Menceritakan seorang gadis bernama Alisya yang begitu menyukai seorang cowok bernama Adrian secara diam-diam. Adrian sendiri tentu sudah memiliki kekasih bernama Tania.
Hingga Alisya mendapat kabar jika kedua orangtua mereka berdua akan menjodohkan mereka berdua dan menginginkan mereka segera menikah. Namun, dalam pernikahan itu hanya Adrian yang tak bahagia. Dikarenakan Adrian masih mencintai cinta pertamanya yaitu Tania..
Bagaimana dengan biduk rumah tangga yang hanya diisi rasa cinta sepihak dari Alisya? dan Apakah Adrian akan membuka hatinya untuk Alisya?
Bagi yang Penasaran silakan dibaca😁
Karena Saya masih seorang penulis pemula.. maaf jika banyak typo yang bertebaran di karya saya ini. Dan harapan saya sebagai penulis, saya harap kalian para pembaca menyukai karya saya ini. terima kasih😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Bunga yang sedari tadi memerhatikan Alisya yang nampak terlihat sendu akhirnya bertanya.
“Kamu kenapa Al?” tanya Bunga.
Alisya yang sedari tadi hanya memperhatikan jalan di luar kaca mobil kemudian menoleh e arah Bunga yang sedang menatapnya khawatir.
“Aku gak apa-apa.” Kata Alisya meyakinkan Bunga.
“Serius kamu gak apa-apa? Kamu dari tadi diam saja. Raut wajahmu terlihat sedih gitu. Sebenarnya ada apa Al?” tanya Bunga lagi yang terlihat khawatir dengan sahabatnya.
“Aku gak apa-apa Bunga.” Jawab Alisya sekali lagi meyakinkan Bunga dan tak lupa menunjukan senyuman manis seakan senyum itu menjadi tanda bahwa dirinya terlihat baik-baik saja.
Bunga yang melihat senyuman manis Alisya juga ikut tersenyum hatinya lega jika sahabatnya itu baik-baik saja. Namun tetap saja karena persahabatan mereka yang sudah terjalin lama Bunga sudah tahu persis sikap sahabatnya itu. Ada sesuatu yang sahabatnya sembunyikan padanya. Namun bunga tak ingin bertanya banyak yang penting sahabatnya terlihat baik-baik saja itu sudah cukup.
Adrian hanya duduk sendiri di cafe, dia memerhatikan ponselnya. Di layar ponsel terdapat foto seorang gadis dengan memperlihatkan senyuman manisnya. Memandangi foto itu, membuat Adrian merasakan rasa rindu yang teramat dalam kepada gadis yang ada difoto itu. sambil meminum kopi bayangan akan kenangan bersama Tania kembali bersua di otaknya. Adrian sangat merindukan Tania. Semenjak kelulusan Tania, gadis itu sudah tak pernah menghubunginya lagi hingga sekarang. Bahkan usaha yang dilakukan Adrian pun tak membuahkan hasil agar dirinya bisa kembali bertemu dengan Tania. Di cafe ini serta sebuah kopi yang sudah ada di meja menjadikan saksi kerinduan Adrian terhadap Tania yang belum bisa terobati.
Alisya dan Bunga sudah samai di Mall, Daffa sudah menunggu mereka berdua. Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam Mall. Mereka berkeliling Mall, sesekali membeli jajanan atau minuman untuk menemani. Tak lupa momen pertemuan mereka juga diabadikan dengan ponsel masing-masing. Terlihat jelas raut wajah bahagia dari ketiga orang itu. bahkan Alisya yang tadinya bersedih akan sikap suaminya menjadi lupa tentang kesedihan. Daffa yang sedari tadi memperhatikan gadis pujaan itu tersenyum dikala gadis itu menunjukan wajah riangnya.
“Aku ingin kamu tetap seperti ini Alisya.” Kata Daffa dalam hati.
Alisya pulang ke rumah, senyuman manis masih terlukis diwajahnya. Pertemuan tadi mengundang kebahagiaan bagi Alisya. Saat Alisya masuk kedalam dan hendak menaiki tangga terdengar suara dari arah belakang.
“Udah puas berpacaran tadi!” kata Adrian tangan dilipat ke dada dan matanya menatap tajam ke arah Alisya.
Mendengar perkataan itu Alisya membalikkan badannya ke arah sumber suara. Nampak Adrian menatapnya tajam.
“Maksud kamu apa?” tanya Alisya yang tak paham.
“Jangan sok berlaga kagak paham deh! Kamu pacaran kan sama dia!” bentak Adrian.
Mendapat tuduhan serta bentakan dari Adrian membuat Alisya merasa kesal.
“Kalau iya kenapa? kamu marah?” teriak Alisya.
Melihat Alisya berkata seperti membuat adrian geram, matanya menatap tajam gadis yang di depannya itu.
“Kamu!’ bentak Adrian dengan menahan kepalan tangannya.
Ditarik tangan Alisya dengan kuat dan mendorongnya ke dinding. Tangan kiri adrian menahan dinding sedangkan tangan kanan meremas pipi Alisya agar kepala Alisya menghadap ke atas.
“Berani-beraninya kamu membentak suami, hah!” Teriak Adrian tepat di muka Alisya.
Alisya tak tahan dengan perlakuan Adrian kepadanya, ditarik kuat tangan Adrian hingga Adrian melepaskan. Alisya merasakan sakit di kedua pipinya. Dalam hati Alisya dia tidak akan takut dengan amarahnya Adrian.
“Suami? Ck. Masih pantas kamu jadi suami, hmm? Aku sebagai istri saja tak dianggap, lalu kamu mau aku menganggap kamu suami? Itu gak akan mungkin terjadi.’ Kata Alisya
Alisya mendorong kuat Adrian hingga dirinya terlepas dari Adrian. Alisya segera pergi dari situ dan menuju kamarnya. Di kamar Alisya menangis karena perlakuan kasar Adrian kepadanya.
Sedangkan Adrian hanya terdiam, seolah mencerna kembali perkataan Alisya barusan. Ada benarnya dibalik kalimat-kalimat yang dilontarkan Alisya. Selama menjalani biduk rumah tangga Adrian tak segan bertindak kasar terhadap Alisya. Semua itu dilakukan dengan alasan benci terhadap gadis itu dan menganggap jika Alisya penyebab hubungan Adrian dan Tania berakhir.
Di kamar, Alisya terus menangis. Begini biduk rumah tangga yang Alisya rasakan. Alisya hanya bisa bersabar akan sikap Adrian. Meski mereka berdua tinggal di rumah orang tua Adrian, orang tua Adrian tidak selalu ada di rumah. Hal itulah yang membuat Adrian terkadang memperlakukan Alisya dengan kasar.
Alisya yang semalam menangis tak sengaja tertidur di kasur yang Adrian tempati. Sedangkan Adrian memilih tidur di sofa, karena semalam saat Adrian hendak tidur di kamar. Adrian melihat Alisya tertidur di kasurnya dan terlihat jelas air mata mengalir di pipi gadis. Pagi ini Adrian sudah bangun dari tidurnya, tetapi dia tak bisa tidur semalaman karena sofa yang ditidurinya ukuran kecil tak sama dengan kasurnya. Adrian masuk ke dalam kamar, dilihat Alisya masih tertidur mengenakan pakaian seragam sekolahnya kemarin. Adrin pelan-pelan membuka lemari mengambil pakaian sekolahnya dan juga tas. Segera dia keluar dari kamar.
Alisya membuka matanya, dirinya begitu kaget melihat badannya masih mengenakan seragam sekolah. Diingat kembali kejadian semalam, karena menangis dia tertidur di kasur yang seharusnya ditiduri oleh Adrian. Dilirik jam di ponselnya, Alisya segera bangun dari kasur dan segera mandi. Di kamar mandi dia memikirkan Adrian yang semalam tidur dimana. Soalnya semalaman Alisya tidur di kasur. Tidak mungkin jika lelaki itu tidur dengan, pikir Alisya. Beruntung Alisya mempunyai dua seragam sekolah, jadi dia mengganti seragam baru tanpa harus memakai kembali seragam yang sudah di pakainya kemarin.
Alisya keluar dan seperti biasa menuju ke dapur untuk sarapan. Di sana sudah ada Adrian yang sudah terlihat rapi. Alisya duduk disampingnya, Alisya memilih tak mau bertanya banyak tentang semalam Adrian tidur dimana. Karena pertengkaran semalam masih menyisakan luka di hatinya.
Adrian nampak masa bodoh dengan Alisya yang berada disampingnya. Adrian segera mengambil tas sekolah dan berangkat sekolah tanpa banyak bicara bahkan tak menunggu Alisya untuk berangkat bersama. Alisya yang menyadari hal itu, hanya terdiam. Tidak seperti kemarin yang kesal karena Adrian meninggalkannya. Kali ini Alisya memilih diam, seolah tak lagi memperdulikan sikap Adrian itu. Melalui pertengkaran semalam membuat Alisya sadar, bahwa Alisya sudah capek dengan semua sikap Adrian.
Alisya berangkat sekolah menggunakan taksi. Alisya menuju ke kelas, biasanya sudah ada Bunga di ruangan tetapi hari ini Bunga nampak belum datang. Alisya duduk terdiam di dalam kelas. Memori akan sikap Adrian padanya dari sebelum nikah dan setelah menikah kembali teringat. Sikap Adrian masih sama, cuek bahkan sesekali kasar kepadanya. Sikap Adrian inilah yang awalnya Alisya ingin terus berjuang hingga dia memilih untuk mengakhiri semuanya. Tanpa sadar air mata Alisya menetes. Menangisi dirinya yang begitu bodoh memperjuangkan cintanya namun tidak ada balasan yang dia rasakan. Adrian masih tetap dengan sikapnya yang dulu.