Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — SURAT IBU
Sabtu siang, matahari Kota Arunika bersembunyi di balik gumpalan awan mendung yang tebal. Aurel memutuskan untuk berkunjung ke rumah lama ayahnya untuk mengambil sisa draf cetak dokumen kelulusan dan beberapa berkas kepemilikan aset peninggalan almarhumah ibunya.
Rumah megah bertingkat dua milik Hamdan Nathan itu masih terasa dingin dan sepi. Suara gemericik air dari kolam ikan di halaman tengah menjadi satu-satunya latar belakang yang memecah keheningan.
Aurel melangkah menyusuri lorong lantai dua, menuju ke kamar bekas ruang kerja almarhumah ibunya—Rina Nathania. Kamar itu jarang dibuka sejak ibunya meninggal empat tahun lalu, namun aroma khas wangi kayu cendana dan minyak lavender buatan ibunya masih tersisa samar di udara.
Aurel membuka lemari kayu jati di sudut ruangan. Jemarinya dengan telaten merapikan tumpukan buku catatan resep, album foto lama, dan dokumen-dokumen asuransi.
Di rak paling bawah, di balik lipatan kain selendang batik kesayangan ibunya, jemari Aurel menyentuh sebuah kotak logam kecil berwarna perak yang sudah agak berdebu.
Aurel berjongkok, menarik kotak logam itu keluar.
"Kotak kenangan Ibu..." bisik Aurel pelan.
Dulu, sewaktu Aurel masih duduk di bangku SMP, ia sering melihat ibunya menyimpan surat-surat pribadi dan catatan harian di dalam kotak logam ini. Aurel mengusap debu tipis di atas penutupnya, lalu perlahan membuka engsel kuncinya yang ternyata sudah tidak terkunci.
Di dalam kotak itu, terlayang beberapa lembar foto masa kecil Aurel bersama ibunya, beberapa brosur pameran seni tua, dan tumpukan surat beramplop cokelat.
Aurel mengambil tumpukan surat itu. Saat menggeser amplop pertama, matanya mendadak tertambat pada selembar surat bertuliskan tangan rapi yang tinta hitamnya sudah sedikit memudar di tepi kertas.
Di pojok kanan atas amplop itu, tertera sebuah nama yang membuat jantung Aurel melewatkan satu detakan kencang:
Kepada: Kiai Abdul Faruqi (Pesantren Al-Faruqi)
Aurel mengerutkan dahi rapat-rapat. "Kiai Abdul? Ibu... kenal sama Kiai Abdul dari dulu?"
Rasa penasaran yang teramat besar membakar dada Aurel. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aurel mengeluarkan lembaran kertas bergaris dari dalam amplop tersebut.
Surat itu ditulis langsung oleh tulisan tangan almarhumah ibunya, tertanggal dua belas tahun yang lalu—tepat saat Aurel masih berusia sembilan tahun.
Aurel membacanya baris demi baris, matanya menyapu setiap kata dengan cermat:
...Assalamu’alaikum Warahmatullah Kiai Abdul dan Ummi Kulsum.
Terima kasih yang tak terhingga atas kebaikan dan kemurahan hati keluarga Pesantren Al-Faruqi yang telah bersedia menyelamatkan nama baik keluarga kami dari musibah besar ini. Mas Hamdan sangat menyesali kelalaiannya, dan hanya kebaikan Kiailah yang membuat keluarga kami masih bisa berdiri tegak hari ini...
...Sesuai dengan janji yang telah kita sepakati bersama di hadapan Allah, kami dengan tulus menyerahkan takdir putri kami, Aurelia Nathania, untuk disatukan dengan putra Kiai, Muhammad Rasyid Al-Faruqi, kelak ketika mereka sudah dewasa...
Aurel menahan napasnya seketika. Matanya membelalak sempurna, jemarinya meremas tepi kertas itu hingga sedikit remuk.
Darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir.
Aurel melanjutkan membaca baris terakhir yang digarisbawahi oleh ibunya sendiri:
...Saya memohon dengan sangat, jika suatu hari Aurel bertemu dan disatukan dengan keluarga Faruqi, jangan biarkan dia mengetahui kebenaran tentang masalah ini sebelum waktunya. Biarkan Aurel tumbuh tanpa beban masa lalu orang tuanya, dan biarkan Rasyid menjadi pelindung yang ia pilih sendiri...
Kertas di tangan Aurel bergetar hebat.
Pandangannya mendadak kabur oleh air mata yang merebak cepat. Seluruh persendian di tubuhnya serasa meluruh, membuat Aurel terduduk kaku di atas lantai marmer yang dingin.
"Jadi... perjodohan ini..." bisik Aurel dengan suara pecah yang bergetar hebat di dalam kamar sepi itu.
Selama ini, Aurel mengira pernikahan ini hanyalah ide gila dan sepihak dari ayahnya yang merasa frustrasi menghadapi sikap pemberontaknya. Ia mengira ayahnya sengaja 'menjual' dirinya ke pesantren demi koneksi bisnis atau untuk menjinakkan kebebasannya.
Namun kenyataan yang baru saja terhampar di depannya jauh lebih rumit, jauh lebih dalam, dan menghantam ulu hatinya secara brutal.
Pernikahan ini adalah bagian dari janji penyelamatan masa lalu. Pernikahan ini adalah kesepakatan tua yang telah direncakan oleh kedua orang tuanya dan keluarga Faruqi sejak ia masih anak-anak. Dan yang paling menyakitkan... almarhumah ibunya sendiri yang merestui dan merencanakan ikatan ini dari awal.
Aurel mencengkeram surat itu di dadanya. Air mata hangat menetes deras melintasi pipinya.
Mengapa semua orang menyembunyikan ini darinya? Mengapa ayahnya, Kiai Abdul, bahkan Rasyid... memilih untuk menutup rapat-rahat rahasia besar ini? Apakah Rasyid menikahinya semata-mata demi menjalankan amanah dan janji penyelamatan keluarga, bukan karena benar-benar ingin mengenalnya?
Rasa dikhianati dan kebingungan emosional yang amat besar kembali berkecamuk hebat di dalam dada Aurel.
Aurel buru-buru memasukkan surat itu ke dalam tas bahunya. Dengan mata sembap dan napas yang patah-patah, ia berdiri, melangkah terburu-buru keluar dari rumah ayahnya menuju mobilnya.
Ia harus bertanya. Ia butuh penjelasan sekarang juga dari Rasyid.
Pukul 15.30 WIB.
Aurel tiba kembali di kediaman Faruqi di kompleks pesantren.
Hujan gerimis mulai turun membasahi halaman. Aurel melangkah cepat menaiki teras depan, memegang erat tas bahunya yang berisi surat almarhumah ibunya.
Namun, baru saja jemari tangannya hendak mendorong pintu depan rumah yang sedikit terbuka, suara langkah kaki asing dan aroma harum minyak wangi mawar yang lembut tercium dari arah dalam.
Seorang wanita muda berbusana gamis anggun berwarna hijau pastel dan kerudung lebar warna putih gading baru saja melangkah keluar dari ruang tamu menuju teras.
Wanita itu memiliki raut wajah yang amat santun, cantik, dan memancarkan keanggunan alami yang begitu kentara. Pipi dan garis wajahnya sangat familiar di mata Aurel.
Aurel membeku di ambang pintu teras.
Mata mereka berdua saling bertabrakan di udara.
Wanita berkerudung putih itu menghentikan langkahnya, menatap Aurel dengan senyum tipis yang amat sopan dan lembut.
"Assalamu’alaikum," sapa wanita itu dengan suara halus yang amat jernih. "Kamu... Nyonya Rasyid?"
Aurel tertahan sejenak. Kata Nyonya Rasyid yang terlontar begitu alami dari bibir wanita di depannya terasa menusuk pendengarannya.
"Iya..." jawab Aurel kaku, berusaha menguasai getaran di suaranya. "Cari siapa?"
Wanita itu mengulas senyum ramah yang sangat tulus. "Aku Nadia. Nadia Rahma."
Seketika, nama itu menghantam dada Aurel seperti gumpalan es yang membekukan darahnya.
Nadia.
Perempuan dalam foto tua di dalam kotak kayu Rasyid. Perempuan dari masa lalu suaminya yang selama ini ia kira telah tiada dalam ingatan.
Nadia berdiri anggun di hadapannya dalam wujud nyata.