Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy keren!
Alex menyusul Nora ke taman belakang, kemudian mereka duduk di kursi taman dengan meja bundar sebagai penyekat di antara mereka.
"Ada apa, Tuan?" tanya Nora.
"Ini sudah seminggu lebih kamu kerja, kenapa nggak tanya soal gaji?" tanya Alex to the poin.
"Nggak enak mau tanya, tuan kan sibuk terus. Lagipula semua kebutuhanku di sini sudah terpenuhi," ucap Nora.
Selama bekerja pada Alex, satu rupiahpun Nora tidak pernah mengeluarkan uang, bagaimana tidak, di rumah ini, bahkan pembalut pun sudah di sediakan untuk semua pekerja wanita, jika saatnya datang bulan, semua pelayan boleh meminta kebutuhannya pada yang bertanggung jawab.
Kebetulan, Nora sendiri bukan wanita yang suka berdandan, ia selalu berpenampilan ala kadarnya selama di rumah ini, paling-paling hanya memoles lipstik tipis dan bedak tabur yang sudah ia beli beberapa bulan yang lalu. Hanya dua benda itu yang ia miliki untuk menunjang penampilannya.
"Apa kamu nggak butuh uang?" tanya Alex.
"Lah, ya butuh, tuan. Nggak enak kalau lancang tanya-tanya soal gaji," ujar Nora.
Alex mengeluarkan kartu kotak tipis dari dompetnya, kemudian ia menyodorkannya ke hadapan Nora.
"Ini kartu ATM, aku membuatnya atas namamu sendiri. Setiap bulan, aku mentransfer gajimu ke kartu ini," jelas Alex. "Kamu bisa nggak pakainya?"
Menggelengkan kepala pelan, Nora tersenyum menampakkan barisan giginya yang rapi.
"Minta tolong pelayan lain buat ngajarin kamu pakai kartu ini. Di depan gang ada mesin ATM. Kalau senggang, kamu bisa ajak teman ke sana," perintah Alex.
"Baik, terimakasih, Tuan," ujar Nora, lalu memegang benda pipih di tangannya. Alex melihat wanita muda itu sambil tersenyum samar, Nora terlihat sangat polos dan tidak tau apa-apa, bahkan di jaman modern seperti ini, wanita itu tidak bisa menggunakan ATM.
"Berapa gaji yang kamu minta?" tanya Alex.
"Sewajarnya saja, Tuan," jawab Nora.
"Gaji di resto tempat kerja kamu sebelumnya berapa?"
"Empat juta."
"Yang benar saja. Resto sebesar itu dengan pengunjung ramai setiap hari, gajimu cuma empat juta?" tanya Alex terkejut.
"Sesuai sama kemampuanku, lagipula itu gajiku sebagai pelayan, Tuan. Kalau koki, lebih tinggi lagi."
"Berapa?"
"Empat juta tujuh ratus ribu rupiah," jawab Nora.
Alex geleng-geleng kepala mendengar penuturan Nora. Bagaimana bisa gaji pelayan yang bekerja melayani ratusan pengunjung perhari hanya di bayar kurang dari lima juta bahkan gajinya tidak ada separuh dari gaji pelayan di rumah Alex, meskipun yang mereka layani hanya dua orang.
"Sebelumnya, aku sudah berjanji akan membayarmu tiga kali lipat. Bagaimana?"
"Jadi, itu serius?" tanya Nora senang. Tangannya di letakkan di atas meja sambil menghitung jemarinya. "Wah, banyak juga," gumamnya pelan, namun masih terdengar oleh Alex.
"Bagaimana?" ulang Alex.
"Setuju, Tuan. Setuju, terimakasih banyak."
Nora tersenyum senang, hingga seorang pelayang datang menyuguhkan dua cangkir teh untuk dirinya dan Alex.
Sampai menjelang sore, keduanya berbincang-bincang ringan. Alex menanyakan banyak hal tentang Nora dan kesannya selama bekerja mengasuh Sunny di rumah ini.
Dengan rinci, Nora menjelaskan apa saja yang ia lakukan bersama Sunny selama seharian penuh ketika Alex sedang tidak ada di rumah.
Alex tau bahwa semua yang Nora ceritakan adalah benar, karena setiap hari sepulang kerja, Alex selalu mengecek rekaman CCTV yang sudah ia pasang di beberapa sudut, dan ia yakin jika Nora tidak mengetahuinya.
"Sunny anak yang baik, dia sama sekali nggak pernah membuatku repot. Jangan khawatir," ujar Nora.
