NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulut yang Tidak Bisa Dikontrol

"Eh, Mbak, tumben di kasir? Biasanya Mbak Aya, toh," tanya salah seorang pelanggan sambil meletakkan beberapa barang belanjaannya di atas meja.

Setelah dua bulan berlalu, kini kehamilan Naresta sudah memasuki usia enam bulan. Perutnya semakin membesar, sehingga gerakannya pun tidak lagi sebebas dulu.

"Mbak Aya sedang keluar sebentar, makanya saya yang gantikan," jawab Naresta sambil mulai menghitung barang belanjaan.

"Lho, memangnya boleh kerja lagi?"

Naresta tersenyum kecil.

"Cuma sebentar, Bu. Saya juga duduk saja."

Pelanggan itu mengangguk sambil memperhatikan perut Naresta.

"Sudah besar sekali sekarang."

"Iya, Bu. Sudah enam bulan."

"Alhamdulillah. Sehat bayinya?"

"Alhamdulillah sehat."

Naresta memasukkan beberapa barang ke dalam kantong belanja.

"Ini semuanya seratus tiga puluh lima ribu, Bu."

Wanita itu menyerahkan uang kepada Naresta.

"Sudah tahu laki-laki atau perempuan?"

"Sudah, Bu."

"Apa?"

Naresta tersenyum.

"Rahasia dulu."

"Ya ampun, sama tetangga saja dirahasiakan."

Naresta terkekeh kecil sambil menghitung uang kembalian.

"Biar nanti jadi kejutan."

Wanita itu menerima kembaliannya.

Namun, bukannya langsung pergi, tatapannya justru mengarah ke Elvan yang sedang membantu Dicky menyusun beberapa dus di bagian samping toko.

"Mas Elvan sekarang rajin sekali bantu toko."

Naresta ikut menoleh kepada suaminya.

"Dari dulu juga rajin, Bu."

"Iya, sih."

Wanita itu terdiam sesaat sebelum kembali membuka suara.

"Tapi saya masih penasaran."

Tangan Naresta yang sedang merapikan uang di laci kasir langsung berhenti.

"Penasaran apa, Bu?"

Wanita itu mendekat sedikit.

"Selama hamil begini, Mbak masih tidur sekamar sama suami?"

Naresta langsung mengangkat wajahnya.

"Bu?"

Wanita itu malah tersenyum seolah pertanyaannya biasa saja.

"Ya cuma tanya."

Naresta mengembuskan napas pelan.

"Itu urusan pribadi saya sama suami, Bu."

"Lho, jangan tersinggung. Saya cuma penasaran."

Naresta menatapnya beberapa saat.

"Kalau memang tahu itu urusan pribadi, kenapa masih ditanyakan?"

Wanita itu langsung terdiam.

Naresta kembali merapikan uang di dalam laci.

"Maaf, Bu. Saya nggak bermaksud kasar."

Ia kemudian menatap wanita itu kembali.

"Tapi ada hal-hal dalam rumah tangga orang yang memang tidak pantas ditanyakan."

Wanita itu tersenyum canggung.

"Iya juga, sih."

Naresta mengusap perutnya perlahan.

"Enam bulan ini saya sudah cukup banyak mendengar pertanyaan tentang suami saya, kehamilan saya, bahkan anak saya. Saya harap sekarang orang-orang mulai mengerti batasannya."

Wanita itu akhirnya mengangguk kecil.

"Iya, Mbak. Maaf."

Naresta tersenyum tipis.

"Nggak apa-apa, Bu."

Wanita itu pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Naresta hanya menggelengkan kepalanya sambil kembali merapikan beberapa barang kecil di dekat kasir.

"Pertanyaan aneh. Jelas saja aku tidur bareng Mas Elvan. Memangnya bareng siapa lagi, coba?" gumam Naresta pelan.

Tiba-tiba terdengar suara dari samping.

"B-bareng a-aku."

Naresta langsung menoleh.

"Mas!"

Elvan ternyata berdiri tidak jauh darinya sambil membawa beberapa bungkus roti.

Naresta langsung menutup wajahnya karena malu.

"Mas dengar?"

Elvan mengangguk polos.

"D-dengar."

"Ya ampun."

Naresta menurunkan tangannya, lalu menatap suaminya.

"Mas jangan dengarkan gumaman orang, dong."

"T-tapi S-sayang b-bilang n-namaku."

Naresta terdiam.

"Iya juga, sih."

Elvan berjalan mendekat, lalu meletakkan roti di atas meja.

"K-kenapa t-tadi i-ibu i-itu t-tanya?"

"Nggak tahu."

Naresta mengembuskan napas pelan.

"Katanya penasaran selama aku hamil masih tidur sekamar sama Mas atau nggak."

Elvan tampak bingung.

"K-kenapa t-tidak?"

"Nah, itu."

Naresta langsung menunjuk suaminya.

"Aku juga bingung kenapa ditanya begitu."

Elvan berpikir beberapa saat sebelum menjawab.

"K-kita s-suami i-istri."

"Iya."

"T-tidur s-sekamar."

"Iya."

Elvan mengangguk seolah baru saja menyelesaikan persoalan yang sangat mudah.

Naresta langsung tertawa kecil.

"Makanya. Mas saja ngerti."

Elvan tersenyum tipis.

Namun, pandangannya kemudian turun ke perut Naresta.

"S-sayang c-capek?"

"Nggak, Mas. Aku cuma gantikan Mbak Aya sebentar."

Elvan langsung memasang wajah serius.

"N-nanti d-duduk."

"Iya."

"J-jangan a-angkat b-barang."

"Iya, Mas."

"J-jangan l-lama."

Naresta terkekeh.

