NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Garis Tipis Kepercayaan

Formasi meja melingkar di Aula Gedung Kompetisi tidak dirancang untuk diskusi santai. Di atas setiap meja, sebuah proyektor holografik menyala, menampilkan bagan arsitektur digital dari sebuah kompleks bendungan fiktif yang mengalami kerusakan struktur masif.

“Tahap Empat: Kelompok Akademik Antarpeserta,” suara sistem bergema dingin. “Skenario: Katastropi Hidrologi. Waktu eksekusi empat puluh menit. Setiap kelompok harus menyusun formula kalkulasi debit air dan tekanan hidrostatik secara real-time untuk mencegah jebolnya tanggul utama. Kegagalan kelompok berarti eliminasi massal bagi seluruh anggotanya.”

Namun, Nexus tidak hanya menguji otak mereka di atas kertas. Di bawah meja, sebuah pedal mekanis berpegas berat mendadak muncul, terhubung dengan sensor beban statis yang harus ditekan secara konstan oleh salah satu anggota kelompok sebagai simulasi katup penahan manual. Jika tekanan pada pedal turun di bawah delapan puluh kilogram, sistem akan menganggap katup jebol dan simulator langsung menyatakan Game Over.

Di Kelompok 4, situasi langsung menegang. Kelompok ini terdiri dari Farel, Nabila, Dimas, dan dua peserta faksi elite lainnya.

"Biar aku yang hitung rumusnya! Kalian urus pedal sialan itu!" bentak salah satu anak faksi elite, menggeser layar holografik ke arahnya dengan ego tinggi.

Nabila, yang kondisi fisiknya belum pulih seratus persen dari ujian ketahanan mental dua puluh satu jam sebelumnya, mengajukan diri demi berguna bagi tim. "Biar... biar aku yang menjaga pedalnya," bisik Nabila. Ia melangkah maju dan menginjak pedal besi tersebut dengan kedua kakinya, mengerahkan seluruh berat badannya yang kecil untuk menekan pegas baja yang sangat keras itu.

Indikator beban di layar meja berkedip hijau: 82 kg. Tepat di atas batas minimum.

Sepuluh menit pertama berlalu dengan kegilaan kalkulasi. Dimas mencoba membantu memetakan pembagian variabel, namun dua anak faksi elite di tim mereka terus berdebat dengan nada tinggi, saling menyalahkan atas kesalahan input angka desimal. Atmosfer yang bising dan tekanan psikologis membuat fokus semua orang terpecah.

Di bawah meja, kaki Nabila mulai bergetar hebat. Asam laktat menumpuk di otot betis dan pahanya yang lelah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Napasnya mulai memburu, pendek-pendek.

"Nabila, kamu tidak apa-apa?" Dimas melirik ke bawah meja dengan cemas, menyadari perubahan drastis pada wajah gadis itu.

"Aku... aku masih kuat, Dim," jawab Nabila terbata-bata. Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Detik berikutnya, pandangan Nabila mendadak gelap. Efek sisa dari pod siber dan kelelahan fisik yang ekstrem menghantam kesadarannya sekaligus. Kakinya lemas, dan tubuhnya limbung ke arah belakang.

Bersamaan dengan itu, tekanan pada pedal besi merosot tajam.

BZZZ! Indikator layar berkedip merah: 55 kg. Katup Tanggul Melemah. Hitung Mundur Eliminasi: 5... 4...

"Sial! Apa yang kamu lakukan, anak beasiswa?!" teriak anak faksi elite itu dengan panik, melihat simulator mereka di ambang kehancuran.

Sebelum angka hitung mundur menyentuh angka dua, sebuah bayangan melesat cepat dari sisi meja. Farel Dwijaya Wicaksana, yang sejak tadi mengamati jalannya kalkulasi dengan tenang, bergerak dengan insting refleks seorang praktisi bela diri.

Tangan kirinya menangkap bahu Nabila sebelum gadis itu menghantam lantai beton, sementara kaki kanannya menjulur secepat kilat, menghantam dan mengunci pedal besi tersebut ke dasar lantai dengan tekanan yang masif.

KLIK!

Layar holografik kembali stabil di angka 95 kg. Lampu merah eliminasi padam.

Farel menurunkan Nabila perlahan bersandar pada kaki meja, lalu mengalihkan pandangan tajamnya pada dua anak faksi elite yang masih gemetar ketakutan. "Kalian berdua, berhenti berteriak dan selesaikan rumusnya sekarang. Biar aku yang menahan katup ini sampai menit terakhir," perintah Farel dengan suara bariton yang berat dan tidak menerima bantahan.

Dimas segera berlutut di samping Nabila, menyodorkan sisa air mineralnya. "Minum ini dulu, Nab. Kamu aman. Farel menjaga kita."

Nabila membuka matanya yang sayu, menatap Farel yang berdiri tegak di samping meja, menahan beban pegas baja seberat hampir seratus kilogram dengan satu kaki tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Di tempat yang penuh dengan pengkhianatan dan persaingan kejam ini, tindakan Farel yang tanpa pamrih menyelamatkannya adalah sesuatu yang asing, sesuatu yang tidak masuk dalam kalkulasi dingin Nexus Academy.

Nabila memegang botol airnya dengan jemari yang masih gemetar, menatap punggung Farel dengan rasa hormat yang mendalam. "Terima kasih... Farel," bisiknya lirih.

