Malika diceraikan oleh suaminya yang telah ia nikahi selama lima tahun dan telah memberinya anak kembar karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Namun, bagi Malika, keberuntungan bertubi-tubi justru datang setelah perceraiannya. Salah satunya adalah kehadiran pria blasteran Jepang tampan yang 'ngotot' ingin menjadi bagian dari hidup barunya.
🍰🍰🍰
Taki Sahara, seorang penerus Bakery legendaris berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sejak dirinya divonis infertil setelah sebuah kecelakaan yang dialaminya.
Namun pertemuannya dengan seorang janda muda yang cantik beranak dua seketika mampu mengguncang keteguhan hati Taki dalam memegang janjinya itu.
.
.
.
Jangan lupa pencet ❤️ nya yaa, biar dapet notif tiap update.
Baca juga karyaQ yang lainnya:
~ REPLACEMENT LOVER
(Novel Komedi Romantis)
~ SEJUTA CINTA
(Kumpulan Cerita Pendek)
.
.
.
HAPPY READIINGGG!!! 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mrs caffeine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUDAK CINTA
'Jatuh cintalah pada apa yang membuatmu tidak pernah merasa menyesal untuk memperjuangkannya.'
—MOVE ON, by: Mrs. Caffeine
💗
💗
💗
"PAAKEEETT!!!"
Rima dan Mbak Tiya sedang bergotong royong memandikan si kembar ketika mereka mendengar suara teriakan dari arah luar pintu pagar.
Karena siang itu sangat panas dan si kembar habis berlari-larian keliling rumah, membuat tubuh mereka bercucuran keringat. Rima memandikan keduanya agar mereka merasa nyaman dan berharap keduanya segera mengantuk agar lebih mudah menidur siangkan mereka.
"Kayanya itu suara dari depan rumah, Mbak Rim!" Mbak Tiya melongok dari dalam kamar mandi mencoba melihat ke luar jendela dari dalam rumah. "Kok kaya ada mobil box parkir di depan pager, Mbak!" tambahnya.
"Coba liaten, Mbak Tiya! Kok tumben-tumbenan ada paket nyasar ke rumah ini!" Rima bertanya-tanya.
Dan Mbak Tiya yang disuruh keluar pun langsung membilas kedua tangannya dari sabun dan bergegas menuju pagar untuk menemui si kurir yang berteriak tadi. Tak lama, Mbak Tiya masuk kembali sembari tergopoh.
"Iya, Mbak Rim. Ada paket! Minta diterima langsung sama Mbak Rima kata Masnya!" lapor Mbak Tiya.
"Nyebut namaku?" tanya Rima.
"Iyaa...!" balas Mbak Tiya cepat.
Rima yang merasa heran langsung mengerutkan keningnya. "Haah??? Kok si pengirim kenal nama gue? Emang dari siapa sih?" Rima yang penasaran langsung mengeluarkan si kembar dari bak plastik tempat mereka berendam lalu menyuruh Mbak Tiya untuk mengeringkan tubuh kedua bocah lucu itu.
Setelah keluar rumah, Rima terbengong-bengong melihat sebuah mobil box bergambar logo PANKEKI BAKERY yang ternyata terparkir di luar pagar. Tanpa pikir panjang, Rima langsung menemui seorang pemuda yang masih berdiri di balik pintu pagar rumah Malika.
"Ya, Mas! Saya Rima, cari saya?" tanya Rima membuka percakapan.
"Oh iya, Mbak Rima. Saya Modo dari PANKEKI BAKERY. Saya kesini disuruh Chef Taki mengantarkan motor milik mbak Malika."
Setelah berkata demikian, Modo langsung memberikan kode kepada seorang bapak-bapak yang sedang menunggu dibelakang mobil box untuk membuka pintu box belakang mobil itu lalu berdua mereka menurunkan motor milik Malika dari dalamnya. Rima lebih terbengong-bengong lagi dibuatnya.
"Lhoo, Mas! Kok motornya doang yang dibawa pulang? Lah, Malikanya mana?" tanya Rima sembari celingukan mengira Malika ikut menumpang di mobil itu.
"Mbak Malikanya masih kerja di toko." jawab Modo singkat.
Dan sesuai instruksi yang diterimanya dari Zacky, Modo hanya mengatakan jika Chef Taki yang menyuruhnya mengantar motor Malika pulang, sambil menyerahkan kartu nama Chef Taki pada Rima. Tak lupa Modo juga melarang Rima memberitahu Malika perihal masalah ini.
Kerutan di kening Rima makin kusut saat dirinya menerima kartu bertuliskan nama Taki Sahara di tengah-tengahnya. Pikirannya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang direncanakan oleh atasan Malika itu.
"Tunggu, Mas Modo. Tolong jangan kemana-mana dulu sebelum saya selesai menelepon Chef Taki. Silahkan njenengan berdua ini tunggu dulu di teras!" pinta Rima pada Modo dan bapak satunya sambil berlalu masuk ke dalam rumah Malika untuk mencari ponselnya.
Modo pun hanya mengangguk mengiyakan permintaan Rima lalu mengajak rekannya yang merupakan driver mobil box untuk mengikuti Rima ke teras rumah itu. Keduanya lalu duduk di kursi yang ada di teras rumah Malika.
"Mbak Tiya, tolong ambilkan minum dingin untuk dua orang di depan itu!" pinta Rima cepat sambil mencari-cari ponselnya di dalam tas yang ia letakkan di atas meja rias di kamar Malika. Dan demi menentramkan hatinya, Rima langsung menghubungi nomor Taki yang tertera di kartu nama tersebut.
📱RIMA NADYA
Halo, dengan Chef Taki?
📱TAKI SAHARA
Iya, Saya. Ini Rima? Kamu sudah terima motornya Malika?
📱RIMA NADYA
Jadi bener? Chef Taki yang nyuruh orang buat nganterin motornya Malika pulang?
📱TAKI SAHARA
Iya betul. Saya yang suruh, karena saya pengen nganter Malika pulang nanti sore. Ada yang masih harus saya bicarakan sama dia. Nggak apa-apa kan?
📱RIMA NADYA
Yaa, nggak apa-apa sih Chef! Asal Chef Taki nggak ada niat buruk aja sama sepupu saya.
📱TAKI SAHARA
Saya sama sekali tidak ada niat buruk sama Malika. Kamu tolong percaya sama saya!
📱RIMA NADYA
Oke, saya percaya sama Chef Taki. Kalau begitu saya nitip Malika. Tolong nanti sore antarkan dia pulang dengan utuh!
📱TAKI SAHARA
Baik. Nggak masalah. Tapi tolong kamu jangan kabarin Malika dulu soal ini.
📱RIMA NADYA
Oke, siap.
📱TAKI SAHARA
Ngomong-ngomong si kembar lebih suka cake atau roti, Rim?
Mendengar pertanyaan Taki barusan, Rima menebak-nebak...mungkin pria itu ingin membawakan oleh-oleh untuk anak-anak Malika. Ia pun tak bisa menyembunyikan senyumnya.
📱RIMA NADYA
Mereka suka semuanya, Chef. Keluarga kami nggak ada yang pilih-pilih makanan. Yang penting halal.
📱TAKI SAHARA
Ooh, gitu. Baiklah. Terima kasih, Rim.
Rima langsung bersorak sorai setelah mengakhiri percakapannya dengan Chef Taki via telepon. Setelah mendengar sendiri rencana Taki, Rima jadi lega dan semakin antusias mendukung usaha Bosnya Malika yang dengan gencar melakukan pendekatan pada sepupu jandanya itu.
"Asyiiikkk, rejekinya Malika lepas dari si Kutu Kupret, sekarang malah ditaksir cowok macem Chef Taki. Udah ganteng, kaya, bujang pula! Oh My God!!!" pekik Rima jadi girang sendiri.
Rima jadi senyam senyum sendiri membayangkan bagaimana Taki dan Malika berduaan di mobil selama perjalanan mereka pulang nanti. Dan tiba-tiba, sebuah ide muncul di benak Rima. Ia kembali menatap layar ponselnya dan mulai mengetikkan pesan yang ia tujukan kepada sang suami—Satria.
Setelah pesan untuk suaminya telah terkirim, Rima malah terduduk di tepian kasur milik Malika sambil menimang-nimang kartu nama milik Taki dengan senyum yang lebar. Tampaknya wanita itu telah melupakan sesuatu karena tengah dikuasai rasa bahagia memikirkan masa depan cerah yang akan segera didapatkan sepupunya.
(#Author: Hayooo, siapa yang tahu, apa yang dilupakan sama Rima??? 😁😅)
***
@Ruang Pimpinan PANKEKI BAKERY.
"Gimana?" tanya Zacky pada Taki yang baru saja menutup sambungan teleponnya dengan Rima—sepupunya Malika.
"Bereesss!" jawab Taki sambil menodongkan jempolnya ke arah Zacky.
Zacky turut puas mendengar jawaban dari sepupunya tersebut. "Berarti udah beres nih? Tinggal tunggu lo beraksi pas jam pulang nanti kan?" tanya Zacky memastikan.
Taki menjawabnya dengan anggukan kepala. Lalu tiba-tiba pria itu berdiri dan mulai berjalan menuju pintu. Melihat Taki yang nampaknya hendak keluar ruangan, Zacky buru-buru bertanya, "Mau kemana lagi lo, Bro?"
"Mau ke depan. Milihin oleh-oleh buat gue kasih ke keluarganya Malika ntar sore." jawabnya sambil lalu.
Melihat tingkah Taki, Zacky tidak bisa tidak geleng-geleng kepala. "Ckckckck, satu lagi cowok bucin telah lahir! Selamaatt!" gumam Zacky sambil berdecak.
.
.
.
To Be Continue....