Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdua denganmu
"Halo Assalamualaikum," sapa Ammar di seberang.
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Arum.
"Ada apa Dik?" tanya Ammar.
"Ini Mas, kainnya janjinya nyampe toko sore katanya, ini aku izin nungguin di toko ya, Hasan sama Rizki di depan, aku nyempil di belakang, di tempat jahit," kata Arum meminta izin kepada Ammar.
"Iya Dik, kamu jaga diri ya, mungkin nanti kalau kemalaman aku nginap di tempat Mama ya," jawab Ammar sekaligus berpamitan.
"Iya Mas," jawab Arum singkat.
"Baiklah Mas tutup dulu ya telponnya, Assalamualaikum," ucap Ammar.
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh," ucap Arum mengakhiri telepon itu.
*
Ketika hampir Maghrib Arum baru sampai di rumahnya, hari ini panjang sekali baginya, belum terbiasa berpisah dengan anak-anak dan suami yang tiga bulan ini bersamanya, baru sehari ditinggal Arum sudah sangat merindukan mereka.
Arum tidak memasak untuk makan malam, ia tadi sudah membeli capjay untuk makan malamnya, selesai mandi dan sholat Maghrib, dia segera makan, tidak terasa air matanya mengalir di pipi.
Yaa Allah, terasa sekali ditinggalkan mereka, biasanya meja makan ini ramai dengan canda tawa anak-anak dan Mas Ammar, belum semalam aku sudah sangat merindukan mereka. Dan beginikah juga aku di dalam kubur nanti, suamiku, anak-anakku, keluarga semua akan meninggalkanku, hanya tinggal aku dan amalku, beri kami kesempatan Yaa Allah untuk mencari amal shalih.
Selesai makan Arum pergi ke kamar, membaca Alquran sambil beristirahat menunggu waktu isya tiba.
Di waktu yang sama, tempat yang berbeda yaitu di rumah orang tua Fitri. Semua sedang menikmati makan malam, sambil ngobrol-ngobrol.
"Mas kenapa Dik Arum gak diajak? Aku kangen sama dia," tanya Fitri.
"Iya, dia sedang banyak pesanan gamis, jadi harus ngecek jahitan karyawannya," jawab Ammar.
"Iya Mama juga kangen, istrimu itu maa syaa Allah baik sekali merawat Fitri, juga membuat rumah ini lebih ceria, Mama merasa siapapun di dekatnya akan merasa bahagia," Mama Fitri menambahkan.
Sementara Mama Ammar diam saja mendengar pujian mereka kepada Arum. Sampai sekarang Mama Ammar belum bisa ikhlas menerima Arum sebagai menantunya. Mama Ammar masih terheran mengapa Arum begitu disenangi keluarga Fitri.
*
Selepas sholat Isya, Arum menutup pagar dan mengunci pintu, tetapi tidak seperti biasanya, kunci pintu dia cabut dari lubang kunci, karena dalam hati kecilnya masih berharap kalau suaminya bisa pulang malam ini. Lalu Arum masuk kamarnya dan bersiap tidur.
Arum mematikan lampu kamarnya, kemudian berusaha memejamkan matanya yang tidak mengantuk, dia membaca dzikir pelepas lelah. Beberapa waktu kemudian dia tertidur.
*
Di tengah tidurnya Arum yang terkejut karena ada lelaki yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, spontan melepaskan pelukan dan mendorong lelaki itu sekuat tenaga menggunakan kaki dan tangannya bersamaan. Dia yang masih mengantuk tidak bisa melihat jelas karena sangat gelap. Lelaki itu langsung terjatuh dari tempat tidur. Dan lelaki itu mengerang kesakitan.
"Aaarghh..."
Arum seperti mengenal suara itu, kemudian ia menyalakan lampu tidur di atas nakas. Dan dia terkejut, ternyata lelaki itu adalah Ammar.
*****flashback satu jam yang lalu*****
Hampir tengah malam Ammar tiba di rumah Mamanya. Setelah mengantar Mamanya masuk ke rumah, Ammar segera kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Arum.
Sesampainya di rumah, Ammar membuka pintu dengan kuncinya. Dan segera masuk ke rumah, dia menuju kamarnya yang gelap, tetapi dia masih bisa melihat Arum yang tertidur miring ke sisi kanan sesuai sunnah. Ammar segera mengambil baju di lemari kemudian pergi mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, Ammar segera menyusul Arum di tempat tidur. Dia sangat rindu karena seharian tidak bertemu. Dia memeluk Arum dari belakang, dan tak diduga Arum mendorong dan membuatnya jatuh dari tempat tidurnya.
*****flashback off*****
"Mas Ammar," kata Arum masih terkejut dan semakin terkejut dia membuat Ammar tersungkur kesakitan. Dia segera melompat menolong Ammar.
"Mas, maafin aku Mas, aku gak tahu tadi itu Mas Ammar," kata Arum merasa bersalah.
"Iya, Mas minta maaf juga, Mas gak ngabarin kalau Mas jadinya pulang, pengen bikin kejutan, eh malah ditendang," kata Ammar sambil meringis kesakitan memegang punggungnya yang terbentur dinding.
"Maaf Mas, Maaf, Aku benar-benar gak sengaja," kata Arum sambil membantu Ammar berdiri dan duduk di atas tempat tidur.
"Iya Mas maafin kamu, tapi kamu harus dihukum dulu," kata Ammar sambil tersenyum menggoda Arum. Dia meraih tangan Arum dan menariknya hingga Arum terjatuh di pelukannya. Mereka menikmati hukuman indah itu.
*
Esoknya hampir Subuh, Arum sudah mandi dan membungkus rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Dia membangunkan Ammar yang masih terlelap kecapaian.
"Mas, bangun Mas, mandi gih, hampir subuh ini Mas," kata Arum. Ammar perlahan membuka matanya.
"Mas masih ngantuk Dik," kata Ammar merem lagi.
"Iya, ini hari Ahad, nanti setelah matahari terbit bisa tidur lagi Mas," kata Arum membujuk Ammar yang manja pagi itu.
Ammar bangun dan duduk di dekat Arum dan menyandarkan kepalanya ke bahu Arum. Sebentar lagi adzan Mas, nanti terlambat ke musholla. Ammar pun menurut dan berjalan gontai ke kamar mandi. Arum segera menyiapkan pakaian untuk Ammar. Sebenarnya Arum juga senang Ammar bermanja-manja padanya, tetapi ada kewajiban yang harus dia dahulukan, yaitu mengingatkan kewajiban Ammar untuk sholat fardhu berjamaah di masjid atau musholla.
Ammar selesai mandi dan berpakaian, dia segera bergegas ke musholla karena adzan sudah berkumandang. Sedangkan Arum sholat sendiri di rumah.
Selepas sholat Arum pergi ke kamar membaca dzikir pagi dan dia lanjutkan dengan membaca beberapa lembar Al-Qur'an. Ammar tidak langsung pulang, walaupun sangat mengantuk, dia berusaha menahannya, membaca dzikir pagi dan menunggu matahari terbit untuk selanjutnya sholat syuruq, setelah itu baru pulang ke rumah.
"Dik, aku ngantuk banget, aku tidur duluan ya, sarapan nanti saja, kamu kalau sudah lapar sarapan duluan gak papa," kata Ammar sambil masuk ke kamar.
"Baik Mas, Mas istirahat saja," kata Arum.
Sebenarnya Arum sudah sangat lapar karena terbiasa sarapan pagi-pagi. Tetapi juga ingin menemani Ammar sarapan nanti. Maka dia hanya memotong-motonh pisang dan pepaya, lalu ia taburi dengan chia seeds. Dan segera melahapnya untuk meredam lapar di perutnya.
Setelahnya ia mencuci piring dan menyapu rumah. Kemudian bersiap memasak di dapur, ia berencana membangunkan Ammar jam delapan nanti, agar tidak terlalu telat sarapan paginya. Arum membuat tumis taoge tahu kuning, dan ayam goreng lengkuas. Bau harum gorengan ayam itu membuat Ammar terbangun.
Ammar segera menuju dapur menghampiri Arum yang tengah sibuk memasak, lalu memeluknya dari belakang.
"Lho Mas kok sudah bangun, rencananya aku mau bangunin jam delapan," kata Arum sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan.
"Kamu sih, harum banget masakannya, gak nahan buat lari ke dapur," jawab Ammar manja sambil bergelayut di punggung Arum.
"Mas, jangan gitu, aku bau kompor," kata Arum sedikit menghindar.
"Gak papa, mau gimana bau kamu, tetap paling harum, karena namamu Arum," kata Ammar sambil tertawa, Arum juga ikut tertawa. Selepas itu mereka sarapan bersama, sambil bercanda, dan bercerita tentang rencana mereka hari ini.
*****
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap