Kematian kakaknya membuat Ayu memiliki hubungan percintaan dengan Angga, polisi tampan yang bertugas mengungkap kasus kematian tersebut, Herman sahabat sekaligus teman kuliah yang telah lama mencintai Ayu ternyata adalah anak dari suami almarhum kakak, apa yang terjadi selanjutnya dengan hubungan Ayu dan Herman, mungkinkah hubungan persahabatan mereka tetap terjalin baik setelah mereka tahu latar belakang masing masing, bisakah Angga mengungkap pembunuh kakak Ayu yang sesungguhnya ikuti kisah Ayu, Herman dan Angga dalam kisah mawar kali ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Robbiyana Widiyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nikah yuk
Angga memperhatikan ekspresi Ayu yang nampak sedih mendengar asumsinya. Dan dia bisa memahami perasaan Ayu.
" Bagi kakak, aku mungkin hanya dianggap anak kecil yang tidak perlu tahu urusannya, sehingga dia tidak pernah menceritakan hal apapun kepadaku."
" Bagaimana orang tuamu meninggal?"
" Mereka meninggal karena kecelakaan. Waktu itu ibuku mendampingi ayah dinas keluar kota, saat di jalan tol, mobilnya mengalami pecah ban, saat itu mobil dalam kecepatan tinggi, mereka meninggal di tempat kejadian."
" Sudah lamakah kejadiannya?"
" Saat aku masih di awal SMA, kakakku hampir ujian skripsi."
" Lalu?"
" Lalu? apalagi yang di tanyakan? ya tentu saja kami berdua nggak mungkin berlama lama bersedih, kakakku bekerja sambil mempersiapkan skripsinya, setelah lulus dari kuliahnya dia ada penawaran kerja di Jakarta dia mengambilnya dan aku sendirian di sini."
" Kamu tidak ada kerabat."
" Ada kerabat dari ayah, tapi juga jauh di luar kota kami kurang begitu akrab, ibuku anak tunggal."
" Artinya kamu tidak sebatang kara kan?"
" Iya. Masih ada adik perempuan ayahku."
" Menurutmu, mungkin gak asumsiku tentang suami kakakmu itu benar?"
Ayu menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Angga
" Mungkin bisa benar juga, kakakku sebelumnya sangat manja pada orang tua kami, karena kondisilah yang membuat kakakku terpaksa harus mandiri dan dewasa serta berubah menjadi kepala keluarga mendadak."
" Maksudmu?"
" Mungkin dia mau jadi istri kedua atau simpanan bos karena dia di perlakukan sebaik ayahku memperlakukan kakakku, biasanya kan bos laki laki Itu yang sudah berumur." jawab ayu
" Berumur, botak, gendut gitu ya..." canda Angga untuk membuat senyum di wajah Ayu yang jadi menghilang kembali muncul karena pembicaraan mereka yang sangat serius.
" Biasanya kan gitu." jawab Ayu sambil tersenyum
" Ini masih asumsi lo, jangan di pikirin ya, biar Itu jadi tugas ku saja mencari pelakunya." kata Angga sambil mengusap punggung tangan Ayu yang berada di meja.
" Sampai sekarang belum ketemu titik terangnya ya mas?"
" Masih buntu, dugaan sementara kakakmu di bunuh di tempat lain dan mayatnya di buang di jalan. Asumsi Itu jadi kuat karena dalam genggaman tangan kakakmu ada serpihan bunga mawar merah. Dan dari rekaman cctv jalan, mobil yang di pakai membawa mayat kakakmu Itu bukan salah satu mobil pribadi miliknya, jadi ini jelas bukan perampokan, sayangnya hingga hari ini kami belum menemukan siapa pemilik mobil Itu, karena nomor polisinya ternyata palsu."
" Kalau memang begitu mungkinkah kasus kakakku ini akan di bekukan?
" Bisa jadi, tetapi kalaupun di bekukan, suatu saatpun begitu ketemu bukti yang kuat kasus tetap bisa di buka lagi. Kamu bisa bayangkan, kasus kriminal di Jakarta banyak sekali, kami tidak mungkin fokus hanya pada satu kasus."
" Iya aku tahu, apalagi kakakku bukanlah siapa-siapa yang bisa memancing penasaran publik ya mas, nggak seperti kasusnya artis atau politisi." jawab Ayu
" Ya nggak gitu juga Ayu...kamu jangan pesimias gitu dong."
" Memangnya aku mesti optimis gimana lagi mas? mau optimispun kakakku nggak bakalan kembali."
