NovelToon NovelToon
Trauma

Trauma

Status: tamat
Genre:Teen / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pyrus

Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.

Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.

Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.

Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.

Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi

“Kok baru pulang bang, tadi mamah sama papah nyari abang, Lana kirim pesan ngga abang baca.” Kata Lana saat mendapati Deni baru pulang. Lana sengaja tidak menutup pintu kamarnya sehingga saat Deni pulang dia akan tahu.

Malam ini Deni pulang dengan wajah yang sendu. Membuat Lana menduga bahwa dia sedang ada masalah dengan Sintya. “Kenapa bang, sedih banget kayaknya?”

Seharusnya Deni tak lemah seperti ini apalagi dihadapan adeknya. Entah mengapa kali ini firasatnya amat sedih mengingat Faiz. Perasaan takut kehilangan sahabatnya begitu besar. Dulu saat Faiz mengalami kecelakaan dia masih bisa bercanda tawa dengannya. Namun hari ini, dia melihat Faiz Faiz saja sudah hampir tak sanggup.

Deni yang awalnya hanya berdiri menunduk menangis, kini menghampiri adeknya dan memeluknya erat. Membuat Lana heran. Lana hanya mendengarkan rintih tangis abangnya, menepuk punggung bidangnya agar bisa sedikit tenang “Kenapa bang?”

“Faiz masuk rumah sakit lagi, besok jam sembilan dia akan menjalani operasi.” Deni melepaskan Lana, membaringkan tubuhnya di atas kasur Lana dengan lemas.

Lana mematung sejenak “Kenapa bang?”

“Ceritanya panjang.” Deni beberapa saat tinggal di kamar Lana, sedangkan Lana duduk di samping Deni mengingat Faiz yang kemarin diobati Deni “Besok aku ikut ke rumah sakit” ucap Lana saat Deni beranjak bangun dan menuju ke kamarnya.

***

Sebelum berangkat sekolah, Deni dan Lana pergi ke rumah sakit.

“Faiz gimana keadaannya, tante?”

“Faiz masih tidur Den.”

Deni hanya melihat Faiz dari jendela kaca, tak ingin membangunkan sahabatnya itu. Faiz lebih baik tidur agar rasa sakitnya tidak begitu dirasakannya dan agar operasinya nanti berjalan dengan lancar.

“Nanti pulang sekolah Deni akan kesini lagi tante.” Pamit Deni yang diikuti Lana yang sedari tadi hanya mematung melihat Faiz.

Setelah tiba di kelas, Lana memberitahukan perihal Faiz kepada Nisa. Keduanya sama-sama berperang dengan pikiran masing-masing, apa yang menyebabkan Faiz sampai masuk ke rumah sakit. Mereka sama-sama menyimpulkan bahwa ini ada kaitannya dengan Ergi.

“Apa semua ini gara-gara gue ya Na?” Nisa memecah keheningan diantara keduanya.

Lana hanya menggeleng, dia tak tahu jawabannya. Dia bahkan tak berani bertanya dengan Deni tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Hari ini mereka serasa kacau seperti langit yang hanya dipenuhi mendung, tidak tahu akan terjadi hujan dengan petir yang menyalakan kilatannya. Atau disapu angin dan membuatnya berwarna biru cerah kembali.

Lana yang harusnya mengurus MOS sekolah jadi absen. Dan novel baru Nisa yang niatnya akan membacanya, kini masih mulus tak terjamah. Begitupun dengan Aldi dan Deni. Perasaan keduanya sama-sama kalut. Tak bernafsu untuk mengikuti pelajaran hari ini dan memiih untuk meletakkan kepala mereka di meja dengan buku sebagai penutup kepala dan kedua tangan yang disilangkan sebagai tumpuannya.

Aldi masih menunggu di depan rumah sakit, menunggu kedatangan Ergi yang akan meminta maaf atas kejadian ini, bagaimanapun dia harus bertanggungjawab. Sementara Deni, Lana dan Nisa masuk duluan.

Aldi dan Ergi masuk melewati beberapa kamar dan lorong, menuju ruang operasi Faiz. Terlihat Lana dan Nisa memeluk mamah Faiz dengan deraian air mata sedangkan Deni memandangi ruang operasi dengan mata merah dan tangan mengepal meninju dinding kokoh di depannya.

“Engga. Ini ngga mungkin.” Langkah cepat Aldi menjadi lambat saat mengetahui reaksi mereka. Mensejajari Deni, melihat Faiz yang ada di ruang operasi. Melihat dari jauh dokter dan perawat yang mencabut kabel-kabel yang sebelumnya terpasang di tubuh Faiz.

“Faiz selamat kan Den?”

“Faiz ngga mungkin selemah itu. Dia baik-baik aja kan Den” kata Aldi frustasi.

“Faiz udah pergi Al. dia jahat ya, ninggalin kita berdua,” bibir Deni bergetar mengatakannya, air matanya jatuh.

Pikirannya buyar, mengingat masa-masa saat bersama Faiz. Seru-seruan di danau tengah kota dan main game dirumahnya. Semua kenangan itu masih terekam di ingatannya, dan kini berputar kembali.

Aldi marah, kehilangan sahabatnya secepat ini. Padahal belum lama ini dia baru baikan dengan Faiz, namun sekarang Aldi marah. Faiz meninggalkannya begitu saja tanpa pamit, tanpa bisa kembali selamanya.

Aldi menyalahkan dirinya. Kalau saja dia tak membawa Nisa malam itu ke rumahnya, pasti Ergi tak akan membuatnya seperti ini. Dia juga menyalahkan Ergi. Seseorang yang sudah diterimanya dengan hati yang lapang malah merenggut nyawa sahabat yang sudah dikenalnya lama, sudah dianggap seperti saudara sendiri.

Aldi berbalik melangkahkan kakinya ke Ergi. Memukul Ergi dengan semua energi yang dimilikinya saat ini. “Gara-gara lo Faiz tiada, gara-gara kesalahpahaman lo membuat dia pergi”

Ergi tak membalas, dia menerima semua hukuman yang diberikan Aldi. Dia merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya. Kata maaf yang akan dia ucapkan ke Faiz sekarang hanya bisa dipendamnya, membuat luka atas rasa bersalah yang begitu mendalam dihidupnya.

Nisa sekarang mengerti bahwa kepergian Faiz karena Ergi. Harusnya dirinya yang berurusan dengan Ergi, bukan Faiz. Tangisannya semakin pecah, Faiz yang selalu menolongnya sekarang tiada karena dirinya.

Mengapa tuhan mengambil orang-orang yang Nisa sayang. Dulu papah dan mamahnya, dan sekarang Faiz. Orang yang selalu ada saat dia membutuhkan pertolongan. Salah satu orang yang bisa mengisi hari-harinya yang mendung karena kepergian orang tuanya menjadi lebih cerah dan berwarna. Salah satu orang yang mampu menjadi obat atas perasaan trauma kecelakaan yang menimpanya, merenggut orang tuanya. Dan sekarang, dia telah pergi ke keabadian.

Mamah Faiz melerai Aldi, memeluknya erat. Mencoba menenangkannya, padahal hatinya sendiri rasanya begitu sakit. Namun dia mencoba tegar, karena ini adalah permintaan terakhir anaknya. “Sudah Al, jangan lakukan lagi. Ikhlasin Faiz ya.”

“Dia yang udah nyebabin ini semua tante” tunjuk Aldi pada Ergi yang sudah terpojok.

“Mungkin ini udah jalan dari Yang Maha Kuasa. Kita semua harus ikhlas, kita doakan saja ya untuk Faiz”

“Tante maafin Ergi. Maafin Ergi yang udah membuat Faiz seperti itu,” Ergi bersimpuh di kaki Mamah Faiz. “Saya janji akan bertanggung jawab atas semuanya tante.”

“Kalian jangan saling pukul lagi ya, kalian itu sekarang saudara.” Ucapnya pada Aldi dan Ergi “Jangan sia-siakan kepergian Faiz. Jangan kecewakan dia.” Mamah Faiz kembali menyeka air matanya.

Tubuh Faiz menjadi semakin putih pucat, dari biasanya yang sudah putih. Terbujur kaku ketika dibawa dan dimakamkan tepat di dekat makam papahnya.

Satu persatu orang yang mengantarkan kepergian terakhir, kepergian menuju sisi Tuhan itu kembali dan menyisakan mamah, kedua sahabatnya Aldi dan Deni, Lana dan Nisa.

Sudah menjadi jalan dari Tuhan. Mereka hanya bisa memandang dan menyentuh gundukan tanah segar dengan taburan bunga di atasnya, yang membuatnya beraroma harum.

Mamah Faiz terlihat begitu tegar daripada yang lainnya. Kepergian anak satu-satunya itu akan menjadikan hidupnya terasa sepi, hanya doa yang menjadi cara komunikasi mereka.

“Ini titipan dari Faiz sebelum dia dioperasi buat kalian.”

Mamah Faiz memberikan selembar surat kepada Nisa yang berada di sampingnya. Kemudian beranjak menepuk pundak Deni dan Aldi, mengisyaratkan bahwa mereka harus bisa tegar dan menerima ini semua.

Nisa membuka surat itu setelah Mamah Faiz meninggalkan mereka. Tangannya gemetar, membaca tulisan yang bentuknya bisa menandakan bahwa penulis sedang merasakan kesakitan saat itu.

Haloo kalian..

Deni, Aldi, Nisa dan tak lupa Lana.

Saat ini pasti kalian sedang menangis karenaku. Eh tidak, aku meragukan Deni. Dia yang jail tak mungkin menangisi kepergianku kan ya,hehehe. Tapi aku berharap dari kalian tidak ada yang menangis saat mendapatkan surat ini.