Alex senang, akhirnya menemukan orang yang cocok untuk menjaga Sunny. Pendidikan Nora bukan masalah bagi Alex, yang terpenting, wanita itu mampu bertanggung jawab mengemban tugasnya.
"Semoga kamu betah selama mungkin di sini, Nora. Aku terlanjur percaya padamu," ungkap Alex.
"Aku akan betah, Tuan."
Tidak ada satu hal pun yang membuat Nora berpikir akan meninggalkan pekerjaan ini, selain mudah dan menyenangkan, ia juga bisa memiliki pengalaman dalam mengasuh anak, dan kelebihan lainnya, koki-koki di rumah ini tidak pelit dalam berbagi ilmu, semuanya dengan senang hati memberi Nora wawasan tentang kuliner.
Saat Nora dan Alex masih asik mengobrol, Sunny sudah bangun lebih dulu dan mencari keduanya, hingga seorang pelayan mengantarkannya menemui mereka.
"Wah, gadis kecil daddy sudah bangun. Bagaimana tidurmu, Sayang?"
"Nyenyak," jawab Sunny singkat, ia mengucek matanya berkali-kali, kelihatan kalau masih mengantuk.
"Apa ini sudah waktunya dia bangun?" tanya Alex pada Nora.
"Seharusnya sudah setengah jam yang lalu. Tapi kalau sebelum tidur perutnya kenyang, jam tidurnya akan lebih lama," jelas Nora.
Alex mengangguk paham, ia merasa sangat bangga dengan kinerja Nora, belum sebulan wanita itu menjadi pengasuh Sunny, ia sudah sangat paham kebiasaan-kebiasaan putrinya.
🖤🖤🖤
Pukul setengah 7 malam, sekretaris Alex sudah duduk di ruang tamu menunggu Alex yang sedang bersiap. Sedangkan yang di tunggu, masih sibuk di depan lemari.
Karena belum yakin dengan penampilannya, Alex mencari keberadaan Nora.
"Sayang, di mana aunty?" tanya Alex pada Sunny yang sedang asik membaca buku di kamarnya.
"Lagi buat susu."
"Aunty Nora jangan boleh capek-capek bikin ini itu, Sayang. Sunny kan bisa minta pelayan," ucap Alex.
Nora yang sudah selesai membuat susu, ia berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar Sunny.
"Tuan mencariku?" tanya Nora.
"Sudah ku bilang, jangan terlalu capek, Nora. Biarkan pelayan yang membuat susu," tegur Alex.
"Maaf."
Alex menghela nafas panjang, heran dengan kelakuan wanita di depannya. Sudah di beri pekerjaan ringan, namun masih saja melakukan tugas-tugas pelayan lain.
"Lain kali kamu bisa menyuruh pelayan, Nora. Tugasmu cuma duduk manis menemani Sunny, kecuali Sunny minta di buatkan masakan khusus darimu." Alex berucap tegas.
"Baik, maaf."
Entah karena kesal atau apa, Alex melupakan tujuannya untuk mencari Nora. Namun beberapa langkah dari kamar Sunny, ia berbalik.
"Nora," panggil Alex.
"Ya, Tuan?" Buru-buru Nora berdiri menghampiri Alex di ambang pintu.
"Apa kamu yakin pakaian ini cocok denganku?"
"Cocok tuan," jawab Nora. "Tampan sekali," lanjutnya dengan berbisik lirih.
"Ya, Daddy. Kelihatan keren!" Sunny memuji sambil menunjukkan dua jari jempolnya.
"Pasti dong, daddynya siapa?" tanya Alex menggoda.
"Daddy Sunny," ucap Sunny berteriak senang lalu berlari meminta Alex menggendongnya.
"Ayo, daddy akan terlambat, uncle Van sudah menunggu di bawah. Pasti sudah cemberut karena lama," ucap Alex, lalu mencium kanan kiri pipi putrinya.
Setelah menurunkan Sunny dari gendongan, Alex berpesan pada Nora agar Sunny tidak tidur terlalu larut atau bahkan menunggunya sampai pulang.
"Sepertinya aku akan pulang tengah malam. Jangan menungguku," ucap Alex.
Sepeninggal Alex, Sunny dan Nora melanjutkan kegiatan membacanya hingga seorang pelayan mengingatkan mereka untuk makan malam.
"Ayo makan dulu, nanti kita lanjut," pinta Nora, Sunny hanya mengangguk lalu menggandeng Nora menuju ruang makan.
🖤🖤🖤