Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Pagi tanggal sebelas Juli, Kiana masih membawa pertanyaan tentang Hansen Lim ke meja makan.
Ia sudah membuka laptop sejak pukul tujuh, tetapi layar proposal RUPS di depannya lebih sering berubah menjadi halaman kosong di kepalanya. Nama Mendiang Bu Loe, Lily, dan Hansen seperti tiga titik yang belum bisa ditarik menjadi satu garis lurus.
Di dapur kecil apartemennya, Hans sedang mengaduk bubur ayam.
Itu hal yang aneh.
Bukan karena buburnya. Sejak beberapa hari terakhir, Kiana sudah menerima kenyataan bahwa pria yang ia nikahi di Catatan Sipil dengan saldo Rp 500.000 itu bisa memasak lebih baik daripada sebagian restoran rumahan.
Yang aneh adalah cara Hans bekerja.
Semua bahan sudah dipotong dengan ukuran hampir sama. Pisau dicuci setiap selesai dipakai. Lap dapur dilipat rapi di tepi wastafel. Bahkan kulit bawang putih di tempat sampah pun terkumpul di satu sisi, tidak tercecer.
Kiana menatap punggungnya. "Kamu selalu masak seperti sedang ikut ujian?"
Hans tidak menoleh. "Kalau masakan gagal, kamu tetap makan?"
"Tergantung."
"Berarti tidak boleh gagal."
Jawaban datar itu membuat Kiana hampir tertawa. Dadanya yang sejak semalam terasa berat sedikit melonggar.
Bel apartemen berbunyi sebelum ia sempat membalas.
Hans mematikan kompor kecil, menyeka tangan, lalu berjalan ke pintu. Dari ruang makan, Kiana mendengar suara kurir menyerahkan paket.
"Untuk Pak Hans Kei."
Gerakan Hans berhenti setengah detik.
Hanya setengah detik, tetapi Kiana melihatnya.
Ia bangkit dari kursi saat Hans kembali membawa sebuah kotak hitam panjang. Tidak ada logo toko, hanya label pengiriman rapi dengan tulisan pengirim: Firman Hoo.
"Firman siapa?" tanya Kiana.
Hans meletakkan kotak itu di meja, terlalu tenang. "Teman lama."
"Teman lama yang tahu alamat apartemenku?"
"Dia tahu alamatku."
"Kotaknya dikirim ke lantai ini."
Hans akhirnya menatapnya. Matanya tidak menghindar, tetapi juga tidak memberi penjelasan lebih. "Dia salah tulis."
Kiana menaikkan alis.
Itu jawaban paling malas yang pernah ia dengar dari seorang pria yang biasanya terlalu hemat kata.
Hans membuka kotak dengan cutter kecil dari laci. Di dalamnya ada beberapa perlengkapan yang dibungkus busa hitam: sepasang sarung tangan tahan panas dengan jahitan serat aramid, pelindung leher tipis, lampu kecil yang bisa dipasang di helm, dan sebuah alat komunikasi mungil dengan casing matte.
Kiana mengambil sarung tangan itu sebelum Hans sempat menutup kotak. Bahannya ringan, tetapi lapisan dalamnya padat dan kuat. Bukan barang pasar. Bukan juga perlengkapan standar yang biasa dibeli pos pemadam dari katalog umum.
"Ini untuk damkar?"
"Untuk kerja."
"Hans."
Ia berhenti membereskan busa pelindung.
"Aku tidak buta teknologi bahan," kata Kiana pelan. "Ini bukan sarung tangan biasa. Jahitannya custom. Sensor kecil di punggung tangan ini untuk deteksi suhu atau tekanan?"
Hans melihat bagian yang ia tunjuk. Kali ini wajahnya benar-benar berubah sedikit, bukan panik, melainkan seperti orang yang baru ingat lawan bicaranya bukan orang mudah dibohongi.
"Suhu."
"Teman lama kamu baik sekali. Kirim alat yang pos biasa bahkan mungkin tidak punya."
"Dia punya akses."
"Akses apa?"
Ponsel Hans berdering.
Nama di layar hanya satu kata.
Firman.
Hans mengangkat telepon tanpa menekan speaker. "Ya."
Kiana pura-pura kembali ke kursinya, tetapi telinganya menangkap suara Hans yang lebih rendah dari biasa.
"Sudah sampai."
Jeda.
"Jangan kirim ke alamat ini lagi."
Jeda lebih panjang.
"Aku belum pulang."
Kiana menahan napas.
Pulang ke mana?
Hans berjalan ke balkon dan menutup pintu geser setengah. Dari sela kaca, beberapa potongan kalimat masih menembus.
"Tugas itu bukan urusanmu."
"Aku tahu jadwalnya."
"Jangan sebut nama itu."
Setelah itu suaranya hilang tertelan kaca.
Kiana menatap bubur ayam yang mulai mengeluarkan uap tipis di meja. Seharusnya pagi itu sederhana. Sarapan, kantor, legal review Vista Home, lalu RUPS. Tapi sebuah kotak dari Firman Hoo membuat apartemen kecilnya tiba-tiba penuh pintu tertutup.
Saat Hans kembali, wajahnya sudah biasa lagi.
"Buburnya dingin," katanya.
"Kamu bilang belum pulang."
Sendok yang hendak ia ambil berhenti.
Kiana tidak menatapnya dengan cara menuntut. Justru itu yang membuat udara di antara mereka lebih padat.
"Pulang ke rumah teman," jawab Hans akhirnya.
"Teman yang sama?"
"Beda."
"Banyak sekali teman lamamu."
"Aku hidup lebih lama dari tiga hari."
Kiana ingin kesal, tetapi kalimat itu terlalu kering sampai hampir lucu. Ia menunduk, mengaduk buburnya, lalu berkata, "Kalau suatu hari ada bagian hidupmu yang perlu aku tahu demi keselamatan kita, jangan tunggu aku menebak sendiri."
Hans menatapnya cukup lama.
"Kalau menyangkut keselamatanmu, aku akan bilang."
"Keselamatanku saja?"
"Itu prioritas."
Nada suaranya tidak manis. Tidak ada kata indah. Tetapi Kiana merasakan kalimat itu jatuh lebih berat daripada rayuan mana pun.
Ia makan buburnya tanpa bertanya lagi.
Siang hari di Navara Tech, kantor kecil itu meledak oleh suara yang sudah lama tidak terdengar: tawa lega.
Fang berdiri di depan ruang kerja dengan tablet di tangan. "Kontrak implementasi awal Vista Home sudah ditandatangani secara elektronik. Legal mereka baru mengirimkan salinan final. Dan..."
Ia berhenti sebentar, mungkin sengaja memberi jeda.
Lina yang duduk di meja depan langsung berdiri. "Dan apa, Fang? Jangan kayak drama, dong."
"Prepayment tahap pertama sudah masuk ke rekening Navara."
Ruangan hening satu detik.
Lalu semua orang bersorak.
Seseorang menepuk meja. Ada yang menutup wajah dengan kedua tangan. Lina bahkan hampir menjatuhkan mouse. Untuk perusahaan yang beberapa minggu lalu dihitung tinggal menunggu mati, bunyi notifikasi dana masuk bukan sekadar angka. Itu suara napas pertama setelah lama tenggelam.
Kiana berdiri di ambang ruangannya, memandang layar proyektor kecil yang menampilkan angka pembayaran.
Tidak cukup untuk membuat mereka kaya.
Tapi cukup untuk membayar gaji tertunda, menghidupkan server, dan membuat orang-orang di ruangan itu pulang tanpa takut besok kantornya dikunci.
"Kita pesan kopi?" tanya Lina dengan mata merah.
"Kopi dan makan siang," kata Kiana.
Sorakan kedua muncul lebih keras.
