Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada apa dengan Taksa?
"Harusnya bukan kamu yang ngurusin ini?"
"Nggak tahu lah, kesel."
Pemuda itu tersenyum mendengar jawaban gadis di sampingnya.
"Emang si ketos kemana?" Iva mengangkat kedua bahunya, dia kembali melanjutkan menyusun rangakaian acara yang akan di adakan selepas kenaikan kelas nanti.
Tapi, dia malah mengerjakannya sekarang. Udah gitu sendirian lagi, karena Sela harus mengurus bagian konsumsi sementara dirinya bagian menjadi pembawa acara. Entah siapa yang memberi ide sulaya dirinya dan Iva yang bukan anggota OSIS ikut terlibat dalam urusan MOS.
"Sini aku yang nyatet kamu yang bacain?" Arsen mengambil puplen di tangan Iva. Membuat gadis yang sedari tadi menggerutu itu sedikit lega.
"Makasih Arsen, kamu baik juga ternyata."
Arsen hanya tersenyum seraya melanjutkan tugas Iva. Mereka memang berbeda kelas, sehingga jarang bertemu seperti ini. Kecuali sengaja membuat janji seperti sekarang.
Arsen teman satu kelasnya Taksa di kelas yang dulu, dia siswa paling pandai dalam mengurus suatu acara. Karena mungkin pemuda itu memang bercita-cita menjadi seorang WO.
"Kamu tuh harus banyak belajar, masa ginian doang nggak bisa?"
"Nggak usah kayak Taksa deh, dikit-dikit nyuruh belajar. Belajar ngitunglah, belajar masaklah. 'kan males tiap hari harus belajar." Iva menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan.
Kening Arsen berkerut mendengar perkataan Iva, memang selama ini mereka dekat? Kok satu sekolh tidak ada yang tahu?
"Kamu pacaran sama Taksa?"
"Hah, ya ... nggak lah," Iva tersenyum kaku, ia mengibaskan tangannya.
"Syukurlah." gumam Arsen lirih.
"Hah, kenapa?"
Arsen menggeleng, beruntung Iva tidak mendengarnya tadi.
"Sini, aku ajarin kamu cara mengurus acara kyak gini." Arsen menarik tangan Iva supaya lebih dekat dengannya.
Iva mendekat dengan penasran, sesekali ia tertawa ketika Arsen menjelaskan yang menurutnya gampang jika mau dipelajari. Ternyata selama ini dia tidak bodoh, hanya saja malas belajar.
Sementara dari balik pintu kelas yang mempunyai kaca kecil di bagian tengahnya, seseorang melihat mereka tertawa dengan rahang yang mengeras. Dia bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya.
"Iva kayra, ikut saya!" Taksa datang dan langsung menyeret Iva dari tempat duduknya, tanpa membirakan gadis itu berkomentar sedikit pun. Dan membiarkan Arsen melongo kebingungan di tempatnya.
"Taksa, sakit." Iva menghempas tangan yang dipegang Taksa, ini yang kedua kalinya Taksa menyakiti dirinya seperti itu.
"Kamu tuh kenapa sih? Aku salah apa lagi sama kamu, huh?" pekik Iva kesal, kali ini dia tidak mau mengalah lagi.
"Kamu? Kenapa kamu berduaan sama Arsen di kelas? Bukannya tadi aku suruh kamu mencatat rangakaian acara, kenapa malah pacaran?"
Iva terkesiap. Dia? Pacaran? Gadis itu menggaruk pelipisnya tidak mengerti, dimana letaknya disebut pacaran? Jika hanya duduk berdua dan mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka.
"Aku nggak pacaran? Tadi kita hanya melakukan apa yang kamu suruh Taksa."
"Nggak usah nge-les."
Iva mendengus. Sebenarnya lelakiitu kenapa sih? Lagi datang bulan atau kenapa? Tiba-tiba saja datang terus marah-marah tidak jelas. Aneh.
"Kamu tidak sakit 'kan?" Iva mengulurkan tangannya hendak memegang kening Taksa. Tapi, dengan cepat lelaki itu menepisnya kasar.
"Jangan sok mengalihkan pembicaraan." kening Iva semakin berkerut dalam dan banyak, ada apa dengan Taksa? Kenapa sikapnya mendadak aneh begini.
"Kamu tuh?" Iva berdecak kesal. Ingin sekali dia menjabak rambut milik si cowok tengil itu.
"Karena kamu lalai. Kamu, aku hukum menyapu lapangan bola sekarang." ucap Taksa tegas.
Mata Iva membulat sempurna mendengar perintah yang keluar dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Tega sekali dia menyuruhnya menyaoi lapangan bola yang luas itu di saat matahari tepat di ubun-ubun.
"Taksa, kok gitu. Ini nggak adil namanya." protes Iva tidak terima.
"Laksanakan atau aku tambah?"
Iva memajukan bibirnya beberapa centi ke depan. "Iya-iya."
Gadis itu berjalan meninggalkan Taksa dengan segudang sumpah serapah dalam hatinya, Iva berjanji akan membalas Taksa nanti di rumah. Apalagi nanti malam mereka akan menginap di rumah orang tuanya, kesempatan bagus untuk balas dendam.