Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.
Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.
Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.
Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.
Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.
Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?
Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 30
Setelah pindah ke Bali, Irene mulai mengganti style berpakaiannya. Apalagi setelah ia memiliki beberapa teman yang telah lama tinggal di Bali. Ia mulai mengikuti style mereka.
"Lama banget beb," tukas Maxi mengerucutkan bibirnya.
Irene terkekeh.
"Yuk, berangkat," ucap yang lain.
Karena malam minggu, bar itu lebih ramai dari biasanya.
"Kenapa melamun beb," ucapan Maxi membuyarkan lamunan Irene.
"Masih memikirkan mantan kekasihmu?" tukas Maxi lagi.
"Sedikit," balas Irene.
Maxi sedikit banyak tau tentang masa lalunya dan alasan kepindahannya ke Bali.
"Kalau jodoh pasti akan bertemu," ucap Maxi berusaha menghibur Irene.
Irene hanya tersenyum kecut.
Mereka menghabiskan malam itu dengan minum beer, berjoget bersama bahkan berfoto-foto ria.
Hal yang selalu membuat pikiran Irene tenang dan melupakan Tian walau sejenak.
...---------...
Awal minggu terakhir sebelum pergantian tahun membuat beberapa pencari dolar dikantor Irene bekerja lebih keras dari biasanya.
Karena beberapa laporan memiliki target, mau tidak mau harus diselesaikan sebelum libur panjang akhir tahun jika tidak ingin lembur dihari libur.
Begitu juga dengan Irene.
"Kak Irene, bisa minta tolong?" ujar Febie salah satu rekan kerjanya yang jauh lebih muda darinya.
"Ada apa Feb?" tanya Irene sambil tetap menatap layar laptopnya.
Beberapa laporan harus selesai minggu ini dan waktu efektif yang tersisa hanya beberapa hari saja.
"Bisa antarkan materi ini ke ruang meeting lantai dua?" pinta Febie.
Irene menoleh sebentar.
"Perut aku nyeri kak, datang bulan hari pertama," ujar Febie menahan nyeri diperutnya. Bahkan wajahnya sedikit pucat.
"Baiklah. Hanya mengantarkan saja?" tanya Irene.
"Iya kak," jawab Febie.
"Terima kasih kak," ucap Febie lagi dan dibalas senyuman oleh Irene.
Irene bergegas menuju ruang meeting lantai dua. Kantor barunya hampir sama dengan kantornya yang lama, sama-sama berada disebuah ruko. Bedanya disini lebih luas dan memiliki tiga lantai.
Tok tok tok,
Irene melangkahkan kakinya kedalam setelah dipersilahkan masuk.
Kemudian menyerahkan berkas yang diminta kepada atasannya.
Tanpa menoleh ia langsung pamit keluar tanpa menyadari sepasang mata yang menatapnya tanpa kedip.
"Irene?" batin Tian. Ia tidak mempercayai penglihatannya.
"Irene ada disini? Apa aku bermimpi?" batin Tian senang sambil menajamkan penglihatannya lagi.
Dadanya bergemuruh.
Ia menatap lekat Irene yang mengenakan dress hitam dengan potongan dada yang rendah dibalut blazer motif kotak-kotak hitam putih.
"Penampilannya berubah tapi tetap cantik," puji Tian dalam hati.
Rambut panjang Irene yang dulu berwarna pirang kini telah berubah menjadi dark grey selaras dengan wajah cantiknya.
Perasaannya bahagia bercampur penasaran.
Ia tidak sabar ingin bertemu Irene. Meetingnya kali ini rasanya begitu lama.
Ya, hari ini Tian ada meeting dengan kantor Irene yang baru.
...----------...
Hari menjelang sore, waktu menunjukkan jam kantor yang telah usai.
"Aku lelah sekali," ujar Irene sambil meregangkan tubuhnya.
Sedari pagi ia begitu fokus dengan pekerjaannya. Hanya beranjak ke pantry untuk membuat kopi atau kamar mandi.
Makan siang tadi ia hanya titip pada office boy. Waktunya tidak banyak untuk laporan-laporan yang menumpuk.
Selama di Bali, Irene selalu mengusahakan untuk tidak lembur. Ia tidak ingin melewatkan waktu untuk menikmati sunset.
Menikmati sunset ditemani suara deburan ombak seolah bisa merefresh rasa penat dan jenuh dalam menjalani kehidupannya.
Sejak kandasnya hubungannya dengan Tian ia memilih untuk sendiri. Ia lebih memilih untuk instropeksi diri.
Ia memang belum move on.
Dalam situasi hatinya yang kacau tidak menentu ia memilih menikmati kesendirian bersama Maxi dan teman-temannya.
Walaupun usianya sudah matang bagi seorang wanita untuk menikah, Irene tidak ingin terburu-buru.
Pikirannya lebih dewasa saat ini.
Baginya saat ini, lebih baik terlambat tapi dengan orang yang tepat daripada terburu-buru tapi akhirnya menyesal.
Perpisahan kedua orang tuanya juga ia jadikan pelajaran untuk kehidupannya.
"Feb, aku pulang dulu ya," pamit Irene pada Febie yang sepertinya lembur hari ini.
"Iya kak, hati-hati ya," sahut Febie.
"Hu'um. Perut kamu udah lebih baik?" tanya Irene karena tadi pagi Febie mengeluh nyeri perut.
"Sudah mendingan kak, tadi sudah aku kompres," jawab Febie.
"Ya sudah.Bye. Jangan pulang larut malam," pesan Irene sambil berpamitan.
"Siap kak," balas Febie.
Irene melangkahkan kakinya menuruni anak tangga karena letak ruangannya dilantai tiga.
"Ren dari tadi ada yang menunggumu," sapa sang petugas keamanan yang lebih tua darinya yang bertugas di depan pintu masuk.
"Siapa pak?" tanya Irene balik.
"Itu didepan. Sudah dari tadi, tadi saya suruh masuk beliau menolak," jawab petugas keamanan itu.
Irene mengerutkan keningnya. Ia tidak memiliki janji dengan siapapun.
Bahkan kalau teman-temannya pasti membuat janji terlebih dahulu. Irene mengecek ponselnya, tidak ada pesan atau telpon masuk dari teman-teman mainnya.
Irene melangkahkan kakinya keluar.
Deg.
Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
"Mm..mas Tian?" sapa Irene tergagap.
Lelaki yang sangat ia rindukan ada dihadapannya.
"Sayang," sapa Tian canggung sambil tersenyum. Terlihat mata lelaki itu sedikit berkaca-kaca. Suasana masih canggung. Tian bingung harus mulai darimana.
Hati Irene menghangat begitu Tian memanggilnya sayang. Entah mengapa ia begitu bahagia.
"Mas sudah menunggu dari tadi?" tanya Irene memecah keheningan. Ia belum berani membalas panggilan sayang Tian.
"Iya. Aku tadi ada meeting dilantai dua," ucap Tian sambil menunjuk letak lantai dua kantor Irene.
"Terus aku tadi melihatmu jadi aku menunggumu disini," ujar Tian lagi.
"Meetingnya kan sudah selesai dari tadi mas?" tanya Irene sambil mengerutkan keningnya.
"Jadi mas Tian menungguku dari tadi siang?" cecar Irene lagi.
Tian mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Disini?" Irene bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya.
Tian menjawab dengan anggukkan kepala lagi. Rasanya gemas dicecar pertanyaan seperti itu oleh Irene.
Irene ternganga. Siang ke sore bukan waktu yang singkat untuk seorang presdir seperti Tian.
"Mas Tian sudah makan siang?" selidik Irene.
"Sudah, tadi aku makan diresto depan," jawab Tian.
"Sayang, ada yang mau aku bicarakan," ujar Tian lembut. Ia tidak ingin membuang waktu.
Ia harus bisa memperbaiki hubungannya dengan Irene.
"Kita bicarakan dilain tempat ya. Tidak enak dilihat orang kantor," ujar Irene. Karena ia tau yang akan dibicarakan Tian adalah hal pribadi.
"Hhmmm," ujar Tian kemudian membukakan pintu penumpang untuk Irene.
Mobil yang dikendarai Tian melaju menuju sebuah bar dipinggir pantai yang diarahkan Irene. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka masuk kedalam dengan canggung.
Biasanya Tian akan memeluk Irene atau menggenggam tangan Irene.
Mereka menempati kursi berjejer yang menghadap pantai dengan pemandangan matahari yang akan kembali keperaduannya.
Setelah memesan minuman mereka masih terdiam. Masing-masing berperang dengan pikirannya sendiri bahkan ketika pesanan mereka telah terhidang.
Hingga akhirnya Tian memulai pembicaraan.
"Sayang, aku mau minta maaf," ucap Tian dengan nada getir dan mata berkaca-kaca. Bahkan cairan bening itu kemudian lolos begitu saja.
Guratan kesedihan terpancar diwajahnya.
Kemudian ia menggenggam tangan Irene.
"Aku menyesal," ucap Tian lirih.
dukung karya ku juga y cucu manja oma
*Suamiku ceo ganas
"Sarlince(cinta sepihak)