Fang berjalan mendekat, menurunkan suara. "Bu Kiana, saya juga sudah susun draft timeline RUPS. Notaris yang direkomendasikan Pengacara Tjen bisa slot minggu depan. Daftar komisaris lama sudah saya pisahkan, mana yang dekat dengan Pak Hendro, mana yang masih loyal pada Mendiang Engkong."
Kiana menerima tablet itu. Di layar, nama-nama komisaris tersusun rapi dengan catatan pendek di sampingnya.
Kemenangan Vista Home hangat, tetapi Kiana tidak membiarkan dirinya tenggelam terlalu lama.
"Bagus. Kirimkan versi terenkripsi ke Pengacara Tjen. Untuk tim, hari ini biarkan mereka merayakan. Besok pagi kita mulai fase implementasi."
"Siap."
Fang hendak pergi, lalu berhenti. "Dan soal RUPS, Bu. Pak Hendro mungkin akan tahu lebih cepat dari perkiraan."
"Aku tahu."
"Kalau dia menekan rekening Navara?"
Kiana menatap ruang kerja yang masih ramai oleh tawa kecil dan aroma kopi instan.
"Maka dia akan terlihat seperti ayah yang menghukum perusahaan putrinya tepat setelah mendapat kontrak besar. Biarkan saja. Kadang orang sombong paling mudah dikalahkan oleh wajahnya sendiri."
Fang terdiam sebentar, lalu menunduk sedikit. "Baik."
Malamnya, Hans datang menjemput Kiana tanpa banyak bicara.
Kiana terlalu lelah untuk menolak saat ia mengambil kunci mobil dari tangannya.
"Aku bisa nyetir."
"Mata kamu sudah merah."
"Kamu baru sembuh dari luka bakar."
"Lengan kiri. Nyetir pakai kanan."
Kiana menatapnya. "Logika macam apa itu?"
Hans membuka pintu penumpang. "Logika orang yang tidak mau kamu menabrak."
Ia akhirnya masuk.
Di jalan, Jakarta bergerak dengan lampu merah, motor menyelip, dan suara klakson yang tidak sabar. Hans menyetir tenang. Terlalu tenang.
Kiana awalnya hanya bersandar, tetapi lama-lama perhatiannya tertarik pada gerakan kecilnya.
Sebelum keluar dari parkiran, Hans memeriksa spion tengah, spion kiri, spion kanan. Bukan sekali. Tiga kali dengan urutan yang sama.
Saat berhenti di lampu merah, ia tidak menempel pada mobil depan. Jaraknya selalu cukup untuk keluar dari barisan jika perlu.
Ketika sebuah motor berhenti terlalu dekat di sisi kanan, ibu jarinya mengetuk setir dua kali, mata bergerak ke spion, lalu ke kaca samping.
Itu bukan kebiasaan sopir biasa.
Di basement apartemen, Hans memarkir mobil di sisi yang menghadap pintu keluar, bukan posisi paling dekat lift. Ia mematikan lampu lebih dulu, menunggu dua detik, baru mematikan mesin.
Kiana tidak langsung membuka sabuk pengaman.
"Kenapa selalu parkir menghadap keluar?"
Hans meliriknya. "Lebih mudah keluar."
"Kalau darurat?"
"Kalau macet."
"Basement apartemen jam sepuluh malam jarang macet."
Untuk sesaat, mereka saling menatap di dalam mobil gelap.
Hans melepaskan sabuk pengamannya. "Kamu terlalu banyak mikir hari ini."
"Mungkin karena hari ini banyak hal yang perlu dipikirkan."
Ia tidak membantah.
Malam itu, setelah Hans memastikan ia masuk ke apartemen dan lampunya menyala, Kiana membuka buku catatan di meja.
Di halaman baru, ia menulis dua nama.
Hansen Lim.
Firman Hoo.
Di bawahnya, ia menambahkan satu kalimat.
Hans sebenarnya siapa?