NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Netra Bai Dashan dan Chen Muwan bergetar, terhunus tanpa berkedip kearah uang kertas serta lempengan perak diatas meja.

Dada keduanya berdegub kencang, jari jemari saling meremas gugup.

Tak pernah terbayangkan, bahkan dalam tidur pun mereka tidak berani untuk bermimpi memiliki uang sebanyak ini. Tapi sekarang-----

Bai Dashan mengusap wajahnya, menghembuskan nafas dengan sekali sentakan.

"Bukannya mau dijual dua ratus koin, kenapa menjadi lima ratus..?" tanya Chen Muwan tercekat bergetar.

"Ibu, kalau dipikir-pikir, kita nanti memerlukan tenaga pekerja tambahan. Selain itu meski sepertiga bahan bakunya diperoleh dari hutan, tapi kita membayar orang-orang untuk mengumpulkannya. Makanya harganya aku ubah." jelas Anshu.

"Dan semua terjual..? bahkan sampai membuat kontrak juga..?" tanya Muwan linglung.

"Ibu, kacang mandi harganya satu tael, padahal kualitasnya biasa saja, dan itu tetap laris manis dipasaran. Sabun kita ini justru malah terbilang murah."

Chen Muwan meringis "orang kaya memang selalu seenaknya saja dalam menghamburkan uang."

Bai Dashan dan ketiga anaknya terkekeh.

Bai Dashan gegas menyimpan uang hasil sabun, setelah memberi Putri sulung dan Putra keduanya masing-masing lima puluh tael perak.

Meski awalnya kedua bocah itu menolak, tapi Bai Dashan merasa perlu jika anak-anaknya menyimpan hasil jeri payah mereka.

Aktifitas pun dimulai, setelah obrolan perencanaan masa depan selesai.

Bai Dashan menguleni bahan sabun sekalian mencetaknya.

Chen Muwan, dan Anshu mengemas stok sabun siap edar.

Bai Hanzi serta Jinyu, kebagian jatah melipat lembaran kotak sabun yang baru diambil dari percetakan, memotong kertas minyak, dan memberi stempel merk juga aroma.

"Besok kita pergi bersama kekota, sekalian membeli material bangunan lalu kerumah kakek-nenek didesa Qingshan." ujar Bai Dashan, dengan tangan yang terus aktif bergerak.

"Ayah sudah kerumah kepala desa..?" tanya Bai Hanzi.

"Sudah..! tiga puluh koin per hari serta mendapat makan siang. Nanti sore paman Pei akan mendatangi penduduk untuk merekrut pekerja."

Anshu, Hanzi dan Jinyu, kompak manggut-manggut.

"Ayah juga meminta kepala desa mencari beberapa bibi untuk membantu memasak, kalau hanya ibumu tentu kerepotan mengolah hidangan bagi lima puluh pekerja." sambung Bai Dashan.

"Ya, itu benar. Jadi nanti aku dan adik kedua bisa fokus dalam produksi sabun." sahut Anshu.

"Untuk mencetak dan mengemas sabun, bagaimana kalau kita mengajak ketiga sepupu perempuanmu..?" tanya Chen Muwan.

Bai Anshu mengangguk "setuju..! sekalian nanti aku akan mengajari mereka membuat bunga bludru dan aneka asesoris."

Alis Bai Dashan dan Chen Muwan menukik tajam "asesoris...?"

Bai Anshu terkekeh "seperti jepit rambut, gelang, cincin, bros, kalung, anting, pokoknya sejenis itu."

Bai Dashan ber O ria, begitu juga Muwan, Hanzi dan Jinyu.

Menjelang makan malam, Anshu dan Muwan meninggalkan urusan mengemas sabun guna memasak.

"Ibu, pisahkan untuk dibawa kerumah kakek..!" ucap Anshu kala Chen Muwan memindahkan daging babi rebus kemangkuk.

"Ya...!"

Anggota keluarga secara bergantian membersihkan diri, makan bersama, lalu pergi mengunjungi rumah tua keluarga Bai.

"Kakek, nenek,..!"

"Ayah, ibu, kakak...!"

Seru kompak anggota keluarga Bai cabang kedua.

Kakek dan nenek Bai, yang sedang bersantai diberanda setelah makan malam bersama Bai Sanlang serta Bai Suji, sigap menyahuti.

"Kalian datang...!"

"Paman, kakak sepupu...!"

Bai Dashan membuka pintu, menghampiri orangtua dan kakaknya yang berdiri menyambut.

"Ayah, ibu, kakak ipar..!" tegur Chen Muwan lembut, meletakkan keranjang berisi dua jenis masakan berbahan daging dan telur, kue teratai, gula merah, daging dan lemak babi, garam, serta beras poles putih.

