Siapa sangka, jika pesona dingin seorang dosen mampu memikat hati dua perempuan kakak beradik.
****
Bryan Atmaja, dosen muda yang tampan selalu ketus dan dingin terhadap orang asing. Namun begitu lembut dan penuh kasih terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Andin Mulia Pratiwi gadis polos sederhana yang tidak pernah mengenal cinta. Ia dijadikan asdos oleh dosen ganteng bernama Bryan Atmaja, yang pernah mencintai sahabatnya. Andin tidak percaya ketika cinta itu telah berlabuh untuknya.
Dewi Permata Putri, kakak kandung Andin juga jatuh cinta dengan Bryan sejak pandangan pertama. Bagaimana kisah segitiga itu berlangsung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyebalkan
Arman terus berdebar selama proses pemeriksaan. Mau tidak mau harus dia lakukan demi kebaikannya juga. Misalkan terjadi sesuatu dapat dideteksi dan dilakukan pengobatan lebih dini.
Selang dua puluh menit, Arman telah selesai dengan serangkaian pemeriksaan dasar. Dokter lalu membuka sarung tangan dan juga maskernya.
"Dokter, bagaimana hasilnya? Masih bisa terselamatkan? Tidak ada indikasi serius 'kan, Dok?" tanya Arman mendudukkan dirinya cepat.
Dokter pria itu mengulas senyum dan mengangguk. "Mari saya jelaskan di luar," ucapnya hendak keluar.
"Tunggu, Dok! Tolong banget. Bilang ke cewek itu kalau terjadi sesuatu. Aku mau kasih dia pelajaran!" sergah Arman membayangkan Dewi di bawah kuasanya.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menyalahi kode etik kedokteran dengan memberi keterangan palsu. Saya akan sampaikan apa adanya," tukas Dokter tersebut melenggang pergi.
"Tap ... tapi, Dok! Ah nggak asyik nih Dokter. Kan biar kapok tuh titisan kera sakti," gerutunya lalu turun dari ranjang.
Arman lalu turut berjalan keluar, sesekali ia masih meringis kesakitan saat berjalan. Dewi yang melihatnya tampak was was. Karena pemeriksaannya terasa begitu lama. Dewi membuka mulut hendak bertanya. Belum sempat berucap Arman berkata dengan ketus.
"Apa?" seru Arman dengan sorot mata penuh kebencian.
Dewi menelan salivanya dengan berat. Ia mulai takut terjadi sesuatu yang buruk.
"Tanggung jawab kamu dimulai hari ini juga! Kamu harus mulai terbiasa melayaniku, detik ini juga," imbuh Arman lagi dengan senyum menyeringai.
Dokter melihat beberapa lembar hasil pemeriksaannya. Dewi terkejut, ia membulatkan kedua bola matanya. Wajahnya mendadak pucat seketika. Lidahnya menjadi kelu susah berucap.
"A ... apa! Tidak! tidak! Itu tidak mungkin," ucap Dewi panik mengacak rambutnya.
"Makanya jangan suka mukul sembarangan. Udah salah ngeyel pula," geram Arman meliriknya tajam.
Dewi mengusap wajahnya kasar, tubuhnya terasa panas dingin. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Dokter menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat dua orang di hadapannya.
"Pak Jo, untuk sementara hasil diagnosis saya semua masih baik-baik saja. Dikarenakan kejadiannya baru saja, jadi saya sarankan untuk kembali lagi ke sini kalau ada keluhan. Dikhawatirkan efeknya baru terlihat beberapa hari ke depan. Dan untuk sementara jangan menggunakan celana yang ketat terlebih dahulu," jelas Dokter yang bernama Dika itu.
Dewi geram karena tadi sudah ditakut-takuti oleh Arman. Ia menginjak kaki Arman dengan keras. Membuat pria itu berteriak kesakitan.
"Ya Tuhan. Dasar cewek titisan kera sakti." Arman mengusap kakinya yang kesakitan.
"Makanya jangan suka bohongin orang," geram Dewi melayangkan tatapan tajam.
Arman mengepalkan kedua tangannya, dia bersungut kesal melihat Dewi. Ingin rasanya ia mengacak-acak mukanya Dewi saat itu juga.
"Tunggu! Begini Nona, ini hasil sementara. Bisa jadi efeknya akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Saya tidak mau ikut campur permasalahan Anda. Mohon kalau sudah tidak ada yang ditanyakan, silahkan lanjutkan perdebatan di luar ruangan saya. Terima kasih," tukas sang dokter menyerahkan resep obat pereda nyeri pada Arman.