" Iya, setidaknya kamu bisa mendapatkan keadilankan untuk kematian kakakmu, karena bagaimanapun tindakan pembunuhannya sangat keji, tega membunuh padahal korban dalam posisi hamil."
" Iya, nasib kakakku sungguh malang, aku hanya berharap semoga kasus ini segera terungkap."
Ayu menunduk menyembunyikan wajahnya yang kembali murung mengingat kakak perempuannya itu. kesedihan kembali terlukis di wajahnya, dalam hati Ayupun sangat menyayangkan kondisi dan nasib kakaknya. Seandainya dia pernah mengenalkan suaminya atau seandainya Ayu pernah di beritahu tentang kehamilannya, mungkin kejadiannya akan lain.
"Yu..." panggil Angga pelan,
Ayu tidak menjawab hanya mengangkat wajahnya sejenak, namun dia nampak kembali menunduk lagi
" Kamu sedih pasti ya, aku nanya nanya gini, maafin aku ya." kata Angga
" Gak papa mas, ini kan memang tugas mas Angga sebagai polisi."
" Sudah..jangan terlalu di pikirin ya, semua sudah ada yang atur, kita hanya tinggal jalani aja."
" Iya mas, ayu juga ngerti Itu. "
" Kamu kerja aja di Jakarta Yu, biar kamu bisa ikut pantau perkembangan kasus kakakmu."
" Belum tahu mas, aku nggak pernah bayangin mau kerja di Jakarta, macet macetan, bising, sepertinya kalau aku bisa milih aku mending kerja di Semarang."
" Beda hasilnya Ayu, kamu kan masih muda, butuh tantangan. Di Jakarta nanti kamu akan banyak peluangnya."
" Ntar deh mas, wisuda juga belum, ijazah belum di tangan, apanya yang mau dipamerin?"
" Coba masukin lamaran aja dulu, nggak semua kantor langsung minta ijazah kok."
" aku juga harus nyari tempat tinggal di Jakarta, kayaknya ribet deh mas."
" Kamu kan bisa tinggal di rumah kakakmu, atau kalau mau sementara tinggal di apartemen ku juga gak papa"
" Dihh....nggak ah, tinggal di rumah kakak? ntar kalau suaminya pulang gimana? tinggal di apartemen kak Angga? apa ntar pandangan orang, lagipula ntar pacar kak Angga marah, aku nggak mau."
" Aku nggak punya pacar, kamu tenang aja, mana sempat orang Jakarta ngurusin urusan tetangganya."
" Nggak ah, aku nggak mau, kita nggak ada hubungan darah masa tinggal serumah?"
" Dibikin aja ada hubungan."
" Ya nggak bisalah...mas Angga aneh aneh aja."
" Bisa..."
" Caranya?"
"Kita nikah."
Ayu kaget sampai terbatuk batuk. Wajahnya tampak merah diantara suara batuknya. Angga nampak sibuk menepuk nepuk punggung Ayu untuk meredakan batuknya, dan di sodorkannya minuman Ayu, begitu batuknya sudah mereda. Dengan segera Ayu meminum air yang da di gelasnya hingga tinggal setengahnya. Berkali kali tampak dia menepuk nepuk dadanya sendiri.
" Mas Angga bercandanya kelewatan ih." kata ayu sambil cemberut
Angga tampak tersenyum melihat wajah Ayu yang semakin menggemaskan kalau sedang ngambek
" Aku tuh awalnya dulu mikir mas Angga itu polisi yang serius, galak, jutek. Tapi Makin kesini kok anggapanku keliru semua."
" Kamu suka yang mana?"
" Apanya?"
" Ya suka aku, sukanya aku yang seperti apa?"
" Ya nggak gitu mas, tapi kalau bercanda jangan kelewatan dong..coba tadi kalau aku keselek sampai mati gimana?" kata ayu sambil bersedekap di sambut dengan Angga yang tak habis habisnya tersenyum melihat sikap Ayu.
konflik antara Anya - Wira - William yg asli dan bener tuh gimana. Trs Wira bilang "Anya itu perempuan ular" , itu jg ga dijelasin lebih detail ularnya dimana.
trs Wira bilang "kalau ttd berkas, jgn pas terburu-buru. Jgn mudah percaya sama siapapun meski asisten pribadimu sendiri" itu jg ga dijelasin gimananya :(
Trs Wira kok tiba2 meninggal tuh gimana
huhh masih ganjel bgtt :(