"Iya, Pak Elvan. Semuanya akan saya turuti."

Elvan mengangguk puas.

Naresta hanya bisa tersenyum melihat suaminya. Semakin besar kandungannya, semakin banyak pula aturan yang dibuat Elvan untuknya.

Beberapa pelanggan pun datang sambil membawa barang belanjaan mereka ke meja kasir.

"Lho, Mbak Naresta? Biasanya Mbak Aya?" tanya salah seorang pelanggan sambil meletakkan belanjaannya.

Naresta tersenyum.

"Mbak Aya sedang keluar sebentar, Bu. Jadi saya gantikan dulu."

"Oh, begitu."

Pelanggan lain ikut meletakkan beberapa barang di meja.

"Sudah boleh kerja lagi, Mbak?"

"Cuma jaga kasir sebentar, Bu. Saya nggak angkat barang."

Naresta mulai menghitung belanjaan mereka satu per satu.

"Yang ini punya Ibu, ya?"

"Iya, Mbak."

"Kalau sabun sama minyak ini?"

"Punya saya."

"Baik, sebentar."

Saat Naresta sedang menghitung, pelanggan lain memperhatikan perutnya yang sudah terlihat besar.

"Sudah enam bulan, ya, Mbak?"

"Iya, Bu. Alhamdulillah."

"Wah, sebentar lagi tambah anggota keluarga."

Naresta tersenyum lebar.

"Aamiin."

Tiba-tiba pelanggan lain yang baru meletakkan belanjaannya ikut membuka suara.

"Kalau sudah enam bulan begini bayinya sering gerak, Mbak?"

"Sudah, Bu. Sekarang malah sering banget."

"Kalau malam juga?"

Naresta terkekeh.

"Justru malam kadang lebih aktif. Pas saya mau tidur, dia malah gerak terus."

Elvan yang kebetulan berada tidak jauh dari kasir langsung menoleh saat mendengar pembicaraan itu.

Pelanggan tersebut tersenyum.

"Mas Elvan pernah merasakan gerakannya?"

Naresta langsung menunjuk suaminya.

"Sering, Bu. Malah kalau anaknya gerak, Mas Elvan yang paling heboh."

Elvan berjalan mendekat.

"B-bayi s-suka n-nendang."

Beberapa pelanggan langsung tersenyum.

"Senang banget ya, Mas, sebentar lagi jadi ayah?"

Elvan menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"S-senang."

Naresta menatap suaminya sambil tersenyum.

"Empat tahun kami menunggu, Bu. Jadi sekarang Mas Elvan memang sangat perhatian."

"Alhamdulillah. Semoga sampai lahiran semuanya lancar, Mbak."

"Aamiin. Terima kasih banyak, Bu."

Naresta kembali menghitung belanjaan mereka.

"Ini punya Ibu totalnya tujuh puluh delapan ribu. Kalau punya Ibu yang ini sembilan puluh dua ribu."

Kedua pelanggan tersebut mulai mengambil uang.

Namun, dari antrean belakang tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.

"Enam bulan, ya?"

Naresta mengangkat wajahnya.

"Iya, Bu."

Wanita itu memperhatikan perut Naresta cukup lama sebelum tersenyum tipis.

"Berarti tinggal tiga bulan lagi."

"Iya."

Naresta kembali tersenyum ramah, meskipun dalam hati ia mulai berharap wanita itu tidak melanjutkan dengan pertanyaan aneh seperti pelanggan sebelumnya.

"Mbak, dokter nggak pernah jelasin tentang perkembangan bayinya?" tanya wanita itu sambil terus memperhatikan perut Naresta.

"Sudah, Bu. Kata dokter semuanya normal," jawab Naresta sambil memasukkan belanjaan pelanggan ke dalam kantong.

"Yakin normal?"

Tangan Naresta langsung berhenti.

Ia perlahan mengangkat wajahnya.

"Maksud Ibu?"

Wanita itu terlihat ragu sejenak.

"Ya... benar-benar normal begitu?"

Naresta mengernyit.

"Setiap kontrol dokter selalu bilang perkembangan bayi saya baik dan sesuai usia kandungan, Bu."

"Iya, tapi kan—"

"Tapi apa?"

Wanita itu melirik sekilas ke arah Elvan.

Naresta langsung menyadari arah pembicaraannya.

"Karena suami saya autisme?"

Wanita itu tersenyum canggung.

"Saya nggak bilang begitu, lho."

"Tapi Ibu melihat suami saya sebelum menjawab."

Beberapa pelanggan yang masih berada di depan kasir langsung saling berpandangan.

Wanita itu mencoba tertawa kecil.

"Saya cuma khawatir saja, Mbak. Siapa tahu ada kemungkinan anaknya nanti—"

"Bu."

Naresta langsung memotong perkataannya.

Wajahnya yang semula ramah kini berubah serius.

"Saya sudah periksa rutin."

"Dokter bilang perkembangan anak saya baik."

"Jadi saya lebih memilih mendengarkan dokter daripada dugaan orang lain."

Wanita itu langsung terdiam.

Naresta mengusap perutnya perlahan.

"Dan satu lagi."

"Anak saya belum lahir."

Ia menatap wanita tersebut lurus.

"Tolong jangan mulai memberikan penilaian apa pun kepada anak saya hanya karena ayahnya penyandang autisme."

Suasana di sekitar kasir perlahan menjadi hening.

Elvan yang mendengar percakapan itu mendekati istrinya.

"S-sayang..."

Naresta menoleh kepadanya dan tersenyum tipis.

"Aku nggak apa-apa, Mas."

Namun, dari tatapan matanya terlihat jelas bahwa kesabarannya kembali diuji.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!