Karena menulis bisa membuat tanganku pegal, jadi tak banyak yang akan kusampaikan. Hhm palingan hanya cerita singkat dariku untuk yang terakhir kalinya. Kalian harus membacanya dengan penuh, jangan lupa tersenyum.

l

Mereka menahan tangisnya, mencoba untuk tersenyum seperti yang dikatakan Faiz. Tersenyum dan mengusap air mata yang menetes di pipi mereka.

Sebelumnya gue mau minta maaf. Maaf Nisa…

Lo ingat, waktu itu lo cerita tentang kecelakaan yang menimpamu dan orang tuamu? seketika gue sadar, gue telah nyebabin kebahagiaan lo hilang. Mungkin Tuhan ingin gue menebusnya menghadirkan lo di hidup gue. Gue adalah orang yang nabrak mobil lo waktu itu. Sekali lagi gue minta maaf. Gue nggatau kalau gara-gara gue, lo sampe trauma dengan kejadian itu.

Nisa menutup mulutnya dengan satu tangannya. Tak percaya dengan kebenaran ini, seseorang yang terus menolongnya adalah orang yang sama, orang yang menyebabkan kecelakaan itu. Orang yang merenggut kebahagiannya, juga merupakan salah satu orang yang membuatnya kembali bangkit.

Lo inget ngga gelang dengan bentuk yang sama dengan mamah gue? gue beliin itu juga karena udah anggap lo sebagai adek gue sendiri. Gue ingin lo juga nganggep gue sebagai kakak lo sendiri hehehe.

Untuk Deni dan Lana. Makasih sudah membuat ceria dengan kekonyolan kalian selama ini. Membuat hidupku jadi semakin berwarna. Makasih sudah mau menjadikan rumah kalian sebagai tempat gue ngabisin kebosanan. Aku ingin suatu saat nanti bisa main ps lagi dengan lo Den walaupun gue tahu kalau lo gak akan bisa menang dari gue, habis itu kita makan mie kuah buatan Lana bareng-bareng, sambil mendengarkan ocehan kalian berdua. Itu sangat menyenangkan.

“Gue juga senang Iz, gue juga mau main sama lo lagi. Tapi sekarang tak akan bisa.” Deni merangkul adeknya Lana.

Terakhir untuk lo,Al. Gue berharap seteah kejadian ini lo gak akan bermusuhan sama Ergi. Gue tahu kalau Ergi hanya salah paham aja. Dan ternyata dia begitu perhatian sama lo,Al. Tapi karena egonya, mungkin dia malu untuk akui itu ke lo. Gue berharap hubungan lo semakin baik lagi kedepannya sama dia. Oh iya, jangan sakiti Nisa yang udah kuanggap sebagai adek sendiri. Tolong jaga dia buat gue, itu permintaan gue. Nisa pasti akan nerima lo, lo yang sabar dan harus tetap berjuang hehehe.

Aldi berulang kali menyeka air matanya.

Gue rasa sudah cukup. Kalian jangan menangis karena kepergian gue. Gue titip mamah gue. terima kasih sudah menjadi bagian cerita dari hidup gue dan maaf karena gue gak bisa lebih lama lagi berada di sisi kalian.

Gue pamit, gue pergi.

Salam Hangat,Faiz.

“Kita ngga akan ngelupain lo Iz, kita janji. Lo harus tenang di sana. Semoga lo bertemu teman-teman yang lebih baik lagi” ucap Aldi memuat bola matanya ke arah yang lainnya yang hanya menunduk dan mengangguk. Melipat surat itu kembali dan menyimpannya dengan baik.

TAMAT

1
mama yogi
Nisa nya terlalu di buat lembek
ANAA K
Boomlike mendarat mulus ka😉👍🏾
ANAA K
Keren
ANAA K
The best👍🏾
ANAA K
Wah keren👍🏾
ANAA K
Semangat selalu👍🏾
ANAA K
Aku mendukungmu kak👍🏾
ANAA K
Semangat yah kak
ANAA K
Boomlike hadir thor👋🏾 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿 mari kita saling mendukung👍🏾😉
ANAA K
Semangat yah🙏🏿
ANAA K
Lanjut thor👍🏾 ceritanya keren😉👍🏾
ANAA K
Semangat yah thor😉👍🏾
ANAA K
Semangat thor. Aku mendukungmu thor😉👍🏾
Fania kurnia Dewi
mampir thor
Santai Dyah
lnjut thor salam kenal dari Kabut cinta
Rini Haryati
teimakasih
Rini Haryati
bagus
Ummi Islah
sad bangettt thor😢😢😢😢
TickleStar
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Daisy Louise
Ceritanya bagus, kok, thor. Jangan lupa perhatiin tanda baca ya, hehe.. Fighting fighting kakak author‾
Pyrus: Terima kasih 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!