Freya Pranata Putri menyukai kakak dari sahabatnya sejak kecil. Tapi keluarganya membawanya pergi ke luarnegeri, sehingga mereka terpisah.Saat dewasa perasaan suka Freya tumbuh menjadi cinta. Freya seringkali menyatakan cintanya kepada cinta pertamanya, tapi selalu diabaikan oleh Revan.
Revan yang sudah dewasa pun memiliki seorang kekasih, tapi ternyata tanpa sepengetahuan dirinya, orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Freya. Hingga Revan membenci Freya. Pernikahan tetap terjadi tapi Revan akan menceraikannya setelah enam bulan.
Lika liku kehidupan membuat Revan jatuh cinta pada Freya, tapi dia pun masih bingung harus memilih antara istri atau kekasih.
akankah Freya mendapatkan cinta pertamanya setelah berkali-kali disakiti?,ataukah harus menyerah dan bertemu cinta yang lain?
selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 29
Jangan lupa like gengks😘😘😘😘
Freya tidak dapat memejamkan matanya saat sudah di atas kasur empuknya. Dia masih berusaha menghubungi suaminya tetapi tetap tidak ada jawaban. "Kemana kamu kak Revan, kenapa kau tidak memberitahu kemana kau pergi, setidaknya kalaupun kau tidak bisa memberitahuku secara langsung kau bisa menelpon ku atau mwngirimiku pesan", Freya bergulat dalam pikirannya.
.
.
.
.
.
.
Pagi harinya Freya bangun lebih pagi, dia akan pulang ke apartemen Revan,berharap suaminya pulang ke sana.
" Bi Sum, nanti tolong bilangin Mama sama Papa kalau Reya pulang ke apartemen ya, ada berkas yang tertinggal di sana, nanti sekalian langsung berangkat ke kantor",Freya sedikit berbohong.
"Non Reya nggak nunggu nyonya sama tuan bangun dulu,nggak sarapan disini saja non?".
" Nggak Bi makasih, Reya ada rapat pagi, nanti biar sarapan di kantor saja ".
" Oh ya Bi, Reya bawa mobil Papa satu ya, tolong nanti bilangin Papa ".
" Siap non".
Freya bergegas melajukan mobilnya menuju apartemen berharap suaminya ada di sana. Dia akan minta penjelasan kepada suaminya nanti.
.
.
.
.
Sampai di apartemen, Freya langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju lift.
Sampai di depan pintu apartemen Freya mengeluarkan cardlocknya untuk membuka pintu. Tujuan utama Freya kini adalah kamar Revan.
Freya membuka pintu kamar Revan ,tetapi tidak ada suaminya. Kemudian dia menyusuri seluruh apartemen tersebut tetap tidak mendapati suaminya.
"Sebenarnya kemana kak Revan", gumamnya." ish...kenapa aku tidak menghubungi sekertarisnya di kantor ",ucapnya pada dirinya sendiri.
Freya mengeluarkan benda pipih dalam tasnya dan menghubungi Sally sekertaris Revan di kantor.
Panggilan terhubung.
" Ya dengan perusahaan Mahesa Company ada yang bisa di bantu? ".
" kak Sally, ini Reya, apa kemarin kak Revan lembur di kantor? ".
"Oh.. Nona Freya, kemarin Pak Revan sempat kembali ke kantor, tapi kemudian dia melakukan penerbangan ke Korea untuk waktu yang tidak di tentukan".
"Apa kak Revan melakukan perjalanan bisnis di sana?".
" Maaf nona, tapi di agenda perusahaan Pak Revan tidak ada melakukan bisnis di sana, dan semua pekerjaan sudah di limpahkan kepada asisten Reza".
"Baiklah sekertaris Sally, terimakasih informasinya", Freya menutup telponnya. Dia terdiam, banyak pertanyaan dalam benak Freya, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaan dalam benaknya tersebut.
Freya memutuskan untuk pergi ke kantor dan kembali fokus kepada pekerjaannya. Dia ingin sejenak melupakan masalah tentang suaminya. Dia akan fokus dulu pada pekerjaannya. Freya akan minta penjelasan kepada suaminya saat suaminya pulang nanti.
.
.
.
.
Hari demi hari sudah berlalu, genap dua Minggu Revan tidak ada kabar, hilang bak ditelan bumi.
Hari ini adalah akhir pekan, Freya memutuskan untuk belanja kebutuhan dapurnya.
Dalam supermarket,Freya mendorong troli dan memasukan beberapa kebutuhan dapur dan pribadinya. Langkah Freya terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.
" Yaya.. "
Freya membalikkan badannya mendapati seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang selalu hadir di saat susah dan sedihnya.
"Kak Ar".
" kau belanja sendiri? ".
" Emmm ",Freya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak bersama suamimu?".
" Dia sedang ada bisnis di Korea kak",ucap Freya kini wajahnya mengandung kesedihan.
"Ada apa dengan mu Yaya, kenapa setiap bertemu dengan mu, aku melihat ada kesedihan di wajahmu", batin Arvin.
" Apakah sudah selesai belanjaannya?, aku ingin mengajakmu makan malam di restoran sebrang ".
" Sebentar, masih ada satu barang kak, asik tiap ketemu pasti dapat traktiran ".
" Siapa bilang, sekarang giliran Nobita yang mentraktir Doraemon ".
"Ishh...kirain " Freya memanyunkan bibirnya .
Arvin gemas melihat tingkah Freya. Dia pun tersenyum melihatnya.
Arvin mengambil alih troli yang di pegang Freya, kemudian mereka berdua berjalan menuju satu barang yang akan di beli Freya.
Saat berjalan beriringan sesekali Freya menatap wajah Arvin."Seandainya kak Revan yang menemaniku saat ini ",batin Freya.
Arvin yang sadar Freya menatapnya ,menengok kewajah Freya. Kini pandangan mereka bertemu.
Tiba-tiba Freya merasakan jantungnya berdetak dengan cepat. Freya segera memutuskan pandangannya dan menatap ke sembarang arah.
" Kenapa menatapku, apa kamu naksir padaku hem".
"Ge Er", ucap Freya kemudian mengambil barang yang akan di belinya tepat di belakang Arvin.
" Aku mau mengambil ini ",Freya mengambil saus tomat dan memasukan ke dalam troli. Freya mengambil alih troli dan berjalan cepat menuju kasir. Sepanjang melangkah Freya bergumam.
" Kenapa jantung ku bisa berdebar cepat saat bersama Kak Ar, seperti saat bersama Kak Revan ,sebelumnya tidak pernah, tapi sejak kapan ".
" Tidak akan mungkin kau akan mencintaiku Ya, karena di hatimu hanya ada dia",ucap Arvin melihat punggung Freya yang menjauh. Akhirnya dia pun menyusul Freya.
Setelah berbelanja ,kini mereka makan malam di restoran seafood depan supermarket.
"Yaya ,besok Taman hiburan di kota X akan mengadakan acara tahunan, apa kau mau kesana dengan ku?".
" Oh ya..dari dulu aku ingin sekali ke sana, baiklah aku akan ikut ".
" aku dengar di sana ada danau kecil yang konon katanya bisa mengabulkan doa kita, aku tidak sabar lagi untuk kesana ",Freya sangat antusias.
" Baiklah besok aku jemput, kita akan berangkat pagi-pagi "
"Asiap komandan".
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung