Maura Anastasia, seorang arsitek muda berusia 23 tahun yang bekerja pada sebuah perusahaan kontruksi di kota Jakarta. Terlibat hubungan rumit dengan seorang pria matang berusia 45 tahun bernama Kenneth Tanaya karena suatu peristiwa mendesak, dia terpaksa menjadi wanita simpananan laki-laki yang tidak lain adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Maura terpaksa mengkhianati kekasihnya, Jericho Pratama yang sudah empat tahun terakhir ini mendampinginya. Ditambah lagi dengan adanya perjodohan antara Jericho dan Kiara, membuat kisah cinta mereka semakin pelik.
Sanggupkah Maura mengungkapkan kejujurannya pada Jericho? Apakah dengan merelakan Jericho untuk dimiliki gadis lain adalah salah satu caranya meminta maaf atas pengkhianatan yang dilakukan olehnya? Akankah dia menjalani perannya sebagai wanita simpanan sesuai perjanjian awalnya dengan Kenneth?
Happy reading ya guys, semoga suka. Jangan lupa vote, rate, like, comment, dan share juga kisah ini.
Follow IG q juga : @lannytan2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You're the only one
Jericho POV
Aku menatap lekat wajah cantik gadisku yang tengah merajuk, dia semakin menggemaskan ketika sedang memasang wajah datarnya. Setelah dua minggu lamanya tak bertemu dan berkomunikasi dengannya, aku begitu merindukannya. Percakapan kami yang terakhir adalah ketika dia memintaku untuk mengakhiri hubungan kami, dan itu dilakukannya via telepon. Astaga, itu seperti salah satu adegan sinetron yang sering ditonton oleh bik Iyem, asisten rumah tanggaku yang kerap datang seminggu dua kali untuk membersihkan apartemenku. Aku jelas saja tidak meluluskan permintaannya yang menurutku tidak masuk akal, dengan alasan apa dia meminta untuk mengakhiri hubungan ini? Ego kelelakianku tak terima begitu saja, aku berkeras memintanya untuk membatalkan permintaannya dan menungguku menyelesaikan pekerjaanku di Singapura. Seandainya waktu itu aku bisa meninggalkan pekerjaanku, mungkin aku sudah bergerak langsung mendatanginya di kediamannya,.
"Kau tak ingin mendengarkan penjelasanku?" Tanyaku tersenyum lembut padanya.
Maura tetap memasang wajah datarnya, jika saja dia sedang tak merajuk saat ini, sudah pasti akan kuhujani dengan ciuman bertubi-tubi karena rinduku yang sudah semakin tak tertahan ini. Tapi akal sehatku bermain, aku harus meluruskan kesalahpahaman ini. Aku sangat tahu dia begitu terkejut ketika Kenneth pamannya Kiara membuka tabir rahasia pertunangan antara aku dan Kiara dua minggu lalu, aku tahu gadisku kecewa. Terlebih ketika dia tahu maksud kedatanganku ke kantornya adalah untuk membicarakan desain rumah impian yang akan aku tempati ketika sudah menikah nanti dengan Kiara.
Yang Maura tak tahu adalah semua ini hanyalah sandiwara belaka, sandiwara yang awalnya aku jalani tanpa sepengetahuan Maura, karena kupikir juga tak lama lagi toh semua sandiwara ini akan berakhir. Tapi nyatanya Maura harus tahu lebih awal, dan parahnya lagi dia tahu saat aku belum memberitahunya cerita yang sebenarnya di balik pertunangan ini. Aku tahu dia terluka, aku sangat paham ketika dia merasa aku mengkhianatinya.
"Hun, please beri aku kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi," aku mengiba mencoba menarik perhatiannya.
Maura menghela napas, akhirnya dia menatapku meskipun tatapannya sangat tidak ramah. "Tidak ada yang perlu kaujelaskan, Jer. Aku sudah mengetahui tentang pertunanganmu dengan Kiara bahkan sebelum acara itu berlangsung, aku hanya pura-pura tidak tahu saja. Itu salah sattu penyebab kenapa aku terus menghindarimu, dan terakhir aku memintamu untuk mengakhiri hubungan kita bukan tanpa alasan, aku tidak ingin mempersulitmu. Sudahlah, Jer. Antara aku dan kau sudah tak mungkin, aku juga sudah menyiapkan hatiku untuk melepaskanmu. Aku hanya ingin kita mengakhiri semuanya, aku tak ingin semakin terluka."
Aku terrperangah dengan kalimat yang dia ucapkan barusan, jadi dia tahu bahwa aku sudah bertunangan dengan Kiara, tapi dari mana dia tahu? Oh tidak, pantas saja sikapnya sangat lain. Tapi hari itu, dia hampir saja menyerahkan kesuciannya padaku, padahal dia tahu aku akan bertunangan dengan gadis lain. Ya Tuhan, jika saja waktu itu aku benar-benar merenggut kesuciannya, dia pasti akan sangat membenciku.
"Ra, ijinkan aku menjelaskan semuanya," kusentuh tangannya yang saat ini saling terkait menandakan dia sedang tak nyaman.
Seperti yang sudah kuduga, dia segera menarik tangannya menjauh dari sentuhanku. Aku mendesah kecewa, rasanya sangat menyakitkan karena dia merasa tak nyaman denganku saat ini.
"Tolong jangan membuatnya semakin sulit bagiku, Jer. Aku baik-baik saja jika memang itu yang kaukuatirkan, aku hanya sedikit kecewa karena desain rumah yang kauajukan. Kenapa kau memilih desain yang sama dengan desain yang dulu pernah kita buat bersama? Kau mempersulitku karena itu melibatkan perasaanku," Maura mengucapkan semua itu dengan nada lirih.
"Sayang, pertunanganku dengan Kiara hanya sandiwara. Aku dan Kiara sepakat menerima perjodohan ini dan mengawalinya dengan pertunangan, supaya lambat laun kami bisa menjelaskan pada kedua orang tua kami bahwa dalam perjalanan ini ternyata kami tidak cocok, dan pada akhirnya kami akan berpisah setelah memberi pengertian pada orang tua kami masing-masing. Ini semua hanya sandiwara, sayang. Aku memang sengaja tak memberi tahumu tentang ini semua, karena aku yakin bisa menyelesaikan semua tanpa membebanimu."
Ekspresi wajahnya berubah, tidak lagi datar. Kini Maura kembali menatapku, tapi raut wajahnya mengatakan bahwa dia tak percaya dengan ucapanku. Aku benci situasi ini, aku tahu langkah yang kuambil salah, tapi semua kulakukan demi mempertahankan cinta kami.
"Dan desain rumah tadi? Termasuk sandiwara kalian?" Pertanyaan Maura membuatku sadar dia begitu marah karena itu.
Aku megusap pipinya yang mulus dengan ibu jari tangan kananku, "Kau cemburu ya?"
Dia menepis tanganku dari pipinya, aku syok melihat reaksinya. Apakah dia benar-benarr marah setelah mendengar penjelasanku? Entahlah, sebelumnya Maura tidak pernah bersikap seperti ini padaku.
"Sandiwara atau tidak, aku tetap tak bisa melanjutkan hubungan ini. Maafkan aku, Jer. Aku hanya tidak ingin semua menjadi semakin sulit untuk kita. Jika kau bertanya aku cemburu, sangat jelas aku cemburu. Pertunanganmu membuatku terluka, tentu saja, kau pikir aku tak punya perasaan? Di atas itu semua aku juga tak berdaya, aku memilih menyerah melepaskan semua ini. Aku terlalu lemah untuk memperjuangkan apa yang kita miliki, sekali lagi maafkan aku. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku, sambutlah masa depanmu, jangan memikirkan aku."
Lagi dan lagi, Maura membuatku semakin terperangah dengan sikapnya yang terkesan dingin dan tak berperasaan,. Apakah dia sungguh-sungguh ingin melepaskanku? Aku tak terima, terlebih ketika kulihat ekspresi wajahnya yang terlihat biasa saja. Tak kutemukan sorot mata penuh cinta yang biasanya dia perlihatkan padaku, aku kehilangan Maura yang biasanya.
"Aku merasa kau mencampakkanku, Maura. Kau tak memikirkan perasaanku?" Aku menatapnya tajam.
Dia membuang lagi tatapannya, dia seperti tak sanggup membalas tatapanku dan memilih menghindar. Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya, dan secara refleks aku meraih tangannya.
"Aku mau pulang, Jer. Kau tak perlu mengantarkanku, aku bisa pulang sendiri."
Maura menghentakkan genggaman tanganku, dia berjalan menuju pintu. Aku menyusulnya dan meraih pinggang rampingnya ketika dia hampir saja meraih pegangan pintu, kubalikkan tubuhnya dan kudorong tubuhnya hingga punggungnya hingga membentur pintu. Aku memerangkapnya tanpa menyisakan jarak sedikitpun, saat ini hanya napas kami yang berhembus di wajah masing-masing.
Ketika kulihat bibirnya ingin mengatakan sesuatu, aku langsung menutup mulutnya dengan mulutku. Aku menciumnya dengan kasar, kulumat bibirnya yang sedari tadi sangat ingin kurasakan. Aku sangat merindukannya, dia begitu manis dan membuatku lupa diri. Mungkin karena dia selalu menghindariku akhir-akhir ini, membuat rinduku tak tertahankan.
Maura meronta meminta dilepaskan, tapi aku tak menghiraukannya. Aku sangat merindukannya, aku menggigit bibir bawahnya dan membuat bibirnya membuka, aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, aku menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya dan membiarkan lidahku menari dalam kehangatan mulutnya. Senyum terukir di bibirku, perlawanannya berhenti. Kurasakan Maura membalas ciumanku, aku tahu dia juga begitu merindukanku. Kami terhanyut dalam ciuman panas yang membuai, menyalurkan hasrat kerinduan yang terpendam.
"Jangan memintaku untuk melepaskanmu, Maura. Kau tahu itu tak kan mungkin," aku mengatakan kalimat itu di sela napasku yang terengah ketika mengakhiri ciuman kami.
***
Maura POV
Aku terengah ketika Jericho mengakhiri ciuman panas kami, sambil terus mengutuki kebodohanku yang lagi-lagi lemah tak berdaya menahan rasaku padanya. Aku hampir saja berhasil pergi darinya dan memastikan untuk mengakhiri semua ini, tapi tubuhku mengkhianatiku. Aku begitu mudah ditakhlukkan olehnya, pesona seorang Jericho yang membuat tubuhku tak sejalan dengan pemiikiran logisku.
"You;re the only one, all i want is you."
Kata-katanya membuatku meleleh, dia mengucapkannya di wajahku dengan hembusan napasnya yang memabukkanku. Aku sungguh tak bisa menolak pesonanya, ini membuatku semakin sulit, dia selalu bisa membuatku lupa diri. Aku sangat mencintainya, mengapa sesulit ini melepaskannya? Bahkan untuk mengijinkannya mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku saja, rasanya sangat berat. Tiba-tiba melintas bayangan Kiara, gadis yang akan mendampingi Jericho, menggantikan posisiku.
Terlepas dari semua penjelasan Jericho tentang sandiwara yang dilakoninya dengan Kiara, sungguh Maura tak peduli. Bukan dia tak mempercayai semua ucapan Jericho, dia sangat percaya laki-laki itu tak membohongi dan mengkhianatinya. Tapi Maura merasa harus melepaskan Jericho karena dia sendiri tak bisa memberikan yang terbaik untuknya, apalagi dia ingat kewajibannya pada Kenneth yang belum dipenuhinya. Kenneth? Seringai sinis laki-laki menyebalkan itu melintas, membuat Maura tersadar sepenuhnya bahwa keberadaannya saat ini di apartemen Jericho adalah sebuah kesalahan.
"Aku ingin pulang, Jer."
***
From author :
Sedihnya tak bisa bersama, mungkin ini yang disebut ga jodoh ya? Sabar ya Jericho dan Maura, semua akan indah pada waktunya. Kita tunggu readers yang memberikan dukungan untuk kalian ya, supaya aku bisa tahu mau dibawa kemana kisah kalian ini.
Nah buat readers yang baik, mohon dukungan vote, rate, like, comment, and share yuah....
Happy reading, thx utk smua supportnya, luv u as always...
Lanny Tan
kamu yg ingin mengikat Maura kn,
jd Maura tu ga mudah. TERPAKSA meninggalkan Jericho, TERPAKSA jd wanita simpanan utk mendapatkan uang, dan TERPAKSA jg menikah karena utk kebahagiaan mamanya
dia melakukan segala sesuatu bukan karena kemauan dirinya. semua karena TERPAKSA