Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 09 KEINGINAN
Dinding gua terlindung dari angin malam, namun hening di dalamnya terasa mencekik. Lu Xian duduk memeluk lutut di dekat sisa-sisa api unggun, menatap bayangan dirinya yang bergetar di dinding batu.
Di sudut lain, Mu Jin berdiri kaku. Tangan kanannya yang terbalut kain kasa kusam tergantung lemas, sementara tangan kirinya mencengkeram erat gagang pedang besi hitam.
“Ajari aku cara memegang pedang,” kata Mu Jin datar.
Lu Xian tidak mendongak. “Kau tidak punya tenaga dalam. Tanpa qi, jurus pedang hanya gerakan kosong yang membuang energi. Kau melihat sendiri bagaimana aku menendangmu ke dinding tebing pagi tadi.”
“Aku tidak butuh jurus indah,” potong Mu Jin, melangkah satu tapak mendekati api. “Aku hanya butuh tahu bagaimana cara menebas tanpa menghancurkan pergelangan tanganku sendiri. Aku perlu tahu cara membunuh orang yang memegang pedang.”
Lu Xian menghela napas panjang, tatapannya beralih menatap Mu Jin. Wajah pria itu kusam, matanya redup seperti batu karang yang terus-menerus dihantam ombak malam. Tidak ada gairah pendekar di sana, hanya kehendak mentah yang menolak untuk mati.
“Kau melangkah dengan dendam yang terlalu berat, Mu Jin,” bisik Lu Xian pelan. Dia memegang pedang gandanya sendiri, merasakan dinginnya besi yang kini tak lagi memiliki sekte untuk dilindungi.
“Pedang yang ditempa oleh dendam hanya akan patah saat menghantam besi keadilan.”
Mu Jin menatap Lu Xian tanpa mengedipkan mata. “Pedangku tidak ditempa oleh dendam. Pedangku ditempa oleh abu desaku. Besi ini kaku karena aku tidak punya pilihan lain.”
Lu Xian terdiam. Kata-kata sederhana dari seorang tukang kayu itu menusuk dadanya lebih dalam dari tebasan pedang. Dia perlahan bangkit berdiri, menyambar sebatang ranting kayu lurus dari tumpukan kayu bakar.
“Pegang senjatamu,” perintah Lu Xian, suaranya kembali tegas.
Mu Jin menarik besi hitamnya dari sarung kusam dengan tangan kiri. Beban tebal itu membuat bahunya sedikit miring.
“Kesalahan terbesarmu adalah memperlakukan pedang seperti kapak,” ujar Lu Xian sambil mengarahkan ujung rantingnya ke pergelangan tangan Mu Jin. “Saat membelah kayu, kau menjatuhkan seluruh beban tubuhmu ke satu titik. Tapi dalam pertempuran, pedang adalah bagian dari alur napasmu. Kau tidak menahan benturan dengan sendi, tapi menyalurkannya lewat tumpuan kaki.”
Lu Xian mengayunkan rantingnya pelan, memukul pelan siku tangan kiri Mu Jin. “Turunkan bahumu. Pegang gagangnya seperti memegang burung kecil—cukup erat agar tidak lepas, tapi cukup longgar agar tidak mencekiknya sampai mati.”
Mu Jin melonggarkan genggamannya yang kaku. Dia menggeser tumpuan kakinya, merendahkan pinggulnya persis seperti saat dia bersiap menahan beban gelondongan kayu besar di punggungnya.
WUSH.
Mu Jin mengayunkan pedangnya secara mendatar. Kali ini, gesekan besi hitam itu dengan udara tidak lagi terdengar kaku. Bebannya masih sama beratnya, namun getaran yang biasanya menghantam pergelangan tangannya kini terserap oleh dorongan pinggul dan tumpuan kakinya di atas tanah gua.
Lu Xian memperhatikan gerakan itu dengan mata berbinar tipis. Pria di hadapannya memang tidak memiliki bakat alami seorang jenius ilmu beladiri, namun ketahanan fisik dan kedisiplinan seorang pekerja keras membuatnya mampu menyerap teknik dasar dengan sangat cepat.
“Lakukan seribu kali lagi sebelum matahari terbit,” kata Lu Xian sambil balik duduk di tepi perapian, membelakangi Mu Jin. “Jalan menuju utara tidak akan memberi ampun pada orang yang terlambat mengayunkan senjatanya.”
Di dalam kegelapan gua, bayangan seorang tukang kayu terus berayun ritmis menembus malam, menyatu dengan desis angin dingin yang meniup perbatasan.