"Kenapa harus repot-repot begini..? datang ya datang saja, orangtua ini sudah sangat senang." ucap nenek Bai menepuk pelan punggung menantu perempuan keduanya.

"Hanya sedikit saja ibu, sangat tidak merepotkan." Chen Muwan tersenyum, membelai halus telapak tangan sang mertua.

"Paman, bibi...!" sapa Bai Lushi membungkuk hormat.

Gadis itu baru saja selesai membenahi perkakas bekas makan malam.

"Shu-ya, A-zi, A-yu..!" sambung Lushi.

Dua menit kemudian, bibi Mei muncul, dan turut menyapa riang.

Keluarga itu berbincang, bercanda, tertawa, dengan penuh kehangatan.

"Jadi awal musim gugur nanti kalian akan mulai membangun rumah..?" tanya kakek Bai memastikan lagi.

Putra keduanya baru saja meminta izin dan pendapat perihal rencana rumah tangganya.

"Benar ayah..!"

"Sudah memastikan soal hari baik, dan fengshuinya..?" tanya kakek Bai.

"Karena itu kami datang kemari, semoga ayah berkenan membantu." balas Bai Dashan.

Kakek Bai menghela nafas lemah "kenapa aku merasa jika putra keduaku ini telah menganggap aku orang lain..?" candanya.

"Ayah, bukan begitu maksudku." sanggah tergagap Bai Dashan.

Kakek Bai mendengus, yang lainnya terkekeh.

Kakek Bai yang memahami ilmu astronomi, akan mengabari lusa hari.

"Shu'er sudah mendapatkan kerjasama sabun dengan menara Guangdong, yang artinya kami akan memproduksinya setiap hari mulai sekarang." beritahu Bai Dashan.

"Ah, bagus, itu bagus sekali..!" balas gembira para orangtua, kakak, kakak ipar dan keponakan.

"Shu'er ingin mengajak Shi'er untuk turut membantu, sekalian nanti ia akan mengajari cara membuat bunga bludru dan pernak pernik."

"Woah, Shu-ya, kau bisa membuat bunga bludru juga..?" tanya takjub Bai Lushi.

Bai Anshu mengangguk, ia menjelaskan rencananya dalam hal pembuatan asesoris dan bunga bludru.

"Kalau sudah ahli, kita bisa menjual hasilnya atau kita membuka toko asesoris sendiri." ucap Anshu bersemangat.

"Mau, aku mau..!" sahut Lushi antusias.

Kontan saja, netra kakek, nenek, Bai Sanlang, serta bibi Mei, berembun. Mereka terharu bahagia, karena ada harapan untuk hidup yang lebih baik.

Selama ini mereka memejamkan mata disetiap malam dengan diselimuti kegundahan, akankah kemiskinan keluarga saat ini diwariskan kembali pada anak cucu mereka.

Sebagai orangtua, tentu berkeinginan anak-anaknya hidup senang bahagia. Tapi apa mau dikata, semua jalan seolah tertutup bagi keluarga akibat strata dan harta.

Yang paling membuat kakek nenek Bai, Sanlang dan bibi Mei, adalah nasib Anshu dan Lushi.

Mereka tentu sangat memahami aturan dan tradisi yang menjerat leher para kaum wanita, terlebih jika telah menikah. Kemiskinan, besar kecilnya mahar, selalu menjadi landasan bagi kasih sayang mertua.

Beruntung bibi Mei dan Chen Muwan mendapat mertua baik, meski menikah membawa mahar tak seberapa. Namun, hal itu belum tentu bisa dimiliki putri-putri mereka.

Namun kini ketakutan itu terkikis. Jika Anshu dan Lushi memiliki kemampuan dan dapat membangun bisnis mereka sendiri, penindasan mertua dan suami akan menjauh dari kehidupan kedua gadis cantik itu.

Bai Dashan menyelipkan uang dua puluh lima tael ketangan sang ibu.

"Apa ini..?" pekik mendelik nenek Bai.

"Ibu, tolong diterima, ini hasil penjualan sabun kami."

"Tidak, tidak perlu. Gunakan untuk membangun rumah, membeli ladang atau makanan enak. Jangan pikirkan ibu, ayahmu masih sanggup memberiku makan."

"Nenek, bagaimana kami bisa tinggal dirumah bagus dan besar, jika kalian tidur kedinginan setiap malam. Kumpulkan uang pemberian ayah dan ibu, nanti jika sudah banyak bisa untuk memperbaiki rumah ini." balas Anshu.

Nenek Bai menguraikan airmata "ternyata aku sudah tua, cucuku kenapa cepat sekali dewasa." kelakarnya.

Semua terkekeh, bersama mata memanas haru dan setitik permata yang jatuh membasahi pipi.

Terimakasih sayang, berkah selalu 🫰

1
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
Erna Fkpg
nah kan nyesel dikasih bisnis besaralah meremehkan karena pakaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!