Arman dan Dewi segera beranjak lalu berpamitan. Keduanya masih terus berdebat di luar ruangan. Bahkan sampai menjadi pusat perhatian.
Ditengah pertengkarannya, Dewi teringat akan Bryan. Dia lalu bertanya apa yang terjadi pada Bryan. Arman menjelaskan jika Bryan mengalami luka tusuk oleh para begal.
"Apa!" pekik Dewi menutup mulutnya.
"Di mana ruangannya? Antar aku ke sana sekarang!" lanjut Dewi memegang lengan Arman.
Pria itu lalu berjalan menunjukkan ruangan Bryan. Dewi begitu khawatir dengan keadaannya.
"Heh! Jangan lupa, kamu masih punya tanggungan selama aku belum pulih total. Mulai sekarang, kamu harus layani aku. Awas aja kalau lari aku laporin kamu ke polisi atas kasus penganiayaan. Ingat ya, bukti sudah jelas rekam medis di tangan Dokter," ancam Arman menatap Dewi sembari berjalan.
DEG!
"Polisi?" Dewi terlihat ketakutan.
"Jangan ... jangan bawa-bawa polisi. Baik aku akan lakukan apa pun selama kamu belum pulih," imbuh Dewi lirih menundukkan kepala. Arman tertawa puas mendengarnya.
...----------------...
Bryan dan Andin sangat menikmati kebersamaan mereka. Keduanya saling melempar canda dan tawa. Apalagi Bryan suka sekali menggoda Andin, sedangkan gadis yang terlalu polos itu selalu percaya setiap lontaran Bryan.
Sesekali dibubuhi dengan gombalan ala Bryan yang terkadang garing tapi tetap membuat merona di wajah Andin. Hal itu semakin membuatnya gemas. Namun satu hal yang membuatnya khawatir, Bryan takut jika Andin bertemu dengan orang yang salah lalu dimanfaatkan.
Kebersamaannya setiap hari dengan Andin membuatnya semakin kagum dan semakin menyayanginya. Bryan selalu mengagumi semua perilaku Andin yang mana terlihat lucu, ditambah kecerdasan dan cekatannya dalam membantunya selama ini.
"Kak, sejak kapan jatuh cinta sama aku?" Andin memberanikan bertanya perihal itu. Karena ia penasaran.
Author juga penasaran Ndin🤓
"Siapa bilang aku jatuh cinta padamu?" Bryan menjawab dengan sebuah pertanyaan.
Wajah Andin berubah pucat pasi. Tubuhnya seolah kehabisan darah, napasnya terasa sesak mendengarnya. Andin menjauhkan tubuhnya, duduk bersandar pada kursi.
"Sayang, kenapa? Kamu sakit?" ucap Bryan pura-pura tidak mengerti.
Kedua mata Andin sudah berkaca-kaca, ia mencebikkan bibirnya. Susah payah Andin menelan saliva, karena menahan tangis yang hendak keluar.
Bryan terkekeh geli melihatnya, ia lalu meminta Andin untuk mendekatinya. Andin bergeming, tidak bergeser sedikit pun dari duduknya. Bryan lalu menarik paksa lengan Andin hingga gadis itu jatuh lagi dipelukannya.
Bryan membelai punggung Andin dengan lembut, "Aku tuh nggak mau jatuh cinta sama kamu, Sayang. Karena jatuh cinta itu sakit. Aku maunya bangun cinta sama kamu dalam rumah tangga kita kelak," tutur Bryan malah membuat Andin semakin menangis.
"Iihh ngeselin banget! Tadinya aku mau pecat Kakak dari hati ini," jerit Andin memukul dada Bryan.
"Hahaha ... jangan dong Sayang. Ampun dah, bisa berhenti nanti detak jantungku," celetuk Bryan masih memeluk Andin erat sembari mengatur napas.
"Hilih, lebay banget astaga. Kayaknya Kakak kesambet penghuni sini deh. Jadi merinding nih. Ini by the way leherku sakit Kak, kalau kayak gini terus," gerutu Andin yang kepalanya masih ditahan Bryan di dada.
"Ah, maaf maaf," ucap Bryan melepaskan pelukannya.
Andin mendudukkan dirinya dengan kasar, masih dengan kejengkelannya dengan pria di hadapannya. Ia terus mencebikkan bibirnya.
"Jangan pasang wajah cemberut, kamu makin imut," celetuk Bryan mengapit dagu Andin dengan jemarinya.
"Abisnya ngeselin mulu. Bikin naik darah terus," seru Andin.
Ditengah keseruan mereka berdua, pintu ruangan Bryan terbuka.
Bersambung😬