Kebahagiaan yang belum lengkap akan membuat hidup terlihat hampa. Rasa cinta yang tumbuh akan membuat kehampaan ini sirna tak tersisa.
Salva yang awalnya merasa begitu hancur karena gagal dalam kisah percintaan, siapa sangka datang seorang dokter cinta untuk mengobati goresan luka dihatinya.
Akankah mereka bahagia dalam jalinan asmara dalam ikatan halal itu?
Mampukah Arya menutupi goresan luka dihati Salva?
IKUTI KISAH MEREKA!
Kisah ini sambung dari cerita, Goresan hati yang terluka. Sebelum membaca kisah ini lebih baik saudara semua baca dulu GHYT.
Terimakasih, dan jangan lupa follow me
Ig:@ara putri 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengingkari janji
Sebuah kamar bernuansa putih menyambut Salva saat pertama kali membuka matanya. Ia baru saja kembali sadar setelah tiga jam tertidur didalam kamar yang dipenuhi bau obat-obatan ini.
Wanita itu mulai mengerjab matanya, ia masih merasa linglung dengan lingkungan sekelilingnya. Mencoba mengingat sesuatu terakhir ia masih sadar.
Setelah dapat mengingat sesuatu, tangisan wanita itu kembali pecah, memanggil nama suaminya. Melihat tak ada selain ia di ruangan itu, Salva mencoba untuk pergi mencari keberadaan suaminya.
"Astagfirullah! Kamu mau kemana, nak?"
Bunda zera baru keluar dari kamar mandi, ia kaget melihat Salva yang sudah hampir keluar dari kamar rawat inap ini, dengan cepat ia kembali memapah putrinya kembali ke tempat tidur.
"Kamu mau kemana, nak?" Salva hanya menggeleng sambil menghapus air matanya yang masih mengalir deras.
"Bunda, suami Salva mana?"
"Sayang ... Kamu harus kuat. Jangan seperti ini,"
Ia sudah tak bisa berpikir jernih lagi, karena begitu kwatir saat mendengar suaminya kecelakaan. Tapi meskipun begitu seharusnya ia juga tidak boleh egois, ada nyawa lain yang harus ia jaga bersama dirinya, ia harus kuat semi anak dan suaminya.
Salva dengan tegar menghapus air matanya yang masih meleleh.
"Salva akan kualitas kok, Sekarang izinkan aku melihat suamiku, aku ingin bersamanya." Bunda menganguk mengerti, ia tersenyum melihat Salva yang mulai stabil.
"Ayo bunda antar kan, Kamu tidak boleh terlalu capek nanti ya?" Salva menganguk Setuju, bahwa ia akan menjaga dirinya.
Mereka berdua menuju ke ruang Arya dirawat. Arya sudah siap melakukan operasi, tapi sampai sekarang ia belum siuman, dan sekarang sudah dipindahkan ke ruangan rawat.
"Bunda, apa aku boleh melihat ke dalam?" Zera menganguk mengiyakan, ia memberi pakaian khusus untuk Salva.
"Kamu pakai ini ya, tadi dokter yang suruh kalau mau jenguk pasien."
Setelah menggunakan baju itu, Salva masuk ke dalam dengan perasaan campur aduk. Ingin rasanya ia berteriak marah, kenapa ia harus melihat orang yang dicintainya dalam keadaan seperti ini? Tapi ia juga tidak bisa menyalakan takdir.
"Assalamualaikum, suamiku." Ia bisa melihat wajah pucat Arya yang terbaring lemah. Tidak ada pergerakannya sedikit pun bahkan nafasnya saja terlihat tidak teratur.
"Kenapa kau mengingkari janji padaku? Kenapa kamu membuatku kwatir lagi?" Salva tak bisa menahan tangisnya lagi, air matanya jatuh bersamaan dengan untaian kata yang ia ucapkan.
"Anda harus kuat, nyonya. Dokter Arya pasti akan sembuh, sebelum dioperasi ia sempat menyebut nama anda beberapa kali, mungkin dia sangat kwatir dengan mu."
Salva tertegun mendengar ucapan sang suster yang sedang memeriksa infus Arya.
"Benarkah? Dia memanggil namaku?" tanya Salva penuh haru.
"Benar nyonya. Apa sebenarnya kalian bertengkar? Biasanya pasien yang saya tanggani begitu,"
"Tidak, sus. Sebelum pergi dia berjanji akan menjemput ku di apartemen, mungkin dia takut aku kwatir." Sang suster menganguk mengerti. Ia mengusap lembut pundak Salva, agar wanita itu lebih kuat menjalani cobaan ini.
"Baiklah ... Waktu menjenguknya sudah habis, nyonya. Tunggu sampai dokter Arya dipindahkan di ruang rawat biasa, anda bisa menjaganya sepanjang waktu."
Salva dibimbing untuk meninggalkan suaminya itu. Meskipun ia sangat ingin menjaga suaminya tapi pihak rumah sakit belum mengizinkan untuk mereka, ada waktu yang harus ditentukan untuk membiarkan pasien sendiri.
"Sayang ... Bagaimana suamimu?" tanya bunda.
Salva tertunduk diam, Sulit rasanya ia menceritakan kondisi suaminya yang begitu menyediakan.
"Dia belum sadar Bun. Bunda, apa keluarga Arya sudah datang?"
"Belum, Sepertinya mereka masih dijalan." Salva menganguk, lalu ia pergi meninggalkan bunda dan ayah Ardi yang menatapnya kasihan.
Salva mencari mushola yang ada di rumah sakit, ia ingin menenangkan hati dan pikirannya, dan tempat terbaik untuk ia mengadu hanya pada Allah nya, berdoa agar Allah mengembalikan suaminya Kemabli.
"Salva,"
*****
Hayo siapa yang manggil Salva?
jangan lupa tulis dikomen ya😊
mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisannya, karena cerita ini belum aku revisi dan dari awal memang banyak kesalahan🙏🙏
...Salam cinta Ara putri 😘❤️💖💓...