Alisya Silvia, anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia baru lulus dari universitas swasta di Jakarta dan ia berencana akan bekerja di luar kota. Tapi entah ayahnya akan menyetujuinya atau tidak.
Semua di luar dugaannya, ketika Alisya memberitahukan keinginan ini pada ayahnya, beliau tidak meresponnya sama sekali. Beliau malah ingin menjodohkannya dengan laki-laki yang tak pernah ia maupun keluarganya kenal sebelumnya. Dan itu hanya karena perjanjian di masa lalu, perjanjian masa lalu mendiang Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Bersikap Baik
Alisya terjaga karena mimpinya, tapi untungnya bukan mimpi buruk. Saat ia melihat jam yang berada di meja kecil sebelah tempat tidur, ternyata baru jam 3 pagi. Ia mencoba untuk melanjutkan tidurnya, tapi entah kenapa matanya itu sulit untuk terpejam lagi. Akhirnya ia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Setelah itu ia memilih untuk menonton drakor di ruang tengah ditemani camilan yang kemarin ia beli bersama kak Nisa.
"Baru juga kemarin siang kak Nisa pulang, tapi aku sudah merasa kangen sama Delisa." gumamnya pelan.
Lucu juga ya kalau punya anak seperti Delisa, pikirku.
Eh tidak-tidak ! batinku membantah. Kenapa juga aku bisa berpikiran punya anak seperti itu ? Sepertinya aku sudah gila karena memikirkan perkataan mas Fino semalam.
Tidak terasa sudah lebih dari 1 jam Alisya menonton drakor, matanya mulai terasa mengantuk, tapi ia tidak mungkin tidur lagi. Ini sudah mau subuh, bisa-bisa ia bangun kesiangan nanti. Ia kembali masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Lalu bergegas ke kamar mandi, kali ini tidak hanya mencuci muka tapi ia memilih untuk mandi agar dirinya merasa lebih segar jadi rasa kantuk pun hilang. Selesai mandi dan berganti pakaian ia ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Hari ini Fino mulai kembali bekerja dan ayahnya pun akan kembali berjaga di toko.
Saat tengah asik menyiapkan sarapan, Herman datang menghampirinya.
"Tumben sudah bangun Sya ? Biasanya ayah duluan yang bangun, hehe." tanya Herman dengan nada sedikit menyindir karena tidak biasanya ia bangun lebih pagi dari ayahnya.
"Ceritanya ayah nyindir nih ?"
"Bukan menyindir, ayah cuma terkesima saja karena pagi-pagi kamu sudah ada di dapur." ucap Herman dibumbui dengan tawa khasnya.
"Hari ini kan mas Fino mulai masuk kerja, jadi pasti sarapan dulu sebelum berangkat. Lagian ayah kan mau pergi ke toko, ayah harus sarapan juga. Jadi aku sengaja bangun pagi untuk membuat sarapan untuk kalian berdua, sekalian aku buatkan bekal untuk ayah makan siang nanti."
"Oh seperti itu, Alhamdulillah, terimakasih ya Sya. Ayah bangga sama kamu, ternyata kamu bisa jadi istri yang baik untuk Fino." ucap Herman tersenyum bangga. "Ya sudah lanjutkan Sya, ayah mau ke kamar mandi dulu."
"Iya yah." jawabnya tersenyum.
Mulai hari ini aku akan mencoba membalas sikap baik mas Fino padaku. Di mulai dari hal kecil seperti membuat sarapan seperti ini, semoga dia menyukai masakanku.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Alisya kembali ke kamar untuk membangunkan Fino. Saat ia membuka pintu kamar ternyata Fino sudah berada di balik pintu dengan bertelanjang dada, ia menatapnya sekilas, lalu segera menutup mata dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus menutup mata Sya ? Aku kan tidak bertelanjang bulat." tutur Fino.
"Tapi itu kan nggak pakai baju mas, sama saja bertelanjang dada namanya." kedua tangannya masih menutup matanya. Sebenarnya ia ingin menatap dada bidang Fino yang mulus itu lebih lama lagi, tapi ia merasa malu.
"Ya sudah, kamu tolong geser sedikit, aku tidak bisa keluar kamar kalau kamu masih berdiri di depan pintu seperti ini." Alisya mengangguk lalu menggeser posisi berdirinya masih dengan mata tertutup, agar Fino bisa lewat dan keluar dari kamar.
Setelah dirasa Fino sudah masuk ke kamar mandi, ia membuka mata perlahan lalu menutup pintu pelan.
"Pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata." gumamnya tanpa sadar.
Aaaaa.. Alisya kamu benar-benar sudah gila, menepuk dahi sendiri. Wahai hati kenapa kamu berbelok secepat itu !
"Lebih baik aku menunggu mas Fino di meja makan, diam di kamar membuatku selalu berpikir yang aneh-aneh."
Sesampainya di meja makan, Alisya menyiapkan piring untuk makan bertiga. Lalu menuangkan air ke gelas untuknya dan untuk Fino. Untuk ayahnya, seperti biasa ia buatkan teh tawar hangat, sekalian juga ia siapkan bekal untuk makan siang ayahnya.
Tak lama Fino dan ayahnya datang bersamaan ke meja makan. Setelah mereka duduk, ia menyendokkan nasi untuk Fino dan ayahnya secara bergantian.
"Aku mau ayam mentega saja Sya, tidak usah pakai telur balado." ujar Fino saat Alisya akan menyendokkan telur balado ke piring nya. Alisya mengangguk, lalu menggantinya dengan satu potong ayam mentega.
"Ayah bisa sendiri Sya." ucap Herman setelah melihat Alisya tengah mengambilkan lauk pauk untuk piringnya. Alisya kembali mengangguk.
Kemudian ia mulai menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piringnya sendiri. Lalu mereka mulai makan dengan tenang tanpa ada percakapan apapun.
Setelah selesai sarapan, Fino mengajaknya untuk pulang ke rumahnya. Ia berencana untuk mengambil pakaian dan barang-barang pribadinya. Hari ini ia benar-benar menepati ucapannya yang semalam. Seharusnya hari ini ia sudah mulai bekerja tapi ia lebih memilih untuk mempersiapkan pindahannya.
Herman pun sudah bersiap untuk pergi ke toko. Berhubung arah jalan ke toko sama dengan arah ke rumah Fino, jadi mereka terlebih dulu mengantar Herman ke toko.