putra kecilnya.
"Kamu?!!". Diandra terkejut melihat siapa yang berada dibalik kemudi. Matanya melebar sempurna melihat sosok Abi yang tersenyum hangat padanya.
" Oke nyonya Argantara.. kita jalan lagi". Diandra kehabisan kata-kata, harusnya ia tahu jika yang menjadi sopirnya sejak tadi bukan pak Salim. Kini dirinya terjebak dengan Abi diperjalanan yang cukup panjang ini.
😭😭😭
saat ada wanita lain mengajak suami kita, jalan berduaan, mengatakan cinta, ajak suami kita nikah dan suruh bercerai dengan kita, bahkan pelukan, apa tanggapan kalian
jawabannya kita pasti sepakat wanita itu pelakor murahan kayak jalang, wanita menjijikan dan pantas dibinasakan, tidak boleh diperlakukan lembut, dan jika suami kita merespon dengan lembut kita juga pasti sepakat suami kita salah besar,
pahamkan maksudnya thor
jika kita sepaham dengan dia atas
lalu kenapa kelakuan panca yang mengajak diandra ketemua, ajak menikah, suruh bercerai, malah dianggap benar, panca diperlakukan lembut, cinta dibilang tulus, dianggap lelaki sejati, dan diandra malah merespon dengan baik2 dan malah diakhiri dengan pelukan
kalian tau tidak respon wanita/istri baik dan setia mereka akan meresa dihina dan direndahkan jika ada lelaki lain dengan enteng menyuruh cerai dan menikah dengannya, mereka akan marah kalau ada lelaki lain menjelekkan suaminya dan sok tau tentang rumah tangganya,
tapi beda dengan pemikiran wanita jablay dan kesetiaan nya secuil tau cicak, mereka akan kebaperan kalau ada lelaki lain yang bilang cinta dan ngajak nikah dan suruh cerai dengan suaminya, wanita dengan pikiran seperti ini tidak layak diperjuangkan
sampai disini pahamkan wahai pemuja pebinor
apakah kalian (novelis) sadar kalian melakukan kesalahan fatal
panca menyuruh istri orang cerai, ngajak selingkuh dan menikah, apakah ini pantas dan bukan kesalahan
tapi aneh kelakuan menjijikan panca kalian bilang cinta tulus dimana otak kalian (novelis) malah panca kalian perlakukan lembut karena kalian anggap cinta tulus
memang udah rusak otak wanita2 sekarang masa kelakuan menjijikan panca dianggap tulus,
coba pakai otak kalian jika ada wanita lain mengajak suami kalian menikah dan suruh cerai dengan kalian, apakah wanita itu juga tulus??? pakai otak kalian
sampai disini pahamkan
tapi berbanding terbalik saat lain ingin merebut suami orang langsung dicap pelakor dan wanita murahan, dilaknat dan diperlakukan kasar
kalian wanita sehat kan dalam berfikir????