"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 | Fragmented
"Huawwhhh! Bundaaa!!!" tangis gadis kecil itu pecah, saat pasir di halaman panti menghambur di pucuk kepalanya. Dengan kesal Alpha menatap ketiga orang yang tengah mengerjainya ini tanpa absen setiap hari.
"Haha cengeng! Gitu aja nangis!" selak cowok berumur 7 tahun itu dengan gembira, diselingi tawa anak cowok lainnya. Hanya satu yang tidak tertawa—lebih tepatnya tersenyum sinis.
"Rasain tuh!" ejek Ussy makin membuat Alpha menangis kencang sambil menyepak pasir.
"Tarik aja tuh ikat rambutnya, kemarin Buk Ismah beliin dia yang baru. Tapi aku enggak!" marah Ussy menyuruh teman yang lainnya mengerjai Alpha.
"Ih... Ini Bunda Ismah beliin karena Bunda sayang aku! Kamu jahat ama Bunda makanya gak dibeliin!!! Lagian cuma pas ada Saga ama mereka aja kamu berani jahatin aku!" Alpha menunjuk kedua cowok di belakang Ussy dengan marah.
"Hah?! Memang kamu bisa apa, beruntung banget sih dasar jelek! Alpha jelek!"
"Ussy yang jelek! Bweekk!!"
"Ihh!" amuk Ussy menarik ikat rambut berwarna merah polkadot milik Alpha, gadis itu memberenggut dongkol saat Saga menghalangi tangan Alpha merebut barangnya.
"Awas kamu Ga! Liat aja nanti, kamu juga Ussy! Aku panggilin Delta kalian pasti takut."
"Siapa? Delta? Hahahhah jangan ngayal deh..."
Butiran pasir tumpah ruah di atas kepalanya, membuat ia terbatuk saat menghirup udara berpasir itu. "Jorok!! Huawhh Bundaaa!!!"
"Alphaa!!" panggil wanita paruh baya mendekatinya lalu mendekap gadis kecil itu pelan sambil membersihkan rambutnya.
"Kalian jahat! Bunda..., mereka tiap hari gangguin Alpha... Huawhh!!" tangis Alpha pecah saat itu juga. Tangisan yang lebih parah dibanding sebelumnya, kemarin Alpha hanya diam sambil memberenggut saja tapi kali ini gadis itu benar-benar tak bisa diam. Berulang kali Ismah membujuknya namun Alpha semakin menangis.
"Mereka jahat, Nda! Alpha gak mau lagi liat mereka. Alpha mau pulang... Hiks... Hiks... Bunda..."
"Eh, eh Alpha... Kita minta maaf... Suer gak ada niat pengen jahatin kamu..." bujuk salah satu cowok tengik itu.
"Alpha mau pergi aja! Bunda... Alpha pengen pulang ke rumah..."
"Tapi rumah kamu di sini, Alpha." nada bicara Ismah melembut. Alpha membentak dengan tajam. "Rumah Alpha bukan di sini! Rumah Alpha di tempat Bunda sama Ayah!!!"
Mereka terdiam.
"Alpha! Woi seriusan kita minta maaf, kita gak ada maksud nyakitin kamu," ucap Saga penuh penyesalan. Yang satu lagi menimbrungi. "Kita dipaksa sama Ussy!" belanya.
"Ussy... Kamu lihat sekarang Alpha jadi kayak gini! Kenapa kamu sejahat itu sama dia?!" marah Ismah menatap tajam Ussy.
"Karena Bunda cuma sayang sama Alpha! Bunda gak sayang sama aku! Apa-apa Alpha, semua yang dibeliin buat Alpha... Hiks... Kenapa aku selalu gak dapat apa-apa, Bunda selalu aja sayangin dia daripada aku! Bunda pilih kasih!!!" tangis Ussy, melontarkan seluruh kekesalannya. Baginya, Alpha selalu merebut apa yang ia inginkan.
Sejak saat itu, Ussy berjanji akan membalaskan dendamnya. Merebut hal yang sangat berarti bagi Alpha. Seperti halnya ia merebut kasih sayag Bunda Ismah sejak kedatangannya di panti itu.