Farel hanya mengangguk kecil tanpa menoleh, fokusnya tetap terjaga pada layar simulasi di depan. Di dalam ruangan yang dirancang untuk membuat para jenius saling menjatuhkan ini, sebuah garis tipis kepercayaan dan persahabatan pertama justru mulai tumbuh di antara mereka, membuktikan bahwa tidak semua manusia di dalam Nexus bisa diubah menjadi robot tanpa hati.

...****************...

Dua anak faksi elite di Kelompok 4 yang sempat panik tadi menelan ludah. Di bawah tatapan mengintimidasi dari Farel, kesombongan mereka menguap. Tanpa banyak bicara lagi, jemari mereka bergerak cepat di atas layar holografik, memasukkan rumus hidrostatik yang tersisa dengan ritme yang jauh lebih teratur. Efisiensi kerja kelompok mereka mendadak naik drastis justru setelah variabel ego mereka ditekan oleh kehadiran Farel.

"Dimas, bantu hitung laju deformasi dinding barat," perintah Farel pendek, matanya tetap lurus menatap indikator tekanan udara yang mulai merangkak naik di monitor utama. Kaki kanannya yang mengunci pedal pegas baja sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun, menunjukkan ketahanan fisik yang luar biasa hasil dari latihan bela diri bertahun-tahun.

Dimas mengangguk cepat. "Oke, serahkan padaku." Dengan fokus yang kembali penuh, Dimas langsung membagi sub-variabel kalkulasi bersama dua anak elite tadi, menciptakan ritme kerja kelompok yang belum pernah terjadi di meja mereka sejak simulasi dimulai.

Di meja nomor 2, Keisya sempat melirik ke arah meja Kelompok 4. Ia memperhatikan bagaimana Farel mengamankan posisi kelompoknya sendirian di sektor fisik. Metode yang digunakan Farel sangat bertolak belakang dengan prinsip efisiensi individu yang diagungkan Profesor Adrian, namun terbukti mampu menyelamatkan kelompok tersebut dari eliminasi massal.

"Kerja sama yang emosional," sesosok suara berat terdengar dari ujung meja Keisya.

Leonard Arkana Hartono, ketua dewan siswa yang bertindak sebagai pemantau faksi utama, sedang berdiri bersedekah dada sambil menatap lurus ke arah layar monitoring kelompok Keisya. Wajahnya yang tampan tampak begitu tenang, namun sorot matanya menyimpan aura dominasi yang mutlak.

"Di Nexus, mengorbankan energi fisik demi menyelamatkan peserta yang lemah adalah kalkulasi yang buruk," lanjut Leonard, suaranya terdengar begitu elegan namun dingin. "Peserta Nomor 520 Nabila adalah yang rapuh sejak babak pertama. Menyelamatkannya hari ini hanya akan menunda eliminasinya besok, sambil menguras energi peserta potensial seperti Farel."

Keisya tidak mengalihkan pandangannya dari layar formulasinya sendiri saat menjawab. "Jika Farel memilih membiarkan Nabila jatuh, kelompok mereka akan langsung tereliminasi dalam waktu lima detik karena pedalnya lepas. Tindakan Farel bukan sekadar moralitas, Senior Leonard. Itu adalah keputusan insting paling logis untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kegagalan kelompok."

Leonard melirik Keisya, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. "Pembelaan yang cerdas, Keisya. Tapi mari kita lihat seberapa lama logika perlindungan itu bisa bertahan saat faksi mereka harus saling berhadapan satu sama lain di tahap akhir nanti."

BZZZ—

Suara alarm penanda waktu bergema di seluruh penjuru aula, memutus seluruh argumen. Layar holografik di meja Kelompok 4 berubah warna menjadi hijau pekat dengan tulisan besar: CRISIS AVERTED – SUCCESS.

Farel perlahan menarik kakinya dari pedal mekanis yang kini otomatis terkunci oleh sistem. Otot kaki kanannya tampak berkedut pelan karena menahan beban masif selama sisa waktu, namun ekspresi wajahnya tetap datar. Ia langsung berlutut di dekat Nabila, membantu gadis itu berdiri bersama Dimas.

"Bisa jalan?" tanya Farel datar, namun ada nada kepedulian yang tulus di sana.

Nabila mengangguk, menyeka keringat di dahinya dengan lengan seragamnya yang longgar. "Bisa. Terima kasih banyak, Farel. Kalau bukan karena kamu..."

"Kita satu tim untuk babak ini. Kegagalanmu adalah kegagalanku," potong Farel pendek, menghentikan kalimat melankolis Nabila sebelum sempat berkembang menjadi terlalu puitis.

Di barisan seberang, Atharva memperhatikan interaksi Kelompok 4 dari tempat duduknya. Ia melihat bagaimana garis tipis kepercayaan yang baru saja terbentuk di antara Farel, Nabila, dan Dimas mulai mengubah atmosfer dingin di sekitar meja mereka. Namun, di saat yang sama, Atharva juga melihat bagaimana Profesor Adrian dan para petinggi yayasan di atas podium mencatat interaksi tersebut ke dalam basis data psikologis mereka.

Garis kepercayaan telah ditarik di antara beberapa peserta, tetapi di dalam ekosistem sekejam Nexus Academy, kepercayaan adalah komoditas paling berbahaya yang bisa membuat seseorang pulang lebih awal jika ditaruh di tangan yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!