×××
Perasaan sedih itu kembali menghantuinya, Alpha selalu merasa dibuang. Semua orang membencinya. Saga, Ussy dan mereka semua yang tinggal di panti itu. Jahat.
Langkahnya menuntun menuju rumah sakit yang berseberangan dengan pantinya. Yang ia tahu, banyak orang yang membutuhkan semangat ketika menghadapi masalah seperti dirinya. Ketika ditinggalkan dalam keputusasaan, sendiri menyelami rasa sakit. Tidak terkecuali untuk anak laki-laki yang sedang dirawat inap itu.
Di celah pintu Alpha mengintip, ada rasa takut ketika melihat pria tua itu memarahi teman yang hampir sebulan ini menemaninya. Mengerti rasa sakit yang sama. Kesepian, tidak dianggap, dan tidak diharapkan.
"Ngapain kamu dekat anak gak terurus kayak dia?! Mending kamu main dengan Alister dan Geenan. Ini gadget keluaran terbaru, apa yang kamu mau biar Papa belikan. Asal jangan main sama anak gak jelas itu! Mau ditaruh di mana muka Papa, hah?!" oceh Papa Delta penuh tekanan dalam setiap kata-katanya.
"Kenapa..." ucap Delta serak. Kepalanya tertunduk sembari mencengkram erat selimutnya.
"Kenapa aku gak boleh main sama Alpha, Pah? Dia baik, Delta bosan sama Alister. Mereka ngomongin Delta di belakang. Mereka cuma ada pas Delta sehat. Memang sekarang mereka ke mana—"
"Jangan menjawab kamu!"
"Aku gak mau main sama Alister! Gak mau sama Geenan! Aku mau main sama Alpha!!"
Plakk!!
"Diam kamu, anak sialan! Kamu pikir berapa uang yang Papa habiskan cuma buat kamu? Bergaul dengan orang terpandang macam Alister, bukan gembel kayak dia! Ngerti kamu?!!"
Anak kecil itu hanya diam. Alpha masuk tiba-tiba membuat sorot mata lelaki itu makin beringas. "Ngapain kamu di sini, HAH?!!"
"Om... Sebelumnya Alpha mau minta maaf, mungkin kalian bertengkar juga karena Alpha..."
"Tapi apa yang Om lakukan berlebihan... Delta gak salah apa-apa..."
"Malah menasehati saya, kamu! Pergi dari sini!!!"
"De... Kamu gak apa-apa?" tanya Alpha pada cowok yang tengah menunduk dalam itu. Lama menunggu, mulut Delta membuka. "Pergi..."
"Delta..."
"Pergi!"
"Delta... Aku gak mau..."
"Pergi Alpha! Jangan balik lagi! Gara-gara kamu aku selalu kena pukul! Jangan main sama aku lagi, jauh-jauh sana!!" bentaknya membuat Alpha menangis tanpa suara. Tangisan yang lebih menyakitkan bagi siapa pun.
"Ma-maaf..."
Langkah kecil itu pelan menjauh, beriringan rasa sakit yang dibawanya. Delta hanya mencengkram selimut kian erat, menutupi rasa bersalahnya.
Setelah hari itu Alpha tidak pernah mengunjungi rumah sakit lagi. Delta menyesal, benar-benar menyesal. Dia itu mencari hingga nekat menerobos jalan raya sendirian, mengelilingi panti asuhan Cempaka.
"Nyari siapa, dek?" tanya Ismah.
"Alpha... Dia tinggal di sini?"
Wanita itu tersenyum singkat, senyum itu memudar menjadi ekspresi paling pahit. "Dia... Udah pergi, bawa adiknya tiga hari yang lalu. Entah ke mana mereka pergi, Bunda udah cari ke mana-mana. Bahkan Bunda gak tahu di mana rumah mereka sebelumnya."
"Alpha di mana?!" ulang Delta tidak terima.
"Mereka udah gak tinggal di sini, Nak."
"Salah aku... Gara-gara ucapan kemarin itu... Bodooh!!!" kesal Delta mengacak rambutnya frustrasi.
"Bukan salah kamu, Nak. Bunda yang gak becus jagain dia." Ismah mendekap hangat Delta yang kala itu berumur 9 tahun. Hingga seorang pria datang dalam baju dinasnya.